
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
“Enggak… bukan itu yang adek harapkan. Kamu tahu setiap doaku selalu terselip nama kamu”
“Oh iya memang kamu doain abang apa??” raut wajahnya kembali berubah.
“Eum rahasialah, yang pastinya aku selalu meminta kepada Allah untuk selalu memudahkan hubungan kita”
“Duh so sweet juga kamu ya, jadi makin cinta deh” ucap Andi kegirangan.
“Iya dong, gak main - main ini. Mintanya langsung sama Allah swt., karena sesungguhnya kita tidak boleh berharap kepada manusia. Abang tahu berharap yang paling sakit adalah berharap kepada manusia”
“Vibes ibu guru memang beda ya” tersenyum dan mengedipkan mata kearahku
“Sorry ya pak saya sudah punya salon eh kok salon calon maksudnya alias CAMI”
“CAMI???” tanya Andi.
“Calon suami sayangku, cintaku”
“Bohateku” serobotnya. “Siapa memangnya CAMI kamu itu pasti orangnya jelek kan pasti gantengan aku sama dia kan??”
“Calon suami aku itu jeleeeek banget. Tapi sayang, kita tidak boleh menilai seseorang dari ketampanan wajahnya. Kamu pernah dengar cerita zaman dulu”
“Apa sayang” jawabnya ingin mendengar ceritaku, matanya memperhatikan setiap gerakan mulutku.
“Katanya ini ya Abu lahab paman Nabi itu orangnya sangaaat ganteng tapi apa perbuatan dia?? Dia mengingkari agama Allah. Tapi di sisi lain ada seorang lelaki kulitnya semua hitam yang putih hanya bola mata dan giginya tapi apa?? dia dirindukan oleh bidadari surga. Maka dari itu kita tidak boleh menilai seseorang dari ketampanannya atau kecantikannya saja kalau bahasa inggrisnya dibilang don’t judge a book by its cover jangan menilai buku dari covernya atau jangan menilai seseorang dari tampak luarnya saja. Paham anak - anak!!!”
“Pantesan ya kamu jadi seorang guru, bahasa kamu itu loh mudah dimengerti ah harusnya aku sekolahnya sekarang saja biar kamu jadi guruku kan pasti asik itu belajar sama guru cantik seperti kamu”
“Haha tapi kan lebih hebat kalau bisa jadi tunangannya ibu guru kan??? Bisa dimiliki, bisa diajak kemana - mana bisa barengan tiap waktu. Ayo mau pilih yang mana?? Abang pilih yang mana jadi guru apa jadi istri???” bernyanyi ala nada perawan atau janda dengan suara kecil.
“Iya juga iya, jadi suaminya sajalah istriku guru cantik”
“Ah bisa itu jadi judul FTV”
“Iya bisa, Aku terpincut cintanya guru cantik” aku dan Andi tertawa bersama dengan lawakan yang kami buat “aw….” ringis Andi ia memegang kepalanya lagi “sayang…. sakit” ia menangis lagi menahan kesakitannya.
“Abang….” aku cukup panik untuk kesekian kalinya “abang sabar ya adek panggilkan dokter” aku berlari ke luar mencari keberadaan dokter. Andi masih saja berteriak kesakitan sampai membuat mamanya terbangun.
__ADS_1
“Abang” membuka matanya karena mendengar jeritan Andi ia berlari ke tempat tidur Andi “kepala kamu sakit lagi??? ya Allah, mama harus apa” mama ikut panik “adek mana?” Andi menujuk ke pintu yang terbuka. Di balik pintu dokter masuk diikuti oleh langkahku.
“Pak tenang ya” dokter menyuruh Andi berbaring “saya kasih obat pereda ya” menyuntikkan di lengannya kali ini dosisnya agak rendah hanya menghilangkan rasa sakit tanpa membuat Andi tertidur.
Setelah obat dari suntikannya menjalar di tubuhnya melalui aliran darah perlahan Andi mulai tenang sakit di kepalanya seakan hilang begitu saja.
“Sudah mendingan pak” tanya dokter memastikan. Andi hanya mengangguknya.
“Terima kasih dok” ucapku
“Iya sama - sama, ini istrinya pak Andi ya?” tanyanya iya memperhatikan raut wajahku yang sangat khawatir dari sejak aku memanggilnya.
“Masih tunangan dok” jawabku.
“Wah pak Andi hebat ya bisa punya calon istri sebaik kamu seperhatian kamu” ucapnya melirik ke arahku dan ke arah Andi “dia panik banget tadi waktu memanggil saya” Dokter Elita sangatlah ramah ia mudah sekali berbaur dengan pasiennya, dia bukan tipikal dokter yang sombong atau hanya menjalankan tugasnya tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
“Amiin terima kasih ya dok, atas pujiannya” ucapku sembari tersenyum.
“Buk saya ingin berbicara sebentar” memanggil mama “saya permisi ya kalau ada apa - apa lagi nanti boleh panggilkan saya ya dek. Kalau boleh tahu siapa namanya dek??.
“Kanza dok”
“Kebetulan saya shift malam ini, jangan sungkan ya buk, adek. Saya permisi dulu, bu” melirik mama “mari ikut saya sebentar”
Di balik pintu mama dan dokter duduk di kursi panjang.
“Bu bagaimana, apa sudah ada persetujuan dari pihak keluarga mengenai operasi pak Andi” tanya memastikan.
“Ini saya masih menunggu ayahnya kemari. Saya ingin berduskusi dulu dengannya”
“Baik bu, kalau sudah ada keputusannya tolong segera kabarkan. Kalau sama - sama setuju inshallah besok siang kita akan menjalankan operasinya tapi semua itu kita lihat kondisi dari bapak Andi dulu bu, tidak bisa sembarang juga nanti bisa - bisa keadaan dia malah ngedrop itu bisa jadi permasalahan yang sangat fatal” jelasnya secara lembut.
“Baik dok, kalau boleh tahu untuk biaya operasi biasanya berapa ya dok?”
“Kalau untuk itu saya kurang tahu bu, ibu bisa tanyakan ke pihak administrasi rumah sakit”
“Baik dok, sebentar lagi akan saya tanyakan”
“Itulah bu, kita sakit ini bisa menghabiskan banyak uang untuk kesembuhan kita kembali. Maka dari itu bu, kita harus menjaga betul kesehatan kita”
“Iya dok”
__ADS_1
“Saya permisi dulu ya bu, kalau ada apa - apa ibu bisa cari saya ya bu” memegang lengan mama “saya pamit bu” dokter cantik itu berjalan kembali ke ruangannya.
“Ayah” panggil mama melihat ayah yang baru datang.
“Ma… ayah” Anti juga baru sampai.
“Ayah, kak. Mama ingin berbicara sesuatu sama kalian berdua”
“Abang dengan siapa di kamar ma”
“Ada adek di dalam, mama bilang ke mereka dulu ya sebentar” mama membuka pintu kamar lalu memanggilku “dek” aku melihat lambaian tangannya memanggilku aku berjalan mendekatinya “adek, mama, ayah dan kak Anti ke kantin sebentar ya mau membicarakan masalah operasi abang besok”
“Iya ma” anggukku “kak” membalas senyuman kak Anti yang tersenyum menyapaku.
“Kamu jangan bilang semua ini dulu sama abang ya, nanti kita sama - sana akan memberitahunya nanti malam”
“Iya ma”
Ayah, mama dan kak Anti berjalan ke kantin. Sementara aku menutup pintu lalu berjalan ke samping ranjangnya Andi dan duduk menemaninya.
“Mama kemana sayang” tanyanya suaranya sedikit lemas.
“Ke kantin sayang, mama mau mencari makan dulu”
“Kenapa kamu gak ikut, kamu belum makan dari tadi loh”
“Gak sayang adek gak lapar. Lagi diet juga” jawabku mencari alasan.
“Gak boleh diet - diet segala, aku tidak akan mempermasalahkan berat badan kamu. Mau kamu kurus mau kamu gendut aku tidak peduli” ucapnya melirik ke arahku.
“Tapi sayang, kalau kita gendut itu pasti akan dihina oleh orang”
“Iya itu orang, pikiran orang kan berbeda - beda yang jelas aku menyanyangi kamu apapun kondisi kamu”
“Ah so sweet deh kamu, jadi makin bucin sama kamu”
Andi tersenyum manis ke arahku.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya bye.