
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku
****
Keesokan pagi. Aku terbangun dari tidurku mendengar alarm yang seakan memanggilku untuk segera bangun menyambut mentari pagi.
“Huuuuaaaaa, pagi dunia” menguap dan mengangkat kedua tangan. Aku segera beranjak dari tempat tidur pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Sepuluh menit kemudian aku keluar dari kamar mandi lalu mengambil mukena dan sajadah di rak, memakainya lalu menunaikan shalat subuh.
“Allahu….. akbar” mengangkat kedua tangan sampai telinga melakukan takbiratul ihram.
Sepuluh menit kemudian.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke kanan. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh kiri. Lalu aku mengangkat kedua tangan memohon kepada Allah.
Ya Allah jika bang Andi engkau takdirkan masih di dunia ini, berikanlah kesembuhan segera untuknya. Jika memang engkau berkehendak yang lain maka ikhlaskanlah hatiku. Aku tahu ya Allah semua yang ada di muka bumi ini berjalan sesuai kehendak-Mu.” Mengusap wajahku dengan kedua tangan.
Aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu meletakkannya kembali di rak.
“Jadwal aku hari ini, piket jadi harus cepat biar nanti selesai sekolah aku bisa segera ke rumah sakit” ucapku memasukkan baju ganti ke dalam tas. Aku berjalan ke kamar mandi.
Lima belas kemudian, selesai mandi aku memakai seragam sekolah kemudian mengenakan sedikit make up daily untuk sekolah yang tidak terlalu menor. “Pakai parfum yang tidak boleh lupa” aku menyemprotkan parfum di seluruh tubuhku. “Uuh wanginya cetar membahana badai kena halilintar” bercermin “sepi ya tidak ada bang Andi. Biasanya dia selalu menelponku memneriku semangat, kangen bang Andi”
Aku mengambil tas lalu membuka pintu kamar.
“Pagi mama” ucapku kepada mama yang sedang duduk di meja makan sendirian sedangkan ayah sudah pergi sejak pagi tadi bersama teman - temannya memancing ikan di laut.
“Hai sayang, sarapan dulu sini”
“Iya mama” mengambil piring lalu mengambil sesendok nasi goreng dan telur mata sapi.
“Sedikit banget makannya, lagi diet” tanya mama melirik ke dalam piring yang aku pegang.
“Enggak ma” aku termenung melihat isi piring, tak sesendok pun aku melahapnya.
“Kamu kenapa, kok bengong sih sayang?” Tanya mama yang memperhatikanku. Wajahku tanpa murung sekali.
“Aku kangen bang Andi ma, sudah dua bulan lebih dia masih terbaring di rumah sakit ditambah sekarang dia koma ma” jelasku air mataku turun membasahi pipi.
“Sayang… lihat mama. Kamu yang sabar kamu gak boleh menyerah kamu tetap harus berdoa setiap hari memohon kepada Allah. Mama yakin abang akan sembuh. Mama saja bisa seyakin ini harusnya kamu juga bisa dong sayang. Hapus ya air matanya” mama terus berusaha memberiku semangat untuk menunggu Andi sadar. Mama tahu aku begitu rapuh.
Aku mengusap air mataku yang mengalir di kedua pipiku.
“Mama yakin anak mama bisa. Mama tahu kok pasti rasanya berat banget. Biasanya kamu selalu bersama abang dia selalu perduli sama kamu, dia memberikan kasih sayang yang luar biasa untuk kamu. Tapi sekarang kamu harus melihat dia terbujur kaku di rumah sakit. Hati siapa sih sayang yang tidak sakit melihatnya”
__ADS_1
“Iya ma, sebenarnya kakak tidak sanggup menjalani ini semua ma”
“Sayang… kamu harus sabar ya. Kamu harus meyakini bahwa abang akan sembuh”
“Iya ma, terima kasih ya ma”
“Iya sayang, yasudah kamu lanjut makannya. Kamu harus sehat nanti yang jagain abang siapa. Apa kamu tidak mau jagain abang terus??”
“Iya ma, ini kakak makan” aku mengambil sendok lalu menyuapkan nasi dan lauk ke dalam mulutku.
Sepuluh menit kemudian aku telah selesai sarapan kemudian meletakkan piring kotor ke dapur.
“Ma… aku berangkat duluan ya, piket kakak hari ini”
“Iya sayang”
Aku mencium tangan mama, lalu ke luar rumah mengambil motor di garasi, tak lupa aku memakai helm di kepala. Aku menancap gas pelan.
*****
Aku telah sampai di sekolah, memarkirkan motor di garasi lalu aku berjalan ke kantor utama melakukan fingerprint sebagai absen para guru. Setelah itu aku berjalan ke kantor ku yang jaraknya tak jauh dari kantor utama.
“Assalamualaikum” ucapku lalu meletakkan tas di atas meja. Aku berjalan ke gerbang untuk menyambut para siswa dan siswi yang datang.
Semua siswa dan siswi yang berdatangan bersalaman dengan guru piket satu persatu.
“Bu” ucap beberapa siswa yang baru datang dan bersalaman.
“Ke sana dulu ya ambil sampah daunnya”
“Baik bu”
“Kamu ke sana juga” suruhku kepada siswa yang baru datang.
“Kamu ke sana ya” menunjuk sampah daun kering di bawah pohon.
“Baik bu”
Para siswa dan siswi yang datang terlambat mengambil sampah daun yang kering lalu membuangnya ke tong sampah. Setelah itu mereka semua dapat memasuki kelas dan belajar seperti biasa.
“Bu Nita” panggilku kepada guru piket yang hanya tinggal berdua denganku, sedangkan guru piket lainnya ada yang mengajar di jam pertama dan ada juga yang mengontrol kelas yang gurunya tidak ada.
“Iya bu Kanza” jawabnya melirik ke arahku.
“Sepertinya tidak ada siswa atau pun siswi yang datang lagi bu. Apa kita tutup saja pagarnya”
“Iya sepertinya memang sudah tidak ada lagi bu. Saya tutup saja ya” bu Nita menarik pintu gerbangnya. Setelah itu aku dan bu Nita berjalan ke kantor.
__ADS_1
*****
Di kantor.
“Piket ya dek hari ini” tanya bu Juli yang melihatku berjalan ke arah mereka berkumpul.
“Iya kak” jawabku lalu mengambil kursi dan duduk di sampingnya.
“Oh iya bagaimana dek keadaan Andi” tanya bu Susi.
Aku menghela nafas panjang “hmmm masih seperti itu kak”
“Ya Allah, kamu yang sabar ya dek” ucap bu Susi.
“Iya kak terima kasih ya, aku mencoba untuk kuat menghadapi ini semua tapi rasanya berat banget untuk menjalaninya”
“Kamu harus banyak berdoa” ucap bu Juli.
Pak Said berjalan melewati kantor.
“Lurus terus ya pak Said tidak lihat kemana - mana” ledek bu Juli.
Pak Said hanya membalasnya dengan senyuman lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun, ia hanya melirikku dengan tatapan sinis.
Semenjak kejadian kemaren di rumah sakit pak Said tidak pernah lagi bergabung dengan ku dan guru lain yang dekat denganku.
“Apa pak Said tidak bergabung sama kita gara - gara ada aku di sini ya?” tanyaku.
“Mungkin lagi sibuk pak Saidnya itu saja dia pergi ke kantin” jawab bu Juli yang tidak menginginkan aku menyalahkan diriku. Dia berpikir kalau aku belum sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pak Said. Aku tidak mengetahui kalau ternyata pak Said suka kepadaku atau mempunyai rasa kepadaku. Aku hanya tahu pak Said kemaren keceplosan di depan Andi tentang perjodohanku dengan pak Haris beberapa waktu yang lalu.
“Iya bu Kanza, kemaren pak Said ada duduk di sini bergabung sama kita mengobrol banyak”
“Oh syukurlah kalau memang seperti itu. Aku jadi gak enak juga dengan pak Said”
“Seharusnya kami yang bertanya apakah Andi tunangan kamu marah dengan pak Said yang keceplosan kemaren apalagi dia dengarnya ketika dia sedang terbaring sakit” seru bu Susi.
“Alhamdulillah enggak sih bu, karena ketika kalian pulang aku langsung menjelaskannya supaya tidak terjadi kesalahpahaman”
“Syukurlah kalau memang seperti itu”
Krrrriiiiiiing bunyi bel ganti pelajaran berbunyi. Para guru yang mengajar pada jam pertama keluar dari kelas masing - masing. Sebagian dari mereka ada yang berjalan ke kantor dan sebagian lainnya melanjutkan masuk di kelas selanjutnya.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.
__ADS_1