
Ustad Soleh melajukan motornya dengan sangat hati-hati. Ustad Soleh juga melajukan motornya seraya sesekali melihat alamat yang tertulis di kertas pemberian anak buah Roy.
Tanpa di sadari ada dua pasang mata mengintai.
"Siap-siap bro, tarjet sedang menuju sasaran" ucap seseorang pada temannya di balik telpon.
"Baik "jawabnya dari balik telpon.
"Abi, kok dari tadi kita muter-muter saja?sebenarnya dimana letak alamat rumah orang yang telah memesan Abi?" Cinta bertanya seraya mengerutkan kening.
"Entahlah, Umi. Abi dari tadi mengikuti arahan alamat yang di kertas ini, tapi tidak ketemu juga " tukasnya seraya menggaru-garu tengkuk yang tak gatal.
"Abi, apa itu orang nggak bohong sama Abi?" Cinta merasa ada yang aneh dan merasa curiga.
"Umi nggak boleh berprasangka buruk dulu, mungkin Abi yang belum menemukan alamat ini. Karena di alamat ini kan Abi baru ke sini " Ustad Soleh malah menasehati Cinta.
"Ya sudah terserah Abi saja, kalau menurut Umi lebih baik kita pulang saja daripada muter-muter nggak jelas seperti ini" Cinta merasa jenuh dan bosen.
"Umi sayang, jangan manyun begitu. Jadi hilang dong cantiknya" goda Ustad Soleh terkekeh.
"Auw, Umi nakal juga ya" canda Ustad Soleh saat pinggang di cubit oleh Cinta.
Mereka tak menyadari jika telah memutar-mutar satu jam lamanya.Tiba-tiba ponsel Ustad Soleh berdering.
📱" Assalamu Alaikum, Utad. Kami telah lama menunggu, kok dari tadi Ustad belum juga sampai?" tanya anak buah Roy dari balik telpon.
📱" Walaikum sallam wr wb, saya dari tadi mencari letak alamat dari bapak. Tapi belum juga ketemu, apa yang bapak berikan alamatnya sudah benar?" tanya Ustad Soleh dari balik telpon.
📱" Sudah benar kok pak Ustad, apa mungkin anda yang tak tahu wilayah tersebut hingga dari tadi mencari tak bertemu.
📱" Baiklah kalau begitu, saya akan mencoba mencari alamat ini kembali.
Setelah sejenak bercengkrama di telpon baik Ustad Soleh maupun anak buah Roy, sama-sama menutup telponnya.
Sementara anak buah Roy melaporkannya pada Roy, jika saat ini tarjet sudah berada tepat di sasaran.
__ADS_1
📱 " Hallo bos, saat ini tarjet sudah berada di titik sasaran. Tapi beliau membawa serta istrinya. Saya bingung bos, mau di apakan tarjet. Karena beliau membawa istrinya.
📱" Terserah kamu, mau di apakan tarjetnya. Tapi awas ya, jangan sampai kalian melukai istri tarjet. Jangan sampai lecet sedikitpun.
📱" Baiklah bos, siap laksanakan tugas.
Sementara Hanna merasa hatinya tak tenang memikirkan anak dan menantunya.
"Ayah, ibu kok kepikiran dengan anak dan menantu kita" kata Hanna seraya mencekal lengan Tuan Malik.
"Ibu nggak usah khawatir, ayah sudah menyuruh anak buah ayah untuk menjaga mereka" ucap Tuan Malik.
"Tapi sebisa mungkin anak buah ayah jangan teledor, ibu yakin saat ini memang benar-benar menantu kita sedang di incar oleh penjahat" kata Hanna seraya menghela nafas panjang.
"Ibu tenang saja, nggak akan terjadi apa-apa sama menantu dan anak kita" Tuan Malik mencoba menenangkan hati Hanna.
Saat Ustad Malik berada di jalan yang sangat sepi, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat menghadang laju motor Ustad Soleh.
Dengan secepat kilat, beberapa orang yang ada di dalam mobil keluar mencekal menyeret paksa Ustad Soleh.
Namun saat orang-orang tersebut akan membawa Ustad Soleh masuk dalam mobil. Ada sebua mobil berhenti tepat di depan mobil anak buah Roy.
Terjadilah baku hantam antar anak buah Ustad Soleh dengan anak buah Tuan Malik.
"Ustad, segera anda bawa istri anda pergi dari sini. Cepat Ustad, kembali ke rumah saja "salah satu anak buah Tuan Malik memberi saran.
Ustad Soleh menuruti ucapan dari anak buah Tuan Malik, lekas melajukan motornya menuju arah pulang.
"Umi, ayuk buruan naik. Kita pulang saja " ajak Ustad Soleh.
Segera Cinta naik ke jok motor bagian belakang. Lekaslah Ustad Soleh melajukan motornya.
Sementara anak buah Tuan Malik masih terus baku hantam dengan anak buah Roy. Namun anak buah Tuan Malik lebih banyak daripada anak buah Roy. Sehingga anak buah Roy kalah telak.
Saat anak buah Tuan Malik bertanya pada anak buah Roy, siapa yang telah menuruh mereka. Tiba-tiba ada orang membidikkan pistol ke arah para anak buah Roy.
__ADS_1
Hingga semuanya tewas di tempat, sebelum sempat menjawab pertanyaan dari salah satu anak buah Tuan Malik.
Sementara saat ini Ustad Soleh telah sampai di rumah. Langsung saja Pram membukakan pintu gerbangnya.
"Loh, kok kalian cepat sekali pulang?" Pram bertanya seraya heran melihat kepulangan Cinta dan Ustad Soleh.
"Iya, pak. Acaranya gagal total jadi kami pulang" jawab Ustad Soleh seraya menuntun Cinta masuk ke dalam rumah.
"Nak, apa kalian baik-baik saja?" tanya Hanna.
"Untung ayah memerintah orang untuk mengikuti kalian berdua, jika tidak entah bagaimana nasib kalian" sela Tuan Malik.
"Jadi tadi orang yang menolongku adalah anak buah ayah?" tanya Cinta.
"Iya, nak. Ayah sengaja memerintah orang untuk selalu mengikuti kemanapun kalian pergi. Karena ayah nggak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua, terutama pada suamimu, nak " kata Tuan Malik.
"Terima kasih, ayah. Berkat ayah, kami selamat dari orang yang ingin mencelakai kami" jawab Ustad Soleh.
"Mulai sekarang, kalian harus benar-benar mawas diri. Karena bahaya sedang selalu mengintai" Tuan Malik memberi nasehat pada Cinta dan Tuan Malik.
"Sekarang kalian masuk dan istirahatlah, jangan lupa makan malam dulu" kata Hanna.
Cinta dan Ustad Soleh langsung masuk ke ruang makan untuk makan malam, setelah itu mereka langsung ke kamar untuk menunaikan sholat isa berjamaah. Setelah itu mereka beristirahat.
Berbeda di rumah Roy, saat ini dirinya sedang emosi karena mendengar usaha anak buahnya gagal total.
"Sial! kenapa pula ada orang yang menolong Ustad itu, heran sekali. Sepertinya sudah ada yang tahu tentang rencanaku ingin mencelakai Ustad itu, hingga ada yang melindunginya. Tapi bagaimana orang itu bisa tahu? dan siapa juga yang mengetahuinya?" gerutu Roy dalam hati.
"Susah dua kali, usahaku untuk mencelakai Ustad jelek itu selalu gagal. Apa yang harus aku lakukan lagi??" gerutu Roy kembali.
Roy tidak menyadari jika selama ini Maya sedang mengintai.
"Benar dugaanku, jika anakku telah berbuat jahat pada suami Cinta. Alhamdulillah karena rencanaku berhasil. Sehingga suami Cinta tidak sampai celaka" gerutu Maya.
"Ya Allah, bagaimana caraku untuk menyadarkan anakku. Jika tindakannya adalah salah, aku khawatir tindakannya semakin jauh melangkah " gerutu Maya dalam hati.
__ADS_1
Maya tak berani menasehati Roy, karena Roy sangat keras kepala.
🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯