
Dika berlari keluar dari villa ke arah pom bensin untuk melayani Rofi.Sedang Dede berlari menuju ke arah toko kelontong untuk membantu Riris.
"Mau isi bensin berapa ya pak?"tanya Dika seraya tersenyum pada Rofi yang saat itu masih mengenakan helm dan maskernya."
"Ya ampun,ternyata memang ini Dika anakku,aku sempat berpikir jika tadi cuma kebetulan sama namanya sama "gerutu Rofi dalam hati seraya terhenyak kaget saat melihat Dika."
"Astaga,jadi selama ini Riris dan anak anak berada di villa mewah ini??apakah ini villa milik suami baru Riris??"gerutu Rofi dalam hati."
"Pak,maaf jadi isi bensin ga ya?"tanya Dika membuyarkan lamunan Rofi."
Rofi sengaja tak bersuara hanya mengganggukkan kepala seraya memberi kode dengan satu tangan membuat angka dua dan satu tangan lagi membuat angka 0.
"Jadi 20 ribu ya pak isi bensinnya ?"tanya Dika untuk memastikan."
Rofi lagi lagi hanya mengisyaratkan dengan anggukan kepala.
Segera Dika dengan cekatan mengisi bensin motor matic Rofi dengan nominal 20 ribu.
Setelah selesai,Rofi memberi uang pas 20 ribu pada Dika.Tak lupa Dika mengucapkan terima kasih pada Rofi.
"Terima kasih ya pak "ucap Dika seraya tersenyum lebar."
Lagi lagi Rofi hanya menggangguk.
Sekilas Dika merasa kenal dengan sosok pengendara motor ini.Dika terus saja menatap motor matic Rofi dan melirik ke plat nomor motor matic tersebut.
"Astaghfirulloh al adzimm,sepertinya orang ini adalah ayah karena aku hafal dengan plat nomor motornya "gumamnya dalam hati."
Namun Dika malah lekas masuk ke arah toko kelontong dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.
Sementara Rofi telah melajukan motornya kembali tanpa menyapa dan memberitahu pada Dika jika dirinya memang ayahnya.
Rofi sangat geram melihat kondisi Riris yang sekarang,menurut Rofi Riris yang sekarang sudah enak hidupnya punya toko kelontong yang cukup besar,tinggal di villa yang sangat mewah dan bagus.
"Heemm aneh,lepas dariku bukannya jadi gembel malah jadi hidup enak."
__ADS_1
"Kok bisa ya??seorang Riris mendapatkan suami kaya hingga Riris dan anak anak bisa tinggal di villa mewah itu."
"Padahal aku sering sekali melewati jalan raya depan villa itu,malah waktu itu belum ada toko kelontong dan pom bensinnya,tapi kok aku sama sekali tak melihat Riris dan anak anak."
Demikian gerutuan Rofi saat mengetahui keberadaan Riris dan anak anaknya.
Bukannya merasa tergerak hati ingin bertemu anak anak dan minta maaf,malah merasa geram melihat kondisi Riris yang sekarang.
Lain halnya dengan Dika yang telah berada di dalam warung kelontong ibunya.
Kebetulan toko sudah sepi dari pembeli hingga Riris bisa istirahat sejenak .Riris merasa ada yang aneh saat menatap Dika.
Riris pun menghampiri Dika yang sedang panik dan melamun.
"Nak,kamu kenapa?apa kamu kurang sehat atau sedang menahan lapar??wajahmu kok pucat seperti habis melihat hantu saja?"tanya Riris seraya mengusap bahu Dika dan terkekeh."
"Benar sekali bu "jawab Dika menatap lekat wajah Riris."
"Maksudnya benar sekali itu bagaimana nak??benar ga enak badan atau benar lagi menahan rasa lapar atau benar habis melihat hantu??"tanya Riris seraya mengerutkan alis."
"Hust,sembarangan kamu kalau ngomong,bagaimanapun ayahmu itu masih hidup belum meninggal kok di bilang hantu??"ucap Riris ."
"Bagi Dika dan Dede ayah itu sudah tiada bu,karena selama kita tak bersama ayah,tak sekalipun kan ayah mencoba mencari kita??"
"Apalagi tadi,ketemu Dika saja ga menyapa sama sekali,tapi malah pura pura ga kenal ."
Demikian penuturan Dika yang sangat kecewa dengan sikap ayahnya yang memang sama sekali tak pernah memikirkan dirinya dan adik adiknya.
"Nak,kamu ga boleh berprasangka buruk pada ayahmu,mungkin saja ayahmu sibuk jadi tak bisa kemari "Riris mencoba menasehati Dika agar tak membenci ayahnya."
"Oh iya,ibu kan ga pernah memberitahu sama ayahmu kalau kita tinggal di villa ini "ucap Riris kembali."
"Memangnya kapan kamu bertemu ayahmu nak?"tanya Riris penasaran."
"Tadi bu,waktu ibu minta tolong Dika melayani orang yang beli bensin,itu kan yang beli bensin ayah bu "jawab Dika murung."
__ADS_1
"Apa iya si,setahu ibu yang beli bensin kan memakai helm dan masker,mungkin kamu salah mengenali orang sayang "ucap Riris masih tidak percaya ."
"Bu,walaupun orang itu memakai jubah sekalipun,Dika tahu kalau itu ayah karena Dika sangat hafal dengan plat nomor motor yang di pake ayah bu "rajuk Dika murung."
"Mungkin saja motor ayah lagi di pinjam temen nak,ga mungkinnya kalau itu ayahmu tapi sama sekali ga menyapamu nak "hibur Riris."
"Sudahlah bu,ibu ga usah membela ayah terus seperti ini,itu tidak akan ada gunanya buat Dika dan Dede bu,sampai kapanpun kami akan membenci ayah seumur hidup kami bu "rajuk Dika bangkit dari duduknya berlalu pergi dari toko ibunya melangkah menuju villa ."
"Ya Allah,sekuat apapun hamba mencoba membujuk anak anak supaya tidak membenci ayah mereka tetap tidak berhasil,mungkin karena hati mereka sudah teramat terluka dengan perlakuan mas Rofi selama ini "gerutu Riris menghela nafas panjang."
Sementara di rumah Hanna,bukan hanya Rofi yang begitu lama memandangi Hanna,tapi juga Pram yang tak berkedip saat melihat tawa renyah Hanna saat bermain dengan baby Attha di halaman rumah.
Pikiran Pram sampai traveling kemana mana,membayangkan jika saat ini dirinya sedang bersama Hanna bermain dengan baby Attha.
Pram sampai tak sadar senyum senyum sendiri.
Sikap Pram ini sempat terlihat oleh Hanna,bukannya Hanna simpati malah Hanna enek jijik melihat Pram.
Segera Hanna membawa stroller baby Attha melangkah ke dalam rumah.
Sejenak hilanglah senyum yang tersungging di bibir Pram,kembali dengan wajah masamnya.
"Han Han,tega banget si kamu??masa aku cuma ingin berkhayal sedang bersamamu saja kamu ga rela eehhhh masuk begitu saja,hilang dech rasa bahagia hanya sekejap saja "gerutu Pram menatap kepergian Hanna."
"Aku heran sama kamu Han,di usiamu yang tak muda tapi wajahmu masih sangat cantik,kulitmu putih mulus dan bersih,bodymu bak gitar spanyol."
"Beda banget sama Desy yang sejak punya anak lagi malah tubuh jadi gembrot,wajah sudah terlihat tua,hhhaduuhh bikin aku gimana gitu lohhh.."
Seperti itulah gerutuan Pram membandingkan antara Hanna dan Desy.
Lain halnya dengan Hanna yang telah berada di ruang tengah.
"Gila itu Pram,suka senyum senyum sendiri ga jelas bikin takut orang saja "gerutu Hanna yang masih bisa di dengar oleh tuan Malik yang sedang duduk di ruang tengah ."
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
__ADS_1