Ayah Angkatku Ayah Anakku

Ayah Angkatku Ayah Anakku
Part 95


__ADS_3

Roy menoleh pada Maya.


"Mah, entah kenapa Roy selalu ingat Cinta. Padahal Roy sudah mencoba melupakannya "jawabnya seraya menghela napas panjang.


"Kenapa baru sekarang kamu jujur ke mamah?" Maya menatap sendu pada Roy.


"Roy sengaja nggak curhat sama mamah, pikir Roy bisa mengatasi hati Roy sendiri. Roy mencoba menyibukkan diri dengan urusan kantor, untuk melupakan rasa ini. Tapi tetap tak bisa, mah " pandangan Roy menerawang jauh.


"Lain kali jangan seperti ini, cerita saja sama mamah. Sekarang lebih baik kita ke rumah ibu angkat Cinta, untuk menanyan kabarnya " Maya mengusap punggung Roy seraya tersenyum.


"Baiklah mas, Roy sedikit lega setelah bercerita pada mamah " jawabnya seraya memeluk Maya.


"Ya sudah, sekarang kita bersiap-siap " Maya beranjak dari duduknya seraya mengulurkan tangan pada Roy.


"Baiklah, mah " Roy menerima uluran tangan Maya dan lekas bangkit.


Segera mereka bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Riris.


Setelah beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di seberang jalan villa Riris.


"Kenapa mantan istri Mas Rofi kemari lagi?" Riris menggerutu saat berada di toko tak sengaja melihat mobil Maya parkir di seberang jalan.


"Assalamu Alaikum, bu " Maya berdiri tepat di toko Riris seraya mengucap salam.


"Walaikum salam wr wb, maaf ada keperluan apa, ibu kemari?" Riris to the point bertanya.


"Begini bu, kami kemari ingin menanyakan kabar Cinta. Karena anak saya sudah beberapa hari tak melihat Cinta di kampus?" Maya berkata dengan sorot mata sedikit ragu.


"Maaf, anak ibu satu kampus atau satu kelas dengan Cinta?" Riris bertanya menyelidik.


"Saya satu kampus, bu. Kebetulan ada beberapa materi pelajaran di kampus, yang saya nggak paham tapi Cinta paham " Roy memberi alasan palsu.


"Kenapa nggak ke kelasnya, tanya pada teman-temannya?" Riris merasa curiga dengan sikap Roy.


"Saya sudah coba, bu. Tapi tidak ada satu temannya yang memberitahu saya tentang Cinta " Roy berkilah kembali.


"Masa sih, padahal waktu Cinta menikah dua sahabat baiknya datang kok" Riris merasa tak percaya dengan ucapan Roy.


"Menikah?" serentak Roy dan Maya berucap.


"Iya, kemarin Cinta menikah dengan seorang Ustad muda " kata Riris sekenanya.

__ADS_1


"Bu, boleh nggak saya minta alamat rumah dimana saat ini Cinta tinggal?" Roy pasang wajah memelas.


Sejenak Riris terdiam, karena merasa curiga dengan maksud kedatangan Maya dan Roy.Riris mengirim notifikasi chat pesan pada Hanna.


"Assalamu alaikum, Han. Ini ada orang mencari Cinta, bilangnya teman satu kampus. Minta alamat rumahmu, sebaiknya aku beri atau tidak?" tanya Riris pada notifikasi chat pesan.


Namun Hanna tak juga membalas, karena sedang asik bersama Attha. Hingga akhirnya Riris memberikan alamat rumah Hanna pad Roy.


"Terima kasih bu, mohon maaf sebelumnya jika kehadiran kami mengganggu waktu ibu" kata Maya tersenyum ramah.


"Kalau begitu, kami permisi. Assalamu Alaikum" pamit Maya dan Roy.


Maya dan Roy melangkahkan kaki menyeberang menuju mobil mereka.


"Mah, bagaimana ini? Cinta sudah menikah dengan pria lain" Roy mengacak-acak rambut sendiri.


"Kita tanya dulu sama orang tua kandung Cinta, apakah memang benar beritanya" Maya mencoba menenangkan Roy.


Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mobil Roy di depan pintu gerbang rumah Hanna.


"Siapa itu, kok sepertinya aku belum pernah bertemu" gerutu Pram menghampiri pintu gerbang.


Sejenak Pram ngobrol dengan Maya dan Roy. Hingga akhirnya Pram mengijinkan Maya dan Roy masuk.


"Han, ada tamu tuh" kata Pram menemui Hanna di ruang tengah.


"Siapa?" tanyanya seraya beranjak pergi melangkah ke halaman rumah.


"Assalamu alaikum, bu. Mohon maaf jika kami mengganggu waktunya "Maya menyapa Hanna dengan ramahnya.


"Walaikum sallam wr wb, mari silahkan masuk "Hanna mempersilahkan duduk Maya dan Roy.


"Ada perlu apa ya,ibu sama masnya?" tanya Hanna penasaran.


"Begini bu, ini Roy anak saya. Dia satu kampus dengan Cinta, ada perlu dengan Cinta. Tapi kata Roy, sudah beberapa hari ini Cinta tidak masuk kuliah " Maya mencoba menutupi rasa gugupnya.


"Oh..temen sekampus dengan Cinta. Memang beberapa hari Cinta tidak berangkat kuliah, karena mengurus pernikahan. Apa nak Roy , tidak di beri tahu oleh dua teman baik Cinta?" kata Hanna seraya curiga.


"Nggak bu, temen Cinta tidak ada yang memberi tahu. Jadi Cinta sudah menikah, bu?" Roy bertanya untuk memastikan.


"Iya, nak. Kemarin acara pernikahannya dengan seorang Ustad. Saaat ini Cinta juga sedang berada di rumah suaminya" jawab Hanna seraya tersenyum ramah.

__ADS_1


"Haduh..kenapa nasibku seperti ini? wanita yang selalu membuatku gelisah telah menikah dengan pria lain. Bagaimana denganku?" gerutu Roy .


"Maaf bu, boleh minta alamat rumah suami Cinta, karena saya juga belum mengucapkan selamat padanya " kata Roy berbohong.


Hanna tak merasa curiga dengan semua yang di katakan oleh Roy, dengan mudahnya memberi alamat rumah Ustad Soleh pada Roy.


Setelah mendapatkan alamat rumah Ustad Soleh, Maya dan Roy berpamitan pulang.


"Nak, kenapa kamu meminta alamat rumah suaminya Cinta?" Maya merasa heran.


"Aku penasaran saja bu, seberapa tampan dia. Kok Cinta bersedia menikah dengannya. Aku juga pengen tahu,bu. Seberapa kaya suami Cinta "kata Roy singkat.


Maya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.


"Nak, sebaiknya kamu lupakan saja Cinta. Carilah wanita yang lain kan banyak" Maya memberi saran.


"Mah, aku ingin lihat dulu seberapa hebat suami Cinta. Apa dia lebih segalanya dariku" kata Roy sinis.


Tak berapa lama kemudian, Maya dan Roy telah sampai di depan rumah Ustad Soleh.


"Lihat mah, rumahnya saja seperti itu. Kok orang tua Cinta membiarkan anaknya menikah dengan orang miskin!" Roy mencibir saat melihat rumah Ustad Soleh.


"Nak, mamah nggak pernah mengajarkanmu menghina orang. Kamu nggak boleh seperti ini, nak" Maya mencoba mengingatkan.


Roy hanya diam saja, terus saja memandang ke arah rumah Ustad Soleh.


Tak berapa lama, keluarlah Cinta dan Ustad Soleh.


"Umi, kami pamit pulang dulu. Besok kami sudah mulai tinggal di sini" kata Ustad Soleh seraya mencium tangan Umi Siti.


Begitu pula dengan Cinta, melakukan hal yang sama pada Umi Siti.


Pemandangan itu tak lepas dari penglihatan Roy. Hati Roy semakin panas, dan terbakar cemburu saat melihat tangan Cinta bergelayut di lengan Ustad Soleh.


"Hem..wajahnya juga biasa saja, masih tampan aku. Heran aku sama Cinta, kenapa dengan mudahnya luluh dengan seorang Ustad yang miskin dan jelek" Roy menggerutu dalam hati seraya mengepalkan tinju.


Maya bisa melihat ada api cemburu di wajah anaknya.


"Nak, sebaiknya kita pulang saja yuk" Maya mencoba mengalihkan perhatian Roy.


"Sebentar lagi, mah. Roy belum puas menatap Cinta "jawab Roy sekenanya.

__ADS_1


🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯


__ADS_2