Ayah Angkatku Ayah Anakku

Ayah Angkatku Ayah Anakku
Part 100


__ADS_3

Pagi menjelang, suasana di villa Rofi begitu sepi bagaikan tak berpenghuni. Hanya ada dirinya dan seorang perawat pribadi serta satu sopir dan sepasang asisten rumah tangga.


"Kenapa aku masih saja kepikiran dengan Cinta, aku belum tenang kalau belum meminta maaf pada Cinta secara langsung" gerutu Rofi.


"Sebaiknya hari ini aku ke rumah Hanna lagi, untuk meminta maaf pada Cinta" gerutunya kembali.


Rofi memerintah asisten pribadinya untuk mengantarkan dirinya ke rumah Tuan Malik.


Hanya beberapa menit saja, sampailah di rumah Tuan Malik.


"Ting tong " Rofi memencet bel pintu gerbang.


"Siapa sih, pagi-pagi sudah bertamu?" gerutu Pram seraya melangkah ke arah pintu gerbang.


Kebetulan barusan Pram habis sarapan sehingga tak melihat siapa yang datang.


"Ngapain kamu kemari lagi! belum kapok juga, aku hajar waktu itu! mau aku hajar yang lebih parah lagi!" bentak Pram mendengus kesal seraya berkacak pinggang.


Ucapan Pram yang begitu keras, mengundang perhatian yang ada di dalam rumah.


"Bu, Pram marah-marah sama siapa ya?" Tuan Malik lekas bangkit menuju halaman rumah.


"Umi, itu bapak Pram kenapa pagi-pagi marah? Abi mau tengok ke depan ya, Umi?" Ustad Soleh melangkah ke depan.


Cinta ikut penasaran begitu juga Hanna. Mereka juga ikut melangkah menuju ke halaman depan.


"Mas Pram, ada apa sih? pagi-pagi sudah berteriak?" tanya Tuan Malik.


Belum juga Pram menjawab, Tuan Malik telah melihat ada kehadiran Rofi.


"Oh, orang ini yang telah membuat Mas Pram emosi? kamu ngapain juga datang kemari?" hardik Tuan Malik menatap sinis pada Rofi.


"Maaf Tuan, saya datang kemari ingin meminta maaf pada Cinta. Tolong ijinkan saya untuk bertemu Cinta, Tuan" Rofi memohon memelas pada Tuan Malik.


"Nggak, aku nggak ijinkan kamu ketemu Cinta!" Hanna membentak Rofi seraya mendengus kesal.

__ADS_1


"Maaf, memang bapak ini siapa?ayah,ibu?" Tiba-tiba Ustad Soleh telah ada di belakang punggung Hannda dan Tuan Malik.


"Dia orang gila, sudah nak kamu masuk saja. Kamu kan belum sembuh dari sakit, biar bapak yang urus orang gila ini" Pram menyela seraya melirik pada Hanna.


Hanna telah paham dengan kode lirikan mata dari Pram.


"Nak Soleh, mending kita masuk saja. Cinta, ajak suamimu masuk " Hanna melirik pada Cinta.


Cinta juga sempat melihat siapa yang datang, dia bukannya tergerak hati dan iba pada Rofi. Tapi malah sangat membenci.


"Ayok Abi, kita masuk saja. Apa yang di katakan oleh Bapak Pram memang benar. Tadi itu orang gila, mungkin kabur dari rumah sakit" kata Cinta seraya bergelayut manja di lengan Ustad Soleh.


Cinta menarik paksa membawa Ustad Soleh masuk ke dalam rumah.


Sementara Pram mendorong paksa kursi roda Rofi untuk lekas pergi dari pintu gerbang rumah Tuan Malik.


Rofi tak bisa menahan haru, hingga menitikkan air matanya.


"Ya Allah, kenapa aku ingin minta maaf saja susahnya minta ampun. Apakah selamanya aku akan menanggung rasa dosa dan bersalahku pada Cinta?" gerutu Rofi sempat di dengar oleh Hanna, Tuan Malik, juga Pram.


"Tidak, ayah. Ibu nggak akan mengijinkan, lagi pula Cinta juga tak akan bersedia memaafkan atau bertemu dengannya!" Hanna mendengus kesal berlalu pergi dari hadapan Tuan Malik dan Pram.


"Pram, jangan lupa tutup pintu gerbangnya sekarang juga!" Hanna berteriak dari balik pintu rumah.


"Maaf, Tuan Malik. Saya akan menutup pintu gerbangnya" kata Pram dengan perlahan menutup pintu gerbang, sehingga Tuan Malik juga menyingkir sedikit demi sedikit dari pintu gerbang.


Walaupun masih ada rasa iba di hati pada Rofi. Sementara Rofi terus saja menitikkan air mata.


Akhirnya Rofi menerintah sopir pribadinya untuk melajukan mobil arah pulang. Dirinya sudah sangat putus asa karena tak bisa meminta maaf pada Cinta.


"Ya Allah, aku harus berbuat apa untuk bisa mendapatkan maaf dari Cinta?" gerutu Rofi di sela isak tangisnya.


Berbeda dengan Cinta. Setelah dia melihat Rofi, tiba-tiba rasa takutnya muncul. Dia menyembunyikan diri di dalam selimut sambil menangis tersedu-sedu.


"Umi, Umi kenapa jadi begini? ada apa Umi, kok mendadak Umi ketakutan seperti ini?" Ustad Soleh menjadi bingung melihat perubahan sikap Cinta.

__ADS_1


Cinta tetap saja bersembunyi di balik selimut tanpa menghiraukan pertanyaan Ustad Soleh.


Akhirnya Ustad Soleh keluar dari kamar, menghampiri ke dua mertuanya yang sedang duduk di ruang tengah.


"Ayah, ibu. Kenapa Cinta jadi berubah drastis? Soleh bingung, karena tiba-tiba Cinta seperti orang yang sangat ketakutan" Soleh menatap kedua mertuanya secara bergantian.


"Duduklah nak, biar ayah dan ibu cerita sejenak" Tuan Malik meminta Soleh untuk duduk.


Begini nak, orang yang tadi kemari. Adalah orang yang dulu menodai Cinta hingga dia hamil. Mungkin Cinta trauma sekali dengan kejadian itu, hingga melihat orangnya saja dia ketakutan" kata Tuan Malik.


"Astaghfirulloh aladzim, kasihan sekali istriku. Belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Masih saja di liputi rasa trauma " Ustad Soleh menghela napas panjang seraya geleng-geleng kepala.


"Iya, nak. Makanya kami selaku orang tuanya tak pernah membuka cerita kelamnya. Bahkan kami juga tak bisa meminta Cinta untuk bersedia mengakui anaknya sebagai anak kandungnya " kata Tuan Malik.


"Kami telah berusaha menasehati Cinta supaya mengakui anaknya sendiri, tapi usaha kami tidak pernah berhasil. Kami selalu di benci saat berusaha menyadarkan di untuk menyayangi dan mengasihi anak kandungnya " kata Hanna dengan mata berkaca-kaca.


"Oh ya sudah ayah, ibu. Biar Soleh yang mencoba menenangkan hati Cinta. Insa Allah, Cinta akan sembuh dari traumanya" kata Ustad Soleh seraya meninggalkan ruang tengah.


Ustad Soleh kembali ke kamarnya, dan perlahan mendekati Cinta.


"Umi sayang, sudah jangan di pikir tentang masa lalumu. Sekarang kan hidup Umi sudah ada Abi. Jadi nggak usah memikirkan masa yang lalu. Lepaskan semua kepahitan dan kegetiran serta luka masa lalumu, Umi"


Ustad Soleh menghampiri Cinta secara perlahan-lahan dan berusaha menghibur Cinta.


Ustad Soleh berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh Cinta. Ustad Soleh perlahan meraih tubuh Cinta dalam pelukannya.


Ustad Soleh melafalkan doa dan mengusap surai hitam Cinta.


Cinta menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Ustad Soleh. Sejenak Cinta terdiam, dan perlahan tangisnya mereda.


Barulah Cinta bisa merespon Ustad Soleh.


"Abi, maafkan Umi " ucap Cinta singkat.


"Ngapain Umi minta maaf, Umi tidak punya salah apa pun sama Abi. Hanya satu permintaan Abi, Umi ikhlaskan masa lalu Umi. Lepaskan, hempaskan, supaya ke depannya kita lebih ringan menjalankan kehidupan ini" Ustad Soleh mencoba menasehati Cinta.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2