
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
Aku berjalan mendekat ke ranjang tempat Andi berbaring, perlahan aku duduk di kursi di sampingnya. Air mataku kembali terurai. Aku menggenggam tangan kanannya menyenderkannya di pipiku. Mama keluar memberiku waktu luang.
“Sayang mama ke pos satpam dulu ya, mau cek kasus tadi”
“Iya ma..” menoleh ke arah mama yang berjalan ke arah pintu.
“Sayang…” panggilku lembut. Mataku memperhatikan wajahnya, matanya sampai hari ini dan detik ini masih terpejam. “Aku rindu…. Apa abang tidak merinduiku?? Aku rindu bisa di samping abang, jalan sama abang. Aku rindu kasih sayang abang. Aku rindu kamu menjitak jidatku selalu” menyeka air mataku dan menghirup ingus “kamu bangun ya, sudah cukup tidurnya ya kamu masih sayang sama aku kan” aku terus mengajaknya berbicara aku sangat berharap dia akan bangun hari ini.
*****
“Selamat siang pak” ucap bang Adam di pos satpam, ia menemui satpam yang sedang berjaga di meja piket kantor yang terletak di teras depan.
“Iya pak” bapak satpam yang sedang duduk berdiri “kenapa pak ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, wajahnya terlihat sedikit gugup karena melihat ada tiga orang tentara lengkap dengan seragamnya tanpa senjata laras panjang menghampirinya.
“Saya mau bertanya mengenai kasus pelecehan tadi yang dilakukan tukang penjaga parkir rumah sakit ini terhadap adik perempuan saya” jelas bang Adam dengan suara sedikit tegas.
“Kalau seperti itu silahkan bapak - bapak masuk ke dalam ruang kepala kebetulan bapak kepala yang menangani kasus ini” jelas pak satpam yang bertugas di luar menunjukkan ruang kepala satpam di dalam kantornya.
Bang Adam, pak Wahyu dan pak Rusdi tanpa basa - basi langsung berjalan masuk ke dalam kantor mencari keberadaan ruang kepala satpam.
“Permisi” bang Adam mengetuk pintu ruangan dengan keras.
“Iya silahkan masuk” suara dari dalam menyuruh mereka semua masuk.
Bang Adam, pak Wahyu dan pak Rusdi masuk ke dalam ruangan.
“Oh bapak koramil silahkan masuk” bangun dari tempat duduknya. Bapak kepala satpam ini mengenali pak Rusdi yang berjabat sebagai koramil 03 yang tak jauh dari daerah rumah sakit Cita medika berada “silahkan duduk” menunjukkan dua kursi di hadapannya. Bang Adam duduk di kursi sebelah kiri dan pak Rusdi duduk di kursi sebelah kanan, sementara pak Wahyu berdiri di samping bang Adam “maaf pak ada yang bisa saya bantu?” tanya kepala satpam itu dengan lembut.
“Saya mau bertanya mengenai kasus dari pelecehan yang dilakukan tukang jaga parkir dengan adik perempuan saya beberapa menit yang lalu” jelas bang Adam tanpa bertele - tele.
“Oh masalah itu kebetulan sudah clear pak, tukang jaga parkirnya sudah dipecat oleh bagian Humas rumah sakit ini”
“Clear??” bang Adam memukul meja. “Apa bapak pikir dengan pemecatan pelaku masalahnya clear begitu saja, begitu maksud bapak bilang” bang Adam memegang kerah baju pak satpam, kali ini bang Adam terlihat sangat emosi wajahnya sampai memerah.
“Dam… Dam sabar” pak Wahyu mencoba menenangkan bang Adam, ia berusaha melepaskan tangan bang Adam yang menggenggam erat kerah baju pak satpam.
“Pak Adam mohon tenang” ucap pak Rusdi.
Bang Adam melepaskan genggaman tangannya
“saya tidak terima adik saya dilecehkan oleh pekerja di rumah sakit ini” ucap bang Adam emosinya semakin membludak.
“Pak, perempuan yang dilecehkan tadi tunangan dari anak buah saya yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit ini” ucap pak Rusdi dengan tegas “apa sistem kerja rumah sakit ini seperti ini dalam memperkerjakan orang??” bentaknya matanya sampai melotot.
“Mohon maaf pak, semua ini bukan kuasa saya”
“Jadi tugas kamu di sini apa?? makan gaji buta??” bentak pak Rusdi lagi. Pak Wahyu dan bang Adam terdiam kalau pak Rusdi sudah bertindak karena kalau pak Rusdi sudah bertindak jiwa tentaranya keluar dan tidak bisa ditolerin. “Kamu kepala satpam kan??? Seharusnya kamu dapat menjaga keamanan di rumah sakit ini lebih ketat bukannya malah memberikan kasus - kasus seperti ini terjadi”
Pak Satpam benar - benar terpojokkan karena kelalaian dia dalam bertugas menjaga keamanan. “Mohon maaf pak sebaiknya kita menghadap ke bagian Humas rumah sakit, untuk lebih jelasnya. Mari pak” ucapnya dengan lembut mengajak ketiga bapak tentara ini ke ruang kepala Humas rumah sakit yang terletak di gedung sebelah.
“Telpon kepalanya suruh menghadap kami” ucap Rusdi tegas.
__ADS_1
“Baik pak” pak satpam mengambil handphonenya lalu menelpon Kepala bidang Humas rumah sakit Citra Medika. Ia berjalan dekat jendela.
Via telpon
Pak Satpam
Pak mohon maaf mengganggu waktunya, karena di sini ada keluarga dari korban pelecehan tadi di pos satpam. Mereka ingin bertemu dengan bapak.
Kabid Humas
Suruh mereka ke kantor saya
(ucapnya dengan nada menyepelekan karena dia berpikir keluarga dari korban itu masyarakat biasa)
Pak Satpam
Mohon maaf pak saya tidak berani menyuruh mereka ke kantor bapak karena yang datang langsung koramil 03 pak. Saya tidak berani berbicara.
Kabid Humas
Baiklah sepuluh menit lagi saya akan sampai di sana
Pak Satpam
Baik pak
Pak satpam mengakhiri panggilannya. Lalu berjalan kembali duduk di kursinya.
“Mohon maaf pak, pak Siddiq akan segera ke sini. Mohon bapak - bapak dapat menunggunya sebentar” ucapnya lalu ia pergi mengambil dua kursi lagi “pak silahkan duduk dulu” menyuruh pak Wahyu duduk.
****
Mama telah sampai di pos satpam
“Pak” menyapa satpam yang duduk di meja piket.
Berdiri “Iya bu ada yang bisa saya bantu”
“Saya ingin menanyai perihal kasus pelecehan tukang parkir tadi terhadap putri saya”
“Oh silahkan bu masuk ke dalam kebetulan bapak tentara tadi lagi di ruang kepala satpam”
“Di mana”
“Ibu masuk terus nanti ada tulisan ruangan kepala di pintunya” menunjuk ke dalam ruangan.
Mama masuk ke dalam kantor mencari keberadaan ruang kepala
Tok … tok ….. tok… mama mengetuk pintu.
“Mungkin itu pak Siddiq datang” pak satpam segera bangun lalu membuka pintu. Ketika membuka pintu ia hanya melihat seorang ibu - ibu “ada yang bisa saya bantu bu” tanyanya melirik ke arah mama.
“Saya ibu dari korban pelecehan tukang parkir tadi” ucap mama dengan tegas tanpa bertele - tele.
“Silahkan masuk bu, di dalam ada tiga bapak tentara” mama masuk ke dalam ruangan tersebut lalu duduk di samping bang Adam.
__ADS_1
“Sebentar ya bu, kami sedang menunggu bapak bagian Humas rumah sakit ini yang akan menangani kasus ini. Mohon ditunggu sebentar ya bu, pak” tersenyum ke arah mereka. Tanpa ada satu pun dari mereka yang membalas senyuman dari pak satpam.
“Mana ini orangnya?? tidak datang - datang. Ini dapat menyita waktu saya” ucap pak Rusdi sedikit membentak.
“Mohon ya pak ditunggu sebentar lagi”
Sepuluh menit kemudian pak Siddiq yang menjabat sebagai kabid humas datang dan langsung masuk ke dalam ruangan kepala satpam setelah bertanya kepada satpam yang berjaga di luar.
“Assalamualaikum” mengetuk pintu.
“Sepertinya itu pak Siddiq” pak satpam membukakan pintu. “Silahkan masuk pak” pak Siddiq masuk dan duduk di kursi pak satpam dengan gaya sedikit sombong.
“Kamu keluar saja biar saya yang menanganinya” pak Siddiq menyuruh kepala satpam itu menunggu di luar.
“Baik pak” pergi meninggalkan ruangan.
“Jadi bapak - bapak dan ibu ini mau membicarakan hal apa kepada saya” tanya Pak Siddiq dengan gaya berbicaranya sedikit meremehkan ia berpikir bahwa dirinya orang yang berkuasa sedangkan mama orang biasa yang mencoba membawa tentara untuk menyelesaikan masalahnya “kalau masalah pelecehan tadi di parkiran itu sudah clear sudah saya pecat orangnya jadi apanya yang harus dipermasalahkan lagi?? Tolong ya bu masalah ini cuma masalah sepele jadi tidak harus berurusan dengan tentara dan kenapa pula ibu harus melapor ke tentara seperti ini” ucapnya dengan gamblang dan nada bicaranya marah - marah.
“Apa bapak tahu putri saya bisa terkena psikisnya perihal kasus seperti ini. Apa bapak pernah berpikir seperti itu??. Saya datang ke sini baik - baik mau menanyakan perihal kasus ini, kenapa bapak marah - marah kepada saya”
“Bu… saya kan sudah pecat orangnya jadi tidak ada lagi urusan dengan saya” gaya dan nada bicaranya begitu sombong dan menyepelekan ia bahkan memandang mama dengan sebelah mata.
Bang Adam tersenyum licik ke arahnya. Bang Adam begitu geram dengan nada bicaranya pak Siddiq “bapak tahu siapa wanita yang hampir saja dilecehkan tadi. Itu adik saya dia juga istri dari seorang tentara yang dirawat di rumah sakit ini. Apa bapak pantas berbicara seperti itu kepada kami hah??” Bentak bang Adam “pantas pak berbicara seperti itu kepada keluarga pasien, saya rasa bapak ini tidak mengenyam bangku sekolahan sehingga tidak bisa bertutur kata dengan baik dan berbicara seakan menyepelekan orang lain”
“Saya mau bawa kasus ini ke jalur hukum, saya akan menuntut rumah sakit ini dan kamu” menunjuk ke dalam mata pak Siddiq “perihal perbuatan tidak menyenangkan terhadap keluarga pasien rumah sakit ini” tegas pak Rusdi tiba - tiba angkat bicara “ini perihal anak buah saya dan keluarganya”
“Pak saya mohon maaf kalau ucapan saya dapat menyinggung bapak - bapak dan ibu, saya mohon maaf telah berbicara tidak sopan” ucap pak Siddiq yang terlihat takut dengan ancaman pak Rusdi yang terlihat tidak main - main. “Saya mohon jangan menuntut saya dan rumah sakit ini, saya mohon maaf sebesar - besarnya”
“Kenapa bapak minta maaf” ledek pak Wahyu “bapak takut?? Lain kali jangan suka meremehkan orang ya pak” menepuk pundak pak Siddiq yang duduk di sampingnya “bapak tunggu saja ya surat panggilannya. Siap - siap pak sekalian bapak bilangin sama kepala rumah sakit ini atau mau saya yang mengatakannya langsung sebelum bapak di penjara minimal bapak dipecat dulu dari rumah sakit ini” mengedipkan matanya. “Jadi hari ini bapak nikmatin dulu ya hari terakhirnya” mari pak Rusdi, pak Adam, bu kita keluar saja.
“Saya mohon maaf pak, tolong saya benar - benar minta maaf” pak Siddiq benar - benar takut hal itu terjadi kepada dirinya air matanya keluar dari bola matanya.
Mama, bang Adam, pak Wahyu dan pak Rusdi berjalan keluar meninggalkan ruangan kepala satpam.
“Terima kasih ya pak Rusdi, pak Wahyu dan bang Adam” ucap mama yang berjalan beriringan dengan ketiga bapak tentara itu.
“Iya bu, Andi itu anak buah yang sangat baik dengan saya jadi saya tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepada Andi atau pun keluarganya” ucap pak Rusdi yang sudah menganggap Andi seperti putranya sendiri walaupun terkadang di kantor ia sering membentak Andi.
“Iya bu, saya kan best friendnya Andi jadi sudah sewajarnya saya membela Andi dan semua keluarganya Andi. Iya kan pak Wahyu” mencolek bang Adam di sampingnya.
“Iya bu apalagi sekarang Kanza adik ipar saya sudah menjadi tunangannya Andi”
“Aduh jadi terharu ibu”
“Yasudah bu kami pamit kembali ke kantor” ucap pak Wahyu
“Iya terima kasih untuk semuanya ya”
Pak Wahyu, bang Adam dan pak Rusdi berjalan ke parkiran mengambil mobil sementara mama kembali ke ruangan bang Andi
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.
__ADS_1