
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa kehamilan Cinta telah memasuki bulan ke 5,Cinta memutuskan untuk berhenti masuk sekolah.
"Paman bibi,sekolah Cinta kan cuma tinggal tunggu ijasah saja,bagaimana kalau Cinta ga usah berangkat sekolah saja,kalian lihat perut Cinta sudah mulai membesar,Cinta tak ingin aib ini di ketahui pihak sekolah "ucap Cinta dengan berkaca kaca."
"Baiklah nak kami akan selalu dukung keputusanmu biar paman atau bibi yang akan pergi ke sekolahanmu untuk memberi alasan yang tepat supaya pihak sekolah tak curiga "ucap paman Narto mencoba menghibur Cinta."
"Ya nak untuk sementara waktu kamu juga jangan keluar keluar rumah dulu ya "saran bi Narti mengusap surai hitam milik Cinta."
"Iya bi,Cinta tahu kok "jawab Cinta mencoba tersenyum walaupun hatinya bagai di sayat sembilu."
Sudah 1 bulan Cinta menjadi istri siri tuan Malik,Cinta tak pernah kekurangan apapun.
Tuan Malik menepati janjinya dengan selalu memberi segala yang di butuhkan Cinta,mengenai kandungan Cinta selalu mendapatkan pemeriksaan.
Dokter pribadi keluarga bi Narti yakni Neni yang rutin memeriksa kandungan Cinta.
Ngidam Cinta juga selalu kesampaian oleh tuan Malik,saat ini di usia kandungan 5 bulan,Cinta sudah tidak mengalami mual muntah.
Makannya sudah enak dan bahkan selalu tambah porsi makannya.
Sementara kondisi di rumah bu Riris juga sama,kandungan bu Riris saat ini sudah mulai kelihatan membesar yakni memasuki 6 bulan.
Bu Riris jarang menjenguk Cinta paling cuma menelfon dengan panggilan vidio pada Cinta karena bu Riris juga harus tetap bekerja sebagai buruh laundry.
Ayah Rofi masih belum berubah masih suka minum minuman dan memukuli bu Riris hingga bu Riris terus bekerja demi untuk menabung untuk biaya melahirkan.
Ayah Rofi hanya memberi uang pas pasan untuk kebutuhan rumah dan dua anak lelakinya.
Jika bu Riris meminta uang untuk memeriksa kandungan atau membeli vitamin dan kebutuhan si janin, selalu tamparan yang di terima oleh bu Riris.
Sejak usia kandungan semakin membesar,malah bu Riris jarang memeriksakan kandungannya makanya bu Riris tak mampir rumah paman Narto.
Hanya sesekali bu Riris vidio call Cinta untuk mengetahui kondisi Cinta.
Cinta merasa kasihan mendengar kondisi ibu Riris yang semakin menderita karena ulah ayah Rofi.
__ADS_1
Padahal gaji ayah Rofi lumayan besar namun bu Riris sampai tidak bisa memeriksakan kandungannya secara rutin.
Makanya Cinta enggan bercerita masalah kehamilan dan pernikahan siri dirinya dengan tuan Malik.
Cinta tidak ingin menambah beban pikiran ibu Riris.
Waktu bergulir dengan cepatnya bi Narti sudah berencana jika pagi hari ini dirinya akan ke sekolahan Cinta.
Bi Narti telah membuat alasan yang tepat yakni Cinta ikut saudara di luar kota,supaya semua teman dan guru gurunya tidak curiga.
"Nak,bibi akan ke sekolahmu,kalau bisa kamu ga usah keluar keluar rumah ya,jika ada tamu biarkan saja tak usah kamu temui "ucap bi Narti memberi pesan pada Cinta."
"Iya nak,paman juga akan berangkat kerja kamu jaga diri baik baik,jika bukan paman atau bibi yang datang jangan kamu bukakan pintu ya "ucap paman Narto memberi pesan juga pada Cinta."
"Kalau misal tuan Malik kemari bagaimana paman,atau ibu yang kemari ?"tanya Cinta mengerutkan alis tanda bingung."
"Kalau ibumu ga akan mungkin kemari,kalau tuan Malik juga pasti kalau mau kemari tanya dulu ke paman,pokoknya ingat selalu pesan paman sama bibi "ucap paman Narto tersenyum pada Cinta."
"Baiklah paman dan bibi yang hati hati ya "ucap Cinta menyalami paman dan bibinya."
Begitu pula dengan bi Narti lekas keluar mengambil motor maticnya dan melajukannya ke sekolahan Cinta.
Cinta hanya mengintip dari hordeng ruang tamu karena paman dan bibinya telah berpesan agar jangan sekali kali keluar rumah karena perut Cinta sudah mulai terlihat membesar.
Seperginya paman dan bibinya,Cinta mengunci pintu ruang tamu dari dalam,sementara pintu gerbang telah di kunci oleh pamanya.
Selagi asik di kamar membaca baca buku pelajaran,ada suara bel di pintu gerbang namun Cinta ingat akan pesan paman dan bibinya.
Dan ga mungkin itu paman atau bibinya yang memencet bel karena paman dan bibinya masing masing membawa kunci cadangan pintu gerbang.
"Apa ga ada orang ya di dalam kok bel di bunyikan ga ada yang datang, padahal aku kemari hanya ingin melihat kondisi anakku "gerutu wanita paruh baya ."
Wanita paruh baya terus saja memencet pintu gerbangnya namun tidak ada yang membukanya.
"Ngapain juga pakai dibikin pintu gerbang seperti ini,padahal dulu saat aku menaruh anakku tidak ada pintu gerbangnya,apa aku salah rumah ya"gerutunya kembali."
__ADS_1
Sepintas wanita paruh baya ini mengamat amati rumah paman Narto.
"Benar kok ini rumahnya,aku ga salah ga,ternyata banyak yang berubah dari rumah ini.Samping rumah ada panti asuhan,dulu kan ga ada,apa aku ke panti asuhan saja ya bertanya pada pengurusnya "gerutu wanita paruh baya tersebut."
Wanita paruh baya tersebut melenggang melangkah ke panti asuhan di sebelah rumah paman Narto.
"Assalamu Alaikum " ucap wanita paruh baya tersebut memberi salam."
"Walaikum sallam "jawab salah satu pengurus panti keluar untuk menghampari wanita paruh baya ini."
"Mari silahkan masuk bu "ucap pengurus panti mempersilahkan masuk."
Wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam panti,kemudian menceritakan maksud dan tujuannya.
"Maaf bu,saya numpang tanya,pemilik rumah sebelah di bel dari tadi kok ga ada yang keluar,ibu tahu kira kira dimana??"tanya wanita paruh baya tersebut."
"Oh pak Narto sama bu Narti biasa kalau bu Narti pagi pagi sudah ke butik dan suaminya di perkebunan kelapa sawit jadi di rumah tidak ada orang "jawab ibu pengurus panti."
"Loh terus anakku dimana?"gerutu wanita paruh baya tersebut."
"Maaf bu,apa ibu ada suatu kepentingan,saya punya kok nomor ponsel atau nomor rumah dari pak Narto dan bu Narti karena kebetulan panti asuhan ini juga yang mendirikan mereka "ucap bu pengurus panti dengan tersenyum ramah."
"Iya bu,saya ada suatu kepentingan,boleh bu jika tidak merepotkan ibu,saya minta nomor ponsel pemilik panti ini "ucap wanita paruh baya tersebut."
Bu pengurus panti kemudian masuk sejenak untuk mengambil dua buah kartu nama,satu kartu nama paman Narto,dan satu lagi kartu nama bibi Narti.
Wanita paruh baya tersebut memeberikan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih.
"Maaf bu,ini saya ada rejeki sedikit untuk anak panti disini,lain waktu saya pasti akan kemari lagi untuk memberikan donasi pada panti ini ,sekali lagi terima kasih ya bu "ucap wanita paruh baya tersebut sembari menyodorkan amplop coklat berisikan uang."
🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠ðŸ¤
Mohon dukungannya ka,like ,vote,favoritnya..
Biar author semangat up..
__ADS_1