
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
“Semoga cepat membaik deh bang Andi, kasian banget lihat dia sakit kayak gitu” seruku di atas motor.
SKIP
Aku telah sampai di gerbang rumahku, membuka pagar lalu memasukkan motorku, aku memarkirkannya di dalam garasi.
“Mama….” Aku mengetuk pintu utama.
“Iya sebentar” mama berjalan ke pintu utama membuka pintunya.
“Kok kamu pulang, Andi bagaimana keadaannya” tanya mama yang berjalan beriringan dengan langkah kakiku.
“Dari semenjak ditelpon kakak kemaren abang gak sadarkan diri ma, baru tadi malam sekitar jam 9 gitu baru sadar ma. Tapi tadi pas kakak tinggalin sudah mendingan sih dia” jelasku mengenai kondisi Andi yang mulai agak sedikit membaik.
“Syukurlah kalau begitu, nanti mama sama ayah ikut ya kesana”
“Iya ma”
Aku berjalan ke kamar, mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, memakai seragam sekolah. Aku memakaikan make up tipis di wajahku. Setelah itu, aku keluar dari kamar.
“Sarapan dulu sayang” mama dan ayah berada di meja makan. Aku menarik kursi dan duduk di samping mama. Aku mengambil nasi dan sedikit lauk.
Selesai makan aku memakaikan sepatu lalu mengambil motorku di garasi.
****
Di sekolah aku memarkirkan motorku di parkiran depan sekolah, setelah itu aku ke kantor utama melakukan fingerprint.
Kriiing….. bel masuk berbunyi. Semua siswa dan siswi berlarian masuk ke kelasnya masing - masing. Sedangkan aku berjalan ke kantor ku yang tak jauh dari kantor utama berada.
“Gak ada jam pagi bu Juli” tanyaku melihat bu Juli yang duduk rapi di mejanya.
“Nanti jam kedua” jawabnya singkat.
Aku meletakkan tasku di atas meja. Kemudian mengambil kursi, duduk di depan bu Juli.
“Pagiii….” Sapa bu Dewi yang baru datang.
“Pagi juga” aku menyapanya balik.
Kriiiing…. Bel ganti pelajaran berbunyi. Semua guru yang mengajar pada jam pertama keluar dari kelas masing - masing. Aku mengambil buku dan absen siswa lalu berjalan ke ruang VIII E. Dua hari yang lalu aku ditugas oleh wakil kepala sekolah untuk menggantikan ibu Nisa yang sedang cuti. Aku diberikan jam tambahan dengan mata pelajaran bahasa indonesia di kelas VIII E.
“Assalamualaikum” ucapku memasukin kelas VIII E.
“Waalaikumsalam…. Warahmatullahi… wabarakatuh…” jawab mereka kompak.
Aku berjalan ke meja guru meletakkan buku dan absen.
“Baiklah anak - anak, jadi mulai hari ini ibu yang akan menggantikan ibu Nisa di kelas kalian untuk mengajar pelajaran bahasa Indonesia” jelasku kepada mereka.
“Baik bu” jawab beberapa siswa.
“Bu Nisa sudah cuti ya bu”
“Iya bu Nisa lagi cuti. Jadi sampai di mana pembelajaran dengan ibu Nisa” tanyaku.
“Kemaren baru masuk di bab berita bu” jawab ketua kelas.
“Berarti kita sambung tentang berita ya”
“Bu…” panggil seorang siswi mengacungkan jarinya.
“Iya kenapa” tanyaku melihat ke arahnya.
“Bu kami belum tahu nama ibu”
“Oh baiklah” berdiri di depan papan tulis “ perkenalkan nama ibu Kanza Aulia kalian boleh memanggilnya ibu Kanza saja, ada lagi yang mau ditanya”
“Status bu” teriak seorang siswa.
“Sudah nikah ibu itu hai” bisik seorang siswi pada teman sebangkunya.
“Status ya, status ibu masih single. Kenapa tanya status ibu”
“Gak bu, tanya saja”
“Sudah kan, apa ada yang mau ditanyakan lagi”
“Gak bu. Gak ada lagi” teriak dari beberapa mereka.
__ADS_1
“Kalau begitu sekarang kita akan membahas sedikit tentang berita, pengertian dari berita sudah diberikan oleh ibu Nisa??” tanyaku lagi.
“Sudah bu, kemaren sama ibu Nisa sudah jelaskan mengenai pengertian menurut KBBI dan tujuan berita bu” jawab Rahma melihat catatannya.
“Berarti kalau seperti itu” aku melihat buku paket khusus guru “sekarang kita akan membahas tentang unsur - unsur berita. Ada yang tahu ada berapa unsur berita”
Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dariku.
“Gak ada yang tahu unsur berita” aku menuliskan judul unsur berita di papan tulis “jadi unsur - unsur yang ada dalam berita itu ada 6 atau disebut dengan 5 w + 1 h” tulisku lagi di papan tulis. “5 w ditambah 1 h itu yang pertama ada what atau apa. Jadi apa judul dari berita yang sedang terjadi misalnya kebakaran sebuah rumah. Kemudian ada who atau siapa” tulisku lagi di point nomer 2 “jadi unsur who itu tentang siapa yang mengalami peristiwa kebakaran tadi, misalnya keluarga bapak Sumanto. Sampai di sini paham”
“Paham bu” jawab mereka kompak.
“Selanjutnya ada unsur where atau dimana. Jadi dimana tempat terjadinya peristiwa atau kejadian yang diberitakan. Misalnya kebakaran rumah pak sumanto tadi dimana. Misalnya di Jakarta.” Tulisku di samping unsur where. “Kemudian” menulis unsur when “unsur when atau kenapa, itu maksudnya kenapa bisa terjadi kejadian itu atau apa yang menjadi penyebabnya”
“Contohnya seperti apa bu” tanya Putri.
“Contohnya seperti tadi misalnya tentang kebakaran, kenapa bisa terjadi kebakaran di rumah pak Sumanto, misalnya karena kebocoran gas. Paham ya!!. Kemudian ada yang namanya unsur why” tulisku lagi di papan “unsur why atau mengapa sama juga kayak when tadi. Terakhir ada unsur how atau bagaimana itu bisa kita lihat misalnya tentang pencegahannya atau solusinya bagaimana dari kebakaran tadi” menulis lagi di papan. “Semuanya sudah paham”
“Paham bu” seru mereka kompak.
“Baiklah kalau begitu waktu kita tinggal sedikit lagi, ibu minta sama kalian untuk mencari sebuah berita yang terdapat di koran. Nanti korannya ditempelkan di buku latihan kalian ya”
“Baik bu” jawab mereka serentak.
Kriiiiing…. Bel istirahat berbunyi. Aku berjalan keluar dari kelas VIII e. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas membeli jajanan, sama halnya dengan semua guru juga keluar dari kelas setelah mendengar suara bel istirahat.
Aku berjalan ke kantor bergabung dengan guru \- guru lain yang ada di sana.
“Coba lihat bu Kanza lemas banget jalannya” bisik pak Said pada beberapa guru yang duduk di teras kantor, ia memperhatikan langkah kakiku.
“Dek kenapa lagi galau ya” tanya bu Dewi kepadaku.
“Ah enggak” aku mengambil kursi, duduk di samping bu Dewi.
“Bu Kanza kemaren pak Haris tanyain ibu” ucap pak Said.
****
Beberapa waktu sebelum aku mengenal Andi. Pak Said ingin menjodohkanku dengan rekan kerjanya dulu di sebuah instansi sekolah sebelum ia pindah.
“Bu Kanza, ibu saya kenalin sama pak Haris ya. Dia ingin sekali punya calon istri”
“Jangan deh pak” aku menolaknya. “Buat ibu Dewi saja”
“Kalau sama ibu Dewi jangan deh, sama bu Kanza saja” ucap pak Said.
Selang beberapa hari kemudian aku tinggal berdua dengan pak Said disaat guru lainnya masuk ke kelas untuk mengajar.
“Buk Kanza” panggilnya lembut.
Aku menoleh kearahnya, aku menghentikan jari ku menscroll sosial media “kenapa pak”
“Serius, ibu saya jodohkan dengan pak Haris ya”
Bu Susi datang menghampiri kami, ia mengambil kursi dan duduk di samping pak Said.
“Ini loh bu, buk Kanza mau saya jodohkan sama pak Haris gak mau”
“Mau terus buk Kanza, ini ya saya kan kenal juga sama pak Haris. Orangnya sudah mapan, pegawai, punya mobil, punya usaha dan sukses lagi usahanya” jelas bu Dewi yang sangat mengenal pak Haris.
“Tapi kalau masalah umur jujur dia sudah berumur sih, iya kan kak Susi. Kalau tidak salah dia kelahiran tahun 1980. Bu Kanza lahir tahun berapa”
“Eum… 1997 pak” jawabku.
“Kalau kakak bilang mau saja dek” bu Susi dan pak Said terus saja membujukku, sampai tidak ada kata penolakan yang keluar dari mulutku.
“Baiklah pak, buk iya” aku menganggukkan kepalaku mengiyakan perjodohan antara aku dan pak Haris.
“Oke kalau begitu nanti saya bilang dulu sama pak Haris” ucap pak Said yang kegirangan, berhasil membujukku menerima perjodohan darinya.
Beberapa hari kemudian pak Said menemuiku di kantor.
“Buk Kanza, saya sudah memberikan nomer ibu kepada bapak Haris. Ibu tunggu saja ya dia akan menghubungi ibu”
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Padahal aku sama sekali tidak menginginkan dijodohkan dengan pak Haris. Namun, aku terpaksa mengiyakannya karena pak Said selalu menanyakan hal itu kepadaku setiap kali bertemu dengannya, aku merasa tidak enakkan sama dia.
SKIP
Aku menunggu kabar dari pak Haris, namun sama sekali dia tidak pernah menghubungiku, atau sekedar say hai kepadaku. Hari itu, setelah keluar dari kelas aku menuju kantor, aku bertemu dengan pak Said.
“Bagaimana buk Kanza, apa pak Haris telah menghubungi ibu” tanyanya di tengah banyaknya guru - guru lain yang berkumpul menunggu jam mengajar.
“Belum pak” jawabku singkat. Aku terlalu malas menjawabnya ketika banyak guru - guru lain yang mendengarnya.
“Tunggu saja ya, mungkin belum dihubungi” ucap pak Said lagi. Dia menyuruhku untuk terus menunggu temannya menghubungiku.
__ADS_1
“Oh pak Said mau menjodohkan buk Kanza sama siapa” tanya bu Fitri yang ingin mengetahuinya.
“Itu bu, teman saya dulu kemaren kan dia sama - sama lulus pegawainya bersama saya. Kebetulan dia ingin mencari calon istri jadi saya dan bu Susi ingin menjodohkan bu Kanza dengan pak Haris” jelas pak Said sedetailnya.
“Bukannya bu Kanza sudah punya calon ya yang kerja di Bank” tanya bu Fitri melirik ke arahku.
“Hah???” Jawabku kaget. “Tidak ada bu, calon saya kerja di Bank”
“Saya kemaren baru dibilang sama ibu Yusni, kata bu Yusni calonnya bu Kanza kerjanya di Bank” jelasnya persis seperti yang ia dengar.
“Gak bu, saya belum punya calon. Mungkin itu mantan saya dia memang kerja di bank sih tapi dulu” jelasku meluruskan kesalahpahamannya.
Setelah berbincang \- bincang dengan mereka aku masuk ke kelas.
Setiap harinya setiap aku bertemu dengan pak Said dia selalu menanyakan ‘bu Kanza bagaimana apa pak Haris sudah menghubungi ibu’ dia selalu menanyakan hal yang sama setiap harinya.
“Bu Kanza bagaimana apa pak Haris sudah menghubungi ibu” tanya pak Said yang baru keluar dari kelasnya mengajar.
“Gak ada pak” jawabku singkat.
“Dek kalau pak Haris menghubungi kamu mau saja sama dia nanti kamu bisa punya mobil. Bisa kemana - mana pakai mobil deh” seru bu Susi. Aku hanya tersenyum mendengar omongan bu Susi. Perihal mendapatkan seorang lelaki aku tidak sematre itu, yang mau memilih lelaki harus ada mobilnya, pikirku.
Hari demi hari telah berlalu, pak Haris sama sekali tidak menghubungiku. Hari ini aku juga bertemu dengan pak Said.
“Bu Kanza” panggilnya dengan lembut.
“Apa pak Said” jawabku, mataku terfokus pada handphone yang berada pada genggamanku.
“Bagaimana apa pak Haris sudah menghubungi ibu” tanyanya, ini entah berapa kali ia menanyakan hal yang sama kepadaku.
“Enggak pak Said, kalau memang pak Haris menghubungi saya, pasti saya akan kasih tahu sama bapak”
“Iya lambat sekali memang pergerakan pak Haris. Tidak sama seperti saya yang terus datang ke rumah untuk melamar sendirian”
“Wah berani sekali ya bapak” ucap bu Dewi.
“Iya saya memberanikan diri untuk terus melamarnya. Pak Haris ya gitu, kemaren saya ketemu sama pak Haris katanya belum berani menghubungi bu Kanza. Memang pemalu banget dia orangnya. Terus kan saya cerita - cerita tentang bu Kanza kan, jadi ada pak Fajar. Setelah itu pak Fajar melarang pak Haris untuk dekat dengan bu Kanza karena bu Kanza anak satu - satunya alias anak tungal” jelas pak Said.
“Memangnya kenapa pak kalau anak tunggal??” tanyaku heran. Aku meminta penjelasan dari pak Said.
“Iya karena kalau anak tunggal kalau misalnya dia sakit gak ada yang jagain, itu alasan pak Fajar melarang pak Haris berdekatan sama bu Kanza” pak Said menjelaskan sesuai apa yang ia dengar dari pak Haris dan pak Fajar.
Memang sebegitunya ya dengan anak tunggal, batinku.
“Iya pak Said santai saja” aku mencoba menegarkan hatiku. Menjadi anak tunggal bukan pilihanku kan. Jadi, kenapa orang mempermasalahkan seorang anak yang ditakdirkan menjadi seorang anak tunggal. Apa anak tunggal itu tidak pantas dimiliki oleh seseorang. Apa menjadi anak tunggal bisa menjadi sebuah beban.
Aku benar - benar bingung dengan alasan yang diberikan oleh pak Said. Padahal dia yang ingin sekali menjodohkanku dengan pak Haris, namun ketika aku mau untuk berkenalan dengannya aku malah mendapatkan alasan yang tidak masuk akal.
Mungkin belum jodohku, batinku menegarkan diriku sendiri.
*********
Aku sekarang telah memiliki Andi, lelaki yang sangat baik, dia menyayangiku dengan begitu tulus. Aku pun telah menyerahkan seluruh hatiku untukknya.
“Tanya apa pak Said, pak Harisnya” tanyaku.
“Dia mau bertemu dengan ibu, tapi sudah saya bilang ka di cok le gop (sudah diambil orang) karena dulu bapak gak mau berkenalan terus dengannya”
Aku tersenyum melihat pak Said.
“Ya iyalah ka di cok le gop (sudah diambil orang) dia lambat sekali, kalau saya bilang suruh kenalan dulu. Pasti dijawab iya lagi ada banyak kerjaan sekarang. Apa hubungannya coba kenalan sama kerjaan kan gak akan mengganggu” gerutuk bu Dewi kesal.
“Mungkin iya bu, lagi sibuk jadi gak sempat untuk kenalan dengan saya” jawabku sedikit meledek.
“Itulah dek, kemaren kakak jumpa sama mamanya pak Haris. Mamanya ngomong sama kakak suruh carikan sebentar calon istri buat Haris. Kakak jawab sudah saya kenalin bu saya sama pak Said sudah kenalin bu Kanza, tapi ya begitu anak ibu. Dia gak mau berkenalannya. Kata mamanya lagi susah Haris itu, gak tahu saya harus bagaimana sama dia itu” jelas bu Susi.
“Ah sudahlah bu, mungkin pak Haris belum berjodoh dengan saya”
“Sudah beberapa orang dek, kami jodohkan dengan pak Haris tapi ya gitu gak ada yang cocok sama dia. Entah wanita seperti apa yang mau dicarinya” ucap bu Susi yang mulai gerah dengan kelakuan Pak Haris.
“Artis mungkin yang dia cari” pak Said juga mulai kesal dengan pak Haris “padahal waktu pertama saya kirim foto bu Kanza dia bilangnya wah cocok ini sama saya, kelihatannya alim” tambah pak Said.
Kriiing bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing - masing. Sama halnya para guru juga keluar dari kelasnya mengajar.
Aku, bu Dewi, bu Susi, pak Said dan beberapa guru lainnya berjalan ke kantor utama setelah mengambil tas masing \- masing melakukan finger print.
Aku berjalan ke parkiran mengambil motorku, memakaikan helm dan menancap gas.
SKIP
Aku sampai di rumah, seperti biasa aku memarkirkan motorku di garasi, meletakkan helm lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.