
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
***
Setelah memarkirkan motor di garasi. Aku berjalan masuk ke rumah, aku segera ke kamar mengganti baju, melaksanakan shalat zuhur. Selesai shalat aku melipat kembali mukena dan sajadah meletakkannya kembali di rak mukena yang terletak di dekan dinding kamar.
Aku keluar kamar berjalan ke ruang makan, aku mengambil piring, mengambil sedikit nasi dan beberapa lauk kemudian menikmatinya sendirian di ruang makan.
“Assalamualaikum” ucap mama baru pulang dari sekolahnya, ia berjalan ke ruang makan melihatku.
“Baru pulang ma” mulutku mengunyah nasi.
“Iya nih, laper banget mama” mama mengambil nasi dan beberapa lauk lalu duduk di hadapanku. “Jam berapa kamu balik ke rumah sakit” tanyanya meneguk minuman.
“Sebentar lagi ma, mama mau ikut” tanyaku.
“Iya mama dan ayah mau ke sana juga bareng kamu saja ya”
“Iya ma”
Selesai makan aku meletakkan piring kotor di dapur. Mama berjalan ke kamarnya bersih \- bersih. Sama halnya dengan aku yang juga ke kamar.
***
Keadaan Andi sudah agak mendingan, ia ditemani kak Anti.
“Kamu mau apa bang, ada kepengen apa” tanya Anti yang duduk di samping ranjangnya.
“Gak kak, si adek ke sini lagi gak ya” tanyanya.
“Alah kamu, gak bisa jauhan sedikit. Memangnya dia semalam ke sini”
“Iya kak, nginap semalam dianya”
“Aciiieee pantesan sembuhnya cepat, ada yang menemani semalam” meledek Andi.
“Apa sih kak, iris bilang bos”
“Aciiiieee” Anti terus saja meledek Andi sampai membuat Andi salah tingkah. Memang hubungan adik kakak ini sungguh sangatlah akrab, hingga dapat membuat orang lain iri melihatnya.
“Kak…” panggil Andi dengan lembut.
“Apa” jawab kak Anti singkat, melirik ke arah Andi.
“Kak, kakak telpon adek sebentar pakai handphone abang. Abang gak bisa lihat layar handphonenya bikin pusing”
“Iya” Anti mengambil ponsel Andi yang berada di atas meja, kemudian mencari kontak namaku “ciee bohate” melirik ke arah Andi “boh itek (telur bebek) kali ah”
“Apa sih kak” Andi tertawa dengan keirian kakaknya. “Sudah telpon terus si adek kangen nih”
“Uuuuueeeek” Anti berpura - pura muntah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Andi, menurutnya adiknya benar - benar lebay. Anti menelponku.
Aku telah selesai memakai baju, mengenakan make up tipis kesukaanku dan tak lupa memakai parfum yang banyak. Aku keluar dari kamar.
“Mama…” panggilku sedikit teriak.
“Iya…” jawabnya sedikit teriak juga.
Aku menunggu mama di ruang tamu. “Lihat BTS bentar deh” aku menscroll media sosial tentang BTS, sudah lama aku tidak tahu perkembangan. “Ya ampun BTS ngeluarin lagu baru” menghidupkan lagunya “wow keren banget lagu” mendengar baik - baik setiap beatnya walaupun tidak mengetahui apa terjemahan dari lagunya.
Krrrriiiing…. Bunyi notifikasi panggilan. Aku melihat orang yang menelponku.
Via telpon
Aku
Assalamualaikum
Andi
Waalaikumsalam, dek ini kakak, sebentar ya
(Menyerahkan telpon ke Andi)
Aku
Iya kak
Andi
Sayang…
(Panggil Andi dengan suara manjanya, Anti yang duduk di samping Andi memeletkan lidahnya mendengar suara Andi).
“Apa sih kak, iri banget”
Aku
Uwan abang, apa
Andi
Apa itu, adek mama sayang
(Apa dalam bahasa aceh berarti paman, atau adik dari mama)
Aku
Pue leh abang nyan hana jeulas (apa abang, gak jelas deh)
(Gerutukku kesal)
Andi
Ke sini ya, abang kangen
(Ucapnya tanpa basa basi lagi)
Aku
Iya… abang mau dibawain apa
Andi
Gak sayang, abang gak mau makan apa - apa. Adek saja yang cepat ke sini ya
Aku
Iya sayangku cintaku bohateku
Andi
Itu kata - katanya aku
(Ucapnya melemas)
Aku
Pinjam bentar bolehlah, nanti adek kembaliin
Andi
Lima ribu
Aku
Sorry hana peng biecah (gak ada uang receh)
Andi
Alah sok lu, serius sayang ke sini ya sepi beud gak ada kamu di sampingku, serasa dunia ini tak berarti hampa hidupku terasa tanpa kamu (bernyanyi)
Aku
Gak ada orang memangnya di sana sayang
Andi
__ADS_1
Ada nih, kak Anto Sumanto
“Apa lu” Anti memelototkan kedua matanya “guwe pulang ya, tinggal sendiri lu di sini”
“Ciiie ibu Sumanto marah, uuu takut”
Aku
Eh bapak Andi, sudah dulu ya bye
Andi
Mau kemana
Aku
Mau pergi
Andi
Kemana?? Ke sini ya sayang.
Aku
Dih ogah
Andi
Yaudah deh
Andi mematikan telponnya.
“Siapa yang telpon kak” tanya mama yang keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi.
“Bang Andi ma”
“Ngomong apa?” Tanya mama lagi.
“Ke sana gak” jawabku berjalan ke garasi. “Ma itu ayah sudah pulang” aku melihat ayah menunggu di gerbang.
Mama melangkahkan kakinya ke gerbang setelah mengunci semua pintu. Aku mengambil motorku dari garasi kemudian mengikuti ayah dan mama.
***
“Kak sudah ni” memberikan handphone ke Anti.
Anti mengambil handphone dari tangan Andi “kesini adek bang”
“Gak tahu kak, gak jelas dia” jawab Andi lesu.
“Kamu bosan ya? Atau kamu lapar gak?” memperhatikan wajah Andi yang telihat memurung.
“Gak kak” nada bicaranya benar - benar tidak semangat.
“Apa??? butuh kasih sayang ya bang” ledek Anti mencoba menghibur Andi.
“Apa sih kak, abang gak mood”
“Sudah sih, gak usah ngambek gak usah cemberut. Sebentar lagi juga adek ke sini. Gak mungkin lah dia gak ke sini lagian kamu kan kesayangannya dia, bohitek” menutup mulut dengan tangannya “eh bohate maksudnya”
SKIP
Aku, ayah dan mama telah sampai di gerbang rumah sakit, kami memarkirkan motor di parkiran. Mama berjalan beriringan dengan Ayah, tangan mama membawa kantong berisi buah anggur kesukaan Andi yang sebelumnya mama beli di toko buah. Aku menunduk berjalan di belakang mereka, tanganku sibuk menscroll sosial media di handphone.
“Ruang mana abang kak” tanya mama yang menghentikan langkahnya di depan jalan persimpangan.
“Belok kiri ma, ruang VIP nomer 3” jawabku.
Aku, mama dan ayah melanjutkan perjalanan ke ruang VIP tempat Andi di rawat. Cekkreek…. mama membuka pintu kamar.
“Assalamualaikum” mama memasuki ruangan.
“Assalamualaikum” ucap ayah memasuki ruangan.
Andi dan Anti sama - sama melirik ke arah pintu melihat siapa yang datang.
“Silahkan duduk bu, pak” ucap kak Anti mempersilahkan mama dan ayahku duduk di sofa.
“Adek gak ke sini ma” tanya Andi yang tidak melihat keberadaanku.
“Ada tadi di belakang” mama ayah dan Anti duduk di sofa.
“Assalamualaikum” ucapku memasuki ruangan, mataku masih terfokus ke handphone yang berada di genggamanku, alhasil aku tertabrak dengan pintu “aw…” ringisku memegang dahi. Aku melirik Andi lalu berjalan duduk di kursi yang berada di sebelahnya, aku meletakkan tas di atas meja.
“Kenapa lama sekali kamu masuknya” tanya mama.
“Heh” mencubit lenganku “mama tanya apa itu”
“Iya kenapa ma” tanyaku balik ke mama. Aku meletakkan handphone di ranjang Andi.
“Kenapa lama sekali kamu masuknya”
“Iya ma, soalnya tadi salah masuk ruangan” jawabku polos.
“Haaa pasti main handphone lagi jalan kan, kebiasaan banget”
“Hehe” nyengir kuda.
“Handphone terus” teriak ayah sedikit.
Lima belas menit kemudian…
Mama berjalan mendekati ranjang “Bang cepat sembuh ya, mama sama ayah mau ke tempat tetangga sebentar ya di ruang mana ya yah” tanya mama ke ayah yang tidak mengetahui keberadaan tetangga yang juga dirawat di rumah sakit Citra Medika beberapa hari yang lalu.
“Eum… nanti di luar kita telpon saja. Cepat sembuh ya nak”
“Terima kasih ya ayah ma, sudah datang ke sini”
“Iya kamu kan anak laki - lakinya mama dan ayah” ucap mama “ mama dan ayah pamit ya kak, Anti”
“Iya bu, pak” melemparkan senyumnya.
Ayah dan mama keluar dari ruangan. Mereka berdua mencari keberadaan pak Habib.
“Ma coba telpon istrinya” suruh ayah.
“Iya yah” mama mengambil handphone dari tasnya mencari kontak bu Arum.
Via telpon
Mama
Assalamualaikum
Bu Arum
Waalaikumsalam, bu Niken
Mama
Bu, saya dan suami di rumah sakit Citra Medika sekarang. Ruangan pak Habib di mana ya??
Bu Arum
Oh di ruang mawar bu di lantai dua, tepat di samping tangganya.
Mama
Oh baiklah, kami sekarang ke sana ya
Bu Arum
Iya baik bu
Mama menutupkan panggilannya.
****
Aku memperhatikan wajah Andi yang terlihat sedikit murung.
__ADS_1
“Abang….” Panggilku cukup mendayu.
Andi tidak menyaut panggilanku
“Abang marah ya” aku memegang lengannya yang penuh otot.
Andi tetap saja tidak menjawabku.
“Kalau adek salah maafin ya, adek gak mau didiemin kaya gini” protesku.
Andi hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu tadi katanya gak mau ke sini, aku kangen banget sama kamu. Tapi kamu gak peduli”
Aku tertawa dengan omongan Andi “apa sih sayang, tadi waktu abang telpon, adek sudah siap, lagi nungguin mama mau ke sini”
“Alah bohong banget kamu”
“Gak dong, mana pernah adek bohong sama kamu sayang”
“Yang benar sayang” wajah Andi langsung berubah yang tadinya hanya ditekuk sekarang jadi ceria. “Ah sayang” menggenggam tanganku.
“Kang bucin” teriak Anti yang duduk di sofa sibuk dengan handphonenya.
“Apa sih kak, diam saja deh”
“Sudah lebay, jelek, bucin lagi”
“Maaf Anda siapa ya”
“Misi kang bucin lewat” Teriak Anti “dek tadi si abang mau nangis dikira kamu gak ke sini” ledeknya.
“Mana ada gak tuh”
“Ada dek ada, mau nangis dia tuh tadi. Untung ada kakak di sini ngelapin air mata dia, ingus dia lagi dek sudah meleber kemana - mana”
“Gak ada ya, hoaks itu hoaks Kak Anti hoaks. Hoaks banget sih bu jadi orang” Andi tidak terima dengan ledekkan Anti ia terus berusaha membela dirinya sekuat tenaga dan hatinya.
Aku hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka.
“Sayang” Andi mulai menggodaku lagi.
“Apa” jawabku cuek
“Haha dicuekin, nangis gak tuh” Anti meledek Andi lagi setelah mendengar jawaban dariku setelah Andi memanggilku. “Abang mau nangis abang mau nangis”
“Maaaa lihat itu kak Anti” pura - pura ngadu ke mama padahal mamanya tidak berada di situ.
“Mama gak ada di sini anak kecil” ledeknya lagi. “Udah ah capek, kakak mau pulang dulu ya males di sini jadi nyamuk”
Lagi - lagi aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang sangat random. Padahal keduanya sudah sama - sama dewasa tapi masih saja berantem seperti halnya anak kecil yang rebutan mainan.
“Dih pergi saja sono”
“Ngusir ni ceritanya”
“Enggak, cuma suruh pergi lebih cepat saja”
“Kok kakak pulang sih” seruku.
“Kan sudah ada adek di sini, lagian kasian si Zia kakak tinggalin dari tadi demi si adek kutukupret yang satu ini” mencubit paha Andi.
“Aw…” ringis Andi kesakitan.
“Nanti mama kesini lagi, tadi chat kakak. Kakak pulang ya” cipika cipiki denganku. Lalu berjalan ke pintu.
“Kak…” panggil Andi lembut. Anti menoleh ke belakang “terima kasih ya sudah jagain abang dari tadi”
“Oke” mengacungkan jempolnya. Anti membuka pintu lalu meninggalkan ruangan.
“Abang…” aku merebahkan kepalaku di samping lengan Andi.
“Kenapa kamu capek ya pulang sekolah” mengelus kepalaku.
“Tadinya sih iya, tapi waktu sudah ketemu kamu capeknya jadi hilang”
“Alah lebay kamu”
“Eh siapa bilang”
“Kamu gak dengar tadi suaranya keluar dari mulut cowok ganteng ini” ucapnya mengpede.
“Lagi sakit masih saja pedenya ketinggian, kamu sudah makan sayang” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Belum, gak selera makan abang”
“Pasti karena gak ada aku kan” aku juga ikut mengpede.
“Entah”
“Kamu makan ya adek suapin”. Andi menggangukkan kepalanya pelan. Aku mengambil nasi yang berada di atas meja, menyuapkan ke mulut Andi sedikit demi sedikit. “Makan yang banyak ya sayangku, biar cepat sembuh” tiba - tiba saja air mataku keluar aku tidak tega melihat Andi sakit, biasanya aku melihat Andi sangat ceria tapi sekarang aku melihatnya terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
“Kok kamu nangis sih” mengusap air mataku. “Jangan nangis dong, abang sembuh kok” memegang pipiku.
“Aku sayang kamu, gak mau lihat kamu sakit seperti ini” ucapku dalam tangisanku.
“Iya abang janji kok akan sembuh secepatnya” Bukannya aku yang memberi semangat malah Andi yang memberiku semangat kalau dia akan sembuh dan akan membaik dengan segera.
Aku mengusap air mataku, kemudian menyuapi Andi makanannya lagi. Setelah itu aku mengambil obat yang harus di minum sama Andi.
“Sayang” panggilnya lagi. Aku menoleh ke arahnya. “Mau ke kamar mandi” ucapnya.
“Ayo” aku bangun dengan segera.
“Ciie semangat banget, bantuin pegangin ya” Andi mencoba menggodaku lagi seperti sebelumnya.
“Apa sih mesum” gerutukku.
“Pegangin tiang infusnya” menunjuk tiang infus “terbuktikan siapa yang otaknya mesum” ledeknya tersenyum licik.
“Ya habisnya kamu ngomongnya kayak gitu ya wajarlah pikiranku travelling” jelasku membela diri. Aku membantunya berdiri, sebelah kiriku memegang tiang infus dan sebelah kananku merangkul pinggang Andi.
“Dasar otak mesum” bisiknya di telingaku dengan nada sedikit menggoda.
“Apa sih” aku mencubit pinggangnya.
“Sakit ayaang, masak orang lagi sakit malah dicubit” protesnya mengelus bekas cubitanku.
“Siapa suruh godain aku”
“Dan kamu tergoda” Andi tertawa dengan begitu licik sehingga tingkat kekesalanku bertambah.
“Masuk cepat” seruku.
Andi melangkahkan kaki kirinya ke dalam toilet, tangan kanannya mengangkat tiang infus.
“Pintunya jangan lupa ditutup” aku menunggunya di depan pintu.
“Iya… kalau aku pamer boleh kali ya” berdiri di pintu.
“Pamer saja sekalian di luar sana, biar banyak yang lihat” jawabku asal.
“Kamu yakin mau bagi - bagi” ledeknya lagi.
“Eee hai Andiiiii” teriakku kali ini tingkat kekesalanku sudah di level 100.
Andi cengengesan melihat wajahku yang memerah, lalu ia menutup pintunya.
“Jangan lama” memukul pintu.
“Sabar lagi proses ini”
“Ada - ada saja anak itu” aku menunggu Andi selesai di depan pintu.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.
__ADS_1