Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 49


__ADS_3

Mereka sampai dilombok langsung saja diantar kepenginapan disana mereka akan tinggal selama 4 hari.


Sampai dipenginapan hendru langsung merebahkan diri diranjang widya hanya mengelengkan kepalanya saat melihat hendru yang langsung berbaring diranjang bukannya mandi terlebih dahulu karena tadi berangkat dia tak sempat mandi tadi.


"Mas mandi dulu baru tidur." kata widya sambil menguncang badan hendru agar bangun.


"Kamu mandi duluan aja, aku masih kelelahan." kata hendru.


"Mas aku lapar." kata widya.


"Kita makan disini saja ya. aku malas keluar hari ini badanku capek." kata hendru.


"Iya terserah mas saja asalkan makan." kata widya.


"kamu mau makan apa?" kata hendru.


"Makan apa saja asal bikin kenyang." kata widya.


"Kalau aku makan kamu gimana mau gak?" kata hendru.


"Mas apaan sih, itu mah bukan kenyang tapi..." kata widya tak melanjutkan lagi perkataannya karena melihat hendru dengan wajah menggoda.


"Tapi apa sayang? Apa kamu tak ingin menyempurnakan pernikahan kita?" kata hendru sengaja menggoda widya tapi kalau pun widya mau berarti dia mendapatkan jekpot.


"Apaan sih mas ini. Aku mau mandi." kata widya yang langsung meninggalkan hendru sendirian dikamar.


Saat berada didalam kamar mandi widya langsung memegang dadanya karena berdebar sangat kuat. Widya belum siap kalau melakukan hubungan suami istri dengan hendru sekarang. Tapi kalau terus menolak dia kasian terhadap hendru dan widya akan jadi wanita yang dilaknat Allah karena telah menolak ajakan suaminya.


Widya bertekat malam ini akan memberikan kesuciaannya kepada suaminya dia akan memakai pakaian yang diberikan oleh cindy malam ini.


Sedangkan hendru langsung saja memesan makanan. Sambil menunggu makanan dan widya selesai mandi dia merebahkan badannya diranjang tetapi malah dia ketiduran.


Widya membuka kamar mandi dan melihat kalau hendru ketiduran langsung saja mendekati untuk membangunkan hendru agar mandi.


Saat melangkah kearah ranjang terdengar suara pintu diketuk langsung saja widya berbalik arah untuk membuka pintu kamarnya.


"Maaf mbak apa ini kamar bapak hendru?" tanya pelayan hotel.


"Iya pak benar." kata widya.


"Ini mbak saya bawakan makanan pesenan bapak." kata pelayan itu.


"Iya makasih ya mas. Tolong letakkan didalam sana ya mas." kata widya sambil meminggirkan badannya agar pelayan itu bisa masuk dan meletakkan makanan diatas meja.


"Sudah mbak kalau begitu saya permisi dulu." kata pelayan itu. Tapi sebelum pelayan itu melangkah pergi terdengar suara hendru serak kas baru bangun menghentikan pelayan itu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar mas." kata hendru bangun dari ranjang dan berjalan ke arah pelayan itu.


"Iya pak,apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pelayan itu.


"Gak ada, aku cuma mau kasih ini sebagai tanda terimakasih." kata hendru sambil menyeeahkan uang 50.000 ke pelayan.


"Terimakasih mas, kalau nanti ada apa-apa bisa hubungi kami lagi. saya pamit dulu." kata pelayan yang diberi anggukan oleh hendru.


Setelah pelayan itu pergi hendru langsung berjalan kembali kearah ranjang untuk melanjutkan tidurnya. Widya menutup pintu dan menguncinya. Saat melihat hendru kembali berbaring dia berjalan mendekatinya.


"Mas bangun mandi habis itu makan aku udah lapar banget dan perutku sudah terasa perih." kata widya.


Hendru yang mendengar kalau perut widya terasa perih langsung saja bangun.


"Perih kenapa? apa kamu punya sakit magh?" kata hendru yang dibalas anggukan oleh widya.


"Kalau begitu tunggu aku mandi sebentar habis itu kita makan." kata hendru sambil menyambar handuk yang dipegang widya.


"Mas itu handuk basah lo yang kamu bawa." kata widya.


"Biarin aja gak papa sekalian aku jemur didalam. Didalam pasti juga ada handuk kering." kata hendru.


Sepeninggalan hendru widya langsung saja menyiapkan pakaian hendru dan meletakkannya di atas ranjang. Sambil menunggu hendru selesai mandi widya memainkan game dihpnya sampai-sampai tak sadar kalau hendru sudah selesai mandi.


Hendru merasa bahagia saat keluar dari kamar mandi ternyata widya sudah menyiapkan pakaiannya diatas ranjang. Tapi dia merasa diabaikan setelah melihat kalau widya sibuk dengan hpnya.


"Apa yang kamu lakukan sayang." kata hendru yang membuat widya kaget karena hendru bertanya sambil berbisik ditelingannya.


"Eh mas udah selesai mandinya?" tanya widya sambil melihat ke arah hendru dan tak sengaja mencium bibir hendru.


"Mas maaf aku gak sengaja." kata widya yang terkejut dengan ciuman itu dengan pipi yang sudah bersemu merah.


"Oh benarkah sengaja juga gak papa. Apalagi kalau diulangi lagi aku juga mau." kata hendru yang membuat pipi widya semakin merah.


"Mas ngomong apa sih. Ayo makan aku udah lapar." kata widya mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah ayo tapi kamu suapin ya biar romatis." kata hendru.


"Tapi mas aku malu." kata widya.


"Malu kenapa lagian gak ada orang disini cuma kita."kata hendru membuat widya dengan terpaksa menuruti keinginan hendru untuk menyuapinya dan hendru merasa sangat bahagia.


"Maaih sakit perutnya." tanya hendru saat mereka sudah selesai makan.


"Masih mas." kata widya yang masih merasakan sakit.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu kamu disini dulu aku mau keluar dulu membeli obat." kata hendru.


"Gak usah mas, nanti juga sembuh sendiri kan udah makan akunya." kata widya yang gak enak dengan hendru.


"Gak papa aku beliin buat jaga-jaga." kata hendru sambil berjalan keluar dari kamar dan widya tak dapat mencegah.


widya berpikir inilah saatnya dia memberikan kejutan kepada hendru kalau dia sudah siap dimiliki seutuhnya oleh hendru.


widya mengambil baju haram itu dan masuk ke dalam mobil untuk memakainya. Saat dia melihat cermin dia bergidik ngeri karena baju itu memperlihatkan semua bagian tubuhnya hanya bagian dada dan tempat berharganya saja yang tak terlihat tapi yang lain benar-benar terlihat kayak widya tidak pakai baju.


Itulah yang membuat dia ragu untuk memakainya. Tapi akhirnya dia memantapkan hatinya dia menutupi tubuhnya dengan memakai kimono untuk menutupi baju haram itu.


Hendru yang baru masuk terkejut saat melihat widya memakai kimono dan duduk diatas ranjang.


"Kenpa pakai kimono?" tanya hendru dengan nada khawatir sedangkan widya sekarang sedang gugup dan meremas tangannya.


Widya tidak tau apa yang harus dia katakan kepada hendru kalau dia sudah siap menjadi milik hendru sepenuhnya.


"Wid ada apa? apa ada yang sakit?" tanya hendru yang khawatir dengan keadaan widya dan tak menjawab pertanyaannya.


"wi... widya..." panggil hendru sambil mengunjang badan widya seketika membuat widya sadar dari lamunannya.


"Mas aku...aku..." kata widya tanpa bisa melanjutkan perkataannya.


"Kamu kenapa wid? apa ada yang sakit?" tanya hendru yang masih khawatir.


"Aku gak papa kok." kata widya masih dengan memlemas tangannya.


Hendru yang melihat widya gugup malah bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa wid. katakan sesuatu biar aku mengerti kalau kayak gini kan aku bingung apa yang kamu mau?" kata hendru.


"Aku sudah siap mas." kata widya.


"Siap untuk?" kata hendru yang tak mengerti.


"Aku sudah siap jadi istri mas hendru sepenuhnya." kata widya dengan memberanikan diri menatap hendru.


Hendru terpaku sebentar dan saat sadar dia langsung ******* bibir widya dengan lembut dan panas dia baru melepas ciumannya setelah dirasa mereka berdua kehabisan nafas.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan ini sayang?" tanya hendru sebelum mereka melangkah lebih jauh lagi. pertanyaan hendru hanya diberi anggukan oleh widya.


Setelah melihat keyakinan dari widya langsung saja dia mencium kembali widya dengan perasaan yang mengebu-gebu. Malam itu mereka merasakan malam penuh gairah yang orang-orang bilang adalah surga dunia.


"Terimakasih karena telah memberikan kepercayaan padaku untuk memilikimu seutuhnya." kata hendru dengan perasaan yang berbunga-bunga karena widya memberikan pengalaman yang baru saja hendru rasakan.

__ADS_1


"Iya mas tapi mas harus janji gak akan ninggalin aku." kata widya.


"Iya sayang, aku gak akan ninggalin kamu. Sekarang kita tidur ya pasti kamu capek." kata hendru sambil memeluk widya erat seperti tidak mau melepaskan.


__ADS_2