Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 37


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


***


Aku mengendarai motorku secara cepat. Aku ingin cepat-cepat menemui Andi.


“Beli apa ya buat si abang, kayaknya gak enak kalau ke rumahnya gak bawa apa-apa. Nanti dikira aku pelit lagi sama dia” pikirku ingin membawakan sesuatu yang tepat. “Dia kan suka banget sama anggur, apa aku beli anggur saja ya” pikirku lagi.


Di tengah perjalanan aku melihat tukang jual buah, aku memberhentikan motorku di depannya.


“Bang anggurnya sekilo berapa” tanyaku kepada penjual.


“Kalau yang ini 80.000 sekilo” menunjukkan anggur merah yang berada di depanku.


“Boleh deh bang sekilo, jeruk ini sekilo” menunjuk jeruk.


Tukang buah menyiapkan pesananku.


“Berapa semuanya bang”


“Semuanya jadi 110.000” jawabnya memberikan anggur dan jeruk yang telah dibungkus. Aku memberikan uang pas untuknya. Setelah itu, aku kembali mengambil motorku.


Tiga puluh menit kemudian aku telah sampai di depan gerbang rumahnya Andi, aku memasukkan motorku ke halaman rumahnya.


“Assalamualaikum” mengetuk pintu.


“Ma kayaknya, si adek di depan” Andi seperti mengetahui akan kedatanganku.


“Mama buka pintu dulu ya” berjalan ke pintu utama.


“Ma” mencium tangan mama dan cipika cipiki.


“Masuk sayang, si abang dari tadi sudah nungguin kamu” aku dan mama berjalan ke ruang tamu.


“Mama mau ke toko ya” mama pergi meninggalkan aku dan Andi. Bukan berdua ya, aku dan Andi ditemani dua orang mbak-mbaknya.


“Kamu sakit apa sih sayang” duduk di samping Andi “ini kenapa lagi” menunjuk tangan Andi yang diperban. “Badan kamu panas lagi” memegang dahinya. “Serius kenapa sih kamu” aku terus menanyakannya, rasa khawatirku bercampur aduk.


“Sayang oii” teriaknya di telingaku.


“Iih jangan teriak-teriak, keluar nanti orang rumahnya”


“Aku yang punya rumahnya”


“Dih kamu ngaku - ngaku kamu kan anak hutan mana punya rumah kayak gini” ledekku.

__ADS_1


“Apa sih norak banget kamu, kamu tuh yang anak hutan”


“Haa….” pura-pura nangis “aku bilangin mama aku nanti ya kamu ngatain aku anak hutan, aku kan anak mama sama ayah. Masak iya aku cantik begini dibilang anak hutan” protesku.


“Iya habisnya kamu norak”


“Serius sayang, kamu kenapa lengan kamu kenapa terperban seperti itu?? malah lecek kayak gitu lagi. Kamu berkelahi ya, buat apa berkelahi rebutin aku??. Gak usah direbutin, aku sepenuhnya milik kamu”


“Gr banget jadi orang” menepuk jidatku. “Abang kemaren ke Tanjung, tahu adek kan di sana banjir”


“Iya terus”


“Terus, terus kayak penjaga parkir saja” menepuk jidatku lagi.


“Ih apasih tepuk-tepuk jidat aku, sakiiiiit tahu gak” protesku memasang wajah cemberut.


“Habisnya kamu gemeshin sih sayang, jadi kan kemarin anggota koramil semua ditugaskan ke sana”


“Terus kenapa gak bilang sama aku sayang”


“Iya itu… kamu tahu kan, kalau tentara sudah bergerak mana boleh pegang-pegang handphone dulu”


“Iya sih”


“Nah itu, abang sama mama saja gak ada abang bilang sayang. Tadi pas abang pulang terkejut mama lihat kondisi abang kayak gini. Ditambah lagi di sana gak ada sinyal, lengkap deh”


“Kamu…. Gak kangen sama aku selama di sana” tanyaku lagi dengan manjanya.


“Bagus, aku juga gak kangen kamu, kepikiran kamu saja enggak”


“Masak sih… bilang kamu gak kangen sama aku, aku sedetik saja hilang, kamu udah panik”


Aku tersenyum mendengarnya. “Alah sok tahu kamu” jawabku mengelak.


“Memangnya aku gak tahu kamu itu seperti apa sayang” menatapku.


“Iya deh yang tahu semuanya tentang aku” jawabku tersenyum ke arahnya “oh iya adek bawa buah kesukaan abang, adek cuci dulu ya”


“Iya sayang”


Aku berjalan ke dapur membawa bungkusan buah yang aku beli sebelumnya.


“Kak…” panggilku. “Mau cuci ini buat bang Andi”


“Iya dek” mengaduk masakannya di atas kompor.


Aku mengambil tempat di dalam rak piring, mengambil buah lalu mencucinya sampai bersih dari debu - debu yang menempel.

__ADS_1


“Kakak yang ini untuk kalian ya, ambil saja” aku menaruhkan sebagian anggur untuk mereka. Sebagiannya aku bawa ke ruang tamu untuk Andi.


“Gak pelit ya kak Ani si Kanza itu” seru kak Janna yang sedang mencuci piring “kalau orang lain mana mau kasih buat pembantu kayak kita jangankan mau memberikan apa-apa, bicara sama kita saja gak mau”


“Iiiih… jangankan bicara lihat kita saja kayak jijik gitu” mode julid mereka berdua keluar. Mereka mendukung hubunganku dengan Andi, bahkan medoakan hubunganku dengan Andi langgeng selamanya.


“Iya, tulus banget kan dia sayang sama abang” jawab kak Ani.


“Cocok banget mereka berdua sama - sama baik”


“Aku sih doain semoga mereka langgeng terus sampai nenek kakek”


**


“Sayang ini anggurnya sudah adek cuci” aku menyuapkan anggur untuknya. “Adek ke belakang dulu lagi sebentar ya” berdiri di depannya.


“Ngapain lagi sih, duduk sini saja samping abang” menarik lenganku agar duduk kembali di sampingnya.


“Kebelet pipisy”


“Haha kebelet, ke kamar abang saja” dia menertawaiku.


“Dih ngapain ke kamar, iiih mau apa ke kamar” aku meledeknya.


“Nah kan dia nih yang osum alias otak mesum, maksud abang di kamar abang kan ada kamar mandinya sayang. Jadi ngapain kamu jauh - jauh ke kamar mandi belakang. Padahal dia pikirannya yang enggak - enggak” jelasnya akan maksud dirinya.


“Oh kirain” aku tertawa dengan tuduhanku. “Ah sudahlah aku ke kamar mandi dulu” aku berjalan masuk ke kamar Andi, membuka pintu. Cekreek…. Aku tercengang dengan isi kamarnya yang super rapi ditambah dengan konsepnya yang mainly banget, seraya adem ayem kalau tidur di kamar itu.


Aku masuk ke kamar mandinya. Setelah itu aku melihat-lihat sebentar kamarnya.


“Iih sumpah keren banget konsep kamarnya” berjalan ke sana - kemari. “Eh ini abang waktu kecil” melihat beberapa pajangan foto “ya ampun comel banget dia waktu kecil gak kayak sekarang nyebelin banget” gerutukku. “Tapi kalau sekarang” mengambil satu foto yang dipajang di atas meja, duduk di atas kasurnya “sekarang dia tumbuh menjadi lelaki hebat dalam hidupku, aku yakin dia dibesarkan oleh ratu yang hebat makanya dia sangat menghargai perempuan yang ada di sampingnya” memeluk bingkai foto Andi.


Aku meletakkan kembali pajangan fotonya di tempat semula, tak lupa aku juga memfotokan kembali foto masa kecilnya, aku menyimpannya di gallery ponselku, mungkin saja nanti akan jadi bahan. Cekreek…. Aku membuka pintu kamar dan keluar, aku berjalan ke dapur.


“Kak kotak P3K dimana ya” tanyaku kepada kak Ani.


“Di lemari dek, di samping kamu” jawabnya.


Aku mengambil kotak P3K di lemari di sampingku. Aku membawanya ke ruang tamu.


“Kok lama banget sih sayang” tanya Andi yang sedari tadi menungguku.


“Iya hehe nyasar aku” jawabku ngasal, aku duduk di sampingnya “sayang adek ganti dulu perban kamu ya” meletakkan kotak P3K di tengah - tengah antara aku dan Andi.


“Iya sayang” meletakkan tangannya di atas pahaku. Aku menggantikan perban Andi, tak lupa aku menaruh obat merah di dalamnya. “Cepat sembuh ya sayang” mengelus kepala Andi perlahan. Aku membereskan kembali kotak P3K dan membawanya ke dapur. Setelah itu aku kembali ke ruang tamu.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2