
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
****
Di pinggiran sofa aku meringkuk badanku, menangis tersedu - sedu. Aku menangis dalam diam agar Andi tidak dapat mendengar suara tangisanku. Aku tidak ingin dia mengetahui tentang kesedihan yang aku rasain ini.
Beberapa menit kemudian, Andi membuka matanya. Ya Allah apa salahku sehingga harus mengidap penyakit separah ini, ya Allah tugasku di dunia ini belum selesai aku masih harus membahagiakan kedua orang tuaku, aku masih punya janji untuk membahagiakan Kanza tunanganku, batinnya. Air mata terus mengalir di pipinya “ya Allah berilah hamba jalan untuk melewati ini semua hamba masih ingin membahagiakan orang - orang yang hamba sayang”
Andi melihat ke arahku yang duduk dengan meringkuk badanku di atas sofa “sayang…” panggilnya lembut.
Aku melihat ke arah suara yang memanggilku. Segera aku menghapus air mata. “Iya sayang” suara panggilan itu berasal dari Andi. Aku berjalan mendekatinya “kenapa sayang??? Kamu mau apa” tanyaku mataku menatap wajahnya.
“Kamu duduk dulu” Andi menyuruhku duduk di sampingnya “abang mau ngomong”
Aku duduk sesuai keinginannya. Andi menggenggam tanganku erat. “Sayang temani abang untuk melewati ini semua ya” ucapnya.
“Iya sayang, tanpa kamu minta adek akan selalu menemani kamu” ucapku, aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
“Kalau sampai terjadi apa - apa sama abang, kamu jangan menangis ya, kamu cukup ikhlas kan abang. Dan… perlu kamu ketahui bahwa abang akan selalu menyayangi dan mencintai kamu dimana pun abang berada” air mata terus membasahi pipinya.
“Sayang… jangan ngomong seperti itu. Kamu pasti bisa sembuh sayang, abang tidak akan pernah meninggalkan aku” menggegam tangannya. Tangan Andi mengelus lembut pipiku.
“Abang akan usahakan, tapi abang tidak bisa berjanji sayang, abang bisa selalu bersama adek”
“Abang cukup jangan ngomong seperti itu mending kamu berdoa kepada Allah” aku sedikit memarahinya, aku tidak ingin ia mengeluarkan kata - kata seperti itu lagi, bagiku makna kata - katanya sungguh menyakitkan.
“Iya sayang maaf ya”
****
Bu Juli, bu Fizza, bu Dewi, pak Said, dan bu Susi telah melakukan finger print sebelum pulang di kantor utama.
“Bu Juli coba hubungi bu Kanza apa dia ada di rumah sakit” suruh pak Said.
“Iya sebentar” bu Juli mengambil handphonenya di dalam tas.
Via telpon
Bu Juli
Assalamualaikum
Aku
Waalaikumsalam
Bu Juli
Dek, kami ingin ke sana untuk menjenguk pak Andi. Kamu di rumah sakit kan??
Aku
Oh iya kak, ke sini saja kak. Kanza lagi di sini.
“Siapa sayang??” tanya Andi mendengar percakapan ku di telpon.
“Ini sayang” menutup speaker handphone dengan tanganku. “Guru - guru tempat adek mengajar mau menjenguk abang” jelasku. Andi menggangukkan kepalanya pelan.
Aku
Kak kami di rumah sakit Citra Medika di ruang VIP 03 ya kak.
Bu Juli
Iya dek ini kami lagi on the way ke sana.
Aku
Iya kak. Aku tunggu ya.
Panggilan itu berakhir. Bu Juli menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas.
“Bagaimana bu Juli?” tanya bu Dewi.
“Iya buk Kanza di rumah sakit Citra Medika ruang VIP 03 katanya.
“Ya sudah mari kita berangkat”
Masing - masing guru berangkat dengan motornya, karena setelah itu mereka akan pulang ke rumah masing - masing.
SKIP
Kelima motor para guru telah sampai di parkiran rumah sakit.
“Dimana ya ruangannya??” tanya bu Fizza melihat gedung rumah sakit yang begitu luas sehingga membuat ia bingung harus melangkah kemana.
“Tidak tahu juga coba kita ke sana dulu” menunjuk lobi rumah sakit “nanti kita akan tanya ke resepsionisnya di sana”
Bu Juli, pak Said, bu Fizza, bu Dewi dan bu Susi berjalan ke lobi rumah sakit.
Bu Dewi berjalan ke meja resepsionis sementara yang lain menunggu di depan kursi panjang “Sus ruang VIP 03 dimana ya?” tanya bu Dewi di resepsionis.
“Sebelah kiri bu, jalan terus kamarnya paling ujung” jelas suster yang berjaga menujukkan dengan tangannya ke sebelah kiri.
“Terima kasih sus” bu Dewi kembali bergabung dengan guru lainnya. “Sebelah kiri sana ruangannya, mari kita kesana” mereka semua melanjutkan perjalanan sesuai arahan suster yang berjaga di resepsionis.
*****
Di depan ruangan VIP 03
“Assalamualaikum” pak Said mengetuk pintu.
“Siapa itu sayang” tanya Andi kepadaku setelah mendengar ketukan pintu.
__ADS_1
“Mungkin para ibu - ibu sudah datang” jawabku ikut melirik ke arah pintu “adek buka sebentar ya sayang” aku berjalan ke arah mintu cekreeek bunyi gagang pintu “silahkan masuk bu Juli, bu Dewi, pak Said, bu Fizza, bu Susi”
Mereka semua masuk satu persatu, kemudian berjalan ke ranjang Andi bersalaman dengannya.
“Silahkan duduk ya bu, pak” aku mempersilahkan mereka duduk di sofa.
“Bu Kanza ini oleh - olehnya sedikit” ucap bu Fizza memberikan parsel buah kepadaku.
“Terima kasih ya, sudah repot - repot” ucapku meletakkan parsel buahnya di atas meja. Kemudian menghidangkan mereka cemilan dan air mineral.
“Gak usah repot - repot dek” ucap bu Dewi.
“Enggak… enggak repot sama sekali kok, silahkan ya jangan malu - malu” tersenyum ke arah mereka lalu aku kembali duduk di kursi yang terletak di samping ranjangnya Andi.
“Bagaimana pak keadaannya” tanya bu Juli.
“Kok dipanggil pak sih bu panggil Andi saja” jawab Andi dengan kocak.
“Iya kak, masak anak kecil dipanggil pak sih kak” ledekku lagi.
“Iya bapak tentara maksudnya. Memangnya Andi kelahiran tahun berapa??”
“1993 bu” jawab Andi
“Oh masih muda ya, berarti pak Haris yang mau kita jodohkan ke bu Kanza kemaren sudah ketuaan ya bu” ucap pak Said dengan julid.
“Pak Said ngomong apaan sih” aku melirik ke arah pak Said.
Aduuuh pak Said kenapa harus ngomong itu sih di depan bang Andi lagi, nanti bisa membuat bang Andi salah paham gimana dan bisa saja nanti bang Andi melarang aku untuk dekat dengan mereka lagi, batinku.
“Maksudnya dek” Andi merasa bingung dengan ucapan pak Said.
“Pak Said sih ngomongnya begitu nanti bisa rusak hubungan orang” bisik bu Dewi.
“Maaf ya saya keceplosan” pak Said meminta maaf dengan apa yang barusan ia katakan. “Saya tidak bermaksud apa - apa”
“Kamu nanti jelasin sama abang” bisik Andi kepadaku.
“Iya kamu jangan cemberut ya. Gak enak sama mereka sudah datang jauh - jauh ke sini” bisikku lagi.
Lima belas menit kemudian mereka semua berpamitan pulang.
“Terima kasih ya bu Fizza” bersalaman dengannya. Bu Fizza juga bersalaman dengan Andi.
“Cepat sembuh ya pak Andi”
“Iya bu, terima kasih sudah datang menjenguk”
Bu Fizza lalu berjalan ke pintu.
“Terima kasih ya bu Juli” bersalaman dengan bu Juli. Lalu bu Juli bersalaman dengan Andi.
“Cepat sembuh ya dek, biar bisa jalan - jalan sama ayang lagi” melirikku. Andi tersenyum ke arahnya lalu ia berjalan ke pintu.
“Terima kasih ya pak Said” aku mengulurkan tanganku bersalaman dengannya. Pak Said lalu mengulurkan tangannya ke Andi setelah salaman Andi hanya tersenyum tipis, wajahnya terlihat sedikit kesal.
*****
“Pak Said…” panggil bu Dewi mendekatinya berjalan beriiringan dengannya “bapak kenapa harus ngomong tentang perjodohan bu Kanza dan pak Haris di depan tunangannya”
“Maaf bu saya keceplosan”
“Itu pasti bisa membuat mereka marahan”
“Iya pak Said ini, kalau rusak hubungan mereka gara - gara kedatangan kita bagaimana??” tambah bu Susi.
“Iya pak Said ini, seharusnya bapak ikhlasin bu Kanza sudah berjodoh dengan orang lain. Bukankah yang tidak merespon itu pak Haris sendiri ya pak. Jadi menurut saya yang salah di sini atau yang tidak mau dijodohkan di sini ya pak Haris bukannya bu Kanza” jelas bu Fizza.
“Iya pak lagian sudahlah memang pak Harisnya yang gak mau bapak jodohkan dengan bu Kanza” tambah bu Susi.
“Sudah lah dek ya” ucap bu Dewi yang ikut pasrah karena pak Haris tidak mau menerima wanita yang ingin dia dan pak Said jodohkan.
“Iya kenapa sih pada nyerang saya. Saya tadi cuma keceplosan. Kalau mereka sampai berantem ya sudahlah itu urusan mereka bukan urusan saya” jawab pak Said kesal karena mereka semua menyalahkan pak Said sendiri. Pak Said berjalan dengan cepat meninggalkan mereka.
“Egois banget pak Said bisa berbicara seperti itu” ucap bu Susi kesal melihat pak Said yang tidak mau bertanggung jawab dengan omongannya sendiri.
“Ini sebenarnya yang tidak mau mengikhlaskan bu Kanza dengan tunangannya pak Said apa pak Haris sih?? kok jadi pak Said yang ngambek” ucap bu Juli yang bingung dengan semua ini.
“Sebenarnya….” ucap bu Susi.
“Sebenarnya apa bu Susi” tanya bu Dewi penasaran.
“Sebenarnya pak Said suka sama bu Kanza”
“Hah?” mereka bertiga syok mendengar apa yang baru saja disampaikan bu Susi.
“Bu Susi tahu dari mana”
“Jadi beberapa hari yang lalu di kantor tinggal aku” duduk dulu di situ yuk “menunjuk kursi panjang. Bu Susi, bu Dewi, bu Fizza dan bu Juli duduk di kursi panjang yang ada di lobi. “Jadi waktu saya tinggal sendirian di kantor datanglah pak Said duduk di depan saya kan. Setelah itu entah lagi mengobrol apa sampailah pembahasannya ke bu Kanza. Terus pak Said ngomong sama saya. Saya sebenarnya suka sama bu Kanza. Ucapnya tiba - tiba, terus saya nanya kan bukankah pak Said sudah nikah ya??kenapa mesti suka lagi dengan perempuan yang lain? Aku heranlah masa iya pak Said sudah nikah tapi masih suka sama perempuan lain” jelas bu Susi yang membuat ketiga guru lainnya terheran.
“Terus pak Said jawab apa bu” tanya bu Juli yang ingin mengetahui kelanjutannya.
“Katanya gini, sebenarnya saya suka sama bu Kanza sejak saat pertama saya pindah ke sekolah ini. Tapi saya bingung harus pilih kekasih saya atau bu Kanza”
“Wow” ucap bu Dewi tidak percaya.
“Serius bu, saya tidak bohong”
“Terus bu kelanjutannya bagaimana?” tanya bu Fizza.
“Terus saya tanya, kalau memang pak Said suka sama bu Kanza kenapa pak Said memilih menikah dengan istri bapak sekarang”
“Dia jawab apa”
“Kalau tidak salah dia jawabnya begini, saya memang sangat menyukai bu Kanza tapi keluarga saya mendesak saya untuk menikah terus dengan Lisa padahal saya tidak terlalu menyayanginya, gitu ngomongnya bu. Terus saya tanya lagi kan kenapa dia menjodohkan bu Kanza dengan pak Haris”
__ADS_1
“Itu apa dijawabnya” tanya bu Dewi karena bu Dewi berteman juga dengan pak Haris dan bu Dewi juga yang membantu pak Said menjodohkan aku dengan pak Haris.
“Eum…. apa ya. Oh iya karena pak Said mengatakan bahwa pak Haris itu sahabat dekatnya jadi dia semacam menitipkan orang yang dia sayang ke sahabatnya. Dan lagi pula pak Said kan selalu berjumpa dengan pak Haris jadi dia berpikir bahwa dia juga bisa berjumpa dengan bu Kanza dan pastinya melihat keadaannya”
“Gila… aku pikir pak Said tulus mau menjodohkan bu Kanza dengan pak Haris tahu, ternyata..… ada sesuatu di baliknya malah saya lagi yang ikut - ikutan menjodohkannya” ucap bu Dewi kesal setelah dia mengetahui alasan sebenarnya.
“Iya saya juga tidak menyangka pak Said begitu dia tidak melepaskan calon istrinya dan dia juga tidak mau melepaskan bu Kanza”
“Pantesan ya pak Said ngomong seperti itu tadi di depan tunangannya Andi”
“Apa jangan - jangan biar mereka berantem ya”
“Pokoknya yang saya bilang sama kalian ini jangan sampai pak Said tahu ya” ucap bu Susi was was.
“Iya” angguk bu Dewi dan yang lainnya.
“Yasudah mari kita pulang”
Mereka berempat berjalan ke parkiran mengambil motor masing - masing, membayar uang parkir lalu menancap gas pulang ke rumah masing - masing.
“Sepertinya saya harus minta maaf ke bu Kanza masalah perjodohannya dengan pak Haris” ucap bu Dewi mengendarai motornya “saya tidak mau nanti terseret dengan masalah yang pak Said buat, karena saya memang tulus mencarikan jodoh untuk pak Haris dengan menjodohkannya dengan buk Kanza”
*****
“Sayang” panggil Andi wajahnya terlihat begitu serius.
“Iya kenapa sayang” jawabku sedikit gugup.
“Tolong ya kamu jelaskan omongan bapak tadi, tolong kamu jawab sejujur - jujurnya aku tidak ingin kamu membohongi saya” ucap Andi nadanya sedikit marah.
“Jadi gini sayang”
“Apa”
“Kemaren waktu adek belum kenal sama abang dan adek masih berpacaran sama mantan adek itu, jadi di sekolah duduklah pak Said, adek dan bu Dewi jadi pak Said dan bu Dewi ini ingin menjodohkan adek dengan temannya. Pertamanya adek menolaknya sih karena adek berpikir mantana adek serius menjalin hubungan dengan adek tapi semenjak saat itu pak Said ini setiap bertemu dengan adek selalu membahas masalah perjodohan ini bahkan di depan banyak guru lainnya. Jadi adek iyakan lah karena adek gak mau dicap sombong. Jadi yasudah adek iyakan untuk berkenalan dengan pak Haris iya namanya pak Haris sayang”
“Itu kamu jujur”
Aku menggangguknya pelan.
“Terus”
“Terus pak Said ini kirimlah nomer adek ke pak Haris itu. Ternyata pak Haris ini tidak sama sekali menghubungi adek. Dan setiap hari juga pak Said nanyain adek apa sudah dihubungi sama pak Haris atau belum. Terakhir karena tidak sanggup mendengar pertanyaan dari pak Said lagi setiap hari yang cuma menanyakan apa sudah dihubungi pak Haris atau belum. Adek jawablah kalau pak Haris sudah menghubungi saya, pasti saya akan mengatakannya kepada bapak. Terus beberapa hari setelah itu, pak Said ngomong sama adek kalau bahwasannya pak Haris menolak adek karena adek anak tunggal” jelasku panjang lebar mengenai semua yang terjadi “setelah itu adek bertemu sama abang, jadi urusan adek sama pak Said selesai. Dan adek sudah memiliki abang”
“Itu jujur ya”
“Iya sayang, kalau memang abang tidak percaya abang boleh tanyakan ke bu Susi, bu Fizza atau bu Juli mereka bertiga mendengarnya. Karena yang mau menjodohkan adek dengan pak Haris ya pak Said dan bu Dewi dan yang menolak adek juga pak Harisnya sendiri dengan alasan adek anak tunggal. Adek sih biasa saja karena memang niatnya biar gak dikira sombong saja” jelasku lagi.
“Hmmm” menghela nafasnya.
“Kamu jangan marah ya sayang. Karena jujur kalau sekarang adek cuma mau di samping abang. Tidak ada sedikit pun ingin bersama atau berkenalan dengan orang lain” ucapku menggenggam tangan Andi.
“Terima kasih ya sayang, kamu sudah setia sama abang” membalas genggamanku.
“Iya dong, karena adek sudah sangat menyayangi abang. Makanya abang cepat sembuh ya biar kita bisa jalan - jalan lagi. Adek sedih tahu abang terbaring begini” perlahan air mata turun membasahi pipiku.
“Iya sayang” mengusap air mataku. “Abang akan sembuh kok dan abang mau dioperasi biar proses penyembuhannya cepat”
“Iya sayang, adek akan menemani abang melewati ini semua. Abang tidak sendiri masih ada ayah, mama, adek, kak Anti dan kedua orang tua adek yang selalu mendoakan kesembuhan abang” aku terus memberikan semangat untuknya.
“Assalamualaikum” suara ketukan pintu terdengar aku dan Andi melirik ke arah pintu. Cekreek suara pintu terbuka.
“Oh masuk pak” aku mempersilahkan seorang bapak - bapak yang mengenakan seragam tentara masuk. Aku mengulurkan tanganku bersalaman dengannya. Kemudian dia bersalaman dengan Andi. Ia duduk di atas ranjang Andi.
“Gimana Andi” tanya pak Rusdi, suara pak Rusdi terdengar begitu lembut berbanding terbalik dengan suaranya saat di kantor yang begitu tegas.
“Alhamdulillah sudah mendingan pak” jawab Andi.
“Maaf ya saya baru datang menjenguk, ini siapa” menunjuk ke arahku.
“Kenalin pak ini tunangan saya Kanza cek gu di sekolah SMP itu pak yang jalan masuk ke koramil”
“Oh ibu guru rupanya”
“Iya pak masih honorer” jawabku tersenyum ke arahnya.
“Oh iya dek, kenalin ini pak Rusdi komandan abang”
“Iya pak” tersenyum lagi ke arahnya.
“Maaf ya saya tidak bisa lama - lama”
“Iya pak, terima kasih ya sudah menjenguk”
“Semoga cepat sembuh ya biar bisa beraktifitas lagi dan jagain kantor lagi” ucapnya sedikit tertawa lalu ia berjalan ke pintu dan meninggalkan ruangan.
****
“Sayang sumpah, abang baru pertama sekali melihat pak Rusdi nada berbicaranya lembut sekali seperti tadi, kalau di kantor beuh suaranya seperti sambaran petir tegas banget deh pokoknya”
“Iyalah sayang, di kantor kan dia seorang komandan jadi wajarlah kalau dia harus bersikap tegas kepada anak buahnya supaya dihormati. Kalau dia contohnya datang kesini tadi kan seperti teman jadi wajar saja kalau nada bicaranya juga harus lembut kan beda teman dengan anak buah sayang” jelasku mengeluarkan pendapat.
“Iya juga ya. Berarti pak Rusdi bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya”
“Iya kamu begitu juga. Urusan kantor cukup di kantor dan urusan rumah cukup di rumah jangan mencampur adukkan keduanya. Mengerti sayang!!”
“Ngerti dong, masa itu saja tidak ngerti sih”
“Hmmm yasudah sekarang” menarik selimut Andi menutupi tubuhnya sampai dadanya “abang tidur ya istirahat jangan banyak berbicara lagi ya”
Andi memejamkan matanya sesuai perintahku. Sementara aku yang duduk di sampingnya merebahkan kepalaku dekat lengannya.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya bye.