Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 69


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


Kriiiiiiiiing bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk membeli jajanan. Sama halnya dengan semua guru yang mengajar juga ikut keluar dari kelas masing - masing. Aku berjalan ke kantor.


*****


“Hai bu Kanza” Bu Fizza yang sudah duluan duduk bergabung dengan bu Juli, bu Dewi, pak Said dan bu Susi setelah keluar dari kelasnya mengajar.


“Hai juga” aku masuk ke dalam kantor meletakkan absen dan buku paket, aku mengambil tas dan keluar lagi bergabung dengan mereka semua “aku pulang duluan ya mau ke rumah sakit, eh tapi bentar deh mau lihat handphone dulu” aku mengambil kursi lalu duduk di samping bu Dewi.


Via chattingan


Andi


Kan tidak dibalas lagi. Mana sih anak ini. Oiii sayang oii balas atuh.


Aku


Apa sih berisik banget, sudah lama tidak ke hutan ya kamu


“Kenapa senyum - senyum bu Kanza” tanya pak Said yang sudah mulai berbicara denganku lagi.


“Cieee pak Said kayaknya perhatiin bu Kanza terus ini dari tadi” ledek bu Juli yang memperhatikan lirikan mata pak Said yang memperhatikanku sedari tadi yang sibuk tersenyum dengan handphoneku.


“Apasih kalian ini” jawabku mendongakkan kepalaku.


“Lagi chattingan sama ayang ya” tanya pak Said lagi.


“Pak Said jangan cemburu ya” ledek bu Dewi dengan sedikit tertawa.


“Enggak kok, sedikit saja cemburunya” jawab pak Said dengan memperagakan tangannya menunjukkan istilah sedikit.


Aku tidak terlalu perduli dengan candaan mereka mataku terfokus ke handphone membalas setiap chat dari Andi kekasihku, sungguh dia bintang di hatiku.


Andi


Iya nih, gabut banget aku di sini sendirian tidak ada cewek cantik


Aku


Heh!! Pasti kamu salah disuntik obat ini sama dokter makanya bangun - bangun kamu jadi genit.


Andi


Ya juga kali ya. Tapi aku PD saja sih kalau ada cewek cantik yang mau dekat sama aku, lagian aku kan ganteng. Aku yakin cewek cantik itu bakalan terpesona dengan kegantengan dan ketampanan aku.


Aku


Tapi aku gak terpesona tuh sama kegantengan kamu


Andi


Terus yang bilang kamu cantik siapa sayang


Aku


Kampret lu Andi


Andi

__ADS_1


Hahaha buru ke sini sayang ya


Aku


Suruh saja cewek cantik idaman kamu itu yang tinggi putih langsing


Andi


Bihun dong


Setelah membalas beberapa pesan dari Andi aku bangun dari kursi bersiap untuk pulang “aku duluan ya”


“Iya bu Kanza hati - hati ya” ucap pak Said dengan cepat.


“Gercep ya pak” ledek bu Susi.


Aku berjalan ke parkiran motor memasangkan helm di kepalaku lalu menancap gas pelan.


SKIP


Aku telah sampai di rumah, memarkirkan motor di garasi lalu berjalan ke kamar. Aku meletakkan tas di rak lalu mengambil handuk.


“Gerah banget mandi dulu ah” aku berjalan ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar mandi lalu memakai baju kesukaanku kaos lengan panjang dan jeans berwarna hitam.


“Make up dulu biar cantik, biar bang Andi terpesona dan jatuh cinta sama aku” aku memakai satu persatu alat make up mulai dari cushion, bedak tabur, sedikit blush on warna orange, eye shadow look coklat bling - bling, lipstik ombre dan terakhir menyisir alis. “Leuh (sudah) mandi ka wangi dan cantik lagi” memutar - mutar di depan cermin sambil bernyanyi. “Oh iya parfum” aku menyemprotkan parfum di sekujur tubuhku. “Pasti ini bang Andi klepek klepek sama aku, parfum ini sengaja aku beli buat memelet dia” menyemprotkan parfum di tangan.


Setelah selesai aku mengambil tas lalu berjalan ke garasi mengambil motor berwarna putih kesayanganku, memasangkan helm lalu menancap gas pelan.


****


Rumah sakit


SKIP


“Assalamualaikum” aku membuka pintu ruangan Andi.


“Waalaikumsalam” jawab Andi melirik ke arah pintu. Wajahku telihat masih ketakutan dan panik yang bercampur “kamu kenapa sayang kok sepertinya wajah kamu panik gitu” Andi bangun dan duduk di atas ranjang “kamu kenapa ?? apa ada yang mengganggu kamu??” tanya Andi wajahnya terlihat sangat khawatir.


“Hah?” Aku menyadari matanya memperhatikan wajahku. Aku menghela nafas mencoba menenangkan diriku, aku berjalan dan duduk di kursi di samping ranjangnya “aku tidak apa - apa kok sayang” aku berusaha menyembunyikannya, aku tidak ingin membuat Andi khawatir dan bisa - bisa membuat ia drop kembali.


“Enggak…. abang tahu kalau kamu lagi bohong. Abang hafal gerak gerik kamu, kapan kamu berbicara jujur dan kapan kamu berbohong. Cerita sayang ada apa, kamu tidak percaya sama abang?” Andi sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.


“Masa sih kamu hafal sama gerak gerik aku” aku berusaha mengajaknya bercanda supaya ia tidak menanyakan hal itu lagi.


“Sayang” mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat ia menatap mataku seperti menghipnotisnya”kenapa” deep voice.


“Sebenarnya waktu abang koma kemaren, waktu adek datang dari rumah ke sini, di parkiran motor ada penjaga parkiran yang mau melecehkan adek . Dia mau pegang - pegang adek gitu”


“Apa??” Andi begitu terkejut dengan apa yang barusan keluar dari mulutku “oh kalau kejadian seperti ini abang tidak mau berdiam diri, abang harus melapor ke pihak rumah sakit” Andi berusaha bangun dari tempat tidurnya.


“Sayang sayang” aku mencoba menahannya “sayang dengar dulu”


“Apa?? Kamu takut??” Wajah Andi terlihat begitu marah, dia sangat murka dengan apa yang terjadi kepadaku.


“Jadi waktu kemarin tukang parkir itu mau melecehkan adek, ada bapak satpam di sana dan dia menggagalkan aksi jahat tukang parkir itu, adek langsung lari ke kamar abang dan mengadu ke mama dan untungnya waktu kemaren itu ada bang Adam, pak Wahyu sama komandan abang yang sedang menjenguk abang. Jadi di uruslah permasalahannya sama mereka bertiga terakhir datang mama. Dan kata mama tukang parkir dan kepala bidang Humas rumah sakit ini sudah dipecat sama direktur rumah sakit” jelasku pelan - pelan.


“Direktur rumah sakit abang iparnya Wahyu sayang. Jadi apa hubungannya dengan kabid Humas itu sayang?” tanya Andi lagi wajahnya terlihat sudah tenang tidak tegang lagi seperti tadi.


“Iya pertamanya sih kabid itu sudah memecat tukang parkirnya. Tapi waktu mama datang melapor di pos satpam, bapak itu mengira mama orang biasa yang harus membawa - bawa tentara untuk membelanya. Jadi intinya pak kabid humas itu tidak sopanlah sama mama. Pak Wahyu, bang Adam dan komandan abang marah besarlah jadi entah gimana pokoknya pak kabid Humas itu sudah dipecat” jelasku sedetail - detailnya sesuai apa yang aku dengar dari calon mama mertuaku itu.

__ADS_1


“Pantas sih manusia - manusia seperti itu diberikan pelajaran. Tapi kamu tidak apa - apa kan sayang” memegang kedua pipiku “Lain kali kamu lebih hati - hati ya jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi sama kamu. Dan maaf, karena abang sakit abang tidak bisa melindungi kamu. Maaf ya sayang” Andi menundukkan kepalanya karena ia merasa masih kurang dalam menjagaku.


“Iya tidak apa - apa kok, makanya kamu cepat sembuh ya sayang”


“Iya sayang, ini abang sudah sembuh”


“Senyumnya mana”


Andi tersenyum manis menatapku “bisa ya godain aku” menjitak dahiku


“Kan….” Aku memasang wajah cemberut.


“Kangen tahu sama kamu, sudah lama tidak jumpa. Rasa kangennya berjuta - juta kali lipat”


“Ah masa sih” mencolek lengannya.


“Iya dong” jawabnya sembari nyengir kuda andalannya.


Terima kasih ya Allah engkau telah mengembalikan senyum di bibirku, aku begitu bahagia melihat bang Andi kembali sehat seperti ini. Kemarin hatiku begitu hancur melihat ia terbaring koma di ranjang ini, batinku lalu aku tersenyum ke arahnya.


“Kenapa nih senyum - senyum, terpesona sama kegantengangan aku ya” ucapnya dengan PD nya.


“Jampok” ledekku “eh sayang kamu dari tadi sendiri di sini” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Enggak sayang tadi ada mama, cuma karena abang tahu kamu bakalan ke sini. Jadi mama abang suruh pulang deh, terus kata mama iya karena ada pelanggannya juga yang mau ambil pesanan emasnya”


“Itu pasti cuma alasan kamu kan?, pasti kamu pengen berduaan sama aku kan?” aku menggelitikkan pinggangnya.


“Suuzon, tapi jujur abang kangen sekali sama kamu”


“Adek juga, hati adek kemaren hancur banget melihat abang terbaring koma di sini”


“Kan cuma dua hari sayang komanya”


“Dua hari pala kamu sayang, dua bulan lebih kamu terbaring koma di sini tahu” ucapku sedikit emosi.


“Hah” Andi menutup mulutnya “dua bulan lebih sayang”


“Heeemmm”


“Tapi alhamdulillah sayang, abang bisa melewati itu semua dan bisa melihat senyum di bibir kamu lagi”


“Iya sayang, adek terus berdoa untuk kesembuhan kamu setiap harinya. Hampa sekali hari - hari adek tanpa kamu”


“Maaf ya sayang sudah membuat kamu khawatir”


“Kamu harus kuat ya sayang, adek tidak mau melihat kamu sakit lagi” air mataku perlahan keluar membasahi pipiku.


“Jangan nangis lagi ya abang sudah sembuh kok” Andi menghapuskan air mataku. “Senyumnya mana”


Aku kembali tersenyum menatapnya


“Manis juga ya senyuman kamu”


“Heh?? Baru sadar lu”


“Iya ni baru sadar, membuat hatiku cenat cenut tahu gak sih” sedikit teriak di telingaku.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2