Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 59 : Inna li llahi wa inna ilayhi rajiun


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


Tit ….. tit …. tiiiit ….tiiii. Suara alat Elektrokardiogram menunjukkan leads off.


“Dok” tunjuk suster ke alat Elektrokardiogram.


Dokter menghela nafasnya panjang.


“Kita telat berhasil melakukan operasinya tapi Tuhan berkehendak lain. Segera kabarkan ke keluarganya” perintah dokter.


Salah seorang Suster berjalan ke arah pintu lalu membuka. Aku, mama dan ayahnya Andi, kak Anti dan kedua orang tuaku langsung menghampiri suster yang membuka pintunya


“Sus bagaimana keadaan anak saya” tanya ingin segera mengetahui keadaan putra kesayangannya.


“innā li-llāhi wa-inna ilayhi rājiʿūn” ucap suster tersebut “mohon maaf kami telat berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lagi”


Deg!! Jantungku seakan berhenti berdetak air mataku rasanya tidak keluar lagi. Lututku sekan tidak bertulang lagi.


Mama Andi pingsan mendengar pemberitahuan suster. Ayah dan yang lainnya membantu menggotonnya ke kursi panjang.


Aku berusaha damai dengan keadaan hatiku “sus apa saya boleh masuk ke dalam, untuk melihatnya”


“Tentu saja, mari ikut dengan saya”.


Aku berjalan mengikuti langkah suster yang membawaku masuk.


Sampai di dalam ruangan aku melihat Andi terbaring dengan berbagai alat di tubuhnya yang belum dicabut.


“Saya tinggal ya” ucap suster keluar bersama dokter.


“Bang….” Aku mendekati ranjangnya tangisanku pecah “kamu kenapa begini, kamu janjikan tidak meninggalkan aku. Tapi kenapa kamu tidur sekarang kamu bangun ya kamu bangun” aku memeluk tubuhnya yang terbaring. “Kamu bangun abang” aku terus menggoyangkan tubuh berharap ia segera bangun.


Aku bangun dari dekapannya “Apa ini arti mimpiku hah?? Kamu mau ninggalin aku. Kamu mau buat aku hancur?? Kamu sudah gak sayang lagi sama aku makanya kamu pergi meninggalkan aku” kepalaku benar - benar sakit karena semua air mataku terkuras.


“Kamu bangun ya” aku sudah seperti orang gila di ruangan itu. “Sayang kamu bangun ya” aku memeluk tubuhnya lagi setelah aku melepaskannya lalu air mataku jatuh ke dalam matanya.


Andi memimpikan ia berada di sebuah tempat dimana tempat itu semuanya berwarna putih. Lalu ada orang yang memakai baju serba putih, orang itu lalu mengajaknya pergi dengan menjulurkan tangannya. Andi ingin menggapai tangan itu lalu aku datang memanggilnya dan melepaskan tangannya dari tarikan orang tersebut.


****


Denyut jantung Andi mulai muncul kembali, ia menggerakkan jari tangannya.


“Sus…. Sus…. Dokter” teriakku berlari ke luar ruangan.

__ADS_1


Dokter dan para suster berlarian ke dalam ruang operasi setelah mendengar teriakanku.


“Kenapa?” tanya dokter.


“Ini dokter tadi saya melihat tangannya bergerak”


Dokter segera memeriksa denyut jantung Andi di monitor Elektrokardiogram, denyut jantungnya kembali normal lalu ia menyenter kedua belah mata Andi.


“Alhamdulillah denyut jantung Andi sudah mulai normal kembali, ini semua mukjizat dari Allah” ucapnya.


“Alhamdulillah” kini perasaanku bercampur aduk yang pastinya aku sangat senang mendengar bahwa Andi sudah baik - baik saja.


“Sus mari pindahkan pasien ke ruangannya, saya permisi dulu”


“Terima kasih dok”


Dokter keluar meninggalkan kami di ruangan. Suster mempersiapkan segala keperluan dan mencabut alat medis yang tidak diperlukan lagi. Mereka mendorong ranjangnya keluar.


****


Mama telah sadar dari pingsannya


“Yah mana abang ya” setelah sadar ia langsung mencari keberadaan Andi.


Pintu ruang operasi terbuka kembali suster mendorong ranjang Andi dan aku mengikutinya dari belakang.


Mama segera berlari ke arah ranjang. “Mau dibawa kemana anak saya” ucapnya menghentikan ranjang yang didorong.


“Ma” aku mendekatinya lalu memeluknya “bang Andi baik - baik saja kok ma, sekarang suster mau memindahkannya ke ruang yang dulu” ucapku memberikan penjelasan.


“Kamu bohong sama mama kan, kamu bohongin mama kan?? abang sudah pergi meninggalkan kita kan??”


“Ma adek tidak bohong bang Andi baik - baik saja”


“Sayang” mama merangkulku lalu memelukku erat “kamu yang tenang sayang kamu yang sabar”


“Bu… anak ibu baik - baik saja, tadi memang benar detak jantungnya sudah tidak ada lagi. Tapi alhamdulillah detak jantungnya telah kembali normal. Jadi dokter menyuruh kami untuk memindahkan kami ke ruang semula. Dan kita akan menunggu pak Andi sadar” jelas suster sedetailnya.


“Ya Allah terima kasih ya Allah telah mengabulkan doa kami” mama Andi dan lainnya sangat senang Andi dinyatakan baik - baik saja dan hanya menunggu ia sadar.


****


“Alhamdulillah kita berhasil” ucap dokter setelah mengangkat tumornya.


“Alhamdulillah” ucap beberapa suster yang menemaninya.

__ADS_1


Setelah itu dokter menutup kembali kepalanya dengan cara menjahitnya.


“Dok…. dok detak jantung pasien melemah” ucap suster yang melihat alat Elektrokardiogram.


“Hah??” dokter merasa panik lalu ia menenangkan dirinya karena jika seorang dokter panik dalam menjalankan tugasnya maka akan berakibat fatal bagi pasiennya. “Kamu ambil itu” dokter menujukkan alat pacu jantung. Suster memberikannya kepadanya lalu dokter menjalankan alatnya, alat ini akan mengirimkan kejutan berupa listrik ke jantung untuk membantu merangsang agar detak jantung dan otot pada jantung kembali berfungsi. Namun ternyata alat itu tidak memperlihatkan reaksinya sama sekali. Keadaan Andi menjadi tidak stabil.


Tit ….. tit …. tiiiit ….tiiii. Suara alat Elektrokardiogram menunjukkan leads off.


“Dok” tunjuk suster ke alat Elektrokardiogram.


Dokter menghela nafasnya panjang.


“Kita telat berhasil melakukan operasinya tapi Tuhan berkehendak lain. Segera kabarkan ke keluarganya” perintah dokter.


Salah seorang Suster berjalan ke arah pintu lalu membuka. Aku, mama dan ayahnya Andi, kak Anti dan kedua orang tuaku langsung menghampiri suster yang membuka pintunya


“Sus bagaimana keadaan anak saya” tanya ingin segera mengetahui keadaan putra kesayangannya.


“innā li-llāhi wa-inna ilayhi rājiʿūn” ucap suster tersebut “mohon maaf kami telat berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lagi”


Deg!! Jantungku seakan berhenti berdetak air mataku rasanya tidak keluar lagi. Lututku sekan tidak bertulang lagi.


Mama Andi pingsan mendengar pemberitahuan suster. Ayah dan yang lainnya membantu menggotonnya ke kursi panjang.


Aku berusaha damai dengan keadaan hatiku “sus apa saya boleh masuk ke dalam, untuk melihatnya”


“Tentu saja, mari ikut dengan saya”.


Aku berjalan mengikuti langkah suster yang membawaku masuk.


Sampai di dalam ruangan aku melihat Andi terbaring dengan berbagai alat di tubuhnya yang belum dicabut.


“Saya tinggal ya” ucap suster keluar bersama dokter.


“Bang….” Aku mendekati ranjangnya tangisanku pecah “kamu kenapa begini, kamu janjikan tidak meninggalkan aku. Tapi kenapa kamu tidur sekarang kamu bangun ya kamu bangun” aku memeluk tubuhnya yang terbaring. “Kamu bangun abang” aku terus menggoyangkan tubuh berharap ia segera bangun.


Aku bangun dari dekapannya “Apa ini arti mimpiku hah?? Kamu mau ninggalin aku. Kamu mau buat aku hancur?? Kamu sudah gak sayang lagi sama aku makanya kamu pergi meninggalkan aku” kepalaku benar - benar sakit karena semua air mataku terkuras.


“Kamu bangun ya” aku sudah seperti orang gila di ruangan itu. “Sayang kamu bangun ya” aku memeluk tubuhnya lagi setelah aku melepaskannya lalu air mataku jatuh ke dalam matanya.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.

__ADS_1


__ADS_2