
Maya sudah tak mempunyai cara lagi, untuk bisa membuat Roy kembali seperti dulu lagi.
"Roy, janganlah seperti ini terus. Apa kamu nggak kasihan sama mamah? " Maya kembali mencoba mengajak komunikasi Roy.
Namun lagi-lagi Roy sama sekali tak merespon Maya.
"Nak, coba dengarkan apa yang mamah bilang" kembali lagi Maya mencoba mengajak komunikasi Roy.
"Nak, sadarlah. Kamu itu ganteng, masih banyak wanita yang bersedia menjadi pendampingmu" Maya mencoba membujuk Roy.
"Nggak, mah. Roy hanya ingin menikah dengan Cinta, mah. Entah bagaimanapun caranya, mah " Roy bersikeras dengan keinginannya.
"Nak, berapa kali mamah harus mengingatkan kamu? apa yang kamu tempuh itu salah, cintamu itu tidak pada tempatnya, nak" Maya tak henti menasehati Roy.
"Mah, bukankah memang benar adanya kalau cinta itu buta. Bukan hanya buta mata, tapi juga membutakan hati dan pikiran Roy. Makanya segala cara akan Roy tempuh untuk bisa memiliki Cinta. Meskipun Roy harus menempuh jalan kotor, akan tetap di lakukan" kata Roy keras kepala.
"Bukankah dulu mamah juga merasakan apa yang saat ini sedang Roy rasakan? dulu saja mamah tak mendengar nasehat Roy, mamah tetap saja menikahi Om Rofi. Itu karena mamah cinta Om Rofi kan?" Roy balik menyerang kata pada Maya.
Setelah mendengar ucapan Roy, Maya tak bisa berkata kembali. Dia pergi dari kamar anak semata wayangnya.
"Astaghfirulloh aladzim, entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk menyadarkan anakku ya Allah" gerutu Maya seraya mengusap dada berulang kali.
"Ya Allah, tolong sadarkan anak hamba, karena hamba tak inggin terjadi apa-apa pada anak hamba. Juga hamba tak ingin melihat anak hamba menempuh jalan salah" Maya meneteskan air mata saat berdoa.
Maya sudah kehabisan cara untuk bisa menyadarkan Roy.
"Ya Allah, apa ini karma buatku? dulu aku yang di butakan cinta pada Mas Rofi, kini anakku juga. Aku mencintai orang yang salah, begitu pula anakku demikian pula" gerutunya kembali.
Sementara saat ini Roy terus saja mencari cara untuk bisa mendapatkan Cinta tanpa mendengarkan semua nasehat Maya.
__ADS_1
"Apa? kalian bagaimana, kok tarjet bisa lolos? masa kalian tidak tahu kalau tarjet sudah keluar dari rumah mertuanya? apa saja kerja kalian selama ini? saya bayar mahal kalian tapi hasilnya nol, dari kemarin gagal terus menyingkirkan tarjet!" Roy emosi di balik telpon mendengar kabar jika Ustad Soleh susah tidak berada di rumah Tuan Malik.
"Maafkan kami, bos. Kami janji, tidak akan lagi mengecewakan bos. Kemarin usaha kami gagal karena ada yang telah membantu Ustad tersebut. Bahkan sempat anak buah kami di interogasi makanya kami habisi langsung. Kalau tidak anak buah kami bisa mengakui jika bos yang menyuruh mereka" kata anak buah Roy dari balik telpon.
"Kalau begitu, kamu kerahkan anak buahmu yang terhandal. Supaya lekas berhasil mencelakai tarjet, kalau tidak kamu yang akan menanggung kegagalanmu. Jangan harap kamu bisa lolos dariku, paham!" Roy mengancam anak buahnya dari balik telpon.
"Baik bos, saya janji tidak akan gagal lagi. Saya yakin saat ini tarjet sedang berada di rumahnya sendiri. Sehingga tidak ada yang akan menolongnya kembali " kata anak buah Roy menjawab ucapannya dari balik telpon.
Setelah itu Roy mematikan panggila telponnya pada anak buahnya.
"Dasar bodoh, mengerjakan hal sebegitu mudahnya saja tidak pernah selesai. Alasan bermacam-macam, bisa gila aku terlalu lama menunggu Cinta menjadi janda" Roy kembali memukulkan tangannya ke tembok tanpa menghiraukan jika tangan tersebut telah terluka sebelumnya.
Malam menjelang, Ustad Soleh ingat jika esok pagi akan memimpin pengajian di panti asuhan milik Paman Narto.
"Umi, besok pagi Abi akan ke panti asuhan milik Paman Narto. Umi mau ikut atau di rumah saja bersama Umi Siti dan Mita?" Ustad Soleh bertanya di sela makan malam bersama.
Belum juga Cinta menjawab pertanyaan dari Ustad Soleh, Mita tiba-tiba berkata.
"Baiklah sayang, mba akan di rumah saja nemenin Mita" Cinta tak tega jika Mita kecewa di rumah sendirian.
"Terima kasih ya, nak. Kamu sudah bersedia menemani Mita di rumah" sela Umi Siti mengusap lengan Cinta.
"Iya, Umi. Sama-sama" Cinta membalas usapan tangan Umi Siti dengan menggenggam jemarinya.
"Abi, besok pagi hati-hati ya. Ingat akan kejadian beberapa hari terakhir ini. Begitu banyak kejadian buruk yang menimpa Abi" Cinta mencoba mengingatkan.
"Umi, nggak usah khawatir begitu. Kita kan punya Allah, serahkan saja semuanya pada Allah SWT. Abi yakin, besok Abi akan baik-baik saja kok " Ustad Soleh mencoba menenangkan hati Cinta.
Selesai makan malam, seisi rumah langsung tidur. Baik pasangan suami istri Ustad Soleh dan Cinta. Maupun Umi Siti dan Mita.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata mengintai.
"Bos, sepertinya mereka semua telah terlelap tidur " ucap salah satu pengintai.
"Baiklah, kalian berdua lekas bakar rumah Ustad itu. Biar aku yang berjaga-jaga" kata bos pengintai lainnya.
"Tapi bos, di dalam rumah itu ada istrinya Ustad. Yakni wanita yang di cintai oleh Bos Besar " salah satu pengintai mengingatkan.
"Aduhh, benar juga katamu. Untung kamu mengingatkanku, ya sudah kita bergerak besok pagi saja. Kita lihat apakah besok Ustad itu keluar rumah tanpa istrinya" kata bos pengintai.
Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk membakar rumah Ustad Soleh, namun merencanakan hal lain untuk mencelakai Ustad Soleh.
Tak terasa pagi menjelang, Ustad Soleh telah bersiap-siap akan berangkat ke panti asuhan milik Paman Narto.
"Abi pergi dulu ya, Umi. Assalamu Alaikum " Ustad Soleh mencium kening Cinta.
"Walaikum sallam wr wb, hati-hati ya Abi" Cinta mencium punggung tangan kanan Ustad Soleh.
"Iya sayang, Umi juga di rumah baik-baik sama Mita. Jangan terlalu cape ya, Umi" pesan Ustad Soleh.
Segera Ustad Soleh menyalakan mesin motornya dan lekas melajukannya.
Segera anak buah Roy mengikuti kemana laju motor matic Ustad Soleh. Anak buah Roy sengaja mencari tempat yang sepi untuk bisa mencelakai Ustad Soleh.
Saat Ustad Soleh berhenti sejenak, karena tiba-tiba motornya habis bensin. Mobil yang di kendarai oleh anak buah Roy akan menabrak Ustad Soleh.
Saat Ustad Soleh tengok kanan kiri, mobil melaju dengan kecepatan tinggi akan menabrak Ustad Soleh.
"Awas nak.." seseorang mendorong Ustad Soleh, hingga yang tertabrak adalah dirinya.
__ADS_1
"Astaghfirulloh aladzim, pak..bapak nggak apa-apa?" Ustad Soleh menghampiri lelaki yang tergeletak bersimbah darah.
🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯