Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 58


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


Shadaqallahul-'adzim” aku dan yang lainnya mecium Allah Al quran selesai mengaji. Kemudian bershalawat kepada nabi


“Sholallah ala muhammad


Shollallah alaihi wasallam


Shollallah ala muhammad


Shollallah alaihi wasallam


Shollallah ala muhammad


Shollallah alaihi wasallam


Shollallah ala muhammad


Ya Rabbi sallialaihi wassalam” seru kami semua dengan irama dan penuh penghayatan. Setelah itu kami semua bersalam dan memohon maaf.


Setelah selesai aku, mamaku, mama dan kak Anti melipat kembali mukena dan sajadahnya.


Setelah pengajian hatiku merasa sangat tentram dan damai. Bagaimana pun kondisi kita susah atau pun senang atau masalah apapun yang kita hadapi kita memohon kepada Allah untuk kemudahan dan kelancarannya.


Para bapak - bapak keluar dari ruangan mereka duduk santai di kursi panjang yang telah tersedia di depan ruang VIP.


Andi tidur di pangkuan mama


“Duh manja banget sih anak mama, malu itu dilihat mama mertua kamu”


Mamaku tersenyum ke arahnya. Andi yang merasa malu segera bangun dari pangkuan mamanya.


“Dih malu dia” ledek kak Anti.


“Apa sih kak” wajah Andi memerah.


“Lebih tenang ya kita sekarang setelah mengaji bareng” seru mama Andi


“Iya bu, rasanya lega banget”


“Ma…. Abang kok jadi takut ya sekarang”


“Tidak boleh takut sayang, serahkan semuanya kepada Allah” jawab mamanya.


“Iya abang, kamu tidak boleh takut. Ada Allah semua telah diatur oleh Allah” mamaku juga memberikan semangat untuknya.


“Maksih ya ma” Andi mengucapkan kepada kedua mamanya.

__ADS_1


“Iya abang, abang tidak boleh menyerah ya. Adek, kak Anti, mamanya abang dan mamanya adek akan terus mensuport abang. Abang harus semangat dong”


“Iya terima kasih ya sayangku, cintaku, bohateku” ucapnya.


“Lebay” ledek kak Anti.


“Iya tuh bang Andi lebay” ucapku membela kak Anti yang meledeknya.


“Ledek terus ledek terus serang terus”


“Kamu tidak ada yang membelanya ya bang, duh kasian” aku memeletkan lidahku.


“Hayyo anak orang nangis” ledek kak Andi


“Masa anak cowok nangis gak lah” Andi membelanya sendiri.


“Itu buktinya mau nangis” terus saja kak Anti meledeknya.


“Aku bilangin mama aku nanti” karena merasa dirinya kalah, Andi ingin mengadu ke mamanya.


“Wajarlah anak kecil suka ngadu” aku dan Kak Anri terus meledek Andi berharap ia akan menangis.


“Ah aku mau pergi” Andi bangun dari lesehan lalu berjalan ke ranjangnya.


“Mau kemana abang” tanyaku melihat ia bangun.


“Kalah deh si abang. Makanya mau pergi”


*****


Malam harinya suster datang menjemput Andi di ruangannya. Suasana malam itu benar - benar sangat mencekam, ditambah rasa cemas dan khawatir pada wajah setiap orang.


Andi masih membaringkan tubuhnya di atas ranjang “ma” menggenggam tangan mamanya “mohon doanya ya ma” Andi mengeluarkan air matanya.


“Iya sayang”


“Ma… doain abang ya” Andi juga meminta doa kepada calon mama mertuanya.


“Kak… doain abang ya. Abang titip adek ya tolong jaga dia untuk abang ya”


“Kamu jangan ngomong seperti itu kamu pasti akan sembuh. Kakak pasti doain kamu”


Air mataku sudah tak dapat terbendung, sekarang aku harus melihat Andi menjalankan operasi.


“Adek… sayang…” Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya erat. Air mata membasahi pipi Andi “Doain abang ya” itu satu - satu yang Andi minta kepadaku.


Aku hanya mengangguknya aku tidak tahu mau berkata apa. Yang aku harapkan sekarang semoga operasinya berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun.


Andi meminta doa kepada ayahnya dan calon ayah mertuanya.

__ADS_1


“Sudah siap pak” tanya suster bersiap mendorong ranjang Andi.


“Iya sus” jawabnya tanpa ragu. Andi ingin dirinya cepat sembuh karena ia melihat pengaharapan di setiap wajah mama, ayah, kak Anti dan aku. Andi tidak ingin melihat kami semua kecewa kalau dirinya tidak sembuh.


Suster mendorong ranjang Andi perlahan membawanya ke ruang operasi. Sementara yang lain berjalan mengikuti mereka dari belakang dan duduk di depan ruang operasi.


******


Pukul 19.10 Andi telah berada di ruang operasi, Andi memakai seragam operasi berwarna hijau. Suster memasang alat Elektrokardiogram yang berfungsi untuk mengukur dan merekam aktivitas pada detak jantung. Lalu suster menyuntikkan obat bius di lengannya. Suntikan pertama begitu sakit dirasakan oleh Andi bahkan ia berteriak sekerasnya. Suster menyuntikkan obat bius kedua kalinya yang membuat Andi tidur tidak sadarkan diri.


Dokter telah siap dengan baju hijaunya lalu berjalan masul ke dalam ruangan.


“Sudah dibius pasiennya?” tanyanya, mengambil sarung tangan lalu memakainya.


“Sudah dok” jawab suster.


Dokter memulai aksi, suster memberikan pisau bedah ke tangan dokter. Dokter menyayat kulit kepala Andi perlahan darahnya mulai keluar. Para suster di samping mengelap darah yang keluar. Setelah menyayat kulit kepalanya dengan kedalaman beberapa cm dokter membuka bagian kulit kepala yang sobek lalu mencari keberadaan tumornya. Tumornya terletak di sebelah kiri otak kanannya Andi. Lalu dengan singap dokter memotong tumornya beserta jaringan - jaringannya.


***


Sementara di luar ruangan operasi aku duduk sendirian di dekat jendela. Hatiku selalu memohon kepada Allah berharap kelancaran operasinya. Aku terus menunggu pintu ruangan operasi itu terbuka. Aku ingin sekali menemui Andi dan menemaninya. Air mataku terus berjatuhan pikiranku terkadang terlintas isi mimpiku.


“Dek” panggil kak Anti mendekatiku “sudah ya jangan menangis lagi. Kamu berdoa kepada Allah pasti abang di dalam akan baik - baik saja” ucapnya mengelus punggungku


“Iya kak”


“Jangan menangis lagi ya” kak Anti pergi meninggalkanku.


“Oh iya, aku baca ayat kursi saja terus untuk menenangkan hatiku” pikirku lalu aku membaca ayat kursi dan berniat untuk kelancaran operasinya di dalam hati.


Bismillah rahman rahim Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim.


Aku terus mengulangnya.


****


“Alhamdulillah kita berhasil” ucap dokter setelah mengangkat tumornya.


“Alhamdulillah” ucap beberapa suster yang menemaninya.


Setelah itu dokter menutup kembali kepalanya dengan cara menjahitnya.


“Dok…. dok detak jantung pasien melemah” ucap suster yang melihat alat Elektrokardiogram.


“Hah??” dokter merasa panik lalu ia menenangkan dirinya karena jika seorang dokter panik dalam menjalankan tugasnya maka akan berakibat fatal bagi pasiennya. “Kamu ambil itu” dokter menujukkan alat pacu jantung. Suster memberikannya kepadanya lalu dokter menjalankan alatnya, alat ini akan mengirimkan kejutan berupa listrik ke jantung untuk membantu merangsang agar detak jantung dan otot pada jantung kembali berfungsi. Namun ternyata alat itu tidak memperlihatkan reaksinya sama sekali. Keadaan Andi menjadi tidak stabil.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2