Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 51


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukan tengah malam mereka berdua memutuskan untuk pulang ke penginpan.


Sampai dipenginapan mereka langsung membersihkan diri dan merebahkan badannya diranjang.


"Capek?" tanya hendru.


"Capek tapi aku senang bisa jalan-jalan. Besok kita jalan kemana lagi mas?" kata widya.


"Liat besok kita bisa main air."kata hendru.


"Benar mas, wah aku udah gak sabar buat jalan-jalan besok." kata widya.


"Iya sudah tidur biar besok bisa segar kembali badannya." kata hendru.


"Iya mas." kata widya.


Mereka bedua tidur dengan berpelukan mesra tanpa ada aktifitas malam. Hendru tau kalau widya butuh istrihat karena dia besok pagi punya rencana untuk membuat widya tak bisa beranjak dari tidurnya.


Benar saja pagi-pagi sekali hendru bangun dan melaksanakan niatnya semalam. Hendru mulai menganggu tidur widya. Widya yang merasa tidurnya terganggu langsung saja membuka matanya.


"M...mas ada apa?" kata widya sudah mulai tergoda rangsangan yang diberikan oleh hendru.


Hendru yang melihat kalau widya sudah mulai tergoda langsung saja melancarkan serangannya. Hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan kembali.


Entah berapa kali mereka melakukannya pagi ini. Setelah melihat widya kelelahan baru dia mengakhiri penyatuannya.


"Kamu capek sayang?" kata hendru.


"Iya capek banget, rasanya badan aku remuk semua." kata widya jujur kalau badannya sakit semua.


"Apa aku terlalu kasar melakukannya?" tanya hendru.


"Mas gak kasar kok, akunya aja yang mudah capek." kata widya.


"Nanti kalau dirumah aku ajak olahraga satu kali dalam seminggu biar nanti kamu gak mudah capek." kata hendru.


"Apa hubungannya sama olahraga mas?" tanya widya bingung.


"Kalau kamu sering olahraga badan kamu gak akan mudah sakit dan fit terus." kata hendru.


widya yang mendengar perkataaan hendru langsung saja menganggukan kepalanya.


"Masih pagi, kamu tidur lagi gih." kata hendru.


"Tapi aku ingin jalan-jalan sayangkan udah disini masak tidur aja." kata widya.


"Iya nanti jalan-jalan kalau badan kamu udah gak lemes lagi. sekarang tidur ya." kata hendru sambil menarik selimut mereka berdua dan memeluk widya.


Widya yang mendapat pelukan dari hendru langsung saja terlelap dalam tidurnya. Melihat widya yang tertidur pulas. Hendru malah mengembangkan senyumnya karena widya semakin cantik kalau tertidur.


Puas memandangi widya, hendru pun ikut terlelap tapi tidak lama dia bangun. Hendru langsung saja mandi dan pergi keluar untuk membeli makanan.


Saat hendru pergi keluar widya terbangun dan tak melihat hendru disampingnya dia langsung saja bangun dan mencari dimana hendru, karena tak kunjung menemukan hendru. Widya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru mencari hendru.


Widya selesai mandi bertepatan dengan hendru yang baru datang dari luar membawa bubur.


"Kamu udah bangun sayang?" tanya hendru.


"Sudah mas, mas tadi darimana?" tanya widya balik.


"Aku tadi keluar beli bubur." kata hendru sambil mengangkat bubur yang dia beli.


"Kok gak bangunin aku sih mas?" kata widya masam.


"Aku gak tega bangunin kamu terlihat sekali kalau kamu kelelahan." kata hendru sambil menyiapkan bubur untuk widya.


"Mas harusnyakan aku yang menyiapkan keperluan mas." kata widya yang tak enak karena beberapa hari ini hendru yang melayaninya.

__ADS_1


"Bukannya tugas suami juga melayani istrinya ya? Apalagi kalau melayani istri diranjang." kata hendru yang langsung dapat cubitan dari widya.


"Kamu ya mas otaknya kok ranjang terus sih." kata widya gak habis pikir setelah menikah hendru mesum.


"Memang gak boleh ya kan sama istri sendiri?" kata hendru.


"Boleh, sudah ah bahas itu gak ada habisnya. kita makan habis ini aku mau jalan-jalan." kata widya semangat.


Mereka berdua selesai makan langsung saja bersiap-siap untuk jalan-jalan. Mereka hari ini akan main ditepi pantai lagi.


Widya mengambil tempat duduk dibawah pohon yang teduh sedangkan hendru entah kemana. Widya tak memikirkan hendru dia menikamati suasana pantai.


Saat dia sedang menikmati suasana pantai ada anak kecil yang menawarkan dagangannya.


"kak mau beli gelang? ini gelangnya ibu saya sendiri yang buat." kata anak laki-laki itu.


"Siapa nama kamu?" kata widya.


"Nama saya azam kak." kata azam.


"Duduk sini dulu, kamu jualan apa aja itu?" tanya widya yang merasa kasian dengan anak kecil didepannya itu.


"Ini selain ada gelang, juga ada tasbih sama kalung kak." kata azam memperlihatkan barang-barang ya dia bawa.


"Kamu masih sekolah zam?" tanya widya.


"Masih kak, kalau pulang sekolah atau hari libur aku selalu bantu ibu jualan." kata azam.


"Ibu kamu juga jualan zam?" tanya widya.


"Iya bu itu ibu saya." kata azam sambil menunjukan seorang wanita yang kira-kira berumur 40an.


Widya melihat hanya manggut-manggut tanpa dia sadari kalau hendru sudah ada didekat mereka berdua. Hendru penasaran dengan anak kecil itu tapi saat dia sudah dekat tau kalau anak itu sedang menjual barang jualannya.


"Sayang lagi ngapain?" tanya hendru yang mengagetkan widya.


" Lagi ngobrol sama azam dia menjual ini." kata widya sambil melihatkan keranjang yang dibawa azam.


"Iya kak buat biaya sekolahku, kasian kalau ibu sendiri yang jualan."kata azam.


"Ayah kamu kemana zam?" tanya hendru.


"Gak tau sejak kecil aku sudah tinggal sama ibu. kata orang-orang ayahku menikah lagi." kata azam.


"Maaf kalau kakak membuatmu sedih. kamu bisa panggilkan ibumu?" tanya hendru dia ingin tau cerita tentang azam dia merasa kasian dan ingin membantu azam.


"Mas kenapa menyuruh azam memanggil ibunya?"tanya widya.


"Aku ingin membantu azam minimal bisa membantu sekolahnya." kata hendru sambil mengelus rambut panjang widya.


"Makasih mas." kata widya.


"Kenapa berterimakasih padaku?" tanya hendru.


"Karena mas mau membantu azam itu tandanya mas orang baik." kata widya.


"Oh selama ini kamu menggap aku bukan orang baiklah." kata hendru sambil mengelitik widya.


"Bukan bukan begitu mas. Baru kali ini aku melihat sisi lain dari mas." kata widya.


"Gak semua kebaikan harus diperlihatkan." kata hendru yang dianggukin oleh widya.


"Maaf kalau menganggu." kata bu ida.


"eh ibu, zam mari silahkan duduk." kata widya yang terkejut.


"Ini saya punya dua kelapa satu buat ibu sama azam untuk minum." kata hendru sambil memyerahkan buah kelapa yang dia beli tadi.

__ADS_1


"Makasih kak." kata azam.


"Maaf bu kalau saya lancang memanggil ibu kesini, saya hanya ingin tau lebih jauh tentang azam bu." kata hendru.


"Apa yang ingin mas ketahui dari azam?" tanya ibu ida.


"Apa benar kalau ayahnya azam menikah lagi bu?" tanya hendru.


"Iya mas waktu saya hamil 5 bulan ayahnya meninggalkan saya. Dia menikah dengan gadis kota." kata ibu ida.


"Maaf ya bu kalau pertanyaan suami saya membuka luka lama ibu?" kata widya yang melihat kesedihan dimata ibu.


"Gak papa mbak, semua itu sudah terjadi insyaallah saya ikhlas." kata bu ida.


"Kalau boleh saya tau ibu tinggal dimana?" tanya hendru.


"Saya tinggal berdua dengan azam dirumah peninggalan orangtua saya." kata ibu ida.


"Apa boleh saya kesana bu?" tanya widya.


"Apa tidak apa rumah saya jelek kak?" kata bu ida.


"Saya malah tidak punya rumah bu." kata widya membuat bu ida terkejut.


"hehehe maksutnya tidak punya rumah sendiri. sekarang rumah yang saya tempati rumah suami saya bu." kata widya menjelaskan.


"Boleh bu saya berkunjung ke rumah ibu?" kata hendru.


"Baiklah kalau begitu mari ikut saya." kata ibu ida.


Mereka berempat berjalan menuju ke rumah bu ida. Dalam perjalanan widya dan azam saling bercanda satu sama lain. Hendru gak nyangka kalau widya mudah akrab dengan orang lain.


"Ini kak rumah kami maaf kalau rumahnya kecil." kata bu ida.


"Gak papa kok bu." kata widya.


"Silahkan duduk." kata bu ida.


Mereka berbincang-bincang tentang kehidupan bu ida setelah ditinggalkan suaminya. Hendru memutuskan untuk membantu mewujudkan keinginan bu ida untuk membuka sebuah warung didelan rumahnya.


Awalnya ibu ida menolak bantuan dari hendru tapi atas bujukan widya dan demi masa depan azam yang semakin dewasa pasti akan memiliki banyak kebutuhan. Akhirnya ibu ida mau menerima bantuan itu.


Hendru juga meminta no rek ibu ida untuk mengirimi uang. Hendru memutuskan membiayai pendidikan azam sampai dia kuliah nanti.


Setelah makan malam dirumah azam barulah widya dan hendru pulang kembali ke penginapan.


"Makasih ya mas, karena sudah mau membantu azam dan ibunya." kata widya.


"Iya sayang. Tapi semua itu gak gratis harus ada imbalan dari kamu." kata hendru.


"Ih kok ada imbalannya sih." kata widya.


"Mau pa gak? kalau gak mau aku tarik kembali bantuan itu." kata hendru. Dia hanya menggoda widya, gak mungkin dia akan menarik kembali apa yang sudah dia berikan pada orang lain.


"Baiklah apa imbalannya? tapi jangan tarik bantuan yang mas berikan ke azam kasian dia." kata widya.


"Imbalannya kamu layani aku malam ini. Tapi kamu yang pegang kendali." kata hendru membuat widya terkejut.


Sampai dipenginapan mereka bersih-bersih dan langsung berbaring diranjang. widya masih bingung apa yang akan dia lakukan setelah ini karena dia tak pernah memancing orang terlebih dahulu.


"Ada apa wid?" tanya hendru yang melihat kalau widya gelisah.


"Mas bisa gak imbalannya yang lain aja? kata widya membuat hendru paham mengapa widya terlihat salah tingkah.


"Gak bisa, sekali-kali aku ingin kamu yang memanjakanku." kata hendru.


"Tapi mas aku gak pernah melakukan itu duluan." kata widya.

__ADS_1


"Ikuti insting kamu sayang. kamu lakukan apa yang aku lakukan ke kamu." kata hendru.


Widya mengingat-ingat dan memulai mencium bibir hendru walaupun ciumannya agak kaku tapi itu sudah membuat hendru tersenyum. widya mulai mencium leher hendru yang membuat gairah hendru naik tapi dia tetap ingin tau apa yang akan dilakukan istrinya itu sampai dia sudah gak tahan lagi langsung saja membalik tubuh widya dan langsung melakukan penyatuan.


__ADS_2