
selesai mengukur pelanggan yang tadi mereka berdua langsung menghubungi bu naya untuk memberitahukan kalau ada pelanggan yang memesan desain baju punya widya serta memberitahu kalau widya harus mendesain jas yang sepadan dengan gaun yang dipesan itu.
bu naya langsung menyetujui dan mengatakan kepada tiara supaya menyerahkan desain itu ke bagian produksi.
"maaf bu seandainya saya sendiri yang menjahit gaun itu apa boleh?" tanya widya.
"kalau kam bisa tentu saja boleh wid." kata bu naya.
"insyaallah saya bisa bu." kata widya yakin dengan ucapannya.
"baiklah tiara kamu bantu widya pilih kain yang akan dipakai untuk bikin baju." perintah bu naya ke tiara.
"baik bu akan saya akan bantu widya."kata tiara.
"liat kan wid bu naya tu yakin banget kalau kamu bisa jadi desainer mungkin mulainya dari butik ini nanti kamu akan jadi desainer yang sukses." kata tiara panjang lebar habis menelpon bu naya.
"mudah-mudahan aku gak ngecewain harapan kalian ya kak." kata widya masih ragu.
"tenang saja wid kita siap kok bantuin kamu." sahut ida dianggukin juga oleh kedua rekannya.
sedangkan dirumah utama bu naya yang lagi berkumpul dengan keluarga besarnya tersenyum-senyum sendiri. sampai papa ikhsan heran.
"ada apa ma? apa ada kanar yang bahagia?" tanya papa ikhsan.
"iya pa, papa tau gak hari ini ada pelanggan yang tidak suka sama model desain mama." kata mama naya.
"lo kok mama malah tersenyum bukannya kalau kayak gitu pelanggan akan pindah kebutik lain?" tanya risa.
"ya gak lah sayang. soanya karyawan mama yang baru terpaksa melihatkan sketsa gambarnya dan pelanggan itu sekali melihat sketsa yang dia buat langsung suka." kata mama naya.
"siapa memang karyawan baru itu mbak?" tanya mirna adik papa ikhsan.
"ada deh papa sama risa saja yang tau siapa karyawan baru dibutikku." kata mama naya.
"apa itu widya ma?" tanya papa ikhsan.
" iya pa." kata mama naya.
"anaknya kayak gimana mama kok jadi penasaran nay. soalnya kamu tu jarang banget percaya sama orang untuk mendesain baju dibutik kamu?" kata tika mama dari pak ikhsan.
"nanti kalau dia pulang aku akan perkenalkan ke mama. mama nginap sini kan hari ini?" tanya mama naya.
"iya mama sama aku nginep sini kak." kata mirna.
"terus kamu gimana ris mau nginep sini gak?" tanya mama naya.
"gak deh ma, aku sudah janji ma mas doni untuk makan malam diluar ma anak-anak juga." tolak risa.
"baiklah kalau gitu.
saat asik mengobrol terdengar suara mobil masuk kedalam garasi. ternyata hari ini hendru pulang lebih cepat.
hendru masuk kedalam rumah dan terdengar didalam rumah rame dia langsung melangkah menuju ruang tengah. ternyata disana ada nenek dan tante mirna.
"malam semua."kata hendru membuat semua yang ada disana menoleh kesumber suara.
"malam sayang kamu tumben jam segini sudah pulang?" tanya mama naya.
"iya ma tadi cuma kekampus saja gak ke perusahaan."kata hendru sambil menyalami semua yang ada disana.
"oh gitu, kamu sudah makan dru?" kata mama naya.
"sudah ma tadi aku mampir dulu ke kafe punya dion." kata hendru.
"ngapain kamu ke kafe punya dion ndru?" tanya papa ikhsan.
"ada urusan pa disana sekalian ngecek keadaan kafe." kata hendru.
"kamu itu kapan mau kenalin kekasih kamu ke nenek?" kata nenek tika.
__ADS_1
"nanti ya nek kalau sudah ada." kata hendru.
"kamu itu jangan mikirin kerja terus pikirin diri kamu juga ndru." kata nenk tika.
saat nenek baru selesai berucap sudah terdengar suara doni untuk menjemput risa pulang.
"malam semua, maaf ganggu aku mau jemput risa." kata doni
"kamu gak duduk dulu don?" tanya mama naya.
"gak usah ma kami langsung pulang saja takut nanti kemalaman kasian anak-anak." kata doni.
setelah berpamitan mereka berdua langsung pulang sedangkan yang lain menuju meja makan kecuali hendru yang pamit keatas karena dia sudah makan.
"nay apa karyawan baru kamu itu tinggal dirumah belakang?" tanya nenek tika.
"iya ma dikeponakan bi narti." kata mama naya.
"oalah cantik gak kalau cantik kenapa gak kamu jodohin sama hendru?" tanya nenek tika
"bener kata mama kak nanti kan butik kakak bisa diwariskan ke karyawan itu siapa namanya kak?" kata tante mirna.
"widya namanya. kalau itu sih terserah hendru ma, aku gak mau memaksa." kata mama naya.
"tumben mama pengen menjodohkan hendru dengan ponakan narti." tanya papa ikhsan.
"kamu panggil narti kesini deh nanti juga tau." kata nenek tika sambil tersenyum.
"bi bi narti kesini sebentar bi." teriak mama naya.
"ada apa bu." tanya bi narti.
"nar widya itu benar keponakan kamu?" tanya nenek tika.
"iya ibuu dia putri dari adik saya imah dan hasan." kata bi narti.
"hasan apa hasan teman aku didesa dulu bi?" tanya pak ikhsan.
"tunggu mas hasan yang suka jahilin aku dulu waktu kecil ma?" tanya tante mirna.
"iya hasan itu." kata nenek tika.
pantes mama tika kekeh mau jodohin hendru dengan keponakan bi narti.pikir papa ikhsan.
"kalau papa kamu tau kalau widya itu cucu imam pasti dia akan senang banget karena imam sudah banyak membantu keluarga kita kalau gak ada imam mungkin kitatak punya yayasan yang sekarang diurus oleh apa kamu itu." kata nenek tika sambil mengingat kenangan dulu.
"maaf nyonya pak imam sudah meninggal." kata bi narti.
"kapan itu nar. kok kamu gak bilang?" kata nenek tika.
"maaf nyonya saya pikir bukan pak imam itu yang ada difoto keluarga dirumah nyonya. wajah pak imam berbeda." kata bi narti.
"iya wajahnya cacat karena terbakar waktu itu." kata nenek tika.
"terus kenapa widya bisa ikut kamu kerja disni bukannya imam punya usaha dikampung?" tanya nenek tika.
"semua harta pak imam diambil alih oleh arif adeknya hasan. sekarang hasan hanya menjadi buruh tani dan adek saya jaulan dipasar." kata bi narti.
setelah mengetahui keadaan hasan dikampung nenek tika berniat untuk pergi ke desa kelahirannya. siapa tau hasan dan keluarganya mau diajak ikut kekota dan rencananya nenek tika juga akan memberi modal untuk buka usaha.
saat mereka sedang mengobrol tentang hasan terdengar suara motor.
"itu pasti widya." kata mama naya.
"bi kamu panggil widya suruuh masuk kesini." kata nenek tika.
mendapat perintah dari nyonya tik bi narti langsung berjalan keluar untuuk mengajak widya masuk kedalam rumah itu dulu.
"wid sini nduk ikut bibi masuk." kata bi narti.
__ADS_1
"ada apa bi?" kata widya
"ikut bibi saja nanti kamu juga akan tau sendiri." kata bi narti sambil berjalan masuk kembali kedalam rumah diikuti oleh widya.
mereka yang ada diruangan itu langsung melihat kebelakang. nenek tika langsung menghampiri widya dan memeluk widya. hendru yang berjalan turun kebawah kaget melihat neneknya memeluk widya. dia langsung berjalan keruang tengah untuk mencari tau apa yang terjadi.
"ada apa ini nek?" tanya hendru.
"sini kalian duduk sini, kamu juga duduk deket nenek sini nduk." kata nenek tika.
"sini duduk didekat nenek sini gak usah takut." kata nenek tika lagi.
widya duduk didekat nenek tika dengan takut-takut.
"hen wid nenek mau kalian menikah." kata nenek tika yang membuat semuaorang terkejut.
"apa nek?" tanya hendru.
" kalian berdua harus menikah.' kata nenek tika.
"siapa yang mau menikah?" tanya kakek yang baru datang.
"hendru sama widya kek." kata nenek tika.
"siapa widya.?" tanya kakek sambil duduk disofa.
"cucu dari imam sahabat kamu dikampung." kata nek tika.
"nenek kenal dengan kakek saya?" tanya widya.
"iya kami banyak banget berhutang budi sama kakek kamu." kata nenek tika.
"tunggu ma, imam yang kamu maksut itu imam ansori?" tanya kakek.
"iya kek. kakek setuju kan kalau aku ingin hendru dan widya menikah." kata nek tika.
"baiklah aku setuju." kata kakek.
"tapi hendru gak setuju."kata hendru langsung pergi dari sana.
semetara widya jadi serba salah. widya pamit kebelakang untuk menenangkan diri. dia sangat terkejut akan apa yang terjadi tadi.
widya lelah berpikir akhirnya memutuskan mandi dan melaksanakan kewajibannya setelah itu dia mau makan perutnya sudah lapar.
selesai makan widya melipat baju lalu dimasukan didalam lemari. widya mengambil buku gambar untuk memulai membuat sketsa jas yang dipesan oleh pelanggan tadi karena waktunya cuma sedikit. tetapi bukannya memiliki ide tapi malah dia terpikir omongan keluarga besar nugraha.
tok tok tok
"wid bibi boleh masuk?" tanaya bi narti.
"masuk bi. ada apa bi?" tanya widya saat melihat bi narti sudah duduk diranjang widya.
"gimana keputusan kamu wid?" tanya bi narti.
"keputusan apa bi?" tanya widya pura-pura tidak tau.
"soal pernikahan kamu dengan den hendru?" tanya bi narti.
"aku ikut den hendru saja bi takut keputusan aku salah." kata widya.
"ya sudah kalau menurut kamu itu baik." kata bi narti.
'bibi mau kembali ke kamar. jangan tidur malam-malam." kata bi narti sambil keluar dari kamar widya.
mendengar ucapan bi narti semakin membuat widya tidak fokus mengerjakan pekerjaannya.
hendru sendiri dibalkon kamarnya sedang menatap kebawah. dari atas balkon hendru bisa melihat kamar widya kalau jendela kamar tidak dituutup oleh widya.
hendru tadi sempat melihat bi narti masuk kedalam tapi tidak tau apa yang mereka bicarakan. kayaknya penting karena setelah kepergian bi narti terliat kalau widya melamun.
__ADS_1
hendru hanya menghela nafas karena dia tidak ingin dijodohkan dengan orang yang tidak dia cintai. hendru takut kalau dia menikah dengan widya hendru hanya memberi luka dan penderitaan ke widya. lagian widya pasti sudah memiliki kekasih dikampung dia tak mau menghancurkan masa depan orang.