
Hendru hari ini dibuat pusing oleh klien barunya karena mereka ingin bertemu disurabaya. Terpaksa Hendru harus pergi ke surabaya padahal dikampusnya dia juga sedang sibuk-sibuknya membimbing mahasiswanya.
Sampai disurabaya Hendru lebih dulu mencari makan disebuah mall dan saat dia sampai disana ternyata sedang ada fashion show milik sebuah butik yang bernama Mala.
"Bos pak faisal ingin bertemu dimall ini. Soalnya istrinya ingin menghadiri fashion show itu." kata Ryan.
"Bilang saja kalau kita kebetulan juga sudah ada disini." kata Hendru.
"Apa kita memesan ruang vip?" tanya Ryan.
"Gak usah disini aja, sekalian bisa melihat fashion show itu." kata Hendru.
Entah kenapa Hendru sangat tertarik dengan fashion show itu. Dia teringat dengan Widya, "apa kabarmu sayang?" batin Hendru.
Saat mereka sedang menikmati makan siangnya. Mata Ryan tak sengaja melihat seorang perempuan yang mirip dengan Widya.
"Bos... bos itu bukan istri bos ya." kata Ryan sambil menunjuk kearah tempat wanitaitu duduk
Hendru menengok belakang dan begitu senangnya karena yang dia lihat itu benar istrinya. Hendru langsung berjalan menghampiri kedua perempuan itu.
Widya sedang bermain dengan Dara saat Hendru menghampirinya. Widya begitu terkejut saat Hendru ada didepannya.
"Wid, ini benar kamu?" kata Hendru.
"Mas Hendru..." kata Widya terkejut.
"Sini biar Dara main sama aku. Sayang sini main sama mama!" kata Lydia.
"Jangan jauh-jauh." kata Widya.
Setelah kepergian Lydia mereka berdua tak ada yang berbicara. Mereka saling diam satu sama lain entah apa yang mereka pikirkan.
"Bagaimana kabar kamu mas?" tanya Widya memulai duluan.
Widya melihat badan Hendru yang kurus merasa kasian. Hendru juga terlihat sangat kelelahan dan kurang tidur.
"Aku baik-baik aja. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" kata Hendru.
"Aku baik." kata Widya.
"Mbak, mbak Mala dicariin juga malah disini." kata Santi.
"Ada apa San?" tanya Widya.
"Pantes aku cari kamu gak ketemu ternyata kamu rubah panggilanmu." kata Hendru.
Widya tak menjawab malah tersenyum. DIa senang melihat suaminya lagi tapi dia takut kalau Hendru tau. Jika mereka memiliki seorang anaK, Hendru akan mengambil darinya.
"Ada apa San?" tanya Widya lagi saat Santi melihat Hendru tanpa berkedip.
"Eh mbak siapa mas ganteng ini?" tanya Santi.
"San aku tanya apa kok kamu malah jawabnya apa sih!" kata Widya. Hendru yang mendengar hanya tersenyum.
"Itu mbak, mas Rehan mencari mbak." kata Santi.
"Ngapain dia cari aku?" kata Widya.
"Aku gak tau mbak." kata Santi.
"Mas aku permisi dulu!" kata widya yang berdiri untuk pergi darisana.
"Tunggu Wid." kata Hendru.
"Ada apa mas?" kata Widya.
"Aku boleh minta no ponsel kamu, siapa tau sewaktu-waktu aku bisa bertemu denganmu lagi kalau aku ada kerjaan disini." kata Hendru yang sadar kalau tak mungkin Widya bisa memaafkan nya begitu saja.
Widya memberikan kartu namanya setelah itu segera pergi dari sana. Hendru sendiri menatap kepergian Widya hingga perempuuan itu tak terlihat lagi.
Jika tak teringat tujuannya berada disini mungkin dia akan mengikuti kemana Widya pergi. Hendru kembali ke tempat dia duduuk tadi ternyata disana sudah ada pak faisal dan istrinya.
"Pak Hendru ini kenal dengan bu Mala?" kata istri pak Faisal.
"Iyakami saling kenal. Ada apa ya bu?" tanya Hendru.
"Tidak ada, saya salut dengan bu Mala butiknya baru saja berdiri setahun yang lalu tapi sudah bisa berkembang pesat." kata bu Faisal.
"Iya dia sangat berbakat dalam bidang itu bu." kata Hendru.
"Tapi sayang kehidupannya semulus kariernya." kata bu Faisal.
__ADS_1
"Memang kehidupannya bagaimana bu?" tanya Ryan mewakili Hendru.
" Saya dengar suaminya berselingkuah. Saat dia kesini, dia baru tau kalau dia sedang hamil." kata bu Faisal.
"Apa anaknya perempuan yang bernama Dara bu?" tanya Hendru.
"Iya pak, dia anak yang cantik. Tapi kalau diliat lebih terliti lagi anak itu mirip dengan bapak tapi versi perempuan." kata bu Faisal.
Hendru hanya tersenyum tak menjawab. Dia sebelum kembali ke jakarta harus memastikan dulu apa benar kata bu Faisal. Jika benar berarti Dara adalah putrinya.
Hendru berharap jika memang Dara putrinya widya mau kembali dengannya.
Mereka setelah berbasa basi sebentar langsung membahas tentang kerjasama yang akan mereka lakukan disurbaya.
Sedangkan Widya tak jadi bertemu dengan Rehan karena Dara lewer banget.
"Kamu tadi bicara apa aja sama Hendru Wid?" tanya Widya.
"Gak ada cuma tanya kabar karena tadi Santi nyariin katanya Rehan nyariin aku." kata Widya.
"Ohh aku pikir kamu bicara banyak dengan dirinya." kata Lydia.
"Aku kasian sama dia Ly." kata Widya.
"Siapa yang kamu kasiani?" kata Lydia.
"Mas Hendru." kata Widya.
"Kasian kenapa?" kata Lydia.
"Terlihat anget kalau dia tidak terurus dan sekarang dia kurus banget." kata Widya.
"Apa kamu mau kembali dengnanya?" kata Lydia.
"Aku gak tau Ly. Aku sayang sama dia, tapi aku takut disakiti lagi." kata Widya.
"Gimana kalau kita test keseriusannya?" kata Lydia.
"Maksutny/" kata Widya.
"KIta test dia apa dia masih perduli dngannmu atau gak." kata Lydia.
Saat mereka berdua sedang asik membicarakan rencana mereka terdengar bell rumah berbunyi. Lydia berdiri untuk membuka pintu rumahnya.
"Ngapain kalian kesini?" tanya Lydia.
"WIdya ada ly?" kata Rehan.
"Widya ada dirumahkan dek? aku ingin bertemu dengannya!" kata Hendru.
"Ada, ayo masuk." kata Lydia.
"Wid, dicariin orang nih." kata Lydia membawa mereka masuk ke dalam.
Lydia pergi dari sana dengan membawa Dara. Hendru yang melihat langsung menghentikan Lydia.
"Kamu mau kemana dek?" tanya Hendru.
"Aku, mau ajak Dara ke belakang kalian ngobrol aja." kata Lydia.
"Aku ikut kamu, kayaknya mereka ada urusan penting." kata Hendru.
"Tapi mas..." kata Widya.
"Gak papa, kalian ngobrol dulu aja aku nanti." kata Hendru.
Hendru ikut Lydia ke belakang. Sebenarnya dia tak rela jika Widya bersama pria itu. Tapi dia sadar, kalau Hendru tak bisa egois apalagi jika mengingat apa yang dia lakukan dulu.
Dia kesini hanya ingin dekat dengan Dara. Walaupun mereka tak bisa bersama lagi tapi Hendru berharap bisa dekat dengan putrinya.
"Hallo sayang mau digendong papa gak?" kata Hendru saat sudah duduk dibelakang.
"Kak Hendru tau darimana jika Dara adalah putrimu?" kata Lydia kaget.
"Dari orang yang jadi langganan butik Widya."kata Hendru.
"Kakak yakin banget." kata Lydia.
"Orang yang benar-benar merhatiin aku dan Dara pasti tau kalau kami mirip." kata Hendru.
Lydia langsung melihat mereka berdua secara bergantian memang benar apa kata pria didepannya ini.
__ADS_1
"Gimana kamu percayakan sekarang?" kata Hendru.
"Apa kakak akan ambil hak asuh Dara dari Widya?" kata Lydia.
"Aku tak akan mlakukan itu. Aku hanya ingin dekat dengan Dara saja. Jika aku tak bisa kembali dengan Widya bukan berarti aku akan mengabaikan putriku." kata Hendru sambil bermain dengan Dara.
"Apa kakak masih ingin bersama dengan Widya?" kata Lydia.
"Jika dia mau kembali denganku maka aku akan meperjuangknnya tapi jika dia sudah menemukan kebahagiannya dengan orang lain aku akan melepasnya dengan ikhlas." kata Hendru.
"Kenapa gak coba dekti dia lagi?" kata Lydia.
"Aku gak mau memaksanya, apalagi jika mengingat kesalahanku yang dulu." kata Hendru.
"Kak kenapa kakak jadi berubah kayak gini sih? kak Hendru yang aku kenal dulu bkan orang yang mudah menyerah." kata Lydia.
"Aku akan berusaha untuk meluruhkan hatinya. Tapi bagaimana caranya sedangkan aku harus kembali ke jakarta besok." kata Hendru.
"Kakakkan bisa pulang pergi." kata Lydia.
"Kamu benar makasih ya dek." kata Hendru.
Saat mereka asik berbicara dan bermain dengan Dara. Widya dan Rehan datang menghampiri.
"Kayaknya asik anget nih?" kata Rehan.
"Iya asik banget apalagi bisa bermain dengan putri sendiri. Iya gak sayang?" kata Hendru sambil mencium pipi Dara hingga bayi itu terkekeh karena geli.
Widya yang melihat itu langsung terhenyah. Dia merasa bersalah karena telah memisahkan ayah dan anak itu.
"Lalu kenapa kamu bisa ninggalin Lydia? padahal dia perempuan yang baik." kata Reyhan.
"Mungkin gak jodoh. Iya gak dek?" kata Hendru.
"Iya kak." kata Lydia.
Saat mereka asik mengobrol tiba-tiba ponsel Hendru berbunyi.
[Hallo Yan, ada apa?]
[Kita harus segera kembali ke jakarta bos dimana?]
[Baiklah bawa sekalian barangku kesini, kita berangkat dari sini. Aku akan share lokasinya ke kamu." kata Hendru.
Setelah mematikan telponnya Hendru bermain lagi dengan putrinya. Sebenarnya dia ingin berlama-lama disana tapi kesibukannya gak bisa dia tinggal begitu saja.
"Sayang, ayah pulang dulu ya, hari sabtu ayah balik kesini lagi." kata Hendru bicara dengan putrinya.
Dara yang mengerti kalau akan ditinggal lagi oleh ayahnya langsung menangis. Hendru bingung dan menatap kearah Widya.
Widya yang mengerti langsung mengabil Dara dari pangkuan Hendru tapi anak itu tak mau lepas dari Hendru.
"Kayaknya dia gak mau kamu tinggal kak?" kata Lydia.
"Ayah gak kemana-mana sayang. udah jangan nangis ya." kata Hendru.
Setelah Hendru berkata begitu Dara tak menangis lagi.
"Kak emang sudah pesan tiket?" tanya Lydia.
"Sudah tapi aku minta ryan buat cancel aja. Biar besok pagi-pagi sekali atau nanti malam kalau ada jadwal penerbangan yang terakhir kakak naik itu saja." kata Hendru.
"Maaf mas." kata Widya.
"Gak papa, aku senang kok kalau Dara mengenaliku." kata Hendru.
"Gimana gak kenal, kalau foto kamu selalu diperlihatkan oleh Widya." kata Lydia.
"Benar itu Wid?" tanya Hendru.
Widya hanya menganggukan kepalanya. Hendru yang mendapat jawaban itu merasa bahagia. Dia berjanji akan meperjuangkan pernikahan mereka. Sedangkan Rehan bingung dengan apa yang terjadi disini.
"Dara walaupun umurnya belum genap 1 tahun dia cepat paham akan sesuatu yang diajarkan padanya." kata Widya.
"Kayaknya kepintaran ayahnya nurun ke Dara?" kata Lydia.
"Wah bagus dong kalau kayak gitu nanti bisa bantuin ayah ngurus yayasan." kata Hendru.
"Mas Dara masih kecil, aku gak mau dia dipaksa untuk memegang perusahaan atau yayasan kamu." kata Widya.
"Aku tau itu, aku akan bebasin dia kok mau menjadi apa nanti. iya gak sayang?" tanya Hendru.
__ADS_1
Hendru senang sekali saat dia tau jika memiliki seorang putri yang cantik dari Widya. Hdupnya terasa semangat lagi.