
Widya pergi ke dapur untuk menyiapakan makan malam buat Hendru. Hendru sendiri bermain dengan Dara.
Widya kembali ke ruang tengah,dia melihat ayah dan anak bermain itu merasa bahagia. Dia gak menyangka kalau Hendru langsung bisa menerima Dara.
"Mas makanannya udah siap. Kamu makan dulu sana?" kata Widya.
"Sayang, ayah makan dulu kamu sama bunda dulu ya." kata Hendru yang menyerahkan Dara ke Widya.
"Sini sama bunda." kata Widya mau mengambil alih Dara dari Hendru tapi Dara malah menangis.
"Udah gak papa biar aku makan sambil gendong Dara." kata Hendru.
"Tapi mas...." kata Widya.
"Udah gak papa. Aku udah lapar. Ayo sekarang temani ayah makan." kata Hendru sambil membawa Dara ke meja makan.
"Wah kalian makan sendiri aku gak diajak." kata Lydia.
"Ayo sini kita makan bareng. Kamu udah makan belum Wid?" tanya Hendru.
"Belum mas." kata Widya.
"Iya sudah ayo makan bareng-bareng." kata Hendru.
"Dara gimana?" tanya Widya.
"Biar Widya sama aku aja. Aku bisa kok makan sambil mangku Dara." kata Hendru.
"Wah emang kakak ayah yang baik buat Dara." kata Lydia.
"Apa sih kamu tu. Udah ayo makan." kata Hendru.
Widya mengambil piring Hendru untuk mengambilkan dia makan. Setelah itu baru mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Widya melihat Hendru benar-benar bisa makan sambil mengendong Dara. Widya gak nyangka Hendru lebih bisa momong Dara. Membuat Widya semakin merasa bersalah.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" kata Hendru.
"Gak papa, Aku gak nyangka aja Dara cepat akrab sama kamu mas." kata Widya.
"Karena aku ayahnya." kata Hendru.
"Kak mau nginap sini atau mau dihotel?" kata Lydia.
"Aku langsung pulang ke jakarta." kata Hendru.
"Mas gak sebaiknya istirahat disini aja dulu?" kata Widya.
"Gak enak sama tetangga disini. Lagian besok aku harus ke kampus pagi-pagi." kata Hendru.
"Mas, istirahat bentar disini dulu." kata widya.
"Iya nanti aku mau tidur bentar. Gak papa kan aku tidur disini nanti aku tidur disofa depan." kata Hendru.
"Mas tidur dikamar aku aja gak papa. Biar aku tidur sama Lydia." kata Widya.
"Apa salahnya kalian tidur bersama. Kan kalian masih sah suami istri?" kata Lydia.
"Baiklah, kalau Widya gak keberatan." kata Hendru.
"Aku gak keberatan kok mas." kata Widya.
Selesai makan Hendru langsung masuk ke dalam kamar Widya dengan mengendong Dara. Widya dan Lydia membereskan bekas makan mereka tadi.
"Wid aku tau ini berat, tapi aku cuma ingin yang terbaik buat kalian berdua. Kamu pikirin Dara juga." kata Lydia.
__ADS_1
"Aku tau kok, aku akan berusaha untuk menerima mas Hendru ." kata Widya.
"Ya sudah, kamu ke kamar gih. Pasti Dara sudah menunggu. Aku mau nonton tv bentar." kata Lydia.
Widya masuk kamarnya ternyata ayah dan anak itu sudah tertidur. Widya tidur disamping Dara sambil bergantian memandang wajah suaminya dan putrinya. Widya melihat wajah Hendru yang kelelahan.
Saat Widya melamunkan masa lalu mereka berdua. Hendru terbangun dari tidurnya.
"Kamu belum tidur Wid?" tanya Hendru.
"Loh kok mas bangun." kata Widya.
"Aku mau ke kamar mandi. Ini jam berapa ya Wid?" tanya Hendu.
"Sekarang jam 10 mas." kata Widya.
"Oh ya udah aku ke kamar mandi bentar. Kamu tidur aja dulu." kata Hendru.
Hendru selesai dari kamar mandi. Widya masih membuka matanya sambil menerawang jauh.
"Wid apa yang kamu pikirkan?" tanya Hendru saat dia sudah berbaring disebelah Dara.
"Gak ada mas." kata Widya.
"Kamu gak suka ya aku ada disini?" tanya Hendru.
"Bukan itu mas yang aku pikirin. Aku cuma gak enak aja sama mas. Mas pasti capek harus pulang pergi jakarta-surabaya." kata Widya.
"Rasa capek aku hilang saat melihat kamu dan Dara tersenyum." kata Hendru.
"Mas aku serius." kata Widya.
"Aku juga serius. Nanti bangnin aku jam 2." kata Hendru.
"Ak mau pulang, Biar nanti bisa istirahat bentar diapartmen." kata Hendru
"Maaf ya, gara-gara kami mas harus bolak balik jakarta surabaya." kata Widya.
"Demi kalian aku akan lakukan apapun." kata Hendru.
Hendru setelah berbicara dengan Widya langsung tertidur pulas. Widya mulai sadar kalau seharusnya dia ikut Hendru pulang ke jakarta.
Widya akan berbicara dulu dengan Lydia tentang rencana kalau dia mau ikut ke jakarta dengan Hendru.
Banyak yang Widya pikirkan bukan hanya tentang Dara tapi juga tentang butik.Kalau Widya ikut Hendru pulang ke jakarta bagaimana butiknya siapa yang akan mengurus.
Lelah berpikir widya memutuskan untuk tidur tapi sebelum tidur dia menyalakan alarm 1.30 agar bisa menyaipkan bekal untuk Hendru diperjalanan nanti.
Bertepatan dengan alarm berbunyi Widya juga ikut bangun. Dia menuju kamar mandi untuk cuci muka lalu berjalan ke arah dapur untuk menyiapakan bekal Hendru.
Widya memasak sup ayam dan juga sambal terasi yang cepat masaknya. Saat dia sudah selesai memasak, dia berbalik untuk membangunkan Hendru.
Ternyata dia malah terkejut karena Hendru sudah berada dibelakangnya sedang memperhatikan dia masak.
"Ya ampun mas, ngagetin aja. kok udah bangun sih?" kata Widya.
"Maaf ngagetin ya, aku baru bangun. Aku cari kamu dikamar gak ada jadi aku keluar." kata Hendru.
"Ya sudah, mandi gih aku siapin sarapannya." kata Widya.
"Makanannya buat bekal aja Wid. Aku minta tolong bikin aku kopi boleh?" tanya Hendru.
"Ya sudah kalau gitu makananya aku wadahi buat bakal. Mandi sana selesai mandi kopinya pasti dah jadi." kata Widya.
Hendru berjalan masuk ke kamar lagi untuk mandi sedangkan Widya memasukkan makanan ke dalam wadah. Dia juga mengambil tremos untuk bikin kopi.
__ADS_1
Kalau Hendru ngantuk dijalan bisa meminumnya. Selesai mandi Hendru langsung keluar tapi sebelum itu dia mencium putrinya pelan-pelan.
"Mana kopiku Wid?" tanya Hendru.
"Ini kopi mas, ini bekalnya." kata Widya menyerahkan paparbag ke Hendru.
"Ini tremos buat apa?" kata Hendru.
"Ini isinya Kopi kalau mas ngantuk dijalan bisa meminumnya." kata Widya.
"Makasih ya." kata Hendru.
"Mas, kalau bisa mas kesininya kalau weekend aja gimana? Aku takut terjadi sesuatu kalau mas harus pulang pergi. surabaya-jakarta itu jauh lo." kata Widya.
"Kalau Dara rewel gimana?" tanya Hendru.
"Nanti aku vc mas aja kalau dia rewel." kata Widya.
"Beneran gak papa." kata Hendru yang masih khawatir.
"Ya mas, lagian Dara kalau udah denger suara kamu dia kan udah gak rewel. Aku yang kasian sama mas kalau harus bolak balik." kata Widya.
"Kamu ikut aku balik ke jakarta ya." kata Hendru.
"Aku masih belum bisa kalau harus kembali ke jakarta mas." kata Widya.
"Maaf aku gak bermaksut buat makasa kamu." kata Hendru.
"Aku masih butuh waktu lagi, buat yakinin diriku sendiri mas. Maaf!" kata Widya.
"Iya aku akan nunggu. kalau gitu aku pulang dulu ya." kata Hendru.
"Hati-hati sampai rumah kabari." kata Widya.
"Oh ya, kalau kamu ke butik. Gimana dengan Dara?" kata Hendru.
"Aku ajak dia ke butik mas. Kenapa?" kata Widya.
"Kalau gitu aku bisa vc sama Dara saat kamu ada dibutik. Bolehkan?" kata Hendru.
"Boleh kalau mas gak sibuk kerja." kata Widya.
"Baiklah, aku pulang." kata Hendru.
"Hati-hati." kata Widya.
Widya memgantar Hendru sampai depan rumah. Saat dia masuk rumah ternyata Lydia sudah bangun.
"Kalau khawatir kenapa gak ikut Hendru pulang aja tadi?" kata Lydia.
"Nanti aku pasti pulang, sekarang aku mau ngurus butik dulu gak mungkin aku tinggal gitu aja." kata Widya.
"Kamu udah mutusin mau kembali ke jakarta?" kata Lydia senang.
"Iya, tapi jangan kasih tau mas Hendru." kata Widya.
"Gimana kalau pas ultahnya Hendru kita ke jakarta?" kata Lydia.
"Ulang tahun mas Hendrukan kurang 1 minggu lagi." kata Widya.
"Iya, kamu harus bekerja lebih keras lagi gak papakan." kata Lydia.
"Iya aku usahain. Oh ya menurut kamu gimana kalau butik aku suruh Santi aja yang ngurus?" kata Widya minta pendapat Lydia.
"Aku setuju, dia baik dan cekatan." kata Lydia.
__ADS_1