Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 114


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


Beberapa saat kemudian, akhirnya aku dan Andi sampai di tempat bakso langganan kami berdua. Andi menarik rem tangan, mematikan mesin mobil, membuka seat belt lalu membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya keluar. Sama halnya dengan Andi, aku juga membuka pintu lalu melangkahkan kakiku keluar mobil.


Aku dan Andi berjalan beriringan ke dalam warung bakso yang tak jauh dari parkiran mobil.


"Mau duduk dimana sayang? Apa mau di tempat biasa?" Seperti itulah pertanyaan pertama dari Andi ketika pergi ke tempat makan.


"Heeem dimana ya, terserah sama abang sana lah" jawabku yang tak memberikan pilihan.


"Tapi sayang, tempat yang biasa kita tempati ada orang lain" ucap Andi lagi menunjuk ke tempat duduk yang biasa aku dan Andi tempati.


"Sepertinya di sana boleh sayang, kita kan tidak pernah duduk di sana" aku menunjuk ke arah tempat duduk yang lebih dekat dengan pinggiran laut.


"Boleh deh, mari kita ke sana"


Aku dan Andi melanjutkan perjalanan sampai ke tempat yang aku maksudkan. Setelah sampai Andi menarik kursi untukku "silahkan sayang"


"Terima kasih" ucapku tersenyum manis ke arahnya.


"Apa sih sayang, senyum - senyum membuat abang salah tingkah saja" Andi menarik kursi untuknya, lagi - lagi ia terlihat salah tingkah dengan senyumanku.


"Sepertinya sudah dari tadi abang salah tingkah deh. Kenapa gitu, sekayak orang yang baru kenal saja abang ini" ucapku menatap wajahnya.


"Memangnya iya seperti itu? Abang malu saja, karena sudah lama tidak dekat dengan adek jadi wajarlah kalau gugup seperti ini" ucapnya cengengesan.


"Oh begitu. Palingan sebentar lagi juga sifat jahilnya keluar"


"Gak lah, kan abang malu" menutup wajahnya.


"Siapa yang malu? Abang? Impossible?" Ledekku menjulurkan lidah ke arahnya.


Waiters datang menghampiriku.


"Mau pesan apa pak, buk?" Tanyanya dengan begitu lembut.


"Bakso telur satu, mie ayamnya satu" ucap Andi yang sudah sangat - sangat hafal dengan menu kesukaanku.


"Minumnya apa pak?" Tanya waitersnya lagi.

__ADS_1


"Es jeruk ya mas dua, kopi satu tapi jangan terlalu manis, air mineralnya dua"


"Iya pak, baik"


"Kopinya langsung dibawa ya mas"


"Baik pak, silahkan ditunggu" setelah menanyakan pesanan ia pergi membuat pesanan.


"Lama banget kan sayang, kita tidak ke sini lagi"


"Iya tuh" jawabku cuek. Aku terlalu sibuk melihat pasang surut air laut.


"Kamu gak kangen sama jalan ke sini bareng abang"


"Hmm..."


"Kenapa cuek begitu sih sayang jawabnya"


"Enggak kok" aku menyampingkan tubuhku memandang wajah Andi "bagaimana caranya abang mengatakan kalau adek tidak kangen sama abang, bukankah itu mustahil. Semenjak abang pergi yang pertama adek tidak pernah keluar kemana - mana. Yang kedua tidak mungkin bagi adek tidak merindukan abang. Hampir setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik adek selalu merindukan abang. Adek selalu menginginkan abang cepat kembali ke sini, kita jalan - jalan" tak sadar air mata perlahan turun membahasi kedua pipiku.


"Kenapa menangis sayang? Jangan menangis dong" menghapus air mataku "Maaf ya abang salah menanyakan ini sama kamu. Maafin abang. Maafin abang telah pergi lama meninggalkan kamu"


Aku menganggukkan kepalaku.


"Apa abang masih mencintaiku?" Tanyaku tiba - tiba.


"Pertanyaan macam apa itu? Tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu kepada abang. Karena pertanyaan itu adek sendiri yang tahu jawabannya"


"Aku mau tahu jawabannya dari kamu. Adek mau mendengar dari mulut abang langsung"


"Logikanya begini sayang. Kalau abang tidak mencintaimu lagi tidak mungkin abang kembali ke sini pasti abang sudah mati di pelatihan kemaren. Kamu tahu bagaimana abang menjalankan pelatihan kemaren? Abang sangat berusaha keras untuk dapat menyelesaikan semuanya untuk apa? Untuk segera bisa pulang ke sini. Untuk segera menemui kamu" Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat. "Kalau bukan kamu dalam pikiran abang, sungguh abang telah mati di sana. Pelatihannya begitu berat sayang berbeda dari sebelumnya yang masih bisa ditempuh dengan mudah. Abang berusaha kuat demi kamu, demi biar cepat kembali bersama kamu. Dan Alhamdulillah abang telah berhasil menyelesaikan semuanya tinggal pelantikannya saja seperti bulan depan. Jadi abang berpikirnya kalau kita akan mengurusi perihal pernikahan kita terlebih dulu. Setidaknya besok waktu pelantikan abang sudah punya ibu persit yang mendampingi" ucap Andi cengengesan.


"Aaamiiin sayang. Duh jadi tidak sabar ini mendampingi abang diacara seformal itu" ucapku sembari tersenyum - senyum.


"Jadi mulai besok kan sayang, kita harus ke koramil dulu urus berkas di sana. Kemaren kan sebelum abang pelatihan, abang kan sudah pernah mengajukannya. Tapi, ditolak karena abang harus ikut pelatihan. Jadi besok kita harus kesana. Adek persiapkan data - data adek"


"Apa saja sayang?"


"Kartu keluarga, kartu tanda penduduk, akta kelahiran adek dan pas photo itu saja sih sepertinya sayang"


"Baiklah"


"Cieee yang sebentar lagi menjadi istrinya bapak Wanda Andriansyah, cowok sederhana, baik hati dan tidak sombong" ucapnya dengan begitu PD.

__ADS_1


Aku tertawa ngakak mendengarnya. Waiters datang dengan membawakan minuman yang telah kami pesankan. Ia meletakkan satu persatu minumannya ke atas meja.


"Terima kasih mas" ucapku.


"Iya bu, untuk baksonya lagi diracik ya. Mohon ditunggu sebentar lagi" ia pergi meninggalkan kami.


"Minum sayang, capek kan dari tadi ceramah" ucapku meledek Andi.


Andi menarik secangkir kopi ke hadapannya.


"By the way any way bus way, pelatihannya di mana sayang"


"Di hutanlah, menginap di sana, hujan - hujanan kena matahari. Ini lihat kulit abang sudah gelap seperti ini"


"Harus ke salon seperti kamu sayang"


"Adek bawain lah"


"Mana sanggup adek bawa abang, abang kan berat" ledekku.


"Ah... ya maksud abang. Kita ke sananya berdua gitu loh sayang"


"Iya nanti kita ke sana. Terus sayang bagaimana lagi keadaan di sana?"


"Suram sayang. Pelatihannya setiap jam tanpa henti benar - benar kekuatan kami di peras di sana. Makan pun kami cuma dikasih makanan kalengan begitu. Yang rasanya tidak bisa dijelaskan. Tapi sesekali disuntik semacam obat begitu sih sayang, supaya bertenaga" jelas Andi lagi mengenai keadaan dia selama menjalankan pelatihan.


"Yaampun sayang banget sih kamu, jangan ceritain lagi sayang. Tidak sanggup abang mendengarnya"


"Mana ada sih sayang, mencapai hasil yang tidak ada perjuangannya terlebih dahulu"


"Iya sih..."


"Makanya pelantikan nanti itu sebuah hasil yang sangat membanggakan dan abang maunya di dampingi oleh adek" mengedipkan matanya ke arahku "kalau didampingi mama dan ayah kan sudah biasa sejak awal masuk tentara. Jadi untuk kali ini, abang sangat berharap untuk didampingi oleh bohate abang. Seorang wanita yang mau menemani abang hingga akhir hayat abang" tanbahnya lagi yang membuat hatiku bergetar. Aku begitu terharu dengan apa yang barusan terucap dari mulut Andi.


"Abang bisa saja ya membuat adek geer" ucapku tersenyum - senyum ke arahnya.


"Gak lah sayang. Memang seperti itu adanya. Itu memang keinginan abang dari dulu. Bahkan kata mama, sampai kapan abang mau mama temani di pelatikan. Pelantikan ke depan kamu sudah di dampingi oleh istri kamu. Mama menantang abang seperti itu lah"


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2