
Saat Widya sedang bermain dengan Dara dan juga bi Saloh ditaman belakang. Ponsel Widya berbunyi yang menandakan ada panggilan masuk. Widya tau kalau panggilan itu dari tante Intan dia langsung buru-buru mengangkatnya.
[Hallo Asalamualaikum tan.]
[Walaikumsalam sayang, gimana kamu jadi mau liat ruko hari ini?]
[Jadi tan, tapi apa tante sudah buat janji dengan pemilik Ruko?]
[Sudah sayang, kalau mau liat sekarang tante siap-siap dulu habis itu baru kerumah kamu.]
[Gak usah tan kita ketemu disana saja. Tante kirim alamatnya saja biar nanti aku cari sendiri tempatnya.]
[Ya sudah kalau gitu, tante tunggu disana ya sayang. Ya sudah tante tutup dulu mau siap-siap.]
[Iya tan, Asalamualikum.]
[Walaikumsalam.]
Widya langsung minta tolong sama bi Saloh untuk menyipakan kebutuhan Dara karena dia mau pergi keluar. Sekarang dia akan siap-siap terlebih dahulu.
Widya langsung masuk ke kamarnya tak lupa membawa Dara agar dia bisa menganti baju Dara. Sedangkan bi Saloh biar bisa membuat susu dan makanan untuk Dara yang akan dia bawa saat keluar nanti.
Untung saja Dara anaknya tak rewel saat ditinggal bundanya untuk bersiap. Saat dia sedang bersiap-siap ponselnya berbunyi. Dia langsung saja mencari ponselnya yang dia lempar diranjang tadi.
Ternyata yang menelpon adalah suaminya. Widya langsung melihat jam tumben suaminya itu menlpon jam segini karena biasanya jam segini suaminya itu kalau dikampus pasti sedang mengajar.
[Hallo Asalamualaikum mas.]
[Walaikumsalam kamu ada dimana sekarang sayang?]
[Aku ada dirumah mas, ada apa kok tumben telepon emang mas gak dikampus?]
[Aku dikampus ini lagi dikantin sama Aziz. Kok dirumah kamu gak jadi keluar bertemu sama tante Intan?]
[Jadi ini lagi siap-siap. Tumben kak Aziz ke kampus?]
[Dia lagi cari mangsa dikampus, Dara ikut gak?]
[Ikut dong, dia sudah cantik masak gak ikut ya sayang?]
Dara yang ditanya oleh Bndanya langsung terkekeh sambil bermain dengan bonekanya. Hendru yang mendengar suara tertawa putrinya itu langsung saja mengalihkan panggilan video dari panggilan suara tadi.
"Sayang ayah mau liat kamu nih."kata Widya sambil mengarahkan ponselnya ke depan Dara.
Gadis kecil itu terkekeh dan memanggil yahyah. Aziz yang berada didekatnya langsung saja mendekat ingin tau siapa yang ditelepon oleh Hendru. Aziz saat melihat Dara langsung gemas, dia langsung ingin segera bertemu.
"Anak siapa Ndru? Kalau boleh aku mau bawa pulang."kata Aziz.
"Enak aja gak ada yang boleh bawa pulang anakku."kata Hendru.
"Anak kamu, kapan kamu nikah lagi?"tanya Aziz yang gak tau kalau Hendru sudah kembali dengan Widya.
Widya yang mendengar perkataan dari Aziz tadi langsung mendekati putrinya. Ponselnya memang dia letakkan didepan putrinya dengaan menggunkan penyangga ponsel.
[Maksutnya menikah lagi apa mas? Emang mas Hendru beraapa kali menikah.]
Perkataan Widya tadi membuat Aziz langsung terkejut ternyata yang ditelelpon Hendru adalah Widya padahal dia pikir perempauan lain.
[Eh kamu Wid, Hendru hanya nikah satu kali sama kamu aja Wid.]
[Kalau bukan aku emang siapa mas? Emang benar hanya aku saja gak ada yang lain?]
[Gak ada sumpah, aku terkejut aja saat Hendru vc sama anak kecil. Aku pikir Hendru sudah menemukan yang lain.]
__ADS_1
[Sudah sayang gak usah dengerin Aziz oke. Kamu cepat bersiap kasian tante Intan kalau harus menunggu lama.]
[Iya tapi pembiacaraan ini belum selesai nanti dirumah akan aku bahas lagi soal ini.]
Widya langsung mematikan panggilannya, Hendru yang tau jika istrinya marah hanya menghera nafas. Widya mellihat jam habis itu mengendong Dara untuk diajak keluar.
Sampai dibawa dia langsung mencari bi Saloh untuk meminta barang-barang yang sudah disiapkan oleh bi Saloh.
"Bi yang aku minta tadi sudah siap semua?"tanya Widya saat melihat bi Saloh.
"Sebentar bu saya ambilkan dulu."kata bi Saloh sambil berjalan ke belakang untuk mengambil bekal Dara.
"Ini bu, tapi kalau untuk susunya bibi tak membuatnya dulu takut basi. Jadi bibi hanya masukkan susunya ke dalam botol tanpa menambahkan air. Airnya sendiri sudah bibi siapkan didalam tremos. Untuk makanannya sudah ada didalam tas."kata bi Saloh.
"Makasih bi, kalau begitu aku pergi dulu titip rumah ya."kata Widya.
"Iya bu hati-hati dijalan."kata bi Saloh.
Widya setelah berpamitan langsung saja keluar untuk menuju mobilnya. Didalam mobilnya dia langsung mencari pesan darri tante Intan karena beliau tadi telah share lok ruko yang akan dia liat itu.
Widya sampai dialamat yang dituju ternyata tante Intan sudah berada disana ditemani dengan seorang pria dan wanita. Widya sambil mengendong Dara langsung menghampiri mereka bertiga.
"Maaf tan kalau aku telat."kata Widya.
"Gak papa sayang, tante juga baru datang. cucu oma ikut sini sama oma sayang."kata tante Intan sambil mengmbil alih Dara dari gendongan bundannya.
Bayi perempuan itu langsung terkekeh saat berada digendongan omanya. "Ma" kata Dara membuat tante Intan senang. Bayi perempuan itu bisa memanggilnya.
"Dia memanggil ku Wid. Oh ya maaf aku melupakan kalian kenalin ini Widya keponakanku yang akan menyewa ruko ini. Wid ini bu Endang dan pak joko pemilik ruko ini."kata tante Intan memperkenalkan mereka satu sama lain.
Mereka langsung melihat-lihat keadaan ruko dan sedikit banyak Widya juga bertanya-tanya tentang ruko itu. Widya suka dengan ruko itu selain tempatnya yang setrategis dia juga tak terlalu banyak merenovasi ruko itu sebab dulunya ruko itu dipakai oleh bu endang sebagai toko jualan pakaian.
Widya membayar dpnya setelah mendapatkan kesepakatan. Ternyata ruko itu tak hanya disewakan tapi jika orang yang mau menggunakan ruko itu mau membeli mereka berdua akan menjualnya sebab mereka berdua akan kembali kekampung halaman mereka sebab ibunya pak Joko yang ada dkampung sakit-sakitan.
Tante Intan menyuruh sopirnya untuk pulang karena dia akan pulang naik mobil Widya. Dia tak mau pisah dari cucu perempuannya yang mengemaskan ini.
"Wid ini mobil baru kamu?"kata tante Intan.
"Iya tan, mas Hendru yang beliin padahal aku bilang ma dia untuk ngambil mobil aku yang ada disurabaya. Eh malah mobil itu dikasih ke Santi."kata Widya.
"Mungkin Hendru gak mau ribet karena pindah tempat itu nanti ribet ngurus perpanjangan mobilnya."kata tante Intan.
"Kayaknya gitu deh tan, tapi dari pada buang-buang uangkan mending ditabung buat Dara."kata Widya
"Uang Hendru ma gak akan habis kalau cuma beli mobil kayak gini aja. Restaurant dia yang dia bangun sama Dion aja sudah banyak memiliki cabang. Belum lagi dari hotelnya, terus gaji bulanannya jadi dosen. Banyak itu kalau mau beli mobil kayak gini 5 unit Hendru masih mampu."kata tante Intan menjelaskan penghasilan Hendru darimana saja.
"Iya sih tan mas Hendru juga bilang kalau hanya beli mobil satu gak akan buat dia bangkrut. Tapi aku gak enak aja nanti dikira aku kembali sama mas Hendru karena ingin hartanya saja."kata Widya.
"kok mikirin omongan orang, kamu sendiri aja beli mobil tinggal tunjuk aja. Penghasilan kamu dari butik juga sudah banyak."kata tante Intan sedangkan Widya tak menjawab hanya tersenym saja.
Tak terasa saking asiknya mengobrol mereka sudah sampai dirumah tante Intan. Tante Intan langsung mengajak Widya dan Dara masuk sedangkan mobil Widya dia menyuruh sopirnya untuk memasukkannya digarasi.
Saat mereka masuk ke dalam ternyata om Irwan sudah pulang. Dia sedang minum kopi sambil menonton berita. Mereka berdua langsung mendekati om irwan.
"Papa kok sudah pulang?"kata tante Intan.
"Sudah ma."kata om Irwan dia melihat istrinya dan tersenyum saat melihat Dara ada digendongan istrinya.
Sebelum mengambil Dara dari gendongan istrinya dia terlebih dahulu memeluk Widya yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Bayi perempuan itu merengek dan meronta ronta digendongan omanya, dia ingin segera digendong oleh opanya tapi pria itu malah mmperhatikan bundanya karena lama tak dianggap akhirnya bayi perempuan itu menangis.
"Opa sih, ni liat cucu kamu nangis gara-gara kamu abaikan."kata tante Intan.
Om Irwan langsung mengambil Dara dari gendongan istrinya. Ajaibnya bayi perempuan itu langsung diam saat berada digendongan om Irwan membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
Saat sedang asik bercanda dan bermain dengan Dara ponsel Widya berbunyi. Dia langsung mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari Hendru.
[Hallo Asalamalaikum mas.]
[Walaikumsalam kamu dimana kok jam segini belum pulang?]
[Aku ada dirumah tante Intan, Dara gak mau lepas dari om Irwan.]
[Ya sudah habis mandi aku susul kesana.]
[Ya mas.]
[Ya sudah aku tutup dulu, Asalamualaikum.]
[Walaikumsalam.]
Tante Intan langsung bertanya saat Widya sudah mengakhiri panggilan dari Hendru. Dia penasaraan kenapa Hendru menelepon Widya.
"Hendru yang telepon Wd?"tanya tante Intan.
"Iya tan, dia tanya aku ada dimana kok jam segini belum pulang."kata Widya.
"Kenapa gak kamu suruh Hendru kesini aja biar kita bisa makan malam bareng?"kata om Irwan sambil bermain dengan Dara.
"Sudah om nanti habis mandi mas Hendru kesini."kata Widya.
"Ya sudah kalau gitu biar tante bilang sama bibi suruh masak yang banyak. Sekalian buatin makanan untuk Dara dia sudah bisa makan nasikan?"tanya tante Intan.
"Iya tan Dara sudah bisa makan nasi."kata Widya.
Tante Intan langsung kebelakang untuk memberitau asistennya kalau malam ini ada tamu yang akan makan disini. Sekalian bilang agar asistennya itu bikinin makanan untuk Dara.
Saat tante Intan kembali ke depan ternyata suaminya itu sudah basah dengan air karena Dara selalu bermain air.
"Cucu oma lagi mandi, tapi kok opa yang ikut basah."kata tante Intan.
Mereka berdua sangat senang jika ada Dara disini karena rumah ini sepi sejak Lydia memutuskan untuk tinggal mandiri dari dulu. Om Irwan sebenarnya berharap kalau Lydia akan segera menikah tapi dia tau keinginan itu pasti lama terwujudnya sebab putrinya itu sangat gila kerja dari dulu.
Widya yang baru selesai mandi dan membawakan pakaian untuk Dara sangat terkejut saat melihat bukan hanya Dara yang basah tapi juga oma opanya.
Dara yang sudah kedinginan dan melihat bundanya langsung merentangkan tangannya. Widya langsung mengendong putrinya, dia lalu memakaikan baju untuk Dara. Sedangkan opa omanya Dara langsung pamit keatas untuk berganti pakaian sekalian mandi.
Hendru datang kerumah om Irwan bertepatan dengan makan malam. Dia langsung diajak makan malam oleh yang punya rumah. Saat berada dimeja makan dia tak melihat putrinya.
"Dara mana sayang?"tanya Hendru.
"Dia tidur dikamar habis makan dan minum susu."kata Widya.
"Tumben cepat tidur dia?"tanya Hendru.
"Kayaknya capek karena daritadi main sama opanya."kata tante Intan.
"Kok papa aja yang disalahin, mamakan juga daritadi main sama Dara."kata om Irwan yang gak mau disalahkan.
"Lah kan Dara daritadi gak mau lepas dari papa, tadi aja mau mama gendong saat papa sedang ada telepon setelah itu dia kembali bermain sama kamu mas."kata tante Intan.
"Iya iya pria memang selalu salah, kamu nanti harus sabar hadapi perempuan Ndru."kata om Irwan sedangkan Hendru hanya tersenyum.
Selesai makan malam mereka langsung saja duduk diruang keluarga. Tante Intan melarang mereka pulang hari ini mereka bertiga harus menginap disini tanpa ada tapi-tapian.
Setelah berdebat dengan istrinya, akhirnya Hendru mau malam ini menginap disini. Tante Intan sangat senang dia langsung saja menarik tangan Widya untuk pergi dari sana sedangkan om Irwan yang melihat tingkah istrinya hanya geleng-geleng kepala.
"kamu maklumi aja sifat tante kamu ndru."kata om Irwan yang gak enak dengan Hendru.
__ADS_1
"Iya om gak papa, mungkin tante lagi pengen bicara berdua saja."kata Hendru.