Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 95


__ADS_3

Mereka sampai dipinggiran jakarta mereka singgah dulu direst area untuk beristirahat sebentar. Dara rewel dari tadi mungkin karena kecapekan karena daritadi dia berada didalam mobil terus.


"Kamu gak papa kita istirahat disini?"kata Hendru.


"Iya gak papa mas, kita cari tempat yuk untuk istirahat kasian Dara kalau kita istirahat didalam mobil."kata Widya.


"Ya sudah ayo, aku keluar dulu biar nanti Dara aku yang gendong pasti kamu capek daritadi memangkunya terus."kata Hendru yang langsung keluar dari mobilnya untuk membantu menggendong Dara.


Mereka bertiga mencari tempat yang teduh dan nyaman untuk duduk. Agar mereka bisa mendosorkan kakinya sebentar. Dara juga bisa bebas bermain-main dengan mainannya karena tadi didalam mobil dia hanya bermain dipangkuan ibunya.


Mereka berdua sangat senang saat melihat Dara tertawa tawa-tawa sendiri karena bisa bermain dengan bebas.


"Mas besok memang langsung bekerja?"tanya Widya lagi.


"Iya besok ada mahasiswaku yang akan sidang skripsi."kata Hendru.


"Habis itu pulang atau masih dikampus?"kata Widya.


"Kenapa emang kamu mau aku pulang cepat?"kata Hendru.


"Iya aku mau kamu temani aku sama Dara liat ruko."kata Widya.


"Aku gak janji tapi aku usahain ya, kalau aku gak bisa menemani gak papakan sama tante Intan aja. Bukannya sejak kamu tinggal sama aku kamu belum bertemu dengannya."kata Hendru.


"Iya mas benar, kalau sepulang liat ruko aku kerumah tante Intan gak papa mas?"kata Widya.


"Iya gak papa sayang, nanti aku jemput saat pulang kerja."kata Hendru.


Hendru mengajak anak dan istrinya kembali melanjutkan perjalanan setelah dirasa badannya sudah segar kembali. Dara juga sudah mulai menguap karena dia baru saja makan.


Hendru lngsung melajukan mobil kerumah barunya bukan ke apartemen. Widya yang tau kalau itu bukan jalan ke apartemen Hendru langsung bertanya.


"Mas kita mau kemana? Bukannya belok ke kiri ya apartemen kita?"kata Widya.


Hendru bukannya menjawab, dia malah tersenyum sambil mengelus pipi Dara. Setelah itu dia fokus dengan jalan. Sampai disebuah perumahan dia langsung saja mengajak istrinya untuk keluar dari mobil setelah Hendru mengendong Dara.


"Mas ini rumah siapa?"kata Widya.

__ADS_1


"Kamu suka gak sama rumah ini?"kata Hendru tak menjawab tapi malah bertanya.


"Ini rumah bagus aku suka, tapi ini rumah siapa sebenarnya?"kata Widya.


"Ini rumah kamu sayang."kata Hendru membuat Widya menoleh tak percaya.


"Serius mas ini rumah kita?"kata Widya tak percaya.


"Iya sayang rumah ini, rumah kita. Mulai sekarang kita akan tinggal disini."kata Hendru.


"Barang-barang kita gimana?"kata Widya yang teringat jika pakaian mereka semua masih ada diapartemen.


"Mama sama nenek sudah membawa barang-barang kita kesini."kata Hendru.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Sampai didalam rumah ternyata asistem rumah tangga mereka belum tidur.


"Loh bi kok belum tidur jam segini?"tanya Hendru saat melihat bi Saloh.


"Eh aden sudah pulang, bibi ini mau tidur tapikan harus melihat-lihat rumah apa sudah dikunci semua apa belum."kata bi Saloh.


"Oh ya bi kenalin ini istri saya Widya dan yang ada digendongan saya ini Dara tapi maaf dia tidur."kata Hendru.


"Ah bibi bisa aja."kata Widya.


"Ya sudah kalian keatas istirahat pasti sudah capek atau mau sesatu biar bibi bikinin?"kata bi Saloh.


"Gak usah bi, nanti kalau kami ingin apa-apa biar aku saja yang bikinin. Bibi istirahat aja pasti juga sudah capek."kata Widya.


Mereka naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Saat menuju kamar utama dia melihat ada nama Dara dan juga disebelahnya nama Ricky tapi kamar yang lain tak ada namanya.


"Mas kok cuma 2 yang ada namanya?"kata Widya.


"Nanti aku bikinin lagi setelah kita punya anak lagi."kata Hendru.


"Kamu apaan sih Dara masih kecil aku mau fokus ke dia dulu. Takutnya nanti aku gak bisa adil kepada mereka."kata Widya yang takut jika tak bisa membagi kasih sayang kepada anak-anaknya.


"Jika Allah berkata lain gimana? Kamu hamil dalam waktu dekat ini."kata Hendru.

__ADS_1


"kalau itu sudah jadi kehendaknya aku ikhlas mas. Anakkan reseki dari Allah banyak yang inggin punya anak tapi belum bisa mendapat momongan."kata Widya membuat Hendru tersenyum.


Hendru langsung menidurkan Dara diboxnya setelah itu barulah dia masuk ke kamar mandi. Widya tadi izin keluar untuk membuat wedang jahe.Saat Hendru keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Widya yang masuk ke kamra dengan membawa minuman ditangannya.


Widya memeberikan minuman yang dibawa itu ke Hendru. Ternyata Widya bikin jamu katanya itu buat orang yang pegal-pegal.


Widya setelah melihat Hendru meminum jamu itu langsung saja masuk ke dalam kamar mandi karena badannya sudah lengket dan capek banget. Dia ingin segera mandi lalu beristirahat.


Paginya seperti biasa Widya akan sibuk dengan Dara dan juga menyiapkan kebutuhan untuk Hendru. Untung saja dirumah baru ini ada bi Saloh jadi pekerjaannya tidak terlalu banyak hari ini.


Widya hanya mempersiapkan baju untuk Hendru yang akan digunakan ke kantor. Tapi untuk Dara tetap dia sendiri yang menyiapkan dari makanan dan juga memandikannya. Walaupun saat sarapan bi Saloh yang menyupi Dara sementara dia sarapan dengan hendru.


"Kamu nanti berangkat jam berapa?"tanya Hendru.


"Kayaknya jam 10an dh mas, soalnya tante Intan belum hubungi lagi. Memang ada apa?"kata Widya.


"Gak papa, itu mobil kamu ada digarasi."kata Hendru.


"Mobil, mobil yang ada disurabaya?"kata Widya.


"Yang disana aku kasih Santi, yang ada digarasi mobil baru."kata Hendru.


"Mas kok buang-buang uang sih, kan bisa disimpan buat kebutuhan lain."kata Widya.


"Cuma beliin mobil kamu uangku gak akan habis. Kalau gak buat kamu sama Dara lalu hasil jerih payahku selama ini buat apa dong?"kata Hendru.


"Iya aku tau tapi jangan boros-boros membeli sesuatu yang gak terlalu penting. Aku kemana-mana masih bisa pesan taksi online."kata Widya.


"Aku beliin ini juga buat Dara, masak kamu mau ajak dia naik angkutan umum. Kalau dia sudah besar sedikit aku gak papa tapi kalau untuk sekarang aku gak bisa biarin dia naik angkutan umum."kata Hendru.


Perkataan dari Hendru tai membuat Widya langsung terdiam karena yang semua dikatakan oleh Hendru benar adanya.


"Iya maaf, makasih ya sudah beliin aku mobil baru."kata Widya akhirnya.


"Sama-sama, aku cuma mau yang terbaik buat kalian gak ada maksut lain. Seandainya kita cuma bisa beli sat mobil yang aku pakai maka aku yang akan mengalah naik angkutan umum."kata Hendru.


"iya mas."kata Widya.

__ADS_1


Widya sangat bersyukur karena memiliki suami yang pengertian dan lebih mengutamakan keluaganya. Widya mengantarkan Hendru kedepan rumah tapi terlebih dahulu dia mengambil Dara dari asuhan bi Saloh.


Widya mau ajarkan Dara sejak kecil tentang berpamitan saat mau keluar kemanapun itu. Dia gak mau Dara salah jalan nantinya.


__ADS_2