Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 29


__ADS_3

**


Sampai di rumah aku memarkirkan motor berwarna putih kesayanganku di garasi, menaruh helm dari kepalaku meletakannya di spion motor. Aku berjalan masuk ke kamar mengganti pakaian sekolah dengan pakaian santai.


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, mengambil handphone mengirimkan pesan ke Andi.


Via chattingan


Aku


Abang


Sepuluh menit kemudian Andi membalas pesanku.


Andi


Iya sayangku cintaku


Aku


Lebay


Andi


Kok lebay kan memang benar kamu itu cintaku sayangku bohateku


Aku


Memangnya iya


Andi


Iya dong, sudah tersertifikat.


Aku


Bye me ring, bye me ring


Andi


Coba kau lihat jari manis tangan kananmu, itulah bukti keseriusanku.


Aku


Iya sayang, bakso enak nih


Andi


Bakso, kemaren aku habis makan bakso


Aku


Wow sama siapa itu


Andi


Itu sayang sama teman SMA aku kemaren dia ngajak abang, yasudah abang pergi deh


Aku


Oh, cewek atau cowok


Andi


Cewek


“Ini maksudnya apa ya, kenapa bang Andi pergi sama cewek lain. Kenapa dia gak izin sama aku, dia gak anggap aku ya”


Aku


Oh, enak dong.


Balasku. Aku tidak menyangka Andi bakalan pergi dengan wanita lain sedangkan aku tidak mengetahuinya.


Andi


Enak dong


Mengirimkan sebuah foto terdapat Andi dan seorang cewek dengan angle yang cukup dekat.

__ADS_1


Aku


Ini maksudnya apa


Andi


Kan tadi kamu tanya sama abang, abang perginya dengan siapa, ya itu abang pergi sama dia.


Aku


Iya


Aku melemparkan handphone ke atas kasur.


“Maksudnya apa sih” dadaku terasa sengkak melihat foto keakrapan Andi dengan seorang wanita. “Kenapa seperti ini sekarang, kenapa dia gak menghormati aku sebagai tunangannya” tak terasa air mataku berjatuhan.


Tangisanku pecah mengingat masa laluku yang ditinggalin karena perselingkuhan akan terjadi kembali.


“Ya Allah kenapa seperti ini kisah percintaanku, di saat aku sudah menaruhkan seluruh hatiku tapi malah seperti ini yang aku rasakan. Aku pikir bang Andi itu lekaki yang berbeda, dia gak sama kaya Roni yang hanya mencintai aku setengah hatinya dan setengah hatinya untuk menyakitiku” aku meringkuk badanku. Aku tertidur dengan pikiran - pikiran overthingkingku.


Andi tidak sama sekali menghubungiku. Dia malah melanjutkan pekerjaannya.


**


Dua jam kemudian aku terbangun dari tidurku “haaaa” mengangkat kedua tangan “apa aku mimpi tadi ya, bang Andi jalan dengan wanita lain” aku mengambil handphone melihat isi chattingan dengan Andi aku ingin memastikan apakah aku benar - benar bermimpi atau semua ini kenyataan pahit yang sedang terjadi kepada diriku.


“Ya Allah ini beneran” air mataku kembali terjatuh. “Aku kira ini semua cuma mimpi burukku”


Via chattingan


Aku


Aku kira kamu itu lelaki yang berbeda yang aku temui, kamu sudah menghapus luka di hatiku tapi sekarang kamu membuat luka itu kembali. Kalau memang seperti itu yang kamu inginkan besok aku mau bertemu dengan orang tuaku untuk mengembalikan ikatan dari mereka. Mereka mengikatku dengan baik - baik, jadi aku harus mengembalikannya dengan baik - baik pula.


Pikiranku kini sudah benar - benar bercabang, aku ingin segera mengembalikan cincin yang melekat di jari manisku. Aku berpikir untuk apa mempertahankan lelaki yang tidak hanya memberikan cinta untukku tapi dia juga memberikan cinta untuk wanita lain.


Andi tidak sama sekali membalas pesan dariku, apakah dia ingin secepatnya melupakanku atau dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak tahu, yang jelas dia sudah berhasil membuat luka di hatiku kembali.


“Aaaaa” teriakku kencang namun aku menutupnya dengan bantal. “Sesak banget dadaku, ya Allah kenapa semua ini terjadi lagi kepadaku”


Seharian aku berdiam diri di kamar, air mataku tak terbendung lagi. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini.


**


“Sayang, sarapan dulu” mama menyuruhku sarapan yang telah disiapkannya.


“Gak ma, nanti saja” jawabku lemas.


“Kamu sudah dari semalam loh gak makan, memangnya gak lapar kamu”


“Gak ma, biasa kakak diet” jawabku mencari alasan. Aku berjalan ke garasi mengambil motor lalu menyalakannya dan menancap gas secara perlahan.


SKIP


Aku telah sampai di sekolah, aku memarkirkan motor di parkiran halaman sekolah membuka helm lalu menaruhnya di spion. Aku berjalan ke kantor utama yang tak jauh dari parkiran, langkah kakiku terasa sangat berat. Hari ini aku benar \- benar tidak semangat, namun kewajiban mengajar tetap harus aku lakukan bagaimana pun keadaanku. Aku melakukan finger print lalu berjalan kembali ke kantorku.



Hari ini tugasku menjadi guru piket. Aku bertugas menyambut kedatangan siswa \- siswi di depan gerbang. Semua siswa dan siswi yang berdatangan bersalaman dengan semua anggota piket yang bertugas hari ini.


Lima belas menit kemudian, bel jam masuk berbunyi. Krrriiiiiiing……. semua siswa dan siswi yang telah hadir masuk ke kelas masing \- masing menunggu guru yang akan masuk.


Sepuluh menit kemudian aku menutup pintu gerbang, namun jika ada siswa dan siswi yang berdatangan mereka membukanya sendiri akan tetapi mereka akan menerima hukuman karena terlambat.


Aku dan bu Sinta berkeliling kelas untuk mengontrol setiap ruang kelas memastikan semua guru masuk.


“Kalian siapa gurunya sekarang” tanyaku melihat kelas IX A yang tidak ada guru.


“Bahasa indonesia bu” jawab beberapa siswa.


“Siapa nama gurunya” tanyaku lagi.


“Bu Hafizah bu” jawab ketua kelas.


“Oh sebentar ya ibu cek dulu” aku membuka handphone mengecek kehadiran bu Hafizah di grub sekolah. Aku masuk ke dalam kelas menggantikan bu Hafizah “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”


“Wa….alaikum salam… warahmatullahi… wabarakatuh” jawab seluruh siswa dan siswi.


“Hari ini bu Hafizah berhalangan hadir jadi ibu yang akan menggantikan beliau hari ini” tugas piket aku hari ini adalah menggantikan ibu Hafizah yang tidak berhadir. “Oke sebelum kita belajar apa ada yang mau ditanyakan terlebih dahulu” tanyaku sebagai pembukaan pembelajaran.

__ADS_1


“Bu nama ibu siapa” tanya salah satu siswa.


“Bagaimana kalau kita perkenalan dulu” jawabku.


“Boleh bu” jawab mereka kompak.


“Baiklah nama ibu Kanza Auliya, ada lagi”


“Status bu” teriak salah satu siswa.


“Uuuu” sorak beberapa siswi.


“Sudah, sudah jangan ribut ya. Status ibu masih single”


“Tapi bu, itu ada cincin di jari manis ibu” tanya siswi yang lain.


Aku tersenyum mendengar pertanyaan dari mereka “iya… ibu sudah tunangan, jadi kan masih bisa dibilang single karena belum menikah. Kalau sudah menikah baru gak boleh dibilang single lagi. Paham ya” jelasku kepada mereka dengan statusku.


“Bu saya mau tanya” seru seorang siswi yang lain.


“Iya kenapa, mau ditanya apa”


“Ibu kenapa cantik sekali” tanyanya mencoba menggodaku.


Lagi \- lagi aku tersenyum dengan pertanyaan receh mereka. Saat ini aku sudah sedikit bisa melupakan perasaan galauku berkat mereka.


“Terima kasih atas pujiannya” jawabku dengan lembut, sudah habis pertanyaannya atau ada lagi”


“Gak ada bu” seru mereka kompak.


“Kalau tidak ada, berarti sekarang giliran kalian ya satu - satu ke depan”


“Baik bu” jawab mereka penuh kekompakan.


“Siapa dulu ini yang maju”


“Saya bu” jawab seorang siswa tampan yang super PD. Dia berjalan ke depan kelas dengan pesona dan kegagahannya. “Perkenalkan nama saya Sultan, saya cowok paling ganteng di kelas ini”


“Uuuu” sorak siswa dan siswi lainnya.


“Sudah - sudah jangan ribut ya, nanti mengganggu kelas sebelah” aku menenangkan mereka.


“PD banget si Sultan” bisik siswi ke teman sebelahnya.


“Lanjutin Sultan, hobi kamu apa cita - cita kamu apa” lanjutku.


“Hobi aku bermain bola kaki, cita - cita aku ingin menjadi pilot biar bisa terbang bersamamu” ucapnya dengan gaya tengilnya. Lalu ia duduk kembali di bangkunya.


“Terima kasih Sultan sudah membuka acara kita. Selanjutnya siapa” tanyaku lagi.


“Reni bu” jawab salah satu siswi.


“Pacarnya Sultan” sahut siswi lainnya.


Reni berjalan ke depan dengan malu \- malu namun ia menunjukkan keberaniannya di depan sultan.


“Oke silahkan Reni, perkenalkan namanya, hobi dan cita - cita kamu”


“Baik bu, hallo teman - teman nama aku Renistiara Putri bisa dipanggil Reni” ucapnya dengan gaya centil.


“Tapi bisa dipanggil sayang juga” seru teman sebangkunya.


“Sayang dari sultan” Jawab temannya Sultan.


“Ah kalian ini, masih kecil juga sudah cinta - cintaan, nanti nangis” aku memberi peringatan untuk mereka agar tidak dulu mengenal cinta.


“Gak bu, orang ini bu jodoh - jodohin aku dengan Sultan” Reni membela dirinya.


“Padahal Reni bu yang suka sama Sultan cinta mati bu” seru teman sebangkunya lagi.


“Oke Reni silahkan duduk kembali” titahku. Reni berjalan duduk kembali di bangkunya. “Dengar ya anak - anak ibu semuanya, kalian kan masih sekolah ibu sarankan untuk tidak dulu mengenal cinta, karena cinta itu gak selamanya indah nanti kalian juga akan merasakan pahitnya”


“Dengar itu kalian” seru Sultan.


“Iya nanti akan ada saatnya buat kalian mengenal cinta ya sekarang utamakan dulu sekolah, belajar yang rajin. Kasian kan orang tua kalian capek - capek bekerja cari uang untuk kalian sekolah, nah kalian di sekolah cuma untuk pacaran. Ingat ya pesan ibu”


“Baik bu” jawab mereka kompak.


Tak serasa dua jam pelajaran telah selesai. Bel ganti pelajaran telah berbunyi. Aku keluar dari kelas mereka menuju ke kantor.

__ADS_1


#thank you atas kunjungannya. Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2