
Berapa hari tak sadarkan diri, akhirnya Ustad Soleh siuman.
"Alhamdulillah, Abi. Bagaimana kondisi Abi, apa yang sekarang Abi rasakan?" Cinta menggenggam tangan Ustad Soleh.
"Alhamdulillah, Umi. Abi baik-baik saja, sudah nggak ada yang di keluhkan kok. Umi nggak usah khawatir lagi ya?" Ustad Soleh menata Cinta seraya tersenyum manis.
"Alhamdulilah, kami ikut senang melihat kondisi Nak Soleh" kata Tuan Malik.
"Kami sudah selidiki, tapi tidak menemukan jejak penusuknya. Maafkan kami, Nak Soleh" kata Tuan Malik.
"Sudahlah, ayah. Tak perlu di perpanjang, yang penting aku tak apa-apa " ucapnya lirih.
"Tapi orang tersebut harus di beri pelajaran, atas apa yang telah di lakukannya padamu" Tuan Malik berkata.
"Han, kok bisa Soleh ke tusuk? Jujur sebelumnya aku memang pernah melihat ada orang yang mencurigakan. Namun saat aku mencoba menyelidiki, orang tersebut telah pergi. Satu hari sebelum terjadinya penusukan itu " kata Pram.
"Kenapa kamu tidak cerita sama aku?" Hanya mengernyitkan alis.
"Keesokan harinya kan aku libur, sehingga aku tak sempat cerita. Jika aku sudah di rumah, sudah lupa yang namanya ponsel. Bahkan sama sekali nggak pegang ponsel" Pram berkata seraya menghela napas panjang.
"Ada CCTV nggak, di depan pintu gerbang?" tanya Pram .
"Nggak ada, yang kita pasang CCTV cuma halaman rumah. Kalau depan pintu gerbang nggak kami pasang CCTV" jawab Hanna.
"Siapa kiranya yang telah mencelakai menantuku? ini tidak bisa di biarkan begitu saja, aku harus bisa menangkap pelakunya, bagaimana pun juga. Apa Rofi yang melakukan hal ini?" gerutu Pram mengerutkan keningnya.
Setelah ke dua sejenak mengobrol, Hanna masuk dalam rumah. Sementara Pram sedang sibuk denga pikirannya sendiri.
Waktu berjalan begitu cepat, Ustad Soleh telah pulang dari rumah sakit. Untuk sementara, Ustad Soleh tinggal di rumah Tuan Malik. Ini juga saran Tuan Malik dan Hanna.
Di lain tempat, Roy merasa kecewa karena usahanya gagal.
"Sial, kenapa juga Ustad itu kok lolos dari maut! bukannya mati, malah sembuh! kalau begini aku akan mencari cara lain yang lebih jitu untuk menghabisi Ustad itu" gerutu Roy seraya menggebrak meja di kamar.
"Kenapa si Roy, kok sepertinya emosi sekali?" gerutu Maya seraya melangkah ke arah kamar Roy.
"Nak, kamu kenapa marah-marah?" Maya menghampiri Roy seraya mengusap bahu Roy.
"Nggak apa-apa kok mah, cuma ada sedikit masalah di kantor" kata Roy berbohong.
"Oohh gitu, yang sabar dong, nak " kata Maya.
__ADS_1
"Iya, mah " kata Roy singkat.
Maya berlalu dari hadapan Roy. Sejenak Roy mengintai menyelidiki, apakah kiranya Maya akan datang kembali.
"Aman, aku akan menghubungi anak buahku. Untuk aku tugaskan kembali, menghabisi Ustad jelek itu!" gerutu Roy seraya mengetik nomor ponsel anak buahnya.
π± " Hallo Ko, bisa ketemu sekarang juga. Kita bertemu di tempat biasa, karena ada pekerjaan untukmu " kata Roy dalam panggilan telponnya.
π± " Baik, bos. Segera saya datang sekarang juga "kata anak buah Roy.
Roy segera bergegas meninggalkan rumah untuk bertemu anak buahnya itu. Gelagat Roy yang mencurigakan membuat Maya berinisiatif mengikuti kemana Roy pergi.
"Aku harus mengikuti Roy, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Roy" gerutu Maya.
Lekas Maya memerinta asistennya melajukan mobilnya mengikuti mobil Roy.
"Nggak biasanya Roy menyetir mobil sendiri, aku harus tahu kemana Roy pergi " gerutu Maya.
Tak berapa lama kemudian, sampailah Roy di sebuah cafe. Dan berunding dengan anak buahnya, mengenai rencana menyingkirkan Ustad Soleh.
"Tolong bekerja yang rapi, singkirkan orang yang ada di foto ini" Roy meletakkan foto Ustad Soleh di meja, namun tanpa Roy sadari ada satu foto Ustad Roy yang terjatuh.
Setelah Roy dan anak buahnya pergi, Maya melangkah mendekati meja dimana tadi Roy duduk.
Maya mengambil foto yang terjatuh.
"Ini kan foto suami Cinta " gerutunya.
"Jangan-jangan Roy berniat tidak baik pada suami Cinta " gerutunya kembali.
Maya lekas berjalan pulang dengan membawa foto di tangannya.
"Aku harus bagaimana nech, untuk menggagalkan rencana Roy mencelakai suami Cinta" gerutu Maya seraya mengetuk-ngetuk jarinya di kepala.
"Oh iya, lebih baik aku memberi peringatan pada orang-orang sekitar suami Cinta. Agar menjaga suami Cinta " gerutu Maya.
Maya membeli nomor ponsel baru, dan mengirim notifikasi chat pesan pada ponsel Cinta.
"Untung aku punya nomor ponsel Cinta " gerutu Maya.
"Cinta, tolong kamu jaga suamimu dengan baik. Karena saat ini ada seseorang yang ingin mencelakai suamimu. Tolong dengarkan pesanku ini "pesan Maya dengan nomor ponsel baru ke notifikasi chat pesan ponsel Cinta.
__ADS_1
"Ya, Allah. Semoga pesanku ini di terima oleh Cinta. Hanya dengan cara ini, aku bisa menolong suami Cinta. Karena aku tidak tahu kapan jelasnya anak buah Roy melancarkan aksinya. Aku nggak mungkin terus mengikuti Roy ataupun anak buahnya " gerutu Maya sesekali menghela nafas panjang.
Sementara Cinta yang sedang mengurusi Ustad Soleh, mendengar ponselnya berbunyi lekas membukanya.
Ustad Soleh sudah kembali dari rumah sakit, namun dirinya belum benar-benar sembuh.
"Siapa yang kirim pesan, Umi?" tanya Ustad Soleh.
"Nomor asing, Abi. Tapi pesannya aneh " kata Cinta seraya mengerutkan alis.
"Memang apa pesannya?" Ustad Soleh ikut penasaran.
"Ini, Abi .Baca sendiri pesannya "kata Cinta seraya memberikan ponselnya pada Ustad Soleh.
"Berarti ada seseorang yang tahu niat jahat orang yang ingin mencelakai Abi, hingga meminta Umi berhati-hati " kata Ustad Soleh.
"Iya, Abi. Alangkah lebih baiknya kita dengarkan pesan nomor asing ini. Abi harus jaga diri dengan baik" kata Cinta.
"Iya, Umi. Tapi siapa yang ingin berniat jahat pada Abi" Ustad Soleh merasa bingung.
"Sebentar ya, Abi " Cinta keluar dari kamar membawa ponselnya.
"Ayah, ibu. Coba kalian lihat pesan di ponsel milik Cinta ini" Cinta menunjukkan pesan tersebut.
"Berarti ada yang ingin mencelakai nak Soleh kembali. Alangkah baiknya, kita harus benar-benar menjaga nak Soleh " kata Tuan Malik.
"Iya, ayah. Sebaiknya kita mencari orang untuk menjaga menantu kita bagaimana?" Hanna memberi saran.
"Ide yang bagus, bu. Ayah, nggak akan tinggal diam. Ayah akan mencari beberapa orang terhandal untuk menjaga menantu kita, bu" kata Tuan Malik.
"Kamu nggak usah khawatir, Cinta. Ayah akan menjaga suamimu dengan mengirim orang-orang terpilih" kata Tuan Malik mencoba menenangkan hati Cinta.
"Terima kasih ayah, ibu. Kalian sungguh orang tuaku yang sangat luar biasa baiknya" Cinta memeluk Tuan Malik dan Hanna secara bergantian.
"Sudah sana , kamu urus suamimu. Kasihan kan, lukanya belum sembuh total" kata Hanna.
"Iya, bu" Cinta melangkah kembali ke kamar.
π€π€π€π€π€π€π€π€§π€§π·π·π·π·π·π·π·
Maaf ya ka, hari ini cuma up 1 bab. Othornya sakitππππ
__ADS_1