Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 22


__ADS_3

mereka langsung pergi kekasir untuk mebayar pada saat mereka sedang mengantri banyak mata melihat dan memuji mereka adalah pasangan yang serasi. ada juga yang berharap dapat kekasih seperti hendru.


selesai membayar buku hendru mengajak widya berkeliling setelah lelah mereka pergi ke food cournt untuk makan malam.


habis makan malam baru lah mereka berdua pulang. saat pulang pun didalam mobil tetap saja suasana menjadi canggung.


" wid sabtu depan kamu sudah siap belum?" tanya hendru memecah keheningan didalam mobil.


"insyaallah sudah mas tapi widya takut kalau orangtua widya gak setuju." kata widya jujur kalau dia takut dengan orangtuanya.


"kalau masalah itu biar nanti kedua orangtua serta kakek dan nenek. yang mengurus." kata hendru meyakinkan widya.


"kamu tinggal persiakan diri saja." kata hendru.


" maksutnya mempersiapkan diri mas?" tanya widya bingung.


" aku yakin kalau lamaran diterima sama orangtuamu pasti orangtuaku akan segera menentukan tanggal pernikahan kita." kata henru yakin.


" kok gitu mas, malah widya yang takut kalau kayak gitu." kata widya.


"takut kenapa emang?" tanya hendru bukannya menikah itu lebih baik pikirnya.


"lamaran terus nikah pasti kata tetangga saya hamil duluan mas." kata widya sebab pikiran para orang didesa kalau buru-buru menikah itu pasti kecelakan.


"oh alah aku pikir apa. gak usah dipikirin apa kata orang." kata hendru dan dianggukin oleh widya. setelah berkata dengan hendru perasaan widya jadi tenang.


"kita udah sampai. cepat istirahat besok kerja bareng aku saja berangkatnya." kata hendru sambil membukakan pintu mobil untuk widya.


"gak usah mas besok aku naik motor saja kan pulangnya kita gak bareng takut ngrepotin." kata widya.


" iya sudah terserah kamu kalau kayak gitu." kata hendru.


mereka berjalan beriringan sampai didepan pintu utama mereka baru berpisah. tetapi hendru menunggu widya samapi tidak terlihat baru dia masuk ke dalam rumah.


didalam rumah ternyata keluarganya berkumpul diruang tengah. mama naya yang melihat hendru langsung punya ide untuk menjahilin putranya itu.


"ndru dariamana?" tanya mama naya yang membuat hendru mau tidak mau menghampiri mereka dan duduk disofa dekat mamanya duduk.


"ada deh mama mau tau saja urusan hendru." kata hendru sambil menjahilin keponakannya yang berada dipangkuan mama naya.


"ma aku dengar putra kesayangan mama ini tadi kencan sama perempuan siapa?" kata risa ikut menjahili adiknya.

__ADS_1


"ya padahal tu ya ris tadi pagi tu mama sama papa sudah bilang suruh dia ajak keluar tu perempuan kamu tau gak jawaban hendru apa?" kata mama naya yang membuat risa penasaran.


"apa ma aku jadi penasaran." kata risa. sedangkan doni yang tau kalau istrinya menjahili adik iparnya dia hanya geleng-geleng kepala.


"dia bilang dia banyak pekerjaan jadi gak bisa ajak jalan tu perempuan." kata mama naya sambil melihat hendru yang hanya diam menahan emosinya.


sedangkan mama naya yang melihat putranya lagi menahan amarah semakin semangat untuk menjahili adiknya. papa ikhsan yang tau kalau istrinya menjahili putranya hanya tersenyum dan membiarkannya karena jarang-jarang bisa menjahilin putranya itu sebab hendru terlalu dingin.


"terus akhirnya dia diam-diam ajak tu perempuan jalan ma?" kata risa yang gak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.


"iya benar saat dia mau pulang dari kampus hendru telpon tu perempuan untuk diajak jalan. mama pikir cuma sebentar eh ternyata sampai malam baru pulang." kata mama naya sambil tertawa keras.


melihat semua keluarganya tertawa mengejek hendru langsung berjalan pergi kekamarnya tanpa pamit.


"loh loh ndru kamu mau kemana?" tanya mama naya.


"sudah sudah kasian hendru biar dia pergi ke kamarnya pasti dia capek." kata papa ikhsan membela hendru.


hendru yang dibela oleh papanya hanya terus berjalan tanpa menoleh lagi. sampai dikamarnya hendru langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi karena badannya sudah lengket semua.


sedangkan widya masuk rumah langsung mandi dan melaksanakan kewajibannya. saat dia baru saja selesai shalat bi narti masuk kekamarnya.


"aku pergi keluar dengan den hendru bi, ada apa?" tanya widya takut kalau bi narti marah.


"oh aku pikir kamu pergi dengan siapa. kalau sama den hendru bibi gak papa. malah bibi merasa tenang." kata bibi narti.


"syukurlah aku pikir bibi marah karena aku pergi gak minta izin dulu." kata widyayang merasa lega karena bi narti tidak marah.


" bibi gak papa kamu pergi jalan-jalan bibi gak nglarang tapi kalau mau pergi bilang dulu sama bibi ya." kata bi narti dia khawatir kalau terjadi apa-apa dengan widya karena selama disini widya tanggungjawabnya.


"iya bi nanti kalau mau pergi keluar aku bilang dulu sama bibi. sekali lagi aku minta maaf ya." kata widya sambil menyesari tindakannya yang gak minta izin dulu sama bi narti.


"sudah bibi maafin. iya sudah kamu istirahat sekarang pasti kamu capek bibi mau kmbali ke kamar mau istirahat juga." kata bi narti sambil berjalan keluar meninggalkan kamar widya kembali ke kamarnya.


disaat bi narti habis keluar hp widya berbunyi ternyata yang menelpon ali widya langsung mengangkatnya.


'hallo asalamualaikum li, ada apa nelpon mbak?' tanya widya khawatir kalau terjadi sesuatu karena gak biasanya malam-malam begini ali telpon.


'walaikumsalam mbak... ini ibu mau bicara sama mbak.' kata ali yang langsung menyerahkan hpnya ke imah.


'asalamualaikum nduk, gimana kabarmu disana?' kata bu imah yang kangen dengan putrinya.

__ADS_1


' walaikumsalam bu... alhamdulilah widya sehat. gimana kabar ibu sama bapak disana?' kata widya.


'alhamdulilah bapak sama ibu baik. oh ya nduk ibu mau tanya sama kamu?' kata bu imah memastikan sendiri ke putrinya bahwa sabtu depan ada orang yang akan nglamar widya.


'mau tanya apa bu?' kata widya yang membuat dia penasaran.


'gini wid, tadi bi narti telpon ibu dia bilang hari sabtu depan keluarga majikan kalian mau melamar kamu apa benar?' kata bu imah memastikan.


'iya bu mereka mau melamar aku menjadi istri putranya.' kata widya takut kalau kedua orangtuanya marah.


'kenapa mendadak wit kamu kan baru kerja disana. apa terjadi sesuatu?' tanya bu imah berpikir macam-macam kalau telah terjadi sesuatu dengan putrinya.


'tidak bu tanya sama bapak apa bapak kenal dengan pak ikhsan arcana nugraha?' tanya widya.


bapak hasan yang mendengar nama ikhsan langsung mengambil hp ali untuk berbicara dengan widya.


'bapak kenal nduk, memang dia majikan kamu nduk?' tanya pak hasan.


'ya pak saya bekerja dibutik milik istrinya pak ikhsan.' kata widya.


'loh kamu gak kerja dirumahnya ya nduk?' kata pak hasan memastikan.


'awalnya memang widya kerja dirumah pak ikhsan tapi saat bu naya tau kalau aku bisa desain baju dia menyuruh aku kerja dibutiknya.' kata widya.


'oalah begitu memang dari dulu keluarga itu baik sama keluarga kita. kamu jangan ngcewain kepercayaan mereka ya wid.' kata pak hasan mewanti-wanti widya.


'insyaallah pak." kata widya.


'wid kok bisa kamu mau dilamar oleh keluarga mereka. apa putranya setuju dengan pernikahan ini?' tanya pak hasan yang takut kalau pernikahan ini tidak disetujui oleh putra mereka.


'alhamdulilah mas hendru setuju pak malah dia yang meyakinkan pernikahan ini.' kata widya.


widya berkata begitu supaya orangtuanya tidak khawatir tentang pernikahannya dan merestui widya untuk menikah dengan hendru.


'alhamdulilah kalau gitu bapak lega wid. iya sudah. ini sudah malam kamu istirahat sana besok kan kamu harus kerja.' kata pak hasan.


'iya pak kalau begitu widya tutup dulu telponnya besok kalau ada waktu ruang aku akan telpon lagi.' kata widya berpamitan untuk menutup telpon dari bapaknya.


widya merasa bebannya sudah hilang setelah kedua orangtuanya menyetujui pernikahan itu. setelah telpon itu dimatikan widya langsung merebahkan diri untuk tidur.


sedangkan hendru yang ada didalam kamarnya sudah tertidur dari tadi. sebentar saja dimerebahkan diri dia langsung tertidur.

__ADS_1


__ADS_2