Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 110 : Andi Pergi


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


Aku berjalan beriringan dengan Andi. Diam - diam Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat.


“Apa ini?” Tanyaku melihat genggaman tangannya.


“Pegang sebentar” ucap Andi cengengesan.


“Oh gitu”


“Hei… jangan sok romantis kalian” teriak kak Anti dari belakang. Hari ini dia benar - benar meledekku dan Andi sejak dari tadi tanpa hentinya, ada saja yang menjadi akalnya.


Aku dan Andi membalikkan badan kami ke belakang.


“Kalian bisa gini gak?” Kak Anti memeluk suaminya.


“Bisa kak nanti” ucap Andi.


SKIP


Dua hari telah berlalu. Acara liburan bersama keluarga Andi dan aku telah selesai. Setelah mengantarkan aku dan keluarga Andi pulang ke rumahnya.


Minggu ini adalah hari di mana Andi harus bersiap - siap untuk melanjutkan studinya atau pelatihannya di Bandung selama dua tahun. Aku benar - benar harus ikhlas melihat kepergian dia.


Hari aku beserta keluargaku dan keluarganya telah berkumpul di lapangan untuk mengantarkan kepergian Andi. Andi telah siap telah berbagai barang - barang bawaan. Dia telah siap dengan seragam tentaranya.


“Abang… sehat - sehat ya di sana, jaga baik - baik kesehatannya” ucapku.


“Iya sayang… doakan abang ya sayang. Kamu tunggu abang ya, abang akan menjemput kamu kembali”


“Iya” aku benar - benar tidak bisa menahan isak tangisku.


“Kamu jangan menangis, abang pergi untuk kembali. Abang masih punya janji akan menjemput kamu kembali, jangan menangis” Andi mengusap air mataku.


Bagaimana aku bisa tegar? Aku harus melihat kekasihku pergi, apa aku bisa di sini sendirian. Aku telah melewati hari - hari setiap jam, setiap menit dan bahkan setia detik selalu bersamanya. Tapi, sekarang aku harus membiasakan diriku tidak bersamanya, batinku.


“Iya sayang… kamu yang kuat ya” kak Anti menghampiriku lalu memelukku “Ada kakak di sini, abang cuma pergi sebentar kok gak lama” ucap kak Anti mencoba menyemangatiku, padahal dirinya sendiri juga tidak sanggup melihat Andi bungsunya pergi.


Beberapa menit kemudian Andi dan semua anggota tentara lainnya dipanggil untuk berkumpul. Linangan air mataku kini terurai kembali.


“Abang pamit ya ma” ucap Andi memeluk mamanya.

__ADS_1


“Iya abang, selesaikan tugasmu. Setelah itu langsung kembali lalu selesaikan tugasmu di sini” ucap mamanya.


“Ayah… abang pergi ya” ucap Andi memeluk ayahnya.


“Hati - hati nak, jaga shalatnya”


“Ma.. abang pergi ya, maafin abang tidak bisa lagi menjaga adek” ucap Andi mencium tangan mamaku.


“Kamu baik - baik di sana, mama yang akan menjaga Kanza untuk kamu” ucap mama mengelus pelan lengan Andi.


“Ayah, Andi pamit” ucap Andi mencium tangan ayah calon mertuanya.


“Hati - hati nak, cepat kembali” ucap ayah.


Andi datang menghampiri kak Anti


“Kak” memeluk kakaknya.


“Kamu jangan menangis dong, kamu harus kuat. Tentara itu harus kuat tidak boleh cengeng” ucap kak Anti mengelus punggungnya “jaga adek untuk abang ya kak” melepas pelukannya.


“Iya… Kanza aman kok” ucap kak Anti memberikan ketenangan untuk Andi.


“Bang… pamit ya” ucap Andi memeluk bang Riza, abang ipar satu - satunya yang ia miliki.


Setelah berpamitan kepada semuanya, kini Andi datang menghampiriku.


“Adek” panggilnya dengan lembut.


Air mataku terus mengalir tanpa hentinya, aku benar - benar tidak sanggup hari ini akhirnya terjadi. Hari dimana aku harus melihat kepergian Andi, seorang laki - laki yang sudah mengambil aku dari rasa keterpurukan, laki - laki yang sudah berani membuat aku jatuh cinta lagi dan mengenal cinta yang indah itu bagaimana.


Hari ini laki - laki yang aku cintai itu harus pergi meninggalkanku, memang ia hanya pergi karena untuk melaksanakan tugasnya. Tapi… sungguh aku tidak sanggup hal ini terjadi.


“Sayang” panggil Andi mendekatiku.


“Hhmmm” aku bahkan tidak sanggup untuk menjawab panggilannya bahkan aku tidak sanggup menatap matanya lagi.


“Ini handphone abang, abang titipkan di kamu ya” Andi memberikan handphonenya kepadaku. Aku mengambil handphonenya lalu memegangnya dengan tangan kiriku.


“Kamu jangan menangis lagi, abang punya janji untuk menjemput kamu kan” Andi mengusap air mataku “istri tentara itu harus kuat sayang gak boleh cengeng” Andi membuat senyum dibibirku “senyum dong, jangan menangis terus”


Aku tersenyum dalam tangisku.


Beberapa saat kemudian Andi dan seluruh anggota tentara lainnya masuk ke dalam bus. Mereka berlari mencari bus masing - masing. Mereka semua akan dibawa ke bandara khusus anggota tentara untuk melakukan penerbangan.


****

__ADS_1


Kanza, hari ini sudah benar - benar terjadi, ini bukan sebuah hayalan ini nyata. Andi sudah berangkat dengan membawa semua cintaku. Bagaimana keadaan aku di sini, batinku.


Aku bersama keluarga lainnya pulang kembali ke rumah.


SKIP


Sampai di rumah, tanpa berkata apa - apa aku langsung lari masuk ke dalam kamarku. Hari ini aku tidak bisa menahan air mataku. Aku benar - benar sedih melihat kepergian Andi.


Hari demi hari telah berlalu bahkan detik demi detik telah terlewati begitu saja. Kini hampir dua tahun aku melewatinya sendirian. Aku masih bertahan dengan perasaan sedihku. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Andi. Apakah dia baik - baik saja di sana, sungguh akutidak tahu sama sekali.


Kriiing… kriiing bunyi alarm yang membangunkanku. Aku segera bangun lalu mencark keberadaan handphoneku, aku mematikan alarmnya. Aku beranjak dari kasurku ke kamar mandi mengambil air wudhu.


Beberapa menit kemudian, aku keluar mengambil mukena lalu memakainya dan menggelarkan sajadah di lantai.


“Allahu akbar” ucapku memulai takbiratul ihram.


Beberapa menit kemudian.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke kanan “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke arah kiri. Aku mengangkat kedua tanganku “ya Allah ya Tuhanku lindungilah bang Andi, berikanlah ia kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya. Aku sangat berharap ia segera pulang menemuiku dan menjadikan istrinya aaamiiiin” aku menyapukan kedua tanganku ke wajah.


Aku melepas mukena lalu melipatnya kembali dan meletakkannya di rak. Aku mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi mengenakan seragam sekolah, mengenakan make up tipis dan tak lupa menyemprotkan parfum. Aku mengambil tas lalu keluar dari kamar.


“Makan dulu sayang” ucap mama yang sedang makan di meja makan bersama ayah.


“Iya ma” aku berjalan dengan begitu lesu. Aku duduk di samping mama.


“Semangat dong sayang” memegang tanganku “abang pasti pulang menjemput kamu. Kamu harus sabar, semua yang dilakukan dia ini untuk masa depan kalian untuk yang lebih baik lagi” ucap mama memberiku semangat.


“Iya ma”


Setelah selesai sarapan pagi, aku berjalan ke garasi mengambil motorku, memasangkan helm lalu menancap gas perlahan.


“Semangat dong sayang” gumamku di atas motor.


SKIP


Aku telah sampai di sekolah. Memarkirkan motor lalu berjalan ke kantor utama melakukan fingerprint.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2