
Namun Dika dan Dede tetap tak mau masuk rumah, mereka lebih suka berada di toko. Setelah beberapa menit berlalu, Rofi terbangun dari tidurnya.
"Astaghfirulloh aladzim..aku ketiduran.Mana Dika dan Dede, kok belum keliatan juga ya "gerutu Rofi seraya melajukan kursi rodanya keluar rumah.
Rofi melajukan kursi rodanya masuk ke toko.
"Ternyata kalian berdua di sini, ayah menunggu dari tadi ingin bertemu kalian. Sini nak, ayah kangen kalian "Rofi merentangkan kedua tangannya seraya terseyum berpikir bahwa Dika dan Dede akan lekas berlari memeluknya.
Dika dan Dede tak menghiraukan Rofi, mereka hanya menoleh sesaat lalu membantu melayani para pembeli.
"Nak, ayok sapa ayah kalian berdua "Riris menatap kedua anaknya seraya menganggukkan kepala.
"Bu, kami sudah tidak punya ayah!" rajuk Dika ketus seraya berlari pergi dari warung.
"Ka..tunggu "Dede menyusul Dika.
Keduanya berlari ke dalam rumah, lalu masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.
"Mas sudah lihat sendiri kan?betapa mereka membenci dan menolak mas.Itu karena sikap mas yang dulu sama sekali tak pernah memperhatikan atau peduli dengan mereka berdua "Riris menatap sinis pada Rofi.
Rofi hanya diam tak bisa berkata apa-apa.
"Lebih baik sekarang mas pulang saja "Riris mengusir Rofi.
"Baiklah aku pulang, tapi lain waktu aku pasti kemari lagi.Aku nggak akan menyerah sampai anak-anak mau memaafkanku "Rofi melajukan kursi rodanya ke halaman rumah.
Saat di halaman rumah, si sopir lekas menghampiri Rofi dan membawanya masuk dalam mobil.
"Ya Allah, kenapa kedua anakku belum bisa memaafkanku hingga hari ini?aku harus bagaimana menebus salahku pada Cinta?perbuatanku satu kali, membuat terluka Cinta sampai saat ini "Rofi menggerutu seraya meneteskan air mata.
"Dimanakah keberadaan Cinta saat ini ya Allah, apakah anaknya baik-baik saja?Apakah tempo dulu yang aku lihat di rumah Hanna adalah Cinta?tapi Hanna bilang Cinta tak pernah kesana, Ya Allah tolong tunjukkan keberadaan Cinta padaku, supaya aku lekas menebus dosaku padanya "gerutu Rofi tak terasa menitikkan bulir bening di pipi.
Sementara Riris bersikap masa bodoh dengan peristiwa tadi.Menurut Riris wajar jika anak-anaknya bersikap seperti itu.
Waktu berjalan begitu cepat, waktu sore hari. Dimana waktu yang sangat di nantikan oleh Hanna dan Tuan Malik.
Semua telah hadir di rumah Tuan Malik.Semua telah berkumpul dari Narto, Narti, Hanna, Tuan Malik, dan Cinta.
"Assalamu Alaikum "sapa Ustad Soleh dan Umi Siti.
__ADS_1
"Walaikum sallam wr wb "semua yang ada di rumah Hanna serentak memberi salam.
Cinta terhenyak kaget saat melihat yang datang adalah Ustad Soleh.
"Apa aku mimpi, apa aku salah lihat "gerutu Cinta dalam hati.
"Bu, ini beneran yang datang Ustad Soleh "bisik Cinta pada Hanna.
"Loh, kok kamu sudah kenal dengannya?"Hanna membalas bisikan dari Cinta.
"Sudah tiga kali, eh empat kali ini ketemu bu "Cinta kembali berbisik pada ibunya.
"Selamat sore untuk semuanya yang ada di sini, mohon maaf sebelumnya.Saya kemari hanya bersama Umi "kata Ustad Soleh seraya tersenyum ramah.
"Nggak apa-apa kok Ustad, kami bisa memahaminya "jawab Tuan Malik.
"Bagaimana kalau kita langsung saja pada pokok utama?"kata Ustad Soleh.
"Begini bapak ibu semuanya, saya ingin melanjutkan pembicaraan saya tempo lalu.Tentang niat saya ingin ta"aruf dengan saudari Cinta "kata Ustad Soleh.
"Deg deg deg "Dada Cinta semakin berdetak kencang, saat tak sengaja bertatapan dengan Ustad Soleh.
Hanna bisa melihat expresi dari anaknya.
Wajah Cinta berubah bersemu merah bagaikan buah tomat.
"Maaf, saya ingin bertanya langsung dengan anak bapak dan ibu " kata Ustad Soleh menatap Cinta penuh makna.
"Silahkan Ustad" jawab Tuan Malik.
"Maaf, de. Apakah ade, bersediakan ta"aruf dengan saya ? tolong jawab yang jujur, seandainya ade keberatan ngomong saja tak apa-apa "kata Ustad Soleh seraya menatap lekat Cinta yang tertunduk.
Suasana hening, Cinta juga terdiam seolah sedang berpikir apakah menerima atau menolak.
"Nak, jawablah menurut isi hatimu. Karena kami juga tidak akan memaksakan kehendak kami " kata Tuan Malik.
"Cinta bersedia, Ustad "jawabnya seraya tertunduk malu.
"Alhamdulillah " serentak yang ada di ruang tamu mengucap syukur.
__ADS_1
"Alhamdulillah, tapi ade tidak terpaksa kan, menerima ta"aruf ini?" Ustad Soleh bertanya lagi untuk memastikannya.
"Tidak kok, Ustad. Ini keputusan dari hati saya, bukan dari keterpaksaan" jawab Cinta menutupi rasa gugupnya.
"Baiklah, kalau begitu. Saya juga nggak ingin menunda pernikahan, karena menikah juga salah satu ibadah. Insa Allah, saya akan menjadi imam bagi anak bapak dan ibu untuk selamanya. Walaupun agama mengijinkan seorang suami boleh menikah lebih dari satu kali, tapi Insa Allah bagi saya cukup satu kali menikah untuk seumur hidup " kata Ustad Soleh.
Setelah jelas, jika Cinta telah menerima ta"aruf dengan Ustad Soleh. Acara di lanjutkan dengan makan bersama.
"Ya Allah, syukur alhamdulillah. Anakku menerima ta"aruf dengan Ustad Soleh "gerutu Pram seraya menengadahkan kedua tangannya.
"Walaupun hati ini sedih juga, karena nggak bisa melihat langsung dan hadir di antara mereka. Namun setidaknya aku ikut merasakan kebahagiaan Cinta. Maafkan ayahmu ini, nak. Yang dulu tak menerimamu "gerutu Pram kembali.
Setelah 1 jam lamanya, pamitlah Ustad Soleh dan Umi Siti. Mereka akan mencari tanggal dan hari yang baik untuk segera melangsungkan pernikahan.
Sepulangnya Ustad Soleh dan Uminya, Hanna memeluk erat Cinta.
"Hem..ternyata anak ibu ini sebelumnya pernah ketemu Ustad Soleh? mungkin karena pertemuan kalian itu, Ustad Soleh langsung jatuh cinta padamu " goda Hanna terkekeh.
"Awal mula ketemu kan saat ada pengajian di panti asuhan, iya kan, Cinta ?" kata Narto.
"Paman salah, di panti justru pertemuan kedua " jawab Cinta tersipu malu.
"Masa si, cerita dong ke kita semua?" canda Hanna seraya menaik turunkan alisnya.
Cinta akhirnya cerita pada semua tentang pertemuan singkatnya dengan Ustad Soleh.
"Sebelum bertemu di panti, pagi harinya kita bertemu di pantai. Saat Cinta ke pantai sama Bu Riris dan ketiga adik-adik. Saat itu ada anak kecil menangis mencari kakaknya, yang ternyata kakaknya adalah Ustad Soleh."
"Baru pertemuan kedua di panti asuhan milik Paman Narto. Untuk yang ke tiga kalinya, kita bertemu di kampus Cinta. Saat itu Ustad Soleh memimpin pengajian juga tepatnya di kelas Cinta."
"Untuk ke empat kalinya, hari ini ."
Demikian Cinta bercerita panjang lebar, tentang pertemuan singkatnya dengan Ustad Soleh.
Semuanya terkekeh dan menggoda Cinta. Setelah sekian lama Cinta menderita, akhirnya kini menemukan kebahagiaan.
Hy ka, mohon dukung karya baruku untuk lomba "merubah nasib"
terima kasih atas kesediaanya..
__ADS_1
jangan lupa like,vote,fav