Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 100 : Andi dan Dokter Elita


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


“Sayang kamu lapar gak? Kamu mau makan apa biar abang carikan” tanya Andi melirikku.


“Eum apa ya, nasi saja sayang” jawabku yang tidak tahu ingin makan apa.


“Oke sebentar ya sayang, abang ke kantin dulu. Kamu di sini dulu jangan menangis ya abang tinggalin” ucap Andi menggodaku.


“Apa sih abang ini, memangnya aku anak kecil apa kalau ditinggalin menangis” protesku.


“Kamu lebih dari anak kecil tahu, gemeshnya aku” ucap Andi lalu mencolek daguku “abang pergi dulu ya anak kecil” mengelus kepalaku “jangan nangis” ucapnya sembari berjalan ke pintu ruangan.


Sekarang aku sendirian di ruangan UGD yang luasnya tak seberapa, aku masih membaringkan tubuhku yang masih terasa sangat lemas. Kepalaku terngiang - ngiang dengan semua perhatian dan kasih sayang yang diberikan Andi kepadaku. Tanpa sadar bibirku melukiskan senyuman bahagia.


“Awai kecewa melungkop - lungkop, jinoe bahagia meusalop - salop” ucapku memandang langit - langit ruangan.


***


Sementara Andi yang berjalan ke kantin melewati beberapa ruangan.


“Pak Andi” sapa seorang wanita yang memakai baju dokter, wanita itu adalah dokter Elita.


“Iya dok” Andi menyapanya balik.


“Ya ampun kalau jodoh ya pasti bertemu lagi, apa kabar pak? Oh iya kenapa berada di rumah sakit?” Dokter Elita melemparkan pertanyaan bertubi - tubi kepada Andi.


“Baik” jawab Andi singkat “saya permisi dulu ya” Andi berjalan meninggalkan dokter Elita. Namun, dokter itu mengikuti setiap langkah Andi.


“Dok.. kenapa ikuti saya” tanya Andi yang menyadari dokter tersebut mengikutinya.


“Eum enggak, saya mau ke sana” jawab dokter Elita mengelak. Andi melangkahkan kakinya lagi, namun lagi - lagi dokter Elita mengikuti langkahnya. “Dok tolong jangan ikutin saya” ucap Andi membentak “tolong ya dok, jangan mengikuti saya. Kalau tidak saya akan panggil satpam rumah sakit ini. Dokter seorang dokter kan? Tidak seharusnya berbuat seperti ini terutama kepada saya” Andi terlihat begitu kesal dengan perilaku dokter Elita terhadapnya.


Wajah dokter Elita terlihat kikuk ketika Andi memarahinya, rasa harga dirinya sebagai dokter hilang seketika.


Andi melanjutkan perjalanannya ke kantin.


Gak jelas banget itu dokter, batinnya.


Sementara dokter Elita yang masih berdiri di tempat tadi.


“Sumpah ya walaupun dia bentakku, aku tidak akan mundur untuk terus mendekatinya” ucapnya dengan senyuman licik.


***


“Bu.. saya mau nasi putihnya pakai lauk ini ya” Andi menunjukkan lauk di balik rak kaca.

__ADS_1


“Iya mas” jawab ibu kantin yang mulai membungkus nasi dan lauknya sesuai permintaan Andi.


Setelah membeli nasi dan beberapa makanan lainnya, Andi berjalan kembali ke ruanganku melewati jalan tempat di mana ia bertemu dengan dokter Elita tadi.


“Ish… semoga tidak bertemu lagi dengan dokter rese tadi, malas banget aku kalau sampai Kanza marah lagi gara - gara dokter itu” gumam Andi berwas - was melewati setiap ruangan.


Tok… tok… tok.. Andi membuka pintu ruanganku secara perlahan.


“Sayang….” Ia berjalan mendekatiku.


Aku melihat kedatangannya “uwan sayangku” aku bangun lalu duduk di atas ranjang. “Ada makanannya sayang?” Tanyaku basa basi padahal mataku sudah melihat bawaan di tangannya.


“Ada dong, buat kamu apapun akan abang usahakan. Hujan badai angin ribut halilintar akan abang terjang”


“Minggu kemarin kenapa abang tidak jadi jemput adek?” Tanyaku mengasal.


“Eum kapan?? Oh gerimis sayang” ucapnya dengan nyengir kuda andalannya.


“Hmmm hmmm apa juga hujan badai angin ribut halilintar akan abang terjang, gerimis saja abang takut” protesku. Andi membuka bungkusan nasi lalu mulai menyuapiku.


“Sebenarnya bukan abang takut dengan gerimis sayang. Cuma yang jadi permasalahannya gerimis itu datangnya keroyokan, gak datang sendiri - sendiri dia. Coba kalau datangnya sendiri - sendiri pasti baku hantam sama abang” Andi mencari alasan untuk membuat pembelaan untuk dirinya.


“Kkaepjjang” ucapku mengunyah makanan hasil suapan tangan Andi.


“Loh iya kan sayang”


“Na’am na’am, ana paham ya ukhti”


“Why you look so serious?”


“Gak bisa bahasa inggres”


“Bahasa apa juga yang abang bisa?”


“Bahasa cinta. Sayang abang mau ngomong” wajah Andi tiba - tiba terlihat sangat serius.


“Abang mau ngomong apa, sebentar adek mau minum dulu”


Andi mengambil botol minuman lalu memberinya kepadaku, aku meneguk minumannya lalu memberinya kembali kepada Andi. Andi meletakkan kembali botol minumannya ke atas meja.


“Abang mau ngomong apa tadi? Wajah abang terlihat sangat serius sekali?”


“Sebenarnya gak penting - penting amat sih. Cuma abang perlu omongin ini sama adek, biar adek tidak salah paham”


Tiba - tiba perasaan aku bercampur aduk setelah mendengar omongan Andi.


“Apa sih abang?” Aku menjadi sangat penasaran dengan apa yang bakalan Andi omongkan kepadaku.


“Kamu tahu dokter Elita bekerja di rumah sakit ini kan? Ya seperti biasa kalau dia bertemu sama abang, kamu pasti sudah tahulah kelakuannya”

__ADS_1


“Oh itu?? Yasudahlah sayang abaikan saja. Kalau kamu memang sayang dan cinta sama aku, pasti kamu tidak akan memperdulikan wanita lain. Tapi, jika memang kamu sudah perduli dengan wanita lain. Maaf adek tidak bisa meneruskan hubungan dengan abang” ucapku dengan begitu tegas.


“Adek marah?”


“Enggak, adek sama sekali tidak marah. Karena kita tidak bisa memaksa seseorang mencintai kita”


“Maksud adek apa?” Ucap Andi dengan nada bicaranya sedikit marah “abang tidak suka sama cewek gatal itu, hidup aku cuma sama kamu” Andi memperjelas maksud hatinya.


“Iya, apa sih marah - marah. Yang nuduh kamu suka sama dokter itu siapa sayang. Gak rela guwe bersaing sama dia”


“Adek tadi ngomongnya seperti itu. Bikin emosi saja”


“Jangan marah - marah sayangku, cintaku, bohateku”


“Kata - kata abang itu”


“Alah adek pinjam sebentar, nanti adek kembalikan”


“5000 ya” mode anak kecilnya keluar.


“Matre. Cowok matre kamu” ledekku.


“Dih enggak ya, abang punya duit sendiri hasil banting tulang. Abang rasa melebihi kata cukup untuk membiayai keluarga kecil kita besok” ucap Andi dengan penuh penghayatan.


“Ciee bapak Andi sedang berbicara ini. Jadi sayang tadi kamu diapain sama dokter rese itu”


“Ih sumpah gak jelas banget dokter itu, abang rasa dia harus ke psikater itu periksa jiwa raga dia. Tahu adek dia tadi ikuti abang diam - diam dari belakang. Yasudah pas abang tahu, abang maki - maki terus sampai malu sendiri dia”


“Jangan terlalu membenci sayang, nanti jadi cinta”


“Beu soh - soh deh (amit - amit) abang suka lagi dengan wanita lain. Satu saja yang ini sudah cukup” mencubit kedua pipiku. “Ini saja sudah sayang banget gak mau ah nambah yang lain, bikin repot”


“Ah masak sih” ucapku menggodanya.


“Oh jangan meragukan cintanya abang Wanda Andriansyah sayang, sekali kamu jatuh cinta sama dia seumur hidup kamu dicintai balik sama dia”


“Aaaammmiiin, semoga selalu seperti itu ya sayang”


“Oh jelas dong. Jadi makin cinta kan kamu sama aku?”


“Siapa?”


“Kamu” menunjuk ke arahku “Kanza Aulia, sayangku, cintaku, bohateku”


“Tanya?” Ucapku tertawa ngakak, yang membuat wajah Andi terlihat kesal.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2