
Setelah mendapat nasehat dan penghiburan dari Ustad Soleh, hati Cinta sedikit lega.
"Umi, sebaiknya sekarang kita istirahat. Besok Abi akan ajak Umi ke suatu tempat supaya Umi sedikit terhibur" Ustad Soleh membaringkan tubuh Cinta dan menyelimutinya.
Tak lupa Ustad Soleh mengajak Cinta terlebih dulu doa sebelum tidur.
Tak berapa lama, Cinta telah terlelap dalam tidurnya. Begitu pula dengan Ustad Soleh. Namun menjelang tengah malam, Ustad Soleh bangun untuk menunaikan sholat tahajud.
Sebelum Ustad Soleh hendak berwudlu, dirinya menyempatkan diri menatap lekat wajah Cinta yang sedang tertidur pulas.
"Sebenarnya Abi ingin mengajak sholat tahajut, Umi. Namun Abi juga nggak tega untuk membangunkan Umi" gerutu Ustad Soleh seraya tersenyum menatap wajah Cinta.
Di dalam sholat tahajud, Ustad Soleh tak lupa berdoa untuk Cinta dan anaknya.
"Ya Allah, hamba memohon padamu supaya meluluhkan hati istri hamba. Agar bisa menerima dan mengakui Attha sebagai anak kandungnya.
"Ya Allah, buanglah jauh-jauh rasa kecewa dan trauma yang pernah di alami istri hamba.
"Buatlah supaya istri hamba tidak menyimpan kepahitannya selalu. Buatlah agar istri hamba mampu memaafkan oranf yang telah melukai hatinya.
"Ya Allah, hamba ingin istri hamba bisa berdamai dengan hatinya. Hamba tak ingin di dalam hati istri hamba tersimpan selalu kebencian yang akan berakibat buruk buatnya.
"Ya Allah, hamba percayakan semuanya padaMu.
Demikian sepenggal doa yang di ucapkan oleh Ustad Soleh sehabis menunaikan sholat tahajud.
Setelah itu barulah Ustad Soleh melanjutkan melafalkan ayat Al Qur'an.
"Subahanallah, suara suamiku indah sekali saat melafalkan ayat Al Qur'an. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas anugerah terindah yang telah Kau berikan padaku" Cinta terbangun saat mendengar Ustad Soleh melafalkan ayat Al Qur'an.
"Eh, istriku yang cantik bangun. Kaget ya, karena suara Abi? maaf ya Umi" Ustad Soleh menghampiri Cinta seraya mengecup keningnya.
"Nggak kok Abi, Umi justru seneng banget denger suara merdu Abi saat melafalkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Maafkan Umi ya, Abi. Karena Umi nggak ikut sholat tahajut" Cinta merona merah saat Ustad Soleh menghampirinya seraya menatapnya.
"Nggak apa-apa kok sayang, Abi bisa memahami suasana hati Umi sedang tidak stabil" kembali Ustad Soleh menatap Cinta.
__ADS_1
"Umi, kenapa kok di lihatin Abi sepertinya malu begitu?" Ustad Soleh mulai menggoda Cinta.
"Auah Abi ini.." pipi Cinta langsung merona merah.
"Sayang, lagi mut nggak?" Ustad Soleh semakin mendekati Cinta.
"Ist Abi mau ngapain hayo, dekat-dekat Umi?" Cinta semakin malu.
"Abi ingin melakukan Sunah Rasul, ini kan malam jumat, sayang " Ustad Soleh semakin menggoda Cinta.
"Abi ingin kita buat dede bayi, karena Abi sudah ingin punya baby dari Umi. Mau kan Umi, sayang?" Ustad Soleh menaik turunkan alisnya.
"Ist, Abi kok jadi genit seperti ini?" Cinta terkekeh melihat tingkah Ustad Soleh.
"Abi jadi begini kan sejak kenal Umi, sejak nikah sama Umi" goda Ustad Soleh terkekeh.
Setelah itu terjadilah olahraga di ranjang antara Ustad Soleh dan Cinta. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
Tak terasa pagi menjelang, suasana hati Cinta telah kembali ceria. Namun dirinya kerap kali masih suka murung jika melihat Attha.
Sedikit demi sedikit, supaya Cinta tidak membenci anak kandungnya sendiri.
"Umi sayang, bagaimana kalau hari ini kita segerakan tinggal di rumah Abi?" Ustad Soleh bertanya dengan sangat halus pada Cinta.
"Dengan senang hati, Abi" Cinta sangat antusias menerima ajakan Ustad Soleh.
"Mending aku tinggal di rumah suamiku, dari pada di sini setiap hari melihat anak Rofi" gumam Cinta di dalam hati.
Tanpa tunggu lama lagi, Cinta berkemas-kemas . Ustad Soleh yang melihatnya seakan hendak tertawa namun di tahannya.
"Aku tahu, kamu antusias tinggal di rumahku karena ingin menghindari anakmu, Attha " guma Ustad Soleh dalam hati seraya menghela nafas panjang.
"Nak, yuk kita sarapan. Makanan sudah siap ,mumpung masih hangat kalau sudah dingin nggak enak" Hanna memanggil dari balik pintu kamar Cinta.
"Iya, bu. Sebentar lagi kita ke luar " jawab Cinta.
__ADS_1
5 Menit kemudian, Ustad Soleh dan Cinta telah berada di ruang makan. Mereka sarapan bersama.
"Ayah, ibu. Cinta pagi ini akan mulai tinggal di rumah Mas Soleh" Cinta berkata seraya asik melahap sarapannya.
"Baiklah nak, dimanapun kamu tinggal nggak apa-apa. Yang penting kamu kerasan dan bahagia" kata Tuan Malik seraya menyunggingkan senyum.
"Iya, nak. Dimana pun kamu tinggal, asalkan kamu bahagia dan selalu bersama suamimu. Kami turut bahagia" kata Hanna.
Tak berapa lama kemudian Ustad Soleh dan Cinta telah siap-siap akan berangkat ke rumah Ustad Soleh.
"Kalian berdua hati-hati di jalan, jangan lupa sering kasih kabar walaupun jarak nggak terlalu jauh" pesan dari Tuan Malik.
"Baik ayah, ibu. Kami pasti akan selalu mengirim kabar " kata Ustad Soleh.
Tak lupa keduanya menyalami Tuan Malik dan Hanna. Setelah itu mereka langsung berangkat menuju rumah Ustad Soleh dengan mengendarai motor Ustad Soleh.
Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai, tanpa ada halangan sama sekali.
Cinta merasa lega telah keluar dari rumah Hanna. Karena menurut Cinta, jika masih berada di rumah Hanna akan selalu terbayang-bayang wajah Rofi yang ada di dalam diri Attha.
Cinta dan Ustad Malik di sambut hangat oleh Umi Siti dan si kecil Mita. Cinta langsung di ajak bermain oleh Mita.
Hingga Ustad Soleh mengalah, menata semua barang yang di bawa oleh Cinta ke dalam almari pakaian.
Ustad Soleh tripikal suami yang tak pernah menuntut macam-macam dari Cinta. Bahkan Ustad Soleh sangat sabar dalam membimbing Cinta.
Sementara di rumah Roy, sudah tidak ada yang namanya suasana hening. Karena sejak anak buah Roy selalu gagal menjalankan misi dari Roy, dia selalu saja marah-marah tak jelas.
Setiap hari ada saja barang-barang yang pecah menjadi korban amukan Roy. Hingga kerap kali Roy menyakiti diri sendiri dengan memukulkan kepalan jemarinya ke tembok hingga berdarah.
"Astaghfirulloh aladzim, apa lagi yang kamu lakukan Roy? lihatlah tanganmu berlumuran darah lagi. Kemarin tangan yang kanan, sekarang tangan yang kiri. Besok apa lagi?" Maya menghela napas panjang melihat ulah Roy.
"Roy, sebaiknya kamu move on dari Cinta. Karena dia sekarang telah bersuami, kamu sudah tak bisa mendekatinya kembali" Maya mencoba menasehati Roy.
Namun Roy hanya diam saja, tak merespon perkataaan dari Maya. Roy hanya murung.
__ADS_1
🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥸🥸🥸🥸🥸