
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
*****
Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa menit. Akhirnya aku dan Andi sampai di depan gerbang rumahku. Andi memarkirkan mobilnya.
“Abang tidak masuk?” Tanyaku mengambil barang - barang.
“Abang langsung pulang ya sayang, nanti malam abang piket ganti yang semalam” ucapnya membantuku membawa barang - barang lalu meletaknya di depan pintu utama “abang langsung pulang ya”
Aku mengulurkan tangan lalu mencium tangannya, Andi menyambut tanganku “metuah, abang pulang ya sayang”
“Iya abang… hati - hati ya menyetir mobilnya jangan mengebut”
Andi jalan ke depan gerbang lalu masuk ke dalam mobilnya dan menancap gasnya perlahan.
Sementara aku, aku membawa masuk semua barang - barang dari rumah sakit satu persatu. Setelah itu aku berjalan ke kamar aku merebahkan tubuhku di atas kasur.
“Akhirnya…. aku bisa tidur lagi di kasur kesayanganku ini” mengelus lembut kasur, aku mengambil guling lalu memeluknya. Perlahan mataku mulai terpejam.
****
Beberapa hari kemudian adalah hari minggu dimana rencana aku dan Andi jalan - jalan bersama keluarga terlaksana.
Aku, ayah dan mama telah bersiap - siap dengan mempacking semua barang - barang yang perlu dibawakan ke sana. Aku menunggu jemputan dari Andi.
Beberapa saat kemudian, mobil Andi telah terparkir rapi di depan gerbang.
“Assalamualaikum….” Andi mengetuk pintu.
Mendengar ketukan pintu aku berlari ke arah pintu utama untuk membukanya.
“Waalaikumsalam sayang” aku membuka pintu lalu tersenyum manis ke arahnya. Aku melihat Andi dari ujung rambut sampai ujung kakinya yang dilapisi sepatu. Mataku terpana dengan ketampanan Andi hari ini, menurutku tingkat ketampanannya bertambah drastis hari ini lain dari hari biasanya. Apalagi Andi memakai kaos berwarna hitam lengan pendek yang menampakkan otot di lengannya ditambah celana jeans yang sedikit ngepas di pahanya. Aroma tubuh Andi tercium semerbak ditiup angin sepoi - sepoi, menambahkan nilai plus di mataku. Bagaimana tidak aku sangat menyukai lelaki yang wangi dan memakai kaos berwarna hitam. Menurutku itu bisa mengalahkan pangeran dari negeri manapun “masuk sayang”
“Taheu that kalen abang sampek hana kedip (termenung sekali melihat abang sampai tidak berkedip) kenapa? Abang tampan kan hari ini? Pasti dong tampan? Iyalah kan mau jalan sama cewek kesayangan abang” Andi meledekku.
“Apa sih abang” ucapku terlihat malu - malu.
“Ciee yang mau jalan - jalan sama pangeran ya?” Andi tambah meledekku yang membuatku salah tingkah.
“Bantuin angkatin barang sana” ucapku ingin menyudahi ledekan Andi.
“Siaaaap!!! Komancan!!”
“Komancan?? Apa itu”
“Ya komandan cantiklah” mencolek daguku setelah itu ia berlari ke dalam rumah.
“Nakal kamu ya” aku berusaha mengejarnya.
“Ma… sini abang bawain” ucap Andi mengambil barang - barang.
“Ma… caper itu ma”
“Apa caper?” Tanya mama.
“Cari perhatian abang ma” jawabku sedikit berteriak dan mataku melirik Andi.
“Siapa yang caper? orang aku tulus banget” Andi membawa barang - barang ke mobilnya.
Setelah semuanya selesai aku, mama, ayah dan Andi masuk ke dalam mobil. Aku duduk di barisan nomor dua bersama mama sedangkan ayah duduk di depan dan Andi yang menyetir mobilnya.
Sementara dari keluarga Andi, mereka sudah berangkat duluan. Ayah, mama, kak Anti, suaminya dan Ziya baby mungil yang menjadi cucu pertama di keluarga Andi.
***
Selang beberapa jam kemudian, kami semua telah sampai di hotel.
Andi memesan 5 kamar hotel.
Kamar pertama untuk mama dan ayahku, kamar kedua untuk mama dan ayahnya Andi, kamar ketiga kak Anti dan bang Riza suaminya kak Anti. Kamar keempat untuk Andi dan kamar terakhir untukku.
Kamarku dan kamar Andi bersebelahan, sementara kamar yang lainnya agak berjauhan dari kamar kami berdua. Andi sengaja memilih kamar yang berdekatan denganku. Bukan untuk bermaksud macam - macam, tapi ia lebih ingin dekat denganku. Katanya kalau jauhan nanti kangen.
#di kamarku
Aku membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya. Aku meletakkan tas bawaanku di samping ranjang. Aku mengambil handphone lalu merebahkan tubuhku di atas kasur.
“Aaaa capek banget” aku membuka handphoneku lalu mengirimkan pesan ke Andi.
Via chattingan
Aku
Abang
Abang
Abang
Andi
Apa nih berisik banget, seperti di hutan saja kamu.
Aku
__ADS_1
Aku laper. Please tolong aku. Selamatkan aku dari rasa kelaparan ini.
Andi
Lapar ya makanlah. Apa pula berkoar - koar.
Aku
Aku miskin, tidak mampu membeli makan.
Andi
Hahahaha ngamenlah
Aku
Aku tidak sanggup untuk ngamen, nanti kecantikan aku luntur terkena sinar matahari.
Andi
Banyak alasan!!
Tok….tok…tok… suara ketukan pintu yang terdengar di kamarku. Aku beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu, melihat siapa yang datang.
“Abang… kenapa ke sini? Kangen sama aku ya?” Ucapku dengan PDnya.
Baaaam… Andi menepuk jidatku.
“Aw” ringisku memegang jidatku yang sama sekali tidak sakit.
“Katanya lapar, hayyuk makan. Sekalian kita membeli untuk mereka semua”
“Ayo.. ayo”
“Ayo.. kemana?”
“Cari makan sambil pacaran sebentar” ucapku menutup pintu lalu menarik tangan Andi dan menggandengnya ke parkiran mobil.
“Pacaran??? Memangnya kita pacaran??”
“Tidak sih, tapi kita sudah tunangan dan itu lebih dari segalanya”
“Bisa saja sayangku, cintaku, bohateku” Andi mengangkat tangannya bersiap - siap mau menepuk jidatku lagi.
“Itu tangannya mau ngapain” tanyaku melihat ke arah tangan Andi. “Kamu mau KDRT?. Aku laporin polisi ya”
“Tidak maksud seperti itu ya, aku terlalu gemas sama kamu” karena tidak jadi menepuk jidatku, Andi mempunyai cara lain yaitu mencubit pipiku.
“Kan… kan..” aku memasang wajah cemberut. Andi tertawa ngakak melihat wajahku.
“Apa sayang? boleh abang cubit sekali lagi” ucapnya cengengesan.
“Mau dong dibunuh sama kamu. Tapi, apa kamu sudah siap menjanda?”
“Heh!!”
“Apa hah? Heh?”
“Tidak tahu, angin tadi lewat”
“Mana angin? mana?”
“Sayang lapar ini, cacing - cacing di perut aku pada demo ini, gak bisa dengar kamu mereka teriak - teriak”
“Mana… mana… coba abang dengar sini”
“Ish… genit ya kamu”
Andi tersenyum genit ke arahku.
“Sayang… serius, kalau kamu gak kasih makan aku pingsan ini”
“Pingsan saja sini sayang, abang siap kok menangkap kamu” lagi - lagi Andi menggodaku.
“Aku bilangin mama ya kamu nakal sama aku, kamu tidak mau kasih makan untuk aku”
“Apa lagi sayang apa lagi”
“Kamu jahat banyak deh pokoknya. Aku mau laporin sama dua mama aku”
“Lapor terus sana. Ah capek aku ladenin kamu”
“Hei….” teriakku “aku yang seharusnya berbicara seperti itu aku” menunjukkan diriku sendiri “aku yang tersakiti di sini”
“Sayang… jangan teriak - teriak” menutup mulutku “Nanti orang - orang mengira abang ngapain kamu lagi”
“Biarin… nanti kalau ada yang tanya adek bilang saja abang jahat, abang tidak kasih makan adek”
“Masalahnya mereka tidak tanya sayang, mereka menjudge saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi” jelas Andi “adek telpon mereka dulu mau makan apa?”
“Oke bohate”
“Bohate” ledek Andi.
“Ah sekali - kali” aku mengambil handphone lalu menelpon mereka satu persatu.
Setelah selesai menelpon mereka semua.
__ADS_1
“Sayang sudah ini” aku menyimpan kembali handphone di dalam tasku.
“Sudah semua kan?” Tanya Andi memastikan “sayang kan kita mau keluar, kata kamu mau pacaran dulu. Tapi kalau kita bawa pulang makan untuk mereka bisa kelaparan mereka menunggu kita”
“Iya juga ya”
“Kita delivery saja ya, abang telpon kak Anti saja yang terima paketnya” Andi mengambil handphonenya yang berada di dalam saku celananya lalu menelpon kak Anti.
Via telpon
Andi
Hallo kak!
Anti
Apa abang?
Andi
Abang sudah order makanan sesuai pesanan semuanya, nanti kakak ambil ya. Abang dan Kanza mau keluar sebentar mau pacaran dulu.
Anti
Iya, bawa oleh - oleh ya
Andi
Oleh - oleh apa? tapak eeuk
Anti
Mulutnya…
Andi
Becanda kak, jangan marah kak ya becanda.
Anti
Iya… gak suka kakak, abang berbicara seperti itu.
Andi
Iya kak, maafin adek kakak yang tampan ini ya. Lain kali tidak akan mengulanginya lagi.
“Kenapa sayang” tanyaku kepo.
Andi menggelengkan kepalanya.
Andi
Kakak ambil ya pesanannya, abang keluar sama adek.
Anti
Iya bawel banget kamu.
Andi
Terserah deh mau bilang apa. Pokoknya jangan lupa itu, nanti lapar mama, ayah dan calon mertua aku.
Anti
Iya hai
Karena tidak sanggup mendengar ocehan Andi lagi, kak Anti menutup panggilannya.
“Dih matiin” gerutuk Andi lalu menyimpan kembali handphonenya di dalam saku celananya.
“Apa sih sayang marah - marah”
“Ini kak Anti nyebelin banget”
“Kak Anti yang nyebelin? apa abang yang nyebelin?” lirihku meledeknya.
“Dia lah. Abang? cowok sederhana, baik hati dan tidak sombong”
“Siapa?”
“Abanglah”
“Yang tanya??”
“Kampret! Adek kampret! Kampret sekali kamu”
“Mulutnya masyaallah”
Andi hanya bisa cengengesan, hari ini dia benar - benar terlihat nyebelin.
“Abang… sumpah sudah gemetar sekali ini adek. Ayolah kita makan”
“Iya ya, ayo ayo. Duh kasiannya sayangku, cintaku, bohateku kelaparan” Andi berjalan masuk ke dalam mobil, aku mengikutinya dan ikut masuk ke dalam mobil. Andi mulai menjalankan mobilnya.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.