Ayah Angkatku Ayah Anakku

Ayah Angkatku Ayah Anakku
Part 81


__ADS_3

Hanya satu hari saja, pengacara Maya mengurus gugatan cerai Maya dan Rofi.


"Mas, tolong tanda tangani surat cere ini.Aku telah memberikan 2 bengkel untukmu, dan villa yang kamu beli nggak aku minta, bisa buat tempat tinggalmu "ucap Maya seraya meletakkan surat cere ke hadapan Rofi.


Rofi terdiam untuk sejenak, memikirkan bagaimana hidupnya tanpa ada Maya.


"May, apa kamu ga kasihan dengan kondisiku?apa sama sekali nggak ada kesempatan lagi buatku?May, masa perjuangan cinta kita hanya sampai disini, pernikahan kita baru se umur jagung loh May "bujuk rayu Rofi seraya menggenggam jari jemari Maya.


"Mas, kita sekarang sudah bukan suami istri lagi.Jadi jangan seenaknya memegang tanganku" Maya menepis genggaman tangan Rofi.


Dengan berat hati, Rofi menandatangani surat cere tersebut.Setelah itu di berikan kembali pada Maya.


"Baiklah, untuk malam ini kamu masih boleh tidur di sini.Tapi besok pagi, mas akan di antar pulang oleh asistenku ke villa mas Rofi "ucap Maya berlalu meninggalkan Rofi.


"Baru hidup enak sejenak, malah akhirnya merana lagi seperti ini "gumamnya.


Maya mengalah untuk malam ini tidur di kamar tamu, karena kamarnya untuk tidur Rofi.


Tak terasa pagi menjelang, saatnya Rofi pindah ke villanya.Diantar oleh asisten pribadi Maya,sebelum pergi Rofi berpamitan pada Maya.


"May, terima kasih untuk waktu kebersamaan kita yang sangat singkat ini"ucap Rofi seraya menatap sendu pada Maya.


"Ya mas " ucap singkat Maya seraya memalingkan wajahnya.


Melajulah mobil asisten pribadi Maya untuk mengantar Rofi.Namun saat akan sampai di villa, Rofi meminta tolong sang sopir ke suatu tempat sejenak.


"Pak, saya minta tolong untuk terakhir ini saja bisa ga pak?"tanya Rofi seraya menatap memelas sang sopir.


Sopir merasa iba dengan tatapan Rofi yang sangat menyedihkan.


"Baiklah tuan, apa kiranya yang bisa saya bantu?"tanya sang sopir.


"Antar saya ke suatu tempat pak, cuma sebentar kok nggak lama "ucap Rofi seraya mencoba tersenyum.


Rofi memberikan alamat villa di mana saat ini Riris dan ke tiga anaknya tinggal.


Hanya 15 menit perjalanan, telah sampai di seberang jalan villa Riris.


"Apa anak kecil itu, anak bungsuku?ternyata anakku laki laki lagi,ya ampun jahatnya aku selama setahun terakhir ini tidak pernah menjenguk atau pun memberi nafkah pada ke tiga anakku "gumamnya seraya menatap bayi umur 1 1/2 tahun sedang berjalan jalan di halaman villa bersama Dika dan Dede.


Sementara tanpa sepengetahuan Rofi, sang sopir memotret villa Riris.


"Pak, bisa minta tolong antar saya ke villa seberang jalan yang ada pom bensin mini "ucap Rofi seraya memelas kembali.


Sang sopir pun menyanggupi untuk mengantar Rofi ke villa Riris.Sopir mendorong kursi roda Rofi menuju pintu gerbang villa Riris.

__ADS_1


"Assalamu Alaikum "Rofi mengucap salam di balik pintu gerbang yang tidak terlalu tinggi.


Sehingga ke tiga anak Riris bisa melihat siapa yang datang.


Sejenak Dika dan Dede menoleh, setelah tahu siapa yang datang bukannya membalas salam dari Rofi, tapi Dika menggendong Didi masuk, begitu juga dengan Dede.


"Ya Allah, kenapa hatiku terasa sakit saat ke tiga anakku sama sekali tak menghiraukan aku seperti ini" gumamnya di hati.


"Pak, kita pulang saja ke villa saya "Rofi meminta sopirnya mengantar ke villa.


Sopir tersebut mendorong kursi roda yanh di duduki Rofi ke arah mobil.


Sementara Dika dan Dede mengunci pintu rumah dari dalam, bahkan menutup hordeng jendela ruang tamu.


"Loh, sudah pagi kenapa hordeng di tutup nak?"tanya Riris heran menatap raut wajah Dika dan Dede panik.


"Dika,Dede!kenapa kalian diam saja tak menjawab pertanyaan ibu?apa kalian sakit?"sejenak Riris menempelkan punggung tangannya ke kening kedua anaknya.


Dika dan Dede hanya menggelengkan kepala, sama sekali tak membuka suara.


"Da olang bu,da olang akak ika akak ede akuk olang bu"tiba tiba Didi yang berumur 18 bulan berucap.


"Ada orang, di mana nak?kok kak Dika dan kak Dede takut?"tanya Riris seraya menggendong Didi.


"Entu bu lual na bu "Didi merespon pertanyaan Riris seraya jari kecilnya menunjuk ke arah pintu gerbang.


"Jangan keluar bu, di dalam saja "Dika menahan tangan kanan Riris.


"Iya bu, ga usah keluar dulu nunggu orang itu pergi "Dede menahan tangan kiri Riris.


"Sebegitu takutnya kalian sama orang itu, memang orang itu menyeramkan?"Riris semakin penasaran.


Dika dan Dede diam saja, tak berani bicara.


"Dika,Dede!tolong lepasin tangan ibu "


Dika dan Dede perlahan melepaskan pegangang tangannya di lengan Riris.


Segera Riris membuka pintu dan melangkah ke halaman, namun tidak ada siapa-siapa di pintu gerbang.


"Aneh, ga ada orang kok nak?"ucap Riris seraya menoleh kanan kiri.


"iyang bu olangna "baby Didi merespon kembali ucapan Riris.


"Hhee iya nak, mungkin orangnya takut sama ibu jadi hilang "Riris terkekeh menciumi ke dua pipi gembul baby Didi.

__ADS_1


Sementara Dika dan Didi mengintip dari balik pintu.


"Ka, sepertinya ayah sudah pergi "bisik Dede seraya terus mengintai dari balik pintu menatap arah pintu gerbang.


"Alhamdulillah ya De, kita ga usah bilang ke ibu kalau yang tadi kemari adalah ayah "bisik Dika lirih pada Dede.


"Siap ka, bagaimana kalau nanti ibu tanya kita jawabnya apa dong ka?"Dede mengernyitkan alis seraya telunjuk mengetuk-ngetuk kening seperti sedang mencari ide.


"Bilang saja tadi ada orang gila lewat, bingung amat si de "ucap Dika terkekeh.


"Hhee iya bener banget ide ka Dika "Dede nyengir menampilkan gigi gingsulnya.


"Nak, sebenarnya siapa sih yang kemari?"tiba tiba Riris sudah ada di depan pintu.


"Orang gila bu "jawab Dika lantang.


"Iya bu,orang gila menyeramkan banget makanya kita lari "sela Dede meyakinkan Riris dengan mimik wajah di buat-buat.


"Ohh ya sudah, sana ajak main lagi Didi!karena ibu belum selesai menyiapkan sarapan untuk kalian "Riris menurunkan Didi dari gendongannya.


Dika dan Dede menggandeng Didi ke halaman lagi untuk bermain-main.


Selagi menyiapkan sarapan untuk ke tiga anaknya, Riris sempat berpikir ucapan ke 3 anaknya tadi.


"Apa mungkin tadi mas Rofi yang kemari ya?tapi nggak mungkin juga sih,waktu itu saja lihat Dika nggak menyapa.Jadi mana mungkin sengaja kemari, mungkin apa yang di katakan anak-anak benar adanya kalau tadi ada orang gila makanya mereka sangat ketakutan "gumamnya.


mencoba memberi visual


Riris



Rofi



Dika



Dede



Didi

__ADS_1



__ADS_2