Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 66 : Panggilan itu


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


******


Suster melepas semua peralatan yang ada di tubuh Andi, hanya meninggalkan selang infus dan oksigen yang membantunya bernapas. Suster berjalan keluar meninggalkan aku, mama dan Andi.


“Saya permisi dulu, kalau ada apa - apa pencet bel ini saja” menunjukkan bel yang berada di samping kepala Andi.


“Baik sus” jawabku menggangguk pelan.


“Abang…” panggil mama lembut ia berjalan mendekati Andi “bagaimana keadaan kamu??”


Andi hanya mengedipkan matanya menandakan kalau ia sudah baik - baik saja.


“Kamu mau minum??” tanya mama lagi.


Andi mengangguknya pelan. Aku mengambil botol minum lalu menyodorkan pipet ke arah mulutnya. Andi menyeruput minuman tersebut lalu beberapa detik ia melepaskannya kembali.


“Terima kasih ya ma” menoleh ke arah mama yang berada di sebelah kirinya lalu “terima kasih ya sayang” menoleh ke arahku yang berada di sebelah kanannya.


Aku mengangguknya, air mataku ikut keluar lalu aku tersenyum ke arahnya.


********


Tiga hari kemudian Andi masih di rawat di rumah sakit Citra Medika untuk pemulihan staminanya. Namun ia sudah dipindahkan di ruang inapnya yang dulu. Perlahan tubuh Andi mulai membaik, kini dia sudah menjadi laki - laki yang kuat, jahil dan cerewet lagi setelah beberapa bulan vakum. Aku pun telah kembali menjadi sasaran kejahilannya. Aku merasa bersyukur banget aku bisa melihat dia sembuh dan bisa menjaga dia setiap harinya.


******


“Pagi….” Aku bangun dari tidur nyenyakku setelah mendengar alarm yang berbunyi seakan menari - nari di hadapanku dan memanggil - manggil namaku. Aku segera bangun melipat selimut lalu berjalan ke kamar mandi mengambil air wudhu.


Setelah beberapa menit di kamar mandi, aku keluar mengambil mukena dan sajadah lalu memakainya dan menggelarkan sajadah setelah itu aku menunaikan shalat subuh.


Sepuluh menit kemudian


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke arah kanan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke arah kiri. “Alhamdulillah” mengangkat kedua belah tangan “ya Allah ya Tuhan terima kasih atas segala nikmat ya engkau berikan kepadaku, ya Allah terima kasih engkau telah mengabulkan doaku sehingga bang Andi sudah semakin membaik. Ya Allah aku sungguh sangat menyayangi berikanlah kemudahan kepada kami untuk segera menikah aaaamiin” menyapukan kedua tangan ke wajahku.


Aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu meletakkannya kembali di rak mukena. Aku mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, memakai seragam sekolah. Setelah itu memakai sedikit make up.


Kriiiiing….. bunyi panggilan telpon. Aku mengambil handpone lalu menjawab panggilannya.


Via telpon


Andi


Hai sayangku cintaku bohateku


(Ucap Andi aku mendengar nada bicaranya sungguh sangat ceria)


Ya Allah aku kangen mendengar ucapan ini, batinku. Mataku terlihat berkaca - kaca.


Aku

__ADS_1


Bukannya salam malah panggil sayangku cintaku bohateku, dasar.


Andi


Dasar apa?? Dasar negara??. Oh iya abang lupa, sangking kangennya nih sama kamu sampai lupa salam. Oke deh abang ulang ya. Assalamualaikum sayangku, cintaku, bohateku.


Aku


Ah kamu ada - ada saja, waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuuuuuuh.


Andi


Iya ada - ada saja. Lagi apa sayang? Kamu kesini dong aku kangen banget sama kamu pengen menjitak dahi kamu.


(Mode manja Andi keluar)


Aku


Hei bapak Andi yang terhormat, kamu kangen sama aku kok malah mintanya jitakin kepala aku


Andi


Ya habisnya kamu gemesh banget, serius sayang kamu ke sini ya. Oh iya abang lupa.


Aku


Lupa apa bang


Andi


Aku


Makanya jangan kelamaan tidur. Sudah seperti pangeran tidur saja kamu.


Andi


Katain teros, yasudah abang tutup telponnya ya kamu siap - siap terus ke sekolah. Semangat ya sayangku cintaku bohateku nanti di sekolah jangan marahin anak orang ya.


(Teriak - teriak)


Aku


Ish jangan teriak - teriak budeg ini aku. Yasudah daaa sampai jumpa besok.


Aku menutup panggilannya lalu melanjutkan memakai lipstik di bibirku. Setelah itu tak lupa memakai parfum “semprot … semprot … semprot, ah capek” menutup parfum “yah parfumenya tinggal sedikit” meletakkan di rak kosemetik. Aku mengambil tas lalu berjalan ke luar.


“Pagi mama” ucapku kepada mama yang sedang sarapan dengan ayah.


“Pagi juga anak kesayangan mama”


“Anak kesayangan??? Kita cuma punya satu anak ma. Ya pasti seluruh kasih sayang kita cuma untuk Kanza seoranglah” ledek ayah.


Mama tertawa cengengesan. Aku duduk di samping ayah lalu mengambil piring dan menyedok nasi dan sedikit lauk.


“Keadaan abang gimana kak” tanya mama seraya mengunyah makanan.

__ADS_1


“Alhamdulillah ma, sepertinya sudah mulai membaik. Tadi abang nelpon adek” memasukkan sendok yang berisi nasi ke mulut lalu mengambil lauk dan memasukkannya lagi ke dalam mulutku.


“Syukurlah kalau seperti itu. Yah nanti ke sana yuk kita menjenguk abang kan semenjak dia sadar kita belum ke sana”


“Yah ma, ayah nanti sudah ada janji dengan bang Ibnu mau melihat lokasi rumah yang akan dibeli”


“Oh ayah mau berangkat ke sana hari ini”


“Iya palingan jam - jam 10 ayah berangkat nanti bang Ibnu jemput ayah”


“Mama pergi sama kakak saja” seruku lalu meneguk minuman.


“Iya deh” jawab mama pasrah.


Setelah menghabiskan sarapan aku meletakkan piring kotor bekasku, ayah dan mama ke dapur. Lalu aku berpamitan dengan ayah dan mama.


“Ma pamit ya” mencium tangan mama.


“Iya hati - hati ya bawa motornya jangan ngebut - ngebut”


“Iya mama, Ayah pamit ya” mencium tangan ayah.


“Iya dengar itu, jangan ngebut - ngebut”


Aku mengangguknya “Ma, ayah uang jajannya mana” nyengir “masak anaknya mau berangkat sekolah enggak di kasih uang jajan sih” ledekku berharap di kasih uang jajan seperti pada saat aku masih sekolah sebagai siswa.


“Kasih tu yah, anak TK lagi minta jajan” ledek mama lalu berjalan ke dapur.


“Ya sudah ini” ayah mengambil dompet di saku celananya lalu membuka dompet mengambil uang dan memberikannya kepadaku “ini” aku mengambilnya.


“Masak dua ribuan ayah” wajahku terlihat cemberut “ma… masak ayah kasihnya uang dua ribuan, kayak mau ngasih ke tukang parkir saja ayah ini” protesku.


Ayah tertawa ngakak melihat ekspresiku mama yang mendengar ayah tertawa menghampiri “kenapa sih”


“Ini ma” aku dengan polosnya memperlihatkan uang dua ribuan yang dikasih ayah ke hadapan mama.


Bukannya membelaku mama malah ikut menertawaiku.


“Maaf ya kak, ayah kiranya tadi tukang parkir” ledek mama.


“Ish” gerutukku kesal.


“Yasudah ini aa” ayah memberiku lembaran uang lima puluh sebanyak 5 lembar “cukup anak kecil”


“Cukup ayah cukup, tapi kalau ayah mau nambah lagi juga gak apa - apa. Aku ikhlas menerimanya” aku begitu kegirangan dengan pemberian ayah. Awalnya aku hanya berniat bercanda meminta uang jajan kepadanya tapi ayah malah memberinya beneran. “Yee yeee ayah kasih uang banyak kepadaku mama tidak boleh cemburu ayah kasih kepadaku ooohhooooo” nyanyi dengan nada ala kadarnya.


“Heh siapa yang cemburu. Uang ayah uang mama tahu. Kan ayah punyanya mama” memeluk ayah di depanku lalu memeletkan lidahnya ke arahku.


“Uuuh anak kecil tidak boleh lihat” aku berlari ke pintu garasi. Mengambil motor, memasangkan helm lalu menancap gas perlahan.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2