
Mereka berdua langsung menuju restaurant favorit hendru kalau datang kesana.
"Kamu mau pesan apa wid?" tanya hendru.
"Samain aja sama mas. saya bingung." kata widya.
setelah memesan makanan mereka berdua berbincang-bincang ringan sambil menunggu makanan mereka datang.
"Mas sebenarnya mau kemana sih kita?" kata widya.
"Nanti kamu juga tau. kalau aku kasih tau sekarang gak jadi kejutan dong." kata hendru.
"Terserah mas aja kalau gitu." kata widya.
Dia gak mau tanya lagi karena hasilnya hendru tetap saja tidak mau memberitau kemana mereka akan pergi.
Melihat perubahan wajah widya. Hendru hanya tersenyum menanggapi. saat mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing tiba-tiba cindy menghampiri.
"hayo lo lagi kencan ya?" kata cindy.
"kamu ngapain disini sin?" tanya hendru yang kesal karena adik sepupunya itu.
"Aku lagi jalan-jalan sama teman-teman tu mereka ada disana." kata cindy menujukan ke arah teman-temannya.
"Kamu gak sekolah bukannya ini masih jam sekolah?" tanya hendru sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Sekolahlah kak. Tapi hari ini pulang cepat karena gurunya pada rapat." kata cindy.
"sekolah yang benar jangan keluyuran terus." kata hendru.
"ih siapa yang keluyuran sih kak. Lagian malas dirumah pasti jam segini gak ada orang. kak aziz dan papa pasti dikantor sedangkan mama kak hendru tau sendiri." kata cindy.
perkataan cindy membuat hendru tersentak dan kasian saat melihat perubahan wajah cindy. widya yang melihatnya langsung melihat hendru dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya sudah tapi jangan pulang malam-malam. jam 7 harus sudah sampai rumah." kata hendru membuat cindy ceria kembali.
"hehehe makasih kak. Aku ketempat teman-temanku ya." kata cindy.
"tunggu sin." kata hendru menghentikan langkah cindy.
"Ada apa kak?" tanya cindy.
Hendru merogoh sakunya mengambil dompet dan mengambil beberapa uang berwarna merah lalu dia berikan kepada cindy.
"Nih aku tambah uang jajanmu tapi ingat jam 7 sudah harus dirumah." kata hendru sambil memberikan uang ke cindy.
"Gak usah kak. Tadi pagi kak aziz juga sudah kasih aku uang jajan." kata cindy menolak pemberian dari hendru.
"Ambil tadikan dari hendru ini dariku." kata hendru.
"Maksih kak." kata cindy terpaksa menerima uang dari hendru karena dia tau kalau kakaknya itu gak mau dibantah.
"sama-sama sudah sana. teman-temanmu sudah menunggu." kata hendru.
setelah cindy pergi widya memandang dengan wajah yang ingin penjelasan dari hendru.
"kita makan dulu ya habis ini aku jelasin ke kamu." kata hendru.
widya tak bertanya lagi dia lebih memilih menghabiskan makananya karena dia yakin kalau hendru akan menjelaskan sendiri padanya.
selesai makan hendru menepati janjinya untuk menjelaskan siapa cindy pada widya.
"Kamu kenal sama aziz kan?" tanya hendru.
__ADS_1
"Iya dia sepupunya mas kan. Lalu apa hubungan cindy sama kak aziz?" kata widya.
"cindy adik kandungnya aziz." kata hendru.
"Lalu kenapa tadi mas hendru terkejut?" kata widya yang membuat hendru tersenyum sendiri.
"Aku lupa kalau hanya aziz yang perhatian sama cindy. orangtua mereka sibuk sendiri dengan pekerjaan mereka." kata hendru.
"Memang orangtua mereka apa kerjaannya kok sampai anaknya dilupakan?" kata widya.
"walaupun aziz sudah membantu perusahaan om faisal tapi beliau masih belum percaya penuh dengan aziz. sedangkan tante esti sibuk dengan restaurantnya sehingga gak ada waktu buat anak-anaknya makanya dulu aziz selalu ajak cindy kemana-mana kalau dia mau keluar." kata hendru menjelaskan panjang lebar.
"kok ada ya orangtua yang kayak gitu. padahal anak tu gak butuh uang tapi mereka lebih butuh perhatian dari kedua orangtuanya." kata widya.
sikap widya yang mudah kasian sama orang inilah yang membuat hendru cepat menerima kehadiran widya dalam hidupnya. walaupun hendru tak tau perasaan apa yang dia rasakan sekarang tapi saat didekat widya dia merasa nyaman.
"mas kok malah bengong sih. Kita jadi pergi gak ni kan makannya udah selesai?" kata widya.
"kamu udah gak sabar ya?" kata hendru mengoda widya.
"apa sih mas." kata widya.
"gak usah malu gitu bilang aja kalau udah gak sabar gak papa kok." kata hendru yang masih saja mengoda widya.
sedangkan dibutik sepeningalan hendru dan widya. mama naya mengajak lydia dan juga mamanya untuk keruangannya.
"maaf ya jeng gak bisa ngasih apa-apa cuma minuman dingin sama camilan aja." kata mama naya yang gak enak dengan indah.
"Ini udah lebih dari cukup kok jeng." kata mama indah.
"Oh ya tan. widya itu masih kuliah ya soalnya aku liat dia masih muda?" tanya lydia.
"Iya dia baru aja lulus dari SMK lalu bekerja dibutik ini mungkin tau depan dia akan kuliah." kata mama naya.
"Iya. Memangnya kenapa ly?" tanya mama naya yang penasaran kenapa lydia menanyakan sekolah widya.
"Aku pikir dia kuliah dibidang desain tapi aku gak nyangka dia cuma lulusan SMK tapi gaun rancangannya bagus bagus banget tan." kata lydia.
"kamu tau darimana soal itu ly?" kata mama naya yang penasaran darimana lydia tau soal itu.
"Iya soalnya mbak tiara bilang kalau sketsa gaun-gaun yang dikirim ke aku itu milik widya bukan punya tante. maaf ya tan kalau membuat tante tersinggung. bukannya aku gak suka dengan rancangan tante tapi rancangan widya sesuai minat para remaja sekarang." kata lydia menjelaskan panjang lebar takut kalau tante naya tersinggung.
"gak papa kok sayang. tante mengerti kok lagian kamu juga benar widya itu memiliki bakat. Tante aja tau kalau widya pandai merancang baju dari bi narti." kata mama naya.
"kok dari bi narti jeng?" tanya mama indah yang penasaran.
"Iya awalnya widya ikut bi narti untuk bekerja dirumahku hingga waktu itu aku gak sengaja mendengar kalau widya ingin kuliah dibidang desain. terus karena gak mau penasaran makanya aku tanya langsung kepadanya dan dia langsung aja bercerita kalau dia pernah mewakili sekolahnya difasion show tingkat nasional." kata mama naya.
"terus bagaimana hasilnya dia berhasil juara 1 jeng?" kata indah.
"Iya kamu benar jeng. Dia berhasil menjuarai lomba itu dengan rancangannya sendiri dan dibantu oleh teman-temannya." kata mama naya.
"terus kenapa dia gak lanjut kuliah tan?" kata lydia.
"kedua orangtua widya orang gak mampu jadi widya memutuskan untuk bekerja dan sedikit-dikit menabung untuk biaya kuliahnya sendiri. Dia gak mau membebani orangtuanya." kata mama naya.
"Biasanya kan kalau menang lomba gitu pasti widya dapat beasiswa tan?" kata lydia.
"kalau itu tante gak tanya ly. tante gak enak mau tanya mungkin dia punya kesuliatan sendiri." kata mama naya.
"benar juga sih tan." kata lydia yang merasa kasian terhadap widya.
Tidak ada rasa iri atau cemburu karena widya bisa mendapatkan hati hendru. Apalagi tadi waktu hendru bilang kalau dia akan menikah sama hendru hati lydia biasa aja. itu tandanya lydia hanya kagum bukan rasa suka.
__ADS_1
"Terus kok jeng ingin hendru cepat menikah sama widya padahalkan widya baru merintis kariernya?" tanya indah.
"Aku sebenarnya juga pengen widya fokus sama cita-citanya dulu. Tapi saat mama tika tau kalau kakeknya widya adalah teman papa mertuaku jadi langsung saja ingin mempersatukan mereka untuk balas budi lagian keliahatan banget kalau hendru menyukai widya takut kalau nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau mereka sering bertemu." kata mama naya.
"Iya sih jeng naya benar. Eh tapi apa widya tinggal sama kalian?" kata indah.
"Iya dia tinggal sama kami walaupun beda rumah." kata mama naya.
"wah kalau begitu memang harus cepat-cepat diikat." kata indah.
"kapan pestanya tan?" tanya lydia.
"tante belum tau ly kalau pesta disininya. Nanti mereka mau mengadakan pesta dikampungnya widya dulu." kata mama naya.
"kami tunggu undangannya tan?" kata lydia.
"iya sayang. tante doain kamu cepat nyusul." kata mama naya tulus mendoakan lydia.
"lydia masih mau fokus kuliah dulu tan." kata lydia berkata jujur.
"tu liat jeng padahal aku udah gak sabar melihat lydia nikah." kata indah.
"ma nikah itu gak gampang lo. aku mau nikah sama orang yang sayang sama aku bukan karena terpaksa apalagi karena harta." kata lydia membuat mama naya tersenyum.
"tente suka prinsip kamu. tante yakin kamu bakal dapat pria idaman kamu." kata mam naya.
mereka dibutik sedang berbincang-bincang. hendru setelah makan langsung mengajak widya ke toko perhiasan untuk mencari cincin dan mengambil gelang tangan yang dipesan hendru untuk widya.
"kamu suka cincin yang gimana kamu pilihlah sendiri." kata hendru.
"mas kita pergi ke toko lain saja ya. Disini pasti mahal-mahal mending kita beli dipasar pasti lebih murah." kata widya membuat hendru tersenyum.
"membeli sepasang cincin tak membuat aku miskin." kata hendru sambil berbisik.
"aku tau mas tapi kan uangnya sayang. kita bisa gunai buat yang lainnya." kata widya.
"memang kamu mau apa?" kata hendru.
"Beli rumah mungkin." kata widya.
"kamu mau kita punya rumah sendiri?" kata hendru.
"pengennya gitu kata orang kalau sudah nikah itu lebih enak kalau tinggal dirumah sendiri." kata widya.
"nanti kalau itu kita bicarakan sama orangtuaku apa boleh kita tinggal dirumah sendiri kan kamu tau kalau aku anak bungsu." kata hendru.
"aku ikut mas aja." kata widya membuat hendru tersenyum dan semakin kagum dengan widya.
"kenapa kamu emanga gak papa kalau kita tinggal sama orangtuaku?" tanya hendru.
"Gak papa mas kemanapun kamu tinggal aku ikut. lagian tinggal dirumah mama sama papa juga gak papa malah rame nanti." kata widya.
"sudah itu pikir nanti. sekarang kamu pilih cincin mana yang kamu mau. aku mau kesana sebentar." kata hendru yang hanya diberi anggukan oleh widya.
Hendru langsung pergi ketempat gelang dan dia bertanya ke karyawan disana apa gelang pesananya sudah bisa diambil.
"maaf mbak pesanan saya kemarin apa sudah bisa diambil?" kata hendru.
"boleh saya liat notenya dulu pak?" kata karyawan itu dengan ramah.
hendru mengambil note didalam dompetnya dan memberikan kepada karyawan itu.
"baiklah tunggu sebentar saya tanyakan dulu pak." kata karyawan itu.
__ADS_1
setelah berkata begitu karyawan itu langsung masuk kedalam ruangan khusua untuk mengambil pesanan. sedangkan hendru memandangi widya yang sedang memilih cincin mana yang cocok.