Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 104 : Fansnya Andi


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


“Abang kenapa lama sekali kembali ke sini?” Tanyaku melirik Andi yang sedang duduk dan memainkan handphonenya.


Mata Andi yang terfokus ke handphonenya sedikit mendongakkan kepalanya melihatku.


“Kenapa?? Kamu kangen sama aku ya” lirihnya.


“Eum… enggak sih, cuma tanya saja. Kadang nanti kamu diculik, bisa aku selamatin” ucapku asal.


“Alah… bilang saja kalau kamu kangen sayang” Andi mematikan layar handphonenya lalu meletaknya di atas meja yang berada di sampingnya “adek tahu gak sewaktu abang ke sini tadi dan…. kan abang bawa - bawa bunga dan boneka itu, dilihatin tahu sama orang - orang” ucapnya dengan malu - malu.


Aku cengengesan mendengar perkataan Andi.


“Ya ampun sayang, tapi memang iyalah tumben banget abang kasih beginian”


“Itulah, gak tahu tadi abang kepikiran saja pas jalan ke sini”


“Tapi terima kasih banyak loh sayang, adek suka banget sama boneka shooky ini” aku memeluk boneka pemberian Andi.


“Iya sayang, abang juga senang kalau adek menyukainya” mengelus pelan kepalaku.


*****


Keesokan harinya, keadaanku sudah benar - benar pulih. Aku sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang ke rumah. Mama dan aku membereskan semua barang - barang.


Kriiiing…. Kriiing… kriiiiing… dering handphoneku, pertanda panggilan masuk. Aku mengambil handphoneku yang terletak di atas meja.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum abang


Andi


Waalaikumsalam sayang, sayang abang masih di kantor, sebentar lagi abang ke sana ya. Sudah selesai beres - beresnya sayang?


Aku


Iya abang, sebentar lagi abang. Abang kesini ya, mama buru - buru mau ke tempat saudara sebentar sayang ada saudara yang meninggal dunia.


Andi


Adek berani tinggal sendiri kan?


Aku


Berani sih


Andi


Yasudah, bilang saja sama mama untuk berangkat duluan. Sebentar lagi abang langsung ke sana.


Aku


Iya abang


Aku menutup panggilannya.


“Abang yang menelpon ya kak?” Tanya mama yang memasukkan bajuku ke dalam tas.


“Iya ma, katanya abang sebentar lagi baru bisa ke sini. Mama kalau mau berangkat duluan tidak apa - apa ma”


“Kamu berani sendirian di sini”

__ADS_1


“Berani mama”


“Yasudah selesai mama packing ini” menunjukkan semua barang - barang yang harus dimasukkan ke dalam tas “mama ke sana ya sayang”


Aku menganggukkan kepalaku pelan.


Setelah selesai mengemasi barang - barang, mama pergi meninggalkanku sendirian.


Beberapa menit kemudian.


“Huuft abang kenapa belum sampai sih” gumamku sendirian. Aku mengambil handphonenku lalu menscroll media sosial.


***


“Pak Andi, tolong persiapkan berkas ini. Nanti sore harus diantar ke kodim ya” ucap komandan Rusdi.


“Siap! Iya ndan. Saya permisi keluar sebentar ndan!”


Komandan Rusdi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Andi berjalan keluar pintu koramil menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.


# di tempat parkir


Andi membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam, memasang seat belt lalu menyalakan mesin mobil dan menancap gas perlahan.


“Adek kan sudah sembuh, apa aku membelikan dia bunga lagi ya supaya dia lebih bahagia” gumamnya.


Andi melajukan mobilnya ke toko bunga yang pernah ia singgahi sebelumnya.


# Toko Bunga


Andi memarkirkan mobilnya di depan toko bunga, setelah menarik rem tangan. Ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko.


“Oh bapak, silahkan masuk pak” ucap bapak penjaga toko yang sudah mengenali Andi.


“Pasti bunga untuk kekasihnya lagi”


“Iya pak, bunga seperti kemaren ya pak tiga tangkai” ucap Andi yang meminta bunga mawar merah.


“Baik pak, saya ambil dulu”


Beberapa detik kemudian, penjaga toko memberikan Andi tiga tangkai mawar merah yang masih sangat segar.


“Ini pak” memberikan bunga mawar merah yang sudah dibungkus rapi. Andi mengambil bunganya lalu membayarnya. Setelah itu Andi kembali ke parkiran mobilnya.


SKIP


Andi telah sampai di parkiran rumah sakit Citra Medika. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang teduh. Setelah mematikan mesinnya ia keluar dari mobil dengan membawa mawar yang sebelumnya ia beli. Andi berjalan dengan sigapnya.


“Eh itu kan cowok kemaren” ucap cewek yang kemarin terpana melihat ketampanan dan kegagahan Andi.


“Oh iya”


“Ternyata dia seorang tentara guys. Pantesan cool begitu gayanya”


“Jadi mau berkenalan dengan dia”


“Mau ditembak kamu”


“Tapi kalau ditempat pakai cinta boleh kali ya”


Andi berjalan melewati ketiga cewek itu sembari tersenyum ke arah mereka, yang membuat mereka sampai terpana.


“Wish… gila wangi banget” menghirup aroma yang tertinggal setelah Andi lewat.


“Iya wangi banget”


“Sudah tampan, wangi lah masyaallah”

__ADS_1


Langkah Andi terhenti karena ada seseorang di depannya.


Yah dia lagi, batin Andi setelah melihat dokter Elita yang mencegat perjalanannya. Ia tersenyum manis memandang Andi.


“Kalau jodoh selalu bertemu ya pak, Tuhan memang selalu punya cara untuk mempertemukan kita”


“Apa sih dok” ucap Andi lemas, ia sama sekali tidak menginginkan bertemu dengan dokter Elita.


***


Dari kejauhan ketiga cewek yang tiba - tiba menjadi fansnya Andi memperhatikan Andi yang sedang berbicara cukup dekat dengan seorang dokter yang begitu cantik.


“Guys… guys” mencolek teman di sebelahnya.


“Apa sih?”


“Itukan cowok yang tadi” menunjuk ke arah Andi dan dokter Elita.


“Dimana? Dimana?” sibuk mencari keberadaan Andi.


“Ituloh” memegang bagian wajah temannya lalu menunjukkan keberadaan Andi.


“Wah itu pasti ceweknya”


“Patah hati deh guwe” memegang dadanya.


“Tapi gantengan cowoknya dari pada dokter itu, tapi perhatikan deh gaya dokter cewek itu centil begitu kan?”


“Iya ya… semoga mereka cepat putus aaamiiin” mengusap wajahnya.


“Aaamiiin”


“Tapi memang tampan bangetkan tentara itu, tidak simbong lagi buktinya dia senyum ke arah kita tadi”


“Iya mana senyumannya manis banget lagi, diabetes aku”


“Yasudah ayo kita kembali ke ruangan Dita lagi” ucap salah satunya lalu mereka berjalan kembali ke dalam ruang inap saudaranya.


***


“Dok, maaf ya saya harus pergi”


“Jangan buru - buru begitu dong pak” dokter Elita mencegah kepergian Andi.


“Dok, kamu itu seorang dokter tidak sepantasnya kamu bersikap seperti ini” ucap Andi sedikit membentak “apalagi ini di rumah sakit. Apa dokter tidak malu dilihat oleh pasien doktee sendiri? Atau rekan kerja dokter?”


“Jadi kalau bukan di rumah sakit boleh berarti ya pak” dokter Elita merangkul tangan Andi, Andi langsung melepaskan rangkulannya ia berjalan dengan sangat cepat meninggalkan dokter Elita “dasar dokter gila iiih” membalikkan tubuhnya melihat ke belakang.


Kemana pun kamu lari akan aku kejar pak Andi, batin dokter Elita menatap kepergian Andi meninggalkan dirinya.


Tok… tok… tok.. Andi mengetuk pintu ruanganku. Ia membukakan pintu lalu berjalan masuk ke dalamnya. Nafasnya terlihat ngos - ngosan.


“Kenapa sayang”


“Aaa” menghembus napasnya dengan cepat.


“Ini kamu minum dulu” aku memberikan Andi minuman.


Andi duduk di kursi, menenangkan dirinya lalu meneguk minuman pemberianku.


“Tadi abang bertemu dokter gila”


“Maksudnya???”


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2