
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
****
Aku telah sampai di gerbang sekolah, memarkirkan motor di parkiran sekolah, lalu berjalan ke kantor utama melakukan finger print.
“Terima… kasih” ucap finger print setelah aku memberikan sidik jari jempolku.
Aku berjalan ke kantor tempat semua guru honorer berkumpul, aku meletakkan tas di atas meja lalu mengambil kursi dan duduk di teras kantor.
“Duh baru aku yang datang” gumamku duduk sendirian di teras.
Beberapa menit kemudian datanglah bu Juli dan pak Said.
“Baru sendirian yang datang?” ucap pak Said yang mengambil kursi lalu duduk di depanku, begitu juga dengan bu Juli yang mengambil kursi lalu duduk di sampingku.
“Iya nih, aku pikir sudah terlambat makanya buru - buru tadi perginya, tau - tau di sini belum ada orang”
“Iya tuh, orang ini pasti datangnya 5 menit sebelum bel”
“Karena kalau kecepatan pun tidak ada orang seperti hari ini” ucapku sedikit tertawa.
Kriiiing… bel jam pertama telah berbunyi semua siswa atau pun siswi yang sudah datang berlarian masuk ke kelas masing - masing menunggu guru yang akan datang dan siswa atau pun siswi yang terlambat datang akan menerima hukuman seperti biasanya.
“Gak ada jam pertama dek?” tanya bu Juli kepadaku.
“Nanti jam kedua baru masuk bu” jawabku.
“Oh sama ya” jawab bu Juli.
“Haii” sapa bu Fizza yang berjalan ke arah kami, ia membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
“Apa itu ey?” tanyaku mataku tertuju pada kantong plastik yang dibawanya.
“Apa lagi kalau bukan buah untuk merujak” jawab bu Juli yang sudah paham dengan kebiasaan bu Fizza “oh ya dek bumbunya di dalam ya, sudah kakak buatin”
“Hmm padahal di rumah ada mangga, Kanza tidak tahu kalau hari ini merujak kalian”
“Ambillah sayangku”
“Ada jam sayangku”
“Yah… gak apa - apa besok - besok kita merujak lagi. Bawa ya mangganya manis” Bu Fizza sangat - sangat mencintai buah - buahan ia tidak bisa sedikitpun mendengar kata - kata buah - buahan. Serasa air liurnya langsung berjatuhan.
“Iya besok - besok dedek bawa ya”
“Harus dong” ucap bu Fizza tertawa lepas.
Tak terasa waktu telah berlalu, bel jam kedua telah berbunyi. Aku dan beberapa guru lainnya masuk ke kelas masing - masing. Aku berjalan ke kelas VIII d yang berada di ujung kantor utama.
“Assalamualaikum” aku berjalan memasuki ruangan.
“Bersiaaaap grak” ucap ketua kelas memerintahkan seluruh siswa dan siswi kelas VIII D untuk bangun.
__ADS_1
Semua siswa dan siswi bangun dan berdiri dari tempat duduknya.
“Hormaaat grak” perintah ketua kelas lagi membuat tanda hormat dengan tangan kanannya “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap mereka dengan serentak.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” ucapku. Ketua kelas memerintahkan seluruh siswa dan siswi untuk duduk kembali di kursinya masing - masing.
Setelah mereka duduk, semua siswa atau pun siswi saling mengobrol, suasana kelas begitu ribut persis terlihat seperti pasar.
“Kalian kenapa ribut, sudah ada guru kan di depan” ucapku yang duduk di kursi guru.
Tidak ada satu pun diantara mereka yang menghiraukanku.
“Kalian mau belajar?, kalau tidak mau belajar kalian boleh pilih kalian yang keluar atau saya yang keluar dari kelas ini” ucapku wajahku terlihat sangat marah, suaraku begitu lantang terdengarkan. Sebagian mereka memilih untuk diam.
“Haii diam lah” teriak salah satu siswi.
“Keluarkan saja dia bu” ucap siswa lainnya.
“Apa tadi saya katakan, kalau masih ribut seperti ini kalian boleh pilih kalian yang keluar dari kelas ini atau saya yang akan keluar” tegasku sekali lagi.
“Bu jangan keluar bu. Kami mau belajar. Mereka saja yang keluar” seru Masyitah yang menunjuk ke arah beberapa siswa yang masih ribut.
“Baiklah tolong Rahmat, Dani dan Hamdan kalian hari ini boleh belajar di luar” aku menunjuk ke arah pintu.
“Apa sih ibu ini sedikit - sedikit keluar” Rahmat bangun dari tempat duduknya lalu berjalan keluar, wajahnya terlihat sangat marah “anjing” ucapnya ketika melewatiku, matanya tertuju ke arahku.
“Hei tunggu” aku menghentikan langkah kaki Rahmat “kamu bilang apa barusan, coba kamu ulang”
“Gak bu”
“Jadi mau ibu apa” ucap Rahmat menantangku.
“Tolong ya saya guru kamu, tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu untuk saya” ucapku mencoba menasehatinya. Semua siswa dan siswi berdiam dan terfokus ke depan melihat Rahmat. “Kamu tahukan guru di sekolah itu sama seperti ibu atau ayah kalian di rumah” sambungku lagi, aku mencoba menahankan emosiku.
“Maaf bu saya tidak mau punya ibu tiri”
“Astagfirullah…. Yasudah terserah kamu Rahmat, mulai hari ini kamu tidak usah lagi belajar dengan saya. Kalau pelajaran saya kamu saya izinkan tidak usah masuk”
“Saya juga tidak mau masuk pelajaran ibu. Dasar ibu Anjing”
“Terima kasih Rahmat atas cacianmu. Sekarang juga kamu ke ruang BK”
“Untuk apa” Rahmat masih mengadu mulut denganku, ia sama sekali tidak beranjak keluar.
Aku menelpon bu Dewi dan Bu Susi yang menjadi guru BK di tempat ku mengajar.
Via telpon
Aku
Assalamualaikum bu Dewi
Bu Dewi
Iya waalaikumsalam, kenapa bu Za?
__ADS_1
Aku
Tolong bu ini saya tidak bisa mengajari Rahmat siswa VIII D, mungkin dengan ibu dia bisa belajar dengan baik.
Bu Dewi
Baik, sekarang saya ke sana menjemput dia
Aku mematikan telponnya.
“Ibu kenapa telpon guru yang lain, ibu tidak sanggup melawan saya ya bu? Makanya bu jangan kecil - kecil jadi guru” ledek Rahmat menertawaiku ia masih saja berdiri di hadapanku. “Kecil - kecil jadi guru”
Selang beberapa menit kemudian bu Dewi telah sampai di kelas aku mengajar.
“Assalamualaikum, yang mana Rahmat Aulia?” Tanyanya berdiri di depan pintu.
“Saya bu, kenapa?” Jawab Rahmat dengan lantang.
“Oh kamu, kemari kamu”
“Kenapa bu? Ibu temannya ibu Anjing itu” ia berjalan mendekati bu Dewi matanya masih melirik tajam wajahku.
Baaam… bu Dewi menampar wajahnya Rahmat “kenapa mulut kamu seperti itu?” Ia menarik paksa Rahmat di lengannya. Rahmat tidak terima dengan tamparan bu Dewi yang melayang di wajahnya, ia berusaha mendorong bu Dewi sampai membuat bu Dewi tersungkur ke tanah. Rahmat segera berlari setelah mendorong bu Dewi.
“Bu” panggilku berlari ke arah bu Dewi, semua siswa dan siswi kelas VIII D mengikuti ku keluar kelas. Aku membantu bu Dewi berdiri. “Bu… tidak apa - apa kan” tanyaku memastikan. Aku menuntun bu Dewi ke kantor utama yang tidak jauh dari keberadaan kelas VIII D.
“Ya Allah anak itu tidak habis pikir saya” ucap bu Dewi tertatih - tatih.
Sampai di kantor utama, semua guru - guru melihat keadaan bu Dewi.
“Kenapa bu” tanya bu Remi. Ia membantuku menuntun bu Dewi. Bu Dewi duduk di kursi panjang.
“Jadi tadi saya mengajar di kelas VIII D bu” semua guru menghampiri kami, ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi. “Jadi pertama saya masuk semua siswa dan siswinya pada ribut, terus saya ngomong. Kalau mereka tidak diam, saya katakan kalian yang keluar atau saya yang keluar dari kelas ini” jelasku.
“Jadi bu?” Tanya bu Remi penasaran.
“Jadi beberapa siswa dan siswi sudah pada diam, tinggallah 3 orang siswa ini, Rahmat Aulia, Dani dan Hamdan, saya suruh keluar mereka bertiga. Si Rahmat ini langsung berdiri dan mau keluar sambil berjalan melewati saya, dia katain saya anjing dan melihat ke arah saya. Saya tegur bla bla bla. Dia tidak terima dengan nasehat saya, terus saya berpikir untuk menelpon bu Dewi. Sampailah bu Dewi di sana”
“Iya sampai saya di sana ternyata mulut si Rahmat itu ya begitu ibu - ibu, emosi saya. Saya tamparlah dia saya mau tarik dia mau saya bawa ke ruang Bk. Tapi dia malah mendorong saya sampai terjatuh”
“Ya Allah…” ucap bu Mauli “saya tidak menyangka ada siswa yang seperti itu”
“Wali kelas VIII D siapa ya” tanya bu Dewi yang sudah kembali segar.
“Bu Darmi kalau tidak salah” jawab bu Remi.
“Bu Kanza, eum Bu Darmi mana” bu Dewi celingak celinguk mencari keberadaan bu Darmi di perkumpulan ibu - ibu.
“Di kelas sepertinya, tapi saya coba telpon dulu” ucap bu Remi lalu menelpon bu Darmi.
“Bu, tolong katakan sama bu Darmi ke ruangan BK. Mari bu Kanza ikut saya duluan” aku dan bu Dewi berjalan ke ruang BK.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.