
"Mas doain semoga kamu bisa mencapai cita-citamu."kata Hendru.
"Amiin."kata mereka semua secara bersamaan.
"Kalian mau pulang jam berapa?"kata pak Hasan.
"Nanti jam 5 kami berangkat dari sini."kata Hendru.
"Kamu gak capek Ndru?"kata pak Hasan.
"Gak pa capek aku hilang saat melihat mereka berdua bahagia."kata Hendru.
"Apaan sih mas, kamu gombal banget."kata Widya.
"Benar nduk seorang pria itu pasti lelahnya akan hilang jika mereka melihat istri dan anaknya bahagia. Kebahagian seorang laki-laki ada diistri dan anaknya."kata pak Hasan.
"Iya bapak benar Wid, aku juga berharap kalian berdua akan selalu membuat kalian berdua bahagia."kata Hendru.
"Kalian mau memang gak mau nambah lagi emang?"tanya bu Imah.
"Aku mau bu, tapi aku masih harus bertanya sama Widya apa dia siap atau belum."kata Hendru sambil melirik kearah WIdya.
Widya yang sadar kalauu ditatap oleh semua orang yang ada disana langsung saja mendongah kearah mereka semua.
"Kalian kok ngelihatin aku sih?"kata Widya.
"Kamu sudah siap belum jika Dara punya adik."kata bu Imah.
"Kalau aku sedikasihnya aja."kata Widya.
"Tu Ndru gaskan."kata pak Hasan.
"Bapak apaan sih."kata Widya.
"Loh emang kenapa? Bukannya kamu juga tadi bilang kalau sedikasihnya aja berarti kamu sudah siap kalau hamil lagi. Iya gak bu?"kata pak Hasan.
"Bapak benar juga, ibu juga pengen ngerawat kamu. Kan waktu kamu hamil Dara kami tak bisa merawat kalian."kata ibu Imah.
"Mereka benar, aku juga ingin merasakan bagaimana merawat kamu saat hamil."kata Hendru.
"Aku gak mau, aku maunya kamu yang merasakan nyidam nanti."kata Widya.
"Lah emang bisa kalau aku yang nyidam?"kata Hendru.
"Bisa tapi itu hanya ada satu dari seribu orang yang mengalami."kata bu Imah.
"Ibu tau banyak tentang ini."kata Hendru.
"Iya sedikit banyak ibu tau dari para emak-emak yang menceritakan tentang kehamilannya."kata bu Imah.
__ADS_1
"Wah nanti kayaknya aku akan belajar lebih banyak dari ibu."kata Hendru.
"Nanti kalau ada waktu ibu akan ceritakan bagaimana waktu ibu hamil Widya. Sekarang ibu mau tau bagaimana kamu dulu hamil Dara."kata bu Imah.
Widya langsung menceritakan bagaimana dia hamil Dara. Bu Imah gak nyangka kalau putrinya ini harus mengalami kehamilan sendirian. Tapi dia juga bersyukur ada sau keluarga yang baik yang mau merawat putrinya.
Hendru juga sangat sedih saat mendengar langsung cerita dari Widya. Dia tak menyangka jika dikehamilan pertamanya dia tak berada disisinya.
"Mas aku kok jadi kangen sama Lydia sih?"kata Widya yang menyadarkan Hendru dari lamunannya.
"Kamu mau telepon dia?"kata Hendru yang langsung dianggukin oleh Widya.
Mendapat anggukan dari istrinya Hendru langsung saja mengambil ponselnya yang ada didalam saku untuk menghubungi Lydia semoga gadis itu tak sibuk bekerja hari ini.
Ternyata disurabaya Lydia pun sedang memandang foto Dara yang ada diponselnya. Dia mau menghubungi Widya duluan tapi sebentar lagi dia akan ada meeting dengan dewan direksi Tapi saat dia melamun ternyata Hendru menghubunginya..
[Hallo Asalamualaikum kak.]
[Walaikumsalam kamu lagi sibuk gak sekarang?]
[Sekarang sih gak tapi sebentar lagi aku ada meeting. Ada apa tuumben kamu hubungi aku kak?]
[Ada yang kangen sama kamu..]
[Siapa yang kangen mas?]
[Widya sama Dara.]
[Sebentar saja bicara agar terobati nanti kalau sudah dirumah bisa teleponan lagi.]
[Emang kalian ada dimana?]
[Kami lagi dirumah orangtua Widya.]
[Aku pengen liat orangtanya Widya]
Lydia langsung mengubah panggilan biasa itu menjadi panggiilan Video agar dia bisa berkenalan dengan mereka semua. Dara langsung saja mau meraih ponsel itu saat dia melihat wajah Lydia.
Lydia yang tau langsung terkekeh geli. Dia langsung saja ingin segera pulang ke jakarta untuk bertemu dengan gadis kecil itu.
Lydia hanya sebentar saja berbicara dengan kedua orangtua dan adik Widya karena dia sudah diberitau dengan sekertarisnya jika dia akan segera meeting. Setelah berpamitan dia langsung mematikan panggilan itu.
"Jadi nak Lydia itu yang tinggal bersamamu saat berada disurabaya?"tanya bu Imah.
"Iya bu, dia yang menemaniku saat tinggal disurabaya. Orangtuanya juga yang telah memberikan modal padaku untuk membuka butik."kata Widya.
"Lalu sekarang nak Lydia ada dimana?"kata pak Hasan.
"Dia masih ada disurabaya tapi orangtuanya adda dijakarta."kata Hendru.
__ADS_1
"Kok dia tinggal disurabaya sendirian?"kata pak Hasan
"Lydia mengurusi perusahaan papanya yang berada disurabaya."kata Hendru.
"Hebat berarti dia karena dia mau membantu orangtuanya. Banyak lo sekarang anak-anak yang hanya mau menikmati saja harta orangtuanya."kata pak Hasan.
"Iya pa, dia benar baik banget aku salut sama dia. Padahal dia dulu selalu dibully oleh teman-temannya."kata Hendru.
"Mas emang benar Lydia dulu sering kena bully orang?"tanya Widya.
"Iya dia dulu selalu dimanfaatkan oleh teman-temannya. Tapi dia tak mau tau bagi dia yang penting tak merugikan dia."kata Hendru.
"Kalau soal Rayan gimana mas?"kata Widya mau tau soal mereka berdua.
"Aku mau tau hubungan Lydia dengan Rayan, biar kita siapa tau bisa satukan mereka lagi."kata Wida.
"Aku pengennya begitu tapi aku gak yakin jika kita bisa meyatukan kembalii mereka berdua jika mama Rayan tetap angkuh dan memandang kasta."kata Hendru.
"Tapi mas bukannya kekayaan orangtua Rayan itu kalah jauh dari orangtua Lydia."kata Widya.
"Iya tapi lydia gak mau dia bisa berhubungan dengan Rayan hanya karena orangtua Rayan tau kalau ternyata Lydia itu anak orang kaya. Dia mau mereka menerima apa adanya dia."kata Hendru.
"Tapi kenapa harus bilang kalau dia akan segera menikah dulu?"kata Widya.
"Iya karena banyak laki-laki yang ingin menggodanya dan dia juga pernah mendapatkan pelecehan seksual oleh seseorang."kata Hendru.
"Kenapa Lydia tak cerita soal itu mas sama aku?"kata Widya.
"Kamu kan tau kalau dia suka memendam masalahnya sendiri."kata Hendru.
"Mas benar, walaupun aku sudah kenal lama tapi aku tak banyak tau soal dia."kata Widya.
"Sekarang kamu taukan bagaimana dirinya?"kata Hendru.
"Tapi aku ingin melihat dia bahagia mas."kata Widya.
"Kita doakan saja mas, semua orang itu memiliki jalannya masing-masing."kata Bu Imah.
"Tu dengerin kata ibu."kata Hendru.
"Iya iya kalau gitu aku siap-siap dulu. Aku mau bikin makanan buat Dara, kan ga mungkin Dara makan-makanan kita."kata Widya.
"Kamu mau masakin Dara apa?"kata bu Imah.
"Emang kamu mau masakin Dara apa kita beli sayur dulu ditempat mak Lis."kata bu Imah.
"Ya sudah kita pergi ke mak Lis dulu nanti kita pikirkan mau masak apa bu. Kamu mau dimasakin atau beli ditempat istirahat?"kata Widya.
"Aku terserah kamu aja gimana enaknya. Tapi aku maunya kamu masakin lebih enak masakan istri daripada beli diluar."kata Hendru.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu kita beli bahan makanan dulu diwarung mak LIs."kata bu Imah.
Kedua perempuan itu keluar memberi bahan makanan untuk dimasak. Widya juga mau membeli beberapa bahan makanan untuk setok dirumah orangtuanya sebelum dia kembali ke jakarta.