Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 71


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku


*****


Andi menatap wajahku dengan serius


“Waktu pertama sekali kita bertemu kamu langsung bisa akrab mengobrol dengan abang. Tanpa melihat abang ini seorang pria seperti apa, kamu terlihat enjoy saja begitu. Dan waktu abang bilangnya kerja abang cuma ikut - ikut bang Adam ya abang lihat kamu gak memasalahkan itu semua. Terus waktu kamu tahu kalau abang ini tentara, gak ada tuh caper - caper sama abang malah kamu santai saja. Biasa kan sayang kalau seorang cewek didekati oleh pria berseragam maaf ya, bukannya abang membanggakan diri. Tapi ini berdasarkan pengalaman orang dan abang juga”


Aku hanya menggangguknya


“Biasa cewek itu akan caperlah. Cari - cari perhatian gitu karena bangga banget tuh bisa dekat sama pria berseragam. Tapi abang tidak melihat itu di diri adek. Tapi apa mungkin karena adek cewek berseragam juga kali ya hihi” Andi cengengesan.


“Eum enggak juga, adek boleh bicara” aku menatap wajahnya balik.


“Boleh lah sayang”


“Jujur adek suka sama abang bukan karena abang pria berseragam tapi dari rasa kasih sayang dan cintanya abang yang membuat adek jatuh cinta sama abang. Abang tahu kan adek pernah kecewa”


Andi menggangguknya


“Jadi abang itu memiliki obat penawar sakit karena sebuah pengkhianatan” ucapku mataku terlihat berkaca - kaca.


“Sebegitu dalamnya kah dia menggali luka di hatimu sayang. Sampai membuatmu sedemikian ini. Doakan abang ya sayang abang akan selalu bisa menjadi penawar itu”


“Semoga sayang. Luka pengkhianatan itu rasanya sakit banget sayang. Jadi adek hanya meminta kepada abang untuk tidak melakukan hal serupa untuk adek” pintaku kepada Andi.


“Abang tidak bisa menjanjikan apa - apa. Tapi abang akan berusaha semampu abang untuk memberikan yang terbaik untuk adek termasuk seluruh hati abang”


“By the way any way bus way kok kita jadi mellow gini sih sayang” menghapus air mataku.


“Iya tuh kamu. Lagian pertanyaan kamu ada - ada saja. Sudah tahu cintanya abang ya kamu m, pakai ditanya ini itu segala lagi”


“Iya kan biar ada mellow - mellownya sikit”


“Nanti nangis”


“Sudah nangis ini sayang” pura - pura menghapus air mata.


Hari semakin larut.

__ADS_1


“Assalamualaikum” suara ketukan pintu terdengar, mama Andi dan ayah masuk ke dalam ruangan.


“Ma… ayah….” aku mengulurkan tangan bersalaman dengan keduanya.


“Bagaimana keadaan abang” tanya mama mendekati Andi lalu mengelus pelan lengan berotonya walaupun Andi terlihat kurus namun otot lengannya belum meleleh.


“Tadi dokter Elita bilang ma, kalau besok siang kemungkinan abang sudah boleh pulang ma” jawabku


“Bagus dong” mama begitu senang mendengar bahwa putranya sudah diizinkan pulang. “Oh iya mama bawa makanan ini buat kalian”.


“Buat abang ya ma” Andi merebut plastik makanan dari tangan mamanya.


“Berdua, bagi - bagi sama adek” melipat lengan bajunya.


“Adek lagi diet ma, abang saja yang makan” ucap Andi ingin menghabiskan semua makanannya untuk dirinya sendiri.


“Kata mama tidak boleh rakus. Bagi sini” aku menarik plastik makanannya yang dipegang erat oleh Andi.


“Kalian berdua ya persis seperti kucing sama tikus”


“Abang kucing ma, soalnya kucing imut manis lagi. Kalau tikus bau kasih buat adek saja ma”


“Yah dikira mama lagi bagi - bagi hewan kali ya” gerutuk mama


“Perempuan apaan?? perumpamaan” Andi membetulkan ucapanku yang salah.


“Ah pusing mama, yah ayo kita shalat isya dulu” mama mengajak ayah yang sedang duduk santai di sofa “pusing mama sama mereka berdua ini kayak anak kelaparan berbulan - bulan tidak makan kalau sudah melihat makanan” ucapnya menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Abang kan ma” ucapku


“Adek ma adek. Adek kan norak ma. Kamseupay kampungan sekali uh payah”


“Kkaaepjang” mengacungkan jempolku ke arah Andi “bang kalem lah malu dilihatin ayah” bisikku namun suaraku sedikit keras sehingga dapat didengar oleh mama.


“Sama mama tidak malu” ucap mama melirik ke arah aku dan Andi.


“Mama kan best friend” ucapku dan Andi kompak.


“Kkkaeepjjang” ucap mama menyalin kata - kataku “mama sama ayah shalat isya dulu sekalian mau pacaran, adek jangan pulang ya” mama dan ayah keluar meninggalkan aku dan bang Andi si cowok dan si cewek rusuh.


Aku begitu bahagia bisa bertemu dengan keluarga ini. Anak lelakinya menjadikan aku sebagai ratu dan mamanya menjadikan aku anak perempuannya. Rasanya… kebahagian itu benar - benar lengkap aku dilahirkan dari keluarga yang seluruh cinta kasih dan sayangnya diberikan untukku seluruhnya. Setelah dewasa aku juga mendapatkan seorang laki - laki yang begitu tulus menyayangiku begitu juga dengan keluarganya. Aku dianggap anak oleh mereka bukan orang asing yang masuk dalam keluarga mereka.

__ADS_1


“Sayang bagilah” rengekku melihat Andi membuka kotak mie goreng yang wanginya begitu menggoda.


“Kamu mau” dia menyodorkan kotak mienya tepat di hidungku hingga seluruh aromanya terhirup oleh kedua lubang hidungku.


“Sayang tadi kata mama makanannya dibagi dua sama adek terus kata dokter El orang sakit tidak dibolehkan untuk makan mie. Orang sakit makannya bubur ayam saja” jelasku supaya Andi membagikan mie untukku.


“Yang sakit siapa sayang” Andi membuka sumpit lalu menyumpit mienya “nih aamp” bawel banget


Aku mengunyah mie dari hasil suapannya.


“Hah, mau ngomong apa lagi. Makanya jangan bawel jadi orang” Andi menyuapkan untuk dirinya.


“Sayang…” panggilku cukup mendayu.


“Apa, pasti mau minta lagi kan oh atau mau bilang abang ganteng” menyuap mienya lagi untuk dirinya sendiri.


“Aku bilangi mama nanti ya kamu gak bagi - bagi sama aku mienya. Terus satu bungkusnya lagi kamu umpetin”


“Tukang ngadu ini, yasudah nih amp” menyuapkan aku lagi tapi porsinya cuma sedikit kira - kira 2 mie saja.


“Pabo… kamu ikhlas tidak sih” gerutukku kesal. Bukannya membujukku atau menyuapku lagi Andi malah tertawa terbahak - bahak hingga membuat kekesalanku bertambah.


“Ah kenyang…., ini buat kamu” Andi meletakkan sumpit di dalam bungkusan mie lalu memberikan mie yang tinggalnya setengah untukku.


“Kalau sudah kenyang baru kasih buat aku. Kasih baik - baik kek” gerutukku lagi.


“Ini sayangku cintaku bohateku, mienya untuk kamu ya cinta. Abang sudah kenyang” memberikan bungkusan mie untukku.


Karena baik hati aku mengambil bungkusan mienya, lalu memakan mienya perlahan “abang beneran tidak mau lagi mienya” tanyaku memastikan.


Andi mengangguknya pelan lalu dengan nakalnya ia mengambil bungkusan mie yang satunya lagi. Aku melihatnya dengan tatapan bingung.


“Bisa kamu sayang ya bisa” ledekku mengacungkan jempol ke arahnya.


Andi tertawa ngakak melihat wajahku yang begitu polos “sayang mie ini terlalu enak untuk dibagi - bagi” ucapnya mulutnya penuh dengan mie.


“Ka kupateh (mengerti saya) abang” aku menepuk tangan. “Untung kamu lagi sakit ya bapak Andi kalau tidak habis kamu di tangan saya” menggepalkan tangan kananku. Aku begitu geram dengan tingkah Andi bagiku malam ini dia benar - benar menyebalkan. Tapi bagaimana bisa aku menyanyangi orang sejahil ini.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2