
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
*****
Setelah selesai makan, Andi membereskan semua bungkusan makanan dan merapikan beberapa snack yang tertinggal, menyusunnya dengan rapi di atas meja dan membuang sampah - sampah ke tong sampah.
“Pinter ya abang berberesnya” aku memperhatikan setiap gerakan Andi yang sangat lihai “calon suami idaman ini” aku mencoba menggodanya.
“Oh jelas dong” jawabnya membanggakan dirinya. Andi duduk kembali di kursi di samping ranjangku. Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat “sayang… kamu cepetan sembuh dong, kamu jangan di sini terus. Abang sedih melihat kamu begini”
“Bukannya kamu senang kalau di sini ya, kan di sini ada dokter Elita”
Jawabanku seakan sambaran petir di telingannya Andi. Andi langsung melepaskan genggaman tangannya.
Wajahnya terlihat sangat marah, aku menjadi takut melirik wajahnya. Andi tidak mengeluarkan kata apa - apa lagi, ia membungkam mulutnya.
Suasana di ruangan itu benar - benar sepi. Beberapa menit kemudian,
“Kalau kamu bertanya wanita lain di hadapanku, untuk apa aku ada di sini” ucap Andi dengan begitu lembut. Namun, saat berbicara ia tidak sama sekali menatap wajahku.
“Eum enggak aku cuma bercanda sayang”
“Apa itu sebuah candaan menurut kamu?” tanya Andi menatap wajahku lirikan matanya begitu menakutkan seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya, yang membuatku ketar - ketir melihatnya.
“Enggak sih” aku menggelengkan kepalaku.
“Kalau itu bukan sebuah candaan apa juga?” tanyanya lagi.
Wajahku terlihat sangat ketakutan, hanya keringat dingin yang setia menemaniku menjawab pertanyaan Andi.
“Maaf” ucapku “mulutku telah lancang mengeluarkan kata - kata seperti itu, maafin aku telah membuatmu tersinggung” ya Allah beginikah cara bang Andi marah? ia sama sekali tidak meninggikan suaranya di hadapanku, batinku.
Andi kembali duduk mendekat, ia kembali menggenggam tanganku.
“Sayang… di dalam sebuah hubungan itu cuma ada dua orang, tidak lebih. Di dalam sebuah hubungan itu, kedua belah pihaknya harus saling mencintai, tidak boleh hanya satu pihak yang memberikan cintanya. Dan… di dalam sebuah hubungan itu, keduanya tidak ada yang boleh memberikan cintanya kepada orang lain apalagi sampai merusak hubungan yang telah dibinanya. Kamu paham! Kamu pasti paham, karena kamu telah merasakan apa yang abang sampaikan ini”
Aku seperti patung mendengar setiap omongan Andi .
“Abang tidak bermaksud untuk menggurui kamu, abang juga bukan seorang lelaki yang bijak yang tidak luput dari kesalahan. Abang cuma manusia biasa yang setiap harinya terus belajar untuk memperbaiki diri dan menjadi yang terbaik, terutama untuk kamu. Kenapa abang katakan untuk kamu? Karena kamu adalah orang yang paling abang sayang, setelah keluarga abang jadi abang juga harus memberikan yang terbaik untuk kamu. Abang harus siap siaga menjaga kamu, apalagi kemaren abang telah gagal dalam menjaga kamu sehingga kamu menjadi seperti ini” Andi menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Yang intinya mau abang sampaikan, tolong sayang jangan memasukkan orang lain dalam hubungan kita. Kamu tidak perlu berkata seperti itu, kamu tidak mau kan hubungan kita hancur?”
Aku menggelengkan kepalaku pelan.
“Maaf abang” hanya kata maaf yang dapat terucap dari mulutku, sungguh aku sangat menyesel dengan perkataanku. Aku tidak menyangka Andi bakalan semarah ini kepadaku. Memang aku sungguh keterlauan, tidak seharusnya aku membuat candaan seperti ini.
“Cukup hari ini abang mendengar kamu berkata seperti ini, itu bukan sebuah candaan” tegasnya sekali lagi.
“Iya abang”
“Dari awal kita bertemu, abang sudah yakin kalau kamu itu seseorang yang abang pinta selama ini kepada Allah, abang sengaja tidak menjadikan kamu sebagai pacar abang. Karena alasan yang pertama abang takut kalau harus memulai dengan pacaran, karena pacaran itu dosa jadi abang tidak mau memulai hubungan kita dengan dosa. Yang kedua jika abang sudah yakin, abang akan menjadikan kamu tunangan abang. Setelah hubungan tanpa ikatan kita berjalan, abang menjadi yakin dengan kamu. Dan Alhamdulillah kedua orang tua abang segera melamar kamu, mereka juga jatuh cinta kepada kamu. Itu alasan abang mencintai kamu. Makanya abang minta kepada kamu, kamu jangan membahas orang lain di depan abang. Itu sungguh tidak baik dalam sebuah hubungan”.
Sungguh aku tidak tahu harus menjawab semua penjelasan Andi dengan kata - kata seperti apa, atau dengan kalimat yang bagaimana.
“Paham kan sayang” Andi menepuk jidatku, sontak membuatku kaget dan menatap tajam matanya. “Kamu gak mau memberikan minuman untuk abang, abang capek ini ceramahin kamu” ucap Andi mulai bercanda lagi denganku, suasana yang semulanya sangat mencekam kini merubah lagi seperti taman yang dipenuhi mekaran bunga yang berwarna - warni.
“Apa sih abang, garing banget” tanpa terasa air mata keluar dari bola mataku, aku segera menghapusnya, ternyata Andi memperhatikannya.
“Kenapa menangis? Kamu sedih abang memarahi kamu. Kan kamu yang salah jadi wajarlah” ucap Andi tertawa.
“Enggak” aku menggelengkan kepalaku.
“Abang itu lagi marah - marah, bisa - bisanya dibuat lawak” ucapku sedikit tertawa.
“Oh gitu…, resek banget sih kamu”
“Biarinlah suka - suka saya, cewek - cewek saya”
“Siapa cewek kamu?”
“Kamulah sayangku, cintaku, bohateku” menunjukkan ke arahku.
“Apa nih”
“Oh jadi begitu? Sayang… akulah lelakimu”
“Aku lelakimu” ucapku dengan nyanyian.
“Bisa ya kamu bernyanyi”
“Bisa dong, my bias is Min Yoongi, he call me suga too” bernyanyi ala army yang biasnya suga.
__ADS_1
“Lagu apa itu?”
“Ya lagu kebangsaan para istrinya Min yoongilah apa lagi” jawabku dengan santainya.
“Istrinya min yoongi apa istrinya Wanda Andriansyah yang super ganteng ini” Andi bangun dari kursinya lalu membuat gaya cool di hadapanku.
“Ya…”
“Siapa? Kalau istrinya Min Yoongi sana kamu ke Korea, jangan dekat - dekat dengan ku”
“Eum gak deh, aku mau jadi istrinya bapak Wanda Andriansyah saja yang biasa dipanggil bapak Andi sama aku dipanggil sayang atau abang”
“Nah gitu dong” Andi kembali duduk di kursinya.
Tok… tok…tok, suara ketukan pintu yang membuat aku dan Andi melirik ke arah pintu, melihat siapa yang datang.
“Assalamualaikum” ucap mama yang datang sendirian. Ia berjalan ke arahku dan Andi.
“Ayah mana ma? Gak ikut ayah?” Tanyaku.
“Ayah di parkiran masih” jawab mama. “Loh abang pasti capek kan menjaga anak rese ini”
“Iya ma… rese banget memang anak ini” jawab Andi mencoba mengadu kepada mama.
“Abang gak boleh begitu”
“Ma… abang pulang sebentar ya mau ganti baju, nanti malam abang kembali ke sini” Andi ingin berpamitan pulang. Namun, tiba - tiba saja aku menangis tanpa sebab.
“Abang jangan pulang”
Andi melirik ke arahku. Ia duduk di atas ranjang denganku.
“Sayang… abang pulang sebentar ya, abang ganti baju dulu, gerah banget sudah dari kemarin abang pakai baju ini. Nanti abang buru - buru deh balik ke sini lagi. Kamu jangan menangis ya” Andi mengusap air mataku.
“Iya abang, cepat kembali ya”
“Iya sayang” Andi pergi ke pintu lalu meninggalkan ruangan, aku menatap kepergiannya.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.