Ayah Angkatku Ayah Anakku

Ayah Angkatku Ayah Anakku
104


__ADS_3

Narto menelpon Riris, hanya memberi tahu supaya Riris lekas datang ke alamat villa yang Narto kirim lewat notifikasi chat pesan.


📱" Assalamu alaikum mba, tolong sekarang juga Mba Riris dan anak-anak segera ke villa XX" kata Narto dalam panggilan telpon.


📱" Walaikum sallam wr wb, memang ada apa ya To?" tanya Riris penasaran.


📱" Pokoknya mba datang saja sekarang juga, karena sudah kumpul semua di sini ada bu Hanna juga Tuan Malik" kata Narto lekas menutup panggilan telpon.


"Aneh, kenapa Narto menyuruhku dan anak-anak ke sebuah villa yang aku nggak pernah sambangi" gerutu Riris.


Namun Riris tetap berangkat menuju villa yang telah Narto beritahu, bersama ke tiga anaknya.


Tak berapa lama kemudian, sampailah Riris di villa milik almarhum Rofi. Begitu pula dengan Hanna, Tuan Malik, dan Cinta.


"Loh, ini maksudnya apa ya? kok di villa ini ada bendera putih, memang siapa yang telah meninggal dunia?" gerutu Riris dalam hati.


Riris menemui Narto dan Narti, ingin mengetahui apa maksud mereka meminta dirinya dan anak-anaknya datang ke villa tersebut.


"Narto, maksud saya dan anak-anak untuk kemari untuk apa ya?" tanya Riris menatap lekat Narto.


"Duduklah dulu, mba. Ntar juga mba dan anak-anak pasti tahu" jawab Narto sekenanya.


Riris dan ke tiga anaknya duduk tepat di hadapan jenazah almarhum Rofi.


Kini giliran Cinta yang bertanya pada Hanna dan Tuan Malik.


"Ibu, ayah. Kenapa ajak Cinta kemari, siapa yang meningga? ada bendera putih??" Cinta bertanya pada orang tuanya.


"Nanti juga kamu tahu, yuk kita masuk saja dulu" ajak Hanna merangkul Cinta.


Semua berkumpul di ruang tamu, di tengahnya jenazah almarhum Rofi. Baru Ustad Soleh yang tahu, karena baik keluarga Riris, Cinta, dan Hanna serta Tuan Malik, semuanya belum membuka tutup kain dari jenazah almarhum Rofi.


"Umi, Abi ingin berbicara sebentar. Sebelum kita memulai doa untuk almarhum. Sebelum almarhum meninggal, telah menitip pesan pada Abi. Supaya Umi mau memaaafkan kesalahannya. Almarhum meninggal juga karena menolong Abi, jika tidak mungkin Abi yang saat ini telah terbujur kaku tak berdaya" kata Ustad Soleh panjang lebar seraya menatap lekat wajah Cinta.


Cinta semakin tidak mengerti dengan yang di ucapkan oleh Ustad Soleh, dia juga penasaran dengan jenazah yang ada di depannya. Sedari tadi Cinta menatap kain penutup jenazah almarhum Rofi.

__ADS_1


"Umi, tolong kiranya bersedia memaafkan kesalahan almarhum" kata Ustad Soleh.


"Memangnya Umi kenal ya, Abi?" tanya Cinta penasaran.


"Iya, Umi kenal banget" jawab Ustad Soleh singkat.


"Bukalah, Umi. Biar Umi tidak penasaran lagi, Abi mohon Umi bersedia memaafkannya karena tidak baik menyimpan kesalahan orang lain" Ustad Soleh mencoba menasehati Cinta.


Segera Cinta membuka kain penutup jenazah yang ada di hadapannya. Dirinya begitu kaget, begitu juga dengan Riris dan anak-anaknya.


Riris dan anak-anaknya tak kuasa menitikkan air mata, bagaimanapun almarhum Rofi pernah ada di hati Riris. Dan bagaimanapun almarhum Rofi ayah dari ketiga anak Riris.


Cinta tak bisa berkata, hanya diam seribu bahasa. Saat mengetahui jazad yang ada di hadapannya adalah jazad almarhum Rofi.


"Abi, Umi sudah ikhlas memaafkan almarhum Ayah Rofi. Biarlah almarhum Ayah Rofi tenang di sisi Allah SWT" kata Cinta.


"Alhamdulillah, Abi lega dengarnya Umi. Janganlah kita selalu menyimpan kesalahan orang lain, jika kita tak mau kesalahan kita di simpan oleh Allah SWT" Ustad Soleh tersenyum pada Cinta.


Begitu pula Riris dan anak-anaknya juga telah memaaafkan almarhum Rofi. Riris juga tak ingin almarhum Rofi pergi tidak tenang.


Dari memandikam jenazahnya hingga memimpin sholat untuk almarhum Rofi.


2 Jam berlalu, proses pemakaman telah selesai tanpa ada halangan apapun. Mamang menghampiri Ustad Soleh.


"Maaf, Ustad. Beberapa sebelum meninggalnya almarhum Tuan Rofi, dia menitipkan surat ini pada saya. Dia berpesan supaya di berikan pada mantan istrinya yakni Bu Riris" Mamang memberikan amplop berisikan surat terakhir dari almarhum Rofi.


"Baiklah, Mang. Terima kasih ya" Ustad Soleh menerima amplop tersebut.


"Bu Riris, ini terimalah pemberian terakhir dari almarhum Pak Rofi" Ustad Soleh memberikan surat yang di berikan oleh Mamang pada Riris.


Riris menerima surat pemberian dari almarhum Rofi. Segera Riris membaca isi surat tersebut.


"Ya Allah, Mas Rofi. Aku pikir kamu telah melupakan kami" gerutunya dengan tetesan air mata.


Riris memberikan surat itu kembali pada Ustad Soleh. Kemudian Ustad Soleh membacanya.

__ADS_1


"Bu, berarti sebelum kejadian ini Pak Rofi telah mempunyai firasat jika umurnya tidak akan lama. Makanya dia telah menulis pesan dalam surat ini, supaya kelak semua miliknya untuk Bu Riris dan anak-anak" kata Ustad Soleh.


"Terima saja, bu. Lagi pula di dalamnya masih ada hak untuk anak-anak ibu. Bagaimana tidak ada yang namanya bekas anak" kata Ustad Soleh.


"Iya, Ustad. Saya akan menerima pemberian dari Mas Rofi. Semua saya lakukan bukan untuk diri saya pribadi, tapi juga untuk anak-anak" kata Riris tertunduk.


"Narto, saya akan kembalikan villa milikmu. Dan saya akan tinggal di sini menjaga villa pemberian almarhum Mas Rofi. Saya juga akan memindah toko saya di depan villa ini, serta akan mengurus dua bengkel peninggalan almarhum Mas Rofi" kata Riris.


"Terserah, Mba Riris saja baiknya bagaimana" kata Narto menyunggingkan senyum.


Sementara di rumah Roy, dirinya kembali meledakkan amarah yang memuncak. Karena mendengar dari anak buahnya jika yang di tabrak salah sasaran.


"Bagaimana sih kamu! masa begitu saja nggak berhasil!" bentak Roy melotot pada anak buahnya.


"Maafkan kami bos, kami sudah menjalankan sesuai rencana. Kami tidak tahu, tiba-tiba ada seorang bapak menyelamatkan dia begitu saja" kata anak buah Roy tertunduk ketakutan.


"Dasar bego, ngurus satu orang saja dari kemarin nggak pernah berhasil! badan doang yang gede, otaknya kecil!" Roy menyindir seraya berkacak pinggang.


"Sudah aku bayar mahal kalian! tapi hasilnya nol!" Roy mendengus kesal seraya menggebrakkan meja.


Roy tak sadar jika saat ini sedang berada di rumah, bukan di kantor.


Perilaku Roy, kembali terdengar oleh Maya yang sedang tidur di dalam kamar.


"Astaghfirullah aladzim, ada apa lagi sama Roy. Lagi-lagi emosi, marah tak jelas" Maya beranjak bangkit dari pembaringan.


Maya melangkah ke sumber suara, dengan langkah yang sangat pelan. Maya berhenti di ruang kerja Roy.


"Astaghfirullah aladzim, Roy masih saja berusaha mencelakai suami Cinta. Siapa kiranya orang yang telah bernasib naas, menyelamatkan suami Cinta?" gerutu Maya seraya membungkam mulutnya sendiri.


🤯🤯😟😟😟😟🙁🙁🙁🙁🙁🙁🙁🙁🙁🙁


Mohon mmaaf ya ka, baru up🙏🙏🙏


Authornya sakit dari berapa hari, ini baru mulai fit itu pun belum fit banget

__ADS_1


__ADS_2