
"Kalian nginap sinikan?"tanya budhe.
"Maaf budhe kami hanya mampir sebentar disini. Aku cuma mau kasih ini buat Nina."kata Widya sambil memberikan paperbag yang dia bawa tadi.
Tapi bukan hanya untuk Nina saja, dia juga memberikan oleh-oleh untuk pakdhe dan budhenya. Membuat kedua orang itu menangis terharu.
"Katanya cuma untuk Nina tapi kok Budhe sama pakdhe juga to nduk?"kata Budhe
"Ini cuma oleh-oleh dari kami, kaliankan kalau kerumah pasti selalu bawa oleh-oleh buat bapak ibu.""kata Widya.
"Kamu itu nduk, kami bawa kesana ikhlas. Lagian kalau gak bawa gak enak."kata pakdhe.
"Makanya sama aja kayak kami, lagian ini bukan hadiah mahal. Baju ini aku yang bikin sendiri."kata Widya.
"Mbak beneran jadi seorang desainer seperti yang mbak impikan?"tanya Nina.
"Iya alhamdulilah aku sudah punya butik sendiri disurabaya dan rencananya mau buka lagi dijakarta."kata Widya.
"Loh nduk bukannya nak Hendru tinggalnya dijakarta?"kata Budhe.
"Iya tapikan aku kuliahnya disurabaya jadi sekalian buka usaha disana."kata Widya.
"Kamu hebat mbak aku ingin jadi kayak mbak."kata Nin.
"Kalau kamu mau kayak mbakmu harus serius sekolahnya. Contoh mbakmu yang gak neko-neko."kata budhe.
"Aku neko-neko gimana sih bu?"kata Nina.
"Iya kamu gak neko-neko tapi teman-teman kamu tu pada genit-genit semua."kata Budhe.
Pakdhe bukannya marah tapi malah tersenyum. Dia terserah Nina melakukan apa asal dia ta batas mana yang baik mana yang gak.
"Biasalah budhe anak zaman sekarang pasti mau mencoba hal-hal baru."kata Hendru yang daritadi diam.
"Tu denger mas Hendru bu."kata Nina yang senang karena dibela oleh kakak iparnya.
"Kamu tu ya, kalian kok gak nginap sih? Padahal budhe masih mau bermain sama Dara soalnya dia gemes banget dan gak rewel kalau diajak orang baru. Biasanyakan ada anak yang baru ketemu orang sudah nangis?"kata Budhe.
"Iya, budhe kamu benar. Rasanya aku mau Dara tinggal disini saja."kata pakdhe.
"Nanti insyaallah kalau kita libur panjang kami akan nginap disini."kata Widya.
"Iya budhe, besok sore kami juga harus kembali ke jakarta."kata Hendru.
__ADS_1
"Iya kamu kan sibuk orangnya le?"kata Budhe yang hanya disenyumi oleh mereka berdua tanpa menjawab.
Karena takut kemalaman mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kerumah orangtua Widya.Ternyata sampai rumah orangtua Widya sudah larut malam. Dara juga sudah tidur, pak Hasan langsung menyuruh putri dan menantunya itu untuk langsung beristirahat.
Biar besok pagi saja mereka berbincang-bincang lagi. Bu Imah juga sudah tertidur padahal tadi saat dibilangin kalau mereka bertiga akan datang kerumah sangat antusias.
"Maaf ya pak, gara-gara kami bapak jadi harus menungguin kami."kata Hendru yang tak enak.
"Gak papa to le, bapak sudah biasa tidur larut malam. Kalau ibumu beda lagi kan dia pagi-pagi harus kepasar buat beli bahan makanan untuk dijual."kata pak Hasan.
"Iya pak, kalau begitu saya mau kebelakang sebentar."kata Hendru.
Hendru kebelakang untuk mencuci muka dan cuci kaki. Awalnya dia mau mandi tapi saat sudah dibelakang airnya ternyata dingin jadi dia urungkan untuk mandi.
Widya setelah menidurkan Dara langsung menyusul Hendru kebelakang. Dia lupa jika Hendru dari tadi belum mandi, dia takut kalau Hendru kedinginan.
"Mas, mas mau mandi atau cuci muka aja?"kata Widya.
"Aku cuci muka aja airnya dingin banget."kata Hendru.
"Mau aku rebusin air dulu kalau mau mandi?"kata Widya.
"Gak usah, lagian udah malam kamu juga pasti sudah capek. Aku cuci muka aja malam ini besok baru mandi."kata Hendru yang tau kalau istrinya itu kelelehan juga.
"Mau aku tungguin apa aku tinggal?"kata Hendru yang sudah keluar dari kamar mandi.
Hendru tau kalau Widya juga mau masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
"Mas mau nungguin emang?"kata Widya.
"Boleh kalau kamu mau ditungguin. Tapi Dara tadi dikamar aman gak tidurnya?"kata Hendru yang khawatir kalau puutrinya nanti jatuh jika ditinggal lama-lama.
"Aman insayaallah tadi aku kasih guling disamping-samping kasur."kata Widya.
"Ya sudah aku tungguin kamu mau mandi atau cuci muka?"kata Hendru.
"Aku mau mandi, gak enak badanku lengket semua rasanya."kata Widya.
"Ya sudah cepetan mandinya dingin soalnya."kata Hendru.
"Siap mas."kata Widya.
Widya masuk ke kamar mandi sedangkan Hendru menunggunya disebuah kursi dibelakang rumah. Dia menunggu sambil main ponsel memeriksa pesan dari Ryan.
__ADS_1
[Bos beneran gak mau kembali kekantor?]
[Emang kenapa Yan? Apa ada masalah diperusahaan mama?]
[Iya, semua orang sedang resa karena produk kita kayaknya gagal tak ada minat dengan model perumahan yang baru.]
[Lah kok bisa bukannya kemarin-kemarin banyak yang minta dengan perumahan yang akan kita luncurkan itu?]
[ Iya tapi saingan kita lebih dulu meluncurkan model perumahan yang sama seperti yang kita bikin. Aku rasa ada orang dalam yang sudah membocorkan proyek kita ini.]
[Kamu selidiki aku akan membantu tapi kalau buat kembali ke perusahaan aku gak tau. Aku mau fokus ke hotel aku dulu.]
[Baiklah kalau begitu, aku akan seldiki ini. Maaf kalau mengganggu istirahat kamu.]
Saat dia lagi serius berkirim pesan tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang bahunya. Hendru langsung menoleh kebelakang ternyata itu Ali.
"Mas kok malam-malam ada disini?"tanya Ali.
"Nungguin mbakmu mandi. Ngapain kamu jam segini belum tidur?"kata Hendru.
"Perutku mules jadi terbangun deh."kata Ali sambil meringis.
"Ya sudah sana masuk, daripada nanti keluar disini."kata Hendru.
"Kalau keluar sih gak mas, tapi bau boomnya mas harus tahan."kata Ali.
"Kamu tu sana cepetan masuk."kata Hendru sambil mendorong adik iparnya itu masuk ke dalam toilet.
Tak berserang lama Widya juga keluar dari kamar mandi,. Dia penasaran siapa yang diajak bicara suaminya itu malam-malam begini.
"Mas tadi ngomong sama siapa?"kata Widya.
"Ngomong sama Ali."kata Hendru.
"Kok dia belum tidur?"kata Widya.
"Terbangun karena perutnya mules."kata Hendru.
Widya yang tau adiknya penakut langsung saja mengambil batu yang ada disekitar sana. Awalnya Hendru bingung kenapa istrinya mencari batu tapi saat dia melemparkan ke pintu toillet baru dia paham. Apalagi adik iparnya yag ada didalam langsung berteriak.
"Mbak gak usah nakut-nakutin kenapa ini sudah malam tau."kata Ali dengan berteriak.
Widya hanya menahan tawanya dan langsung mengajak suaminya untuk masuk ke dalam rumah. Hendru yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, dia gak nyangka kalau istrinya itu jahil juga sama adiknya padahal dia kelihatan kalem dan juga polos.
__ADS_1