
Setelah mendengar percakapan Roy dengan anak buahnya, Maya lekas pergi dari tempat itu.
"Aku harus bagaimana lagi ya Allah, untuk bisa menyasarkan anakku? apa aku laporkan saja ke polisi, tapi aku sangat menyayangi anakku" gerutu Maya di hati.
Sementara saat ini Riris sibuk mengurus kepindahannya ke villa milik almarhum Rofi. Riris pula yang akan mengurus setiap pengajian menuju tujuh harian, empat puluh harian dan seratus hariannya almarhum Rofi kelak.
"Trima kasih ya Mas Rofi, atas segala peninggalanmu untuk kami. Aku akn selalu mendoakanmu, dan mengurus setiap acara pengajian untukmu" gerutu Riris seraya menatap foto almarhum Rofi.
Semua membantu Riris mengurus pindahannya. Baik Narto dan Ustad Soleh serta Cinta dan Hanna.
Berbeda dengan Pram yang merasa puas mendengar kabar Rofi telah meninggal.
"Syukurin kamu Rofi, itu hukuman setimpal buatmu yang telah membuat anakku menderita" gerutu Pram di sela berjaga di posko.
Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah empat puluh hari berlalu dari meninggalnya almarhum Rofi.
"Ayah, alhamdulillah ya. Kini Cinta perlahan-lahan mau menerima Attha, tanpa ada unsur paksaan dari kita" Hanna menyunggingkan senyum.
"Ya, bu. Itu berkat nasehat dari Nak Soleh. Pasti dia selalu menasehati Cinta, sehingga lambat laun mau menerima ke hadiran Attha" Tuan Malik tersenyum.
Sementara saat ini Cinta dan Ustad Soleh telah berada di villa almarhum Rofi. Untuk membantu menyiapkan segala kebutuhan untuk acara pengajian empat puluh harinya almarhum Rofi.
"Hoek hoek.." tiba-tiba Cinta muntah-muntah.
"Nak, lebih baik kamu istirahat saja dulu. Mungkin kamu terlalu cape" Riris memijit tengkuk leher Cinta.
"Umi, apa mungkin saat ini Umi sedang hamil? sebaiknya kita periksa ke klinik sebentar, untuk memastikannya" Ustad Soleh memberi saran.
"Iya, nak. Kebetulan di depan kan ada klinik, kalian bisa ke sana sekarang" Riris menyetujui usul Ustad Soleh.
"Baik, bu. Ayok, Abi " Cinta mengajak Ustad Soleh.
Mereka menyeberang jalan dimana terdapat klinik untuk kusus ibu hamil dan melahirkan.
Beberapa menit kemudian, mereka telah kembali dengan rasa riang.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, sepertinya positif ya? karena di lihat dari wajah kalian berdua yang sangat ceria" Riris bertanya menyelidik.
"Iya, bu. Alhamdulillah saat ini Cinta sedang hamil 4 minggu" kata Cinta seraya menghambur dalam pelukan Riris.
"Sukur alhamdulillah, akhirnya kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua. Selamat ya, Nak Soleh" Riris tersenyum pada Ustad Soleh.
__ADS_1
"Iya, bu. Terima kasih" jawab Ustad Soleh singkat.
Menjelang malam, berlangsunglah acara pengajian memperingati meninggalnya almarhum Rofi yang ke empat puluh hari.
Tak sengaja mobil Roy melintas depan villa, yang kebetulan sedang bersama Maya.
"Loh, itu kok rumah Mas Roy penuh dengan orang? Roy, berhenti sebentar. Mamah ingin tahu ada acara apa?" Maya meminta mobil berhenti sejenak.
Hingga asisten pribadi Roy menghentikan laju mobilnya.
Maya turun dari mobil, lekas melangkah masuk ke dalam villa almarhum Rofi. Kebetulan Mamang dulu bekerja pada Maya hingga tak asing dengan wajah Maya.
"Malam, Nyonya Maya?" sapa Mamang.
"Mang, ini ada acara apa di sini?" tanya Maya penasaran.
"Acara pengajian meninggalnya almarhum Tuan Rofi yang ke empat puluh hari" jawab Mamang singkat.
"Innalillahi Wa Innalilahi Rojiun..kok aku ngga tahu, Mang? kenapa kamu nggak memberi tahuku?" Maya berkaca-kaca seraya tak percaya.
"Maaf, Nyonya. Saya sudah berusaha memberi tahu, tapi nomor ponsel Nyonya Maya tidak aktif. Saya telpon nomor rumah juga sudah tidak aktif" jawab Mamang.
Sejenak Maya hanya terdiam tak bisa berkata-kata. Namun kemudian bertanya pada Mamang apa yang menyebabkan almarhum Rofi meninggal.
"Berarti yang waktu itu tak sengaja aku dengar, yang mengalami kejadian naas adalah Mas Rofi. Sungguh keterlaluan kamu, Roy. Ini sudah tidak bisa di biarkan, aku khawatir akan ada korban yang lain" gerutu Maya di hati.
Setelah mendengar semua itu, Maya pamit pulang.
"Aku tidak akan tinggal diam lagi, aku nggak mau anakku semakin terjerumus. Segera mungkin aku mencari bukti-bukti untuk menyeret Roy ke kantor polisi. Hanya dengan cara itu, dia akan tobat" gerutu Maya dalam hati.
"Mah, ada acara apa di rumah Om Rofi?" tanya Roy mengagetkan lamunan Maya.
"Acara empat puluh hari meninggalnya Om Rofi" jawab Maya singkat.
"Apa, mah? Om Rofi meninggal?" Roy seraya tak percaya.
Maya hanya diam saja tak menjawab perkataan Roy. Barulah sampai di rumah, Maya mengajak Roy berbicara.
"Duduklah, Roy. Mamah ingin berbicara padamu" Maya menatap tajam Roy.
"Roy, mamah sudah tahu apa yang telah kamu perbuat. Sadar dan tobatlah, Roy. Karena perbuatanmu telah membuat nyawa seseorang melayang" Maya menatap lekat Roy.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mamah?" tanya Roy seraya mengernyitkan alis.
"Mamah tahu, selama ini kamu ingin mencelakai suami Cinta. Asal kamu tahu, almarhum Om Rofi meninggal karena mencoba menyelamatkan suami Cinta. Ini semua pasti ada hubungannya denganmu" Maya menatap tajam Roy.
Sejenak Roy terdiam, mencerna perkataan Maya.
"Jadi yang terkena salah sasaran waktu itu adalah Om Rofi?" gerutu Roy dalam hati.
"Roy, mamah mohon sadarlah. Masih banyak gadis di luaran sana yang lebih baik dari Cinta. Kalau kamu masih tak berubah, mending mamah akhiri hidup mamah sekarang juga" ancam Maya.
"Mamah tadinya mau melaporkanmu ke polisi, tapi mamah nggak akan tega. Mending mamah akhiri hidup mamah saja, dari pada melihat kelakuanmu yang semakin hari semakin menjadi" ancam Maya kembali.
"Mah, Roy bukan anak kecil lagi yang gampang di ancam seperti dulu saat masih kecil. Kalau Roy nakal atau tidak mau makan, mamah ancam Roy" kata Roy ketus.
"Baiklah, Roy. Kalau kamu pikir mamah cuma mengancammu. Jangan pernah kamu sesali kalau mamah nekad dan menghembuskan nafas mamah yang terakhir" tiba-tiba Maya menghunuskan gunting ke perutnya sendiri dan ke urat nadi pergelangan tangannya.
Roy yang melihatnya langsung panik, karena darah berhamburan keluar dari perut Maya.
Roy langsung melarikan Maya ke rumah sakit.
"Mah, bertahan ya mah. Roy nggak mau kehilangan mamah. Roy sudah kehilangan papah. Hanya mamah yang Roy punya saat ini" Roy menangis seraya memangku Maya yang tak sadarkan diri.
Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Segera Maya mendapatkan perawatan.
2 Jam kemudian, Maya telah sadar.
"Mah, tolong jangan lakukan ini lagi. Roy nggak ingin kehilangan mamah. Roy janji akan menuruti semua kemauan mamah. Roy janji nggak akan berbuat jahat lagi" Roy menangis seraya menggenggam jemari Maya.
"Baiklah, Roy. Mamah pegang janjimu, tapi jika suatu hari hanti kamu ingkar. Jangan menyesal jika mamah melakukan hal yang lebih parah dari ini" kata Maya lirih.
Sejak saat itu Roy benar-benar berubah menjadi orang yang baik. Sudah tidak berbuat jahat lagi pada Ustad Soleh.
Kini Cinta juga telah bahagia bersama Ustad Soleh dan Attha serta calon bayi mereka.
T H E E N D
π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³
Terima kasih buat para readers yang sudah setia menyimak karya remahan author..
Doa author yang terbaik untuk semua readers...
__ADS_1
Mohon maaf jika karya tidak seindah karya penulis handalπππππππ