
Akhirnya perjuangan Widya dari beberapa hari kemarin tak sia-sia. Hari ini butik miliknya akan segera dibuka. Banyak orang yang membantu pembukaan butik itu termasuk mama mertuanya. Mama Naya selalu datang ke butik milik Widya walau hanya untuk mengecek berapa persen kesiapan butik milik menantunya itu.
"Kamu sudah siap sayang?"tanya mama Naya pada Widya.
"Aku gugup ma."kata Widya jujur.
"Kamu kok gugup bukannya kamu dulu pernah buka butik disurbaya?"kata mama Naya
"Iya ma, tapi beda rasanya."kata Widya.
"Beda gimana sayang?"kata mama Naya yang bingung dengan perkataan menantunya itu.
"Iya beda kalau disuabayakan yang datang teman-teman kulliah dan dosenku dulu. Sedangkan disin banyak orang yang datang, apalagi disini pesanginya banyak ma."kata Widya.
"Oh masalah pesaing, kalau soal itu kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Setiap orangkan punya gaya mereka masing-masing dan pelanggannya pun juga memiliki tipe yang berbeda-beda. Jadi kamu harus semangat mama akan selalu ada dibelakang kamu."kata mama Naya menyemangati
"Makasih ma atas dukungannya."kata Widya.
Saat mama Naya sedang menyemangati menantunya Hendru datang dengan mengendong Dara. Dara yang melihat bundanya langsung merentangkan tanganya. Mama Naya yang melihat kedekatan ibu dan anak itu sangat bahagia. Dia berharap jika Widya walaupun bekerja akan tetap memprioritaskan anaknya jangan seperti dia dulu yang terlalu sibuk kerja.
Hingga sekarang pun dia juga masih egois terhadap kedua anaknya. Apalagi dengan Hendru kemarin-kemarin sempat menjodhkanya dengan perempuan lain saat Widya tak berada disamping putranya itu.
Hendru yang melihat mamanya melamun langsung saja menghampiri dan merangkul mamanya. Hendru tau apa yang dipikirkan oleh mamanya saat melihat kedekatan antara Widya dan juga Dara.
"Ada apa ma?"tanya Hendru.
"Gak ada apa-apa sayang, mama teringat tentang apa yang mama lakukan kemarin. Untung saja kamu menolak mentah-mentah rencana mama. Jika tidak mungkin mama akan menyesal seumur hidup karena telah memisahkan kamu dan Dara.
"Wid kamu sudah siapa belum?"kata Lydia yang hari ini sangat cantik memakai gaun buatan Widya.
"Sudah ayo sayang kita keluar, bunda gak sabar melihat komentar oang-orang tentang baju yang bunda buat."kata Widya berjalan keluar sambil berbicara dengan Dara.
Widya langsung mengunting pita merah itu dan semua orang yang berada disana hari ini mendapatkan gaun buatan Widya secara gratis.
Banyak yang memuji pakaian buatan Widya, tidak hanya kaum ibu-ibu tapi juga kaum remaja. Widya senang dengan hasil hari ini, tapi ini bukanlah akhir tapi hari ini adalh awal bagi dia untuk berjuang lebih keras lagi. Apalagi orang-orang mengenal Widya karena ada nama belakang mama mertuanya.
"Gimana pembukaan butik tadi Wid? Maaf karena papa gak bisa hadir diacara kamu?"kata papa Ikhsan.
"Alhamdulilah lancar pa? Tapi aku harus lebih berjuang lagi akan bisa diterima disini."kata Widya.
__ADS_1
"Mama yakin kamu bisa sukses lebih daripada mama, tapi sebenarnya mama mau kamu mengurusi butik mama, tapi mau bagaimana lagi ternyata kamu malah memilih membuka butik sendiri."kata mama Naya.
"Mama ngomong apa sih, mamakan masih sehat sekarang. Lagian bisa buat kesibukan mama daripada mama berdiam diri tak ada kerjaan."kata Hendru.
"Mama bisa merawat Dara iya gak pa?"kata mama Naya.
"Mama tu ya, cuucu mama bkan hanya Dara saja loh."kata Hendru mengingatkan jika mamanya masih memiliki Ricky dan juga Riska.
"Mereka mah hanya datang kalau libur saja, kalau Dara kan beda lagi. Widya bisa nitipin Dara disini saat dia bekerja."kata mama Naya.
"Kalian malam ini menginap disini kan?"kata papa Ikhsan.
"Kalau aku terserah sama mas Hendru saja pa."kata Widya memandang suaminya.
"Aku gak bisa pa, nanti kalau kami libur kerja nginap disini. Katanya mama mau anak-anaknya ngumpul kalau libur."kata Hendru.
"Iya awas aja kalau akhir pekan kamu gak kesini."kata mama Naya.
Hendru setelah berdebat dengan mamanya langsung saja membawa anak dan istrinya pulang kerumah. Diperjalanan pulang Widya mengajak Hendru memberi nasi pecel ayam dipinggir jalan.
"Mas aku mau makan itu"kata Widya.
"Mau makan apa?"kata Hendru.
Hendru yang melihat langsung menghentikan mobilnya. Dia keluar lebih dulu untuk mengendong Dara yang ada dipangkuan Widya.
Mereka langsung memesan dua porsi makanan dan juga teh anget. Hendru heran dengan istrinya padahal tadi dia baru saja makan malam dirumah mamanya tapi sekarang Widya makan dengan lahapnya.
"Sayang kamu kok kayak orang sudah lama gak makan sih?"kata Hendru.
"Ini enak banget mas apalagi ini sambalnya pas banget dilidahku."kata Widya.
"Kamu mau kita makan disini setiap hari kalau makanannya enak?"tanya Hendru.
"Gak usah mas, kalau lagi kepengen kayak gini aja nanti kesini lagi."kata Widya.
"Ya sudah kalau mau makan disini nanti bilang ya."kata Hendru.
"Siap mas, kalau gitu aku ayo kita makan lagi habis itu kita pulang. Oh ya sekalin bungkus buat bi Saloh ya."kata Widya.
__ADS_1
Hendru langsung memesan makanan untuk dibawa pulang. Setelah penjual selesai membungkuskan makanan pesanan mereka. Hendru langsung saja mengajak Widya pulang karena hari sudah larut malam. Udara malam gak bagus untuk Dara.
Sampai dirumah Widya langsung saja memberikan makanan yang dia beli itu kepada bi Saloh. Setelah memberikan makanan ke bi Saloh Widya langsung menyusul suami dan anaknya yang sudah tertidur daritadi. Saat masuk kamar ternyata suaminya sedang sibuk dengan lapotop yang ada dipangkuannya. Widya yang melihat itu langsung saja masuk ke kamar mandi ntuk mandi.
Widya selesai mandi dan memakai skincarenya dia langsung saja menghampiri suaminya yang berada diranjang.
"Kamu lagi ngapain mas?"kata Widya.
"Lagi melihat tugas anak-anak sambil menunggu kamu."kata Hendru sambil meletakkan laptopnya ke meja yang ada disamping ranjang.
"Oh besok ke kampus atau ke hotel?"tanya Widya.
"Besok aku ke kampus baru ke hotel. Ada apa?"tanya Hendru.
"Aku mau ajak kamu makan siang diluar sekalian mau bertemu dengan seseorang."kata Widya.
"Memang mau bertemu dengan siapa?"kata Hendru.
"Dengan Jefri dia teman kamu kan?"kata Widya.
"Memang ada apa kok jefri ngajak bertemu?"kata Hendru.
"Dia mau memesan gaun pengantin katanya, daripada aku sendiri bukannya lebih baik ajak kamu saja biar gak canggung mas."kata Widya.
"Iya besok aku temanin, lalu bagaimana dengan Dara? Apa kamu akan mengajak dia pergi bertemu dengan Jefri?"tanya Hendru.
"Gak aku tadi sudah bilang sama mama kalau mau nitip Dara disana, gak apa-apakan?"kata Widya.
"Iya , emang mama gak sibuk?"kata Hendru.
"Gak katanya khusus buat Dara dia akan meluangkan waktunya."kata Widya.
"Ya sdah kalau begitu, ayo kita tidur."kata Hendru
"Iya tapi peluk ya."kata Widya.
"Kok istri aku jadi manja sekarang?"kata Hendru
"Emang gak boleh aku manja sama suami sendiri?"kata Widya.
__ADS_1
"Boleh sayang, ya sudah kalau begitu ayo kita tidur."kata Hendru sambil memeluk istrinya.
Mereka berdua tertidur lelap dengan saling memeluk satu sama lain. Dara pun malam ini juga tidak rewel sama sekali. Mungkin karena daritadi bermain-main dengan opa omanya.