Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 24


__ADS_3

***


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit aku dan Andi telah sampai di depan gerbang rumahku.


“Sayang abang pulang terus ya, kamu baik - baik di rumah” menatapku


“Iya abang hati - hati ya pulangnya” berbalik menatapnya. Aku keluar dari mobil berjalan ke dalam rumah.


“Thank for today sayang”’teriakku sendiri di kamar “aku bahagia banget, semoga ke depannya bang Andi tetap begini selalu sayang sama aku” merebahkan badan di kasur.


*


Andi melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Selang beberapa menit kemudian Andi sampai di rumahnya. Andi memarkirkan mobilnya di garasi kemudian masuk ke dalam rumahnya. “Assalamualaikum” membuka pintu masuk ke dalam rumah berjalan ke ruang tamu melihat Ziya.


“Eh ada dedek Ziya” Andi menggendongnya, mencium pipinya sampai merah.


“Anak aku itu” seru kak Anti melihat Andi menggondeng putri kecilnya.


“Gemesh banget sih kamu” Andi terus menciumi pipi gemoynya Ziya.


“Kalau mau sana buruan nikah sama adek” ledek kak Anti.


“Yang ini saja dulu, main sama om di kamar yuk dek”


“Uuuu uuu” jawab Ziya dengan bahasa bayinya.


Andi membawa Ziya ke kamarnya.


“Ma… anak aku diculik” teriak Anti bercanda.


Di kamar, Andi sibuk bercanda dengan Ziya. “Kita video call bunda Zaza yuk dek” Andi mengambil handphonenya di dalam saku celananya mencari kontak Aku.


Via Video call


Andi


Hai bunda


Aku


Oh hai ada siapa ini


Andi


Aku Ziya bunda dan ini om aku Andi yang ganteng banget


Aku


Hahahaa bohong itu omnya sayang


“Haaaaaa” Ziya menangis tersedu di pangkuan Andi.


Aku


Hayyo bang nangis itu anak orang


Andi


Abang balikkan dulu ke maknya ya


Andi mematikan handphonenya berlari keluar kamar menemui Anti.


“Kak… kak… kak…” teriak Andi mencari keberadaan Anti.


“Iya iya” Anti berlari dari dapur mendengar tangisan anaknya.


Anti mengambil Ziya dari gendongan Andi.


“Kenapa sayang om Andi jahil ya” menenangkan Ziya


“Gak kak, gak aku jahilin sumpah” kakinya gemetaran.

__ADS_1


Anti membawa Ziya keluar rumah. Setelah tenang Andi keluar menemuinya.


“Ziya” panggilnya lembut. Ziya langsung menyerahkan kedua tangannya menginginkan berada di pelukan Andi.


Andi mengendong Ziya di pelukannya.


“Bang, sudah cocok itu kamu jadi ayah” ledek Anti menyuruh Andi cepat - cepat nikah.


“Kak gimana ya kalau misalnya Andi duluan dipanggil latihan” Andi duduk di ayunan di depan kakaknya.


“Nikah dulu berarti kamu”


“Gak bisa secepat itu lah kak urus prosesnya dan keluar surat - suratnya bisa berbulan - bulan. Kira - kira Kanza mau gak ya nunggu aku latihan kak”


“Berapa lama biasanya bang” Anti memanggil abang untuk Andi walaupun dirinya lebih tua dari Andi. Andi dipanggil abang karena dia anak laki - laki satu - satunya.


“2 tahun kak”


“Kalau kakak lihat adek orangnya setia kok bang kamu tenang saja” sedangkan aku mereka memanggilku dengan sebutan adek. Anti dipanggil kakak, Andi dipanggil abang dan aku dipanggil adek.


“Mudah - mudah gitu kak, aku berharap dia bisa menjadi istriku yang baik, bisa menjaga perasaannya untukku ada atau gak adanya aku di sampingnya”


“Aaaamiiiin” Anti mengaminkan harapan Andi.


**


Beberapa hari kemudian.


Tok… tok….tok “Assalamualaikum” suara gedoran pintu terdengar begitu keras.


“Ma siapa itu” tanyaku yang sedang makan di ruang makan.


“Gak tahu juga, sebentar mama buka pintunya dulu” mama berjalan ke pintu suara dimana sumber suara berada. Gedoran pintu itu semakin kencang seperti halnya tamu yang datang tidak sabar menunggu. Mama membuka pintu, melihat segerombolan orang berkumpul di halaman rumahku.


“Maaf pak ada apa” tanya mama panik melihat kenapa orang - orang berkumpul di depan rumahnya, apa yang terjadi.


“Kami harus membawa anak ibu ke kantor desa” jelas pak RT.


“Ada apa pak, apa salah anak saya”


“Pak ada apa ini semua” mama mengikuti orang yang menyelonong masuk rumah tanpa permisi, air matanya jatuh bercucuran ia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Ibu diam saja” bentaknya tidak ingin memberi tahu ia terus berjalan mencari keberadaanku.


“Kenapa pak” tanyaku yang melihat ada orang yang datang ke arahku.


Tanpa menjawab pertanyaanku bapak itu menarik lenganku secara paksa, aku dibawa ke kantor desa.


Di Kantor Desa


Aku duduk di sebuah kursi dimana orang - orang semua melihat ke arahku.


“Pak kenapa anak saya” tanya mama air matanya terus berjatuhan. “Kenapa anak saya bapak perlakukan seperti ini, apa yang dia buat”


“Apa ibu tahu anak ibu hamil”


Hamil, batinku.


“Anak ibu hamil di luar nikah, dia telah berhubungan dengan seorang laki - laki di rumah ibu sendiri. Apa ibu gak tahu”


“Ada apa ini” tanya Ayah yang baru saja datang melewati banyaknya kerumunan warga.


“Yah” panggil mamaku memeluk ayah.


“Kenapa pak” tanya Ayahku sekali lagi.


“Anak bapak dan ibu hamil di luar nikah, dia telah berhubungan dengan laki - laki di rumah kalian”


Ayah melihat ke arahku dengan tatapan tajam.


“Apa benar itu nak” ayah menangis mendengarnya.

__ADS_1


“Gak yah, aku gak pernah melakukan itu. Ini semua fitnah” belaku.


“Nak lihat ayah nak lihat ayah” memegang pipiku “apa benar yang mereka katakan nak, tatap mata ayah” ayah benar - benar syok mendengar tuduhan mereka.


“Udahlah gak usah ngelak lagi” teriak salah satu warga.


“Iya mending kamu ngaku saja” teriak warga lainnya.


“Huuuuuuu, mesum kok di sini” teriak warga lagi yang membuat ayah dan mamaku semakin syok.


“Gara - gara kamu desa kami jadi sial” warga - warga terus menghujatku.


“Maa… ayah aku gak pernah melakukan itu” berlutut di depan ayah dan mama aku menangis sampai mulutku tak bisa berkata tapi aku harus memberi mereka penjelasan atas perbuatan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan.


“Sudah - sudah” pak RT mencoba menenangkan kegaduhan warga yang semakin memanas. “Lebih baik kita panggil laki - laki itu ke sini, itu tunangan kamu kan” tanyanya kepadaku.


“Oh sama tunangannya” bisik ibu - ibu dengan keras “pasti mau nikah gratis tu” lanjutnya lagi.


“Pak coba telpon pak Adam suruh bawa pak Andi ke sini” Pak RT menyuruh asistennya.


Aku terus memeluk ibu, begitu kejam warga menuduhku seperti itu.


Beberapa menit kemudian Andi datang bersamaan dengan Adam, mereka berdua berjalan di tengah kerumunan warga.


“Ada apa pak” tanya Adam yang melihatku memeluk mama, menangis. Ayah dan mama juga menangis.


“Boleh kita berbicara sebentar” pak RT tidak menjawab pertanyaan Adam, ia langsung mengajak Andi berbicara ke dalam kantor.


“Baik pak” Andi mengikuti langkah pak RT ke dalam kantor.


**


Di dalam ruangan khusus pak RT


“Saya mendengar laporan dari warga saya, Kanza hamil dan kamu yang menghamili dia”


Andi begitu syok mendengar apa yang baru saja terucap dari mulut pak RT, tapi dia berusaha agar tenang untuk melewatinya.



Menghela napas “mohon maaf pak yang sebesar \- besarnya saya dan Kanza tidak pernah melakukan hubungan itu sama sekali tidak pernah, saya mau menjadikan dia istri saya, jadi saya tidak pernah melakukan hal jahat untuk dia” jelas Andi dengan keadaan sebenarnya.


“Dia hamil” tegas pak RT.


“Kalau boleh saya tahu dari mana bapak tahu kalau Kanza tunangan saya hamil”


“Saya mendengar laporan dari warga saya, dia mengatakan kepada saya kalau kamu ke rumah dia dia saat ayah dan ibunya sedang tidak di rumah, apa itu benar” tanyanya sedikit menuduh.


“Saya memang ke rumah dia waktu mama dan ayahnya sedang tidak ada, tapi saya tidak pernah melakukan hal senonoh itu jangankan melakukan hal itu saya pun gak pernah masuk ke dalam rumahnya. Saya dan dia hanya duduk di teras rumahnya” Andi terus saja menahan emosinya.


“Tapi ada saksi yang melihatnya kamu sedang berhubungan badan dengan dia”


“Siapa orang itu pak” tanya Andi dengan nada sedikit menekan.


“Saskia” jawabnya.


“Dia sepupunya Kanza kan pak”


“Iya”


“Baik pak, sekarang saya akan membawa Saskia ke sini” Andi keluar dari ruangan pak RT mencari keberadaan Saskia.


“Bang bagaimana” tanyaku yang duduk ditemani ayah dan mama di ruang tamu kantor desa, sedangkan di luar masih banyak warga yang berkerumunan.


“Sabar ya sayang, abang pergi dulu” Andi pergi tanpa menjelaskan sepatah kata apapun.


“Bang temani aku” Andi mengajak Adam. Adam mengiyakannya tanpa bertanya apa - apa.


SKIP


Di rumah Saskia……

__ADS_1


#thank you atas kunjungannya. Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2