Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 67


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


Aku telah sampai di gerbang sekolah lalu memarkirkan motor di garasi, membuka helm lalu meletakkannya di spion sebelah kanan.


“Baru sampai” tanyaku kepada bu Juli yang sedang memarkirkan motornya.


“Iya ini, saya pikir sudah terlambat” membuka helm lalu meletakkannya di spion.


“Belum bu, masih jam 7.20” melihat jam di lengan kiriku. “Ayo kita finger dulu”


Aku dan bu Juli berjalan ke kantor utama melakukan finger print.


“Terima kasih” suara finger print setelah aku meletakkan jari jempolku.


Setelah menekan finger print aku dan bu Juli berjalan ke kantor kami, di sana sudah ada bu Fizza yang duduk di teras kantor.


“Hai… selamat datang ibu Juli, selamat datang ibu Kanza” ucapnya dengan gembira.


“Haii juga” bu Juli menyapanya balik lalu masuk ke dalam kantor meletakkan tasnya.


“Hai juga bu Fizza tumben hari ini cepat banget datangnya” aku juga menyapanya balik dengan tersenyum manis ke arahnya.


“Biasalah hari ini lagi rajin, eh waktu sampai ke sini belum ada orang yang datang aku deh sendiran”


“Wkwkwk kasian banget sih” Aku berjalan ke dalam kantor meletakkan tas lalu keluar lagi dan duduk bersama bu Fizza. Bu Juli juga ikut keluar dengan buku paket dan absen siswa yang dipegangnya.


“Jam pertama ya kak” tanyaku mengambil kursi lalu duduk di samping bu Fizza.


“Iya ni” duduk di depanku.


“Bu Fizza tidak ada jam pertama??” tanyaku lagi.


“Nanti jam kedua, kalau kamu??” bu Fizza menanyaku balik.


“Sama juga jam kedua”


Krrrrriiiiiiing….. bel masuk berbunyi. Semua siswa yang telah berhadir berlarian masuk kelas menunggu guru yang akan masuk dan seperti biasa siswa yang terlambat akan mendapatkan hukuman mengutip sampah dedaunan yang jatuh di perkarangan sekolah.


Aku masih duduk berasama bu Fizza. Sementara bu Juli berjalan ke kelasnya mengajar.


Kepala sekolah datang menghampiri aku dan bu Fizza setelah berkeliling kelas melihat guru yang masuk.


“Bu tolong, masuk sebentar ke kelas VII. Kalian piket kan?”


“Maaf pak kami bukan guru yang bertugas piket hari ini” jawabku dengan nada lembut.

__ADS_1


“Walaupun bukan piket tolong sebentar ya, itu siswanya berdiri di pintu. Nanti kalau masyarakat melihatnya bagaimana?” Ucap pak kepala sekolah memaksa. Padahal aku dan bu Fizza bukan guru piket yang bertugas untuk hari ini. Namun, bapak kepala sekolah akan selalu menyuruh siapapun guru yang sedang duduk. “Ayo bu silahkan” setelah menyuruh aku dan bu Fizza bapak kepala sekolah berjalan kembali ke kantornya.


“Yok bu” ajak aku kepada bu Fizza.


“Saya malas sekali, selalu bapak itu menyuruh guru yang duduk, dia bukannya memanggil guru piket” gerutuk bu Fizza kesal.


“Ah sudahlah bu, kita tidak bisa memprotesnya lagian kita cuma guru honorer” berjalan bersama ke ruang kelas yang tidak ada gurunya.


“Jadi karena kita guru honorer makanya semaunya bapak itu menyuruh kita, begitu??. Lagian kalau memang seperti itu untuk apa kita diberi jam mengajar dan bertugas sebagai guru piket??. Kita tunggu saja guru yang tidak datang lalu kita masuk” bu Fizza terlalu kesal dengan bapak kepala sekolah yang bertindak tidak sesuai prosedur.


“Sudahlah bu Fizza nanti ada guru lain yang mendengarnya, dilapor lagi ke bapak kepala sekolah kan tidak enak”


“Iya bu Kanza, habisnya saya kesal” bu Fizza memasang wajah kesal ditambah cemberut.


“Padahal masih pagi loh, kenapa harus cemberut gitu sih mukanya. Senyum dong” aku berusaha menenangkan dia.


Aku dan bu Fizza masuk ke kelas yang tidak ada gurunya kami berpisah dan masuk di masing - masing kelas VII A dan VII C.


“Assalamualaikum…” ucapku memasuki ruangan


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab mereka serentak.


“Pelajaran apa sekarang kalian” tanyaku lalu berjalan duduk di kursi guru.


“Bahasa inggris bu” jawab beberapa siswa


“Dengan siapa gurunya??” tanyaku lagi memperhatikan mereka.


“Assalamualaikum, maaf bu saya telat” ucap bu Mawar memasuki kelas dan menghampiriku yang sedang duduk di kursi guru.


Aku bangun dari kursi“Iya bu, saya permisi ya bu” aku berjalan meninggalkan kelas, sementara bu Mawar melanjutkan mengajarnya.


Aku kembali ke kantor, aku melihat bu Susi, bu Dewi , bu Juli dan pak Said duduk bersama. Seperti biasa setiap melihat aku pak Said langsung bangun ingin pergi.


“Duduk saja pak” bu Dewi mencoba menahan pak Said agar tidak pergi.


“Iya pak kenapa harus pergi sih” tambahku, lalu mengambil kursi dan duduk di samping bu Juli. “Apa yang sudah terjadi biarkanlah berlalu pak, untuk apa berlarut - larut” ucapku yang sudah melupakan apa yang sudah terjadi.


“Iya pak lagian bu Kanza juga sudah tahu kalau dulu bapak pernah menyukainya” ucap bu Juli keceplosan yang membuat wajah pak Said terlihat malu.


“Siapa juga yang menyukai bu Kanza” pak Said mencoba mengelaknya.


“Iya pak, saya berterima kasih kalau dulu bapak pernah menyukai saya. Saya berterima kasih banget karena saya pernah disukai oleh bapak. Namun sekarang bapak dan saya sudah mempunyai pasangan masing - masing. Kita sudah punya kehidupan masing - masing. Jadi menurut saya kita tidak perlu marahan seperti ini. Seperti kalau ada saya bapak tidak mau bergabung lagi dengan kita semua. Santai saja pak hidup itu terus berjalan dan yang lalu biarlah berlalu” ucapku panjang lebar.


“Iya pak Said saya setuju dengan bu Kanza. Kita di sini bekerja karena bekerja di sinilah kita saling mengenal satu sama lain dan kita sudah menjadi sahabat seperti sekarang ini. Jadi apapun hal yang dapat merusak persahabatan kita mohon kita singkirkan. Ini tidak berlaku untuk pak Said dan bu Kanza saja tapi untuk kita semua” jelas bu Juli yang ingin kita semua kompak tidak terpecahkan oleh hal - hal yang merugikan.


“Iya bu Juli benar, saya setuju dengan omongan bu Juli. Kita bukan seperti sahabat lagi tapi kalian semua sudah menjadi keluarga bagi saya. Saya merasa sangat bahagia bisa bekerja di sini walaupun sebagai guru honorer di sini. Saya sangat bersyukur bisa mengenal kalian semua” ucap bu Susi.


“Apa lagi saya yang pendiam seperti ini. Dan dicap sombong oleh kebanyakan orang karena saya tidak banyak berbicara tapi bersama kalian saya menjadi pribadi yang cerewet” ucap bu Dewi sambil tertawa.

__ADS_1


“Masak sih bu Dewi pendiam” ledekku karena menurut penglihatanku bu Dewi selalu banyak berbicara dan suka memberikan ceramahan kalau ada di antara kami yang berbuat salah atau salah dalam mengambil langkah untuk melakukan sesuatu.


Bu Dewi tersenyum tipis “itulah… sama kalian saja saya begini kalau sama yang lain ya begitulah, berdiam diri” ucapnya membela dirinya.


“Jadi pak Said dan bu Kanza sekarang maaf - maafan dong, hilangkan pikiran buruk dari otak kalian” ucap bu Juli.


“Ih apasih aku sudah memaafkan pak Said kok dengan setulus hati” jawabku yang salah tingkah.


“Ayolah, kekasih yang belum jadi ini” ledek bu Juli.


“Iya ayolah jangan malu - malu. Ayo bu Kanza ulurkan tangannya. Ayo pak Said ulurkan tangannya” ucap bu Dewi.


Aku mengulurkan tangan kananku ke hadapan pak Said begitu juga pak Said yang mengulurkan tangannya ke hadapanku. Akhirnya aku dan pak Said baikan. Tidak ada lagi permusuhan diantara kita.


“Nah gitu dong. Padahal kalian berdua cocok lo” ledek bu Susi.


“Ah jangan ngomong seperti itu bu Susi nanti marah istri pak Said” ucapku lagi.


“Iya cocok sekali padahal kan” ucap pak Said yang mencoba untuk bercanda.


Bu Fizza datang menghampir kami, wajahnya terlihat sangat kesal.


“Ih sebel banget aku sama pak kepala itu, kapan sih dia pindah dari sekolah ini” gerutuk bu Fizza kesal, emosinya terlihat membludak - bludak. Ia mengambil kursi dan duduk di samping bu Dewi.


“Aduh yang masih kesal” ledekku melirik ke arah bu Fizza


“Kenapa sih neng cantik” tanya bu Susi.


“Itu bapak kepala sekolah itu, sebel banget aku lihatnya”


Aku cengengesan melihat wajah kesal bu Fizza.


“Kenapa sih” tanya bu Juli.


“Jadi tadi pagi aku dan bu Fizza duduk di sini berdua datanglah bapak kepala sekolah menghampiri kami” jelasku mengenai apa yang terjadi.


“Pasti suruh masuk jam orang kan?” belum selesai aku bercerita bu Dewi langsung menyerobotnya.


“Ya itulah, untung kelas yang saya masuk tadi langsung masuk bu Mawar”


“Lah saya tidak bisa keluar lagi gara - gara bu Nuri tidak hadir. Aku sebelnya, kenapa bapak itu menyuruhnya kepada kita bukannya kepada guru yang piket”


“Ya itulah bapak itu, saya rasa dia tidak tahu aturan sekolah ini” ucap pak Said yang juga ikut kesal.


Kriiiiing…. bunyi bel jam pertama telah usai. Sekarang waktunya jam pelajaran kedua aku, bu Fizza dan pak Said berjalan ke kelas masing - masing untuk mengajar.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2