
Beberapa kali Roy membidikkan kamera untuk memotret Ustad Soleh. Maya merasa curiga atas tingkah aneh anaknya.
"Nak, kenapa kamu foto suami Cinta?" tanyanya menyelidik.
"Biar hafal sama wajahnya, mah. Kali aja suatu saat bertemu di jalan kan bisa menyapa "jawab Roy sekananya.
"Maaf mah, sebenarnya bukan itu. Tapi aku ingin menyingkirkan Ustad sialan itu, supaya aku dengan mudah memiliki Cinta" gerutu Roy dalam hati seraya menyeringai licik.
"Yuk pulang, mah " ajak Roy.
"Lihat saja, aku nggak akan biarkan kalian hidup bahagia "gerutu Roy dalam hati.
Setelah pulang, Roy mengetik nomor seseorang. Roy mengajak ketemu orang tersebut tanpa sepengetahuan Maya.
Roy bertemu dengannya di sebuah cafe.
"Ada tugas untukmu" kata Roy pada orang tersebut.
"Tugas apa ya bos, katakan saja "jawabnya.
"Kamu singkirkan orang ini, terserah dengan cara apa pun. Yang penting aku tahunya beres" kata Roy tegas seraya menunjukkan foto Ustad Soleh.
"Ini aku bayar separo dulu, yang separo jika tugasmu selesai" Roy menyerahkan amplop coklat tebal berisikan uang.
"Siap bos, percaya saja dengan saya. Pasti beres "kata orang tersebut.
"Oh iya, ini alamat rumah tarjet" kata Roy pada orang bayarannya.
Setelah percakapan cukup lama, Roy dan orang bayarannya berpisah di cafe tersebut.
Orang tersebut segera mencari keberadaan Ustad Soleh, supaya lekas selesai tugasnya.
Kebetulan saat ini Ustad Soleh tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah Tuan Malik.
Hingga orang bayaran Roy, tidak menemukannya.
"Dari siang hingga malam, aku menunggu tarjet di depan rumahnya. Tapi kenapa tidak nongol juga" gerutu orang bayaran Roy.
"Lebih baik telpon bos saja, mungkin bos salah memberikan alamat tarjet "gerutu orang bayaran Roy.
Segera dia mengetik nomor ponsel Roy dan segera menelponnya. Tersambunglah dengan ponsel Roy.
📱 "Hallo bos, apakah bos nggak salah kasih tahu alamat tarjet ke saya?" kata orang tersebut.
__ADS_1
📱 "Bener kok, memangnya kenapa?apa ada masalah?" tanya Roy.
📱 "Saya sudah menunggu dari siang hingga malam ini, tapi tarjet tak kunjung keluar rumah" kata orang tersebut.
📱 "Berarti sedang berada di rumah mertuanya. Nanti aku kirim alamat mertuannya, lewat notifikasi chat pesan " kata Roy.
Roy segera mengirim alamat rumah Tuan Malik dengan notifikasi pesan ke ponsel orang bayarannya.
Setelah mendapat alamat rumah Tuan Malik, orang tersebut langsung berangkat menuju ke rumah Hanna
Hanya beberapa menit saja, orang bayaran Roy telah sampai di depan rumah Tuan Malik.
Orang tersebut terus saja mengintai rumah Tuan Malik. Tingkah lakunya yang sangat mencurigakan terlihat oleh Pram.
"Siapa orang itu, kenapa sesekali menatap kemari. Benar-benar sangat mencurigakan " gerutu Pram sesekali menatap orang yang ada di dalam mobil di seberang jalan rumah Tuan Malik.
Setelah cukup lama, orang bayaran Roy mengintai. Akhirnya orang tersebut pergi begitu saja.
Pram bisa bernapas lega, setelah melihat orang yang mencurigakan tersebut pergi.
Tak terasa pagi menjelang, pagi-pagi benar Ustad Soleh dan Cinta telah berkemas-kemas untuk tinggal di rumah Ustad Soleh.
Selagi Ustad Soleh keluar dari pintu gerbang rumah Tuan Malik, tiba-tiba ada seseorang berjalan ke arah Ustad Soleh dengan menghunuskan pisau di perut Ustad Soleh.
"To-tolong.."teriak Ustad Soleh.
"Bu, itu kok seperti suara Mas Soleh "Cinta panik langsung lari keluar rumah.
"Astaghfirulloh aladzim..Abi.."Cinta berlari ke arah pintu gerbang menghampiri Ustad Soleh.
Ayah..ibu..cepat kemari! tolong Cinta, bu!" Cinta teriak histeris.
"Abi, sabar ya. Sebentar lagi kita ke dokter" Cinta panik melihat darah yang mengalir deras di perut Ustad Soleh, serta pisau yang masih menancap di perut.
Hanna juga mendengar teriakan histeris dari Cinta, segera Hanna berlari ke arah sumber suara.
kebetulan Pram sedang libur kerja, hingga tak ada yang berjaga di posko.
"Ayah, buruan kita ke depan . Sepertinya ada masalah dengan anak kita "Hanna lekas berlari ke halaman, begitu pula dengan Tuan Malik.
Hanna dan Tuan Malik membola matanya dan mulutnya terperangah melihat pisau yang menancap di perut dan darah yang mengalir begitu banyak.
Segera tuan Malik memerintah asistennya melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Bu, bagaimana ini bu" tanpa terasa buliran hangat keluar dari pelupuk mata Cinta saat menyaksikan Ustad Soleh berlumuran darah dengan pisau masih menancap di perut.
Rasa sesak di dada seakan menghantam hatinya, begitu saja tanpa ampun. Air mata seketika mengalir deras di pipi Cinta.
Hanna juga tak kuasa melihat anaknya bersedih, dia memeluk Cinta dan memberinya penghiburan.
"Ya Allah, selamatkanlah menantuku. Kasihan anakku baru saja merasakan indahnya kebahagiaan " gerutu Hanna di dalam hati seraya mengusap punggung Cinta.
"Kalian nggak usah panik, pasti Ustad Soleh akan baik-baik saja" Tuan Malik mencoba memberi penghiburan pada Hanna dan Cinta.
Tak berapa lama kemudian, sampailah di rumah sakit. Ustad Soleh langsung di larikan ke Unit Gawat Darurat, karena kondisinya yang cukup parah.
Tiada hentinya mereka berdoa untuk keselamatan Ustad Soleh.
Berbeda situasi di rumah Roy, dia sangat bahagia saat mengetahui jika saat ini Ustad Soleh terluka parah.
"Hem..bagus juga kerjanya. Sekali tusuk langsung terkapar, semoga saja Ustad itu meregang nyawa! sehingga aku bisa menikahi Cinta, aku tak masalah dengan status jandanya. Karena aku telah benar-benar mencintainya " gerutu Roy seraya tersenyum lebar.
Maya yang tak sengaja melintas di depan kamar Roy yang terbuka, melihat Roy tersenyum lebar menjadi penasaran.
Maya pun melangkah masuk kamar Roy, dan menghampirinya.
"Nak, sepertinya kamu sedang bahagia sekali? boleh mamah tahu, apa yang telah membuatmu seceria ini?" tanya Maya menatap lekat mata Roy.
"Iya mah, Roy habis dapat tender besar "jawab Roy dengan bohongnya.
"Wah, hebat banget anak mamah. Selamat ya, nak" Maya memeluk erat Roy.
"Iya, mah. Terima kasih, semua tak lepas dari doa-doa, mamah "kata Roy menyeringai licik.
"Maafkan aku ya, mah. Aku telah berbohong pada mamah" gerutu Roy di dalam hati.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Beberapa jam kemudian, Ustad Soleh telah di pindahkan ke ruang rawatnya namun kondisinya masih belum sadarkan diri.
"Bu, kenapa Mas Soleh belum juga sadarkan diri?" Cinta merasa sedih.
"Sabar, nak. Yang terpenting sudah melewati masa kritisnya " kata Hanna mengusap surai hitam Cinta.
Cinta kembali lagi menitikkan air mata, karena takut sekali kehilangan Ustad Soleh.
"Ya Allah, baru dua hari aku merasakan hidup bahagia bersama Mas Soleh. Kenapa harus mengalami kesedihan kembali. Ya Allah, aku tidak ingin kehilangan suamiku. Tolong sembuhkan Mas Soleh "doa Cinta di dalam hati.
__ADS_1
🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯