
Aku masih terdiam membisu.
“Woiii jawab neng cantik”
Aku terkekeh.
“Kamu ngerjain aku ya” melirik ke arah ku “jahat banget” mencubit pipiku dengan tangan kirinya.
“Lepasin” aku memegang tangannya menyuruhnya berhenti.
***
Toko Eskrim
Andi memarkirkan mobilnya di depan toko, membukakan pintu lalu keluar bersamaan denganku yang keluar dari pintu sebelah kiri.
“Kita duduk dimana sayang” tanya Andi melirik setiap sudut toko.
“Di sana saja sayang” aku menunjuk ke kursi yang berada di pinggir kolam ikan.
“Boleh sayang ayo” Andi berjalan beriringan dengan langkah kakiku.
Aku dan Andi menggeser kursi lalu duduk di kursi masing - masing. Penjaga toko menghampiri kami meletakkan buku menu lalu pergi.
“Mau pesan apa sayang” tanya Andi kepadaku.
“Es krim coklat vanila plus roti manisnya” jawabku yang sudah hafal dengan nama menu kesukaanku.
Andi menulis permintaanku dan pesanannya.
Penjaga toko datang kembali mengambil buku menunya.
“By the way sayang kok baju kita hari ini samaan ya warnanya baru sadar adek” aku melihat Andi memakai kaos berwarna putih yang sama dengan bajuku.
“Nama juga jodoh sayang” jawabnya enteng.
“Sayang tadi ada cerita lucu” Andi mengangkat kursi lebih dekat dengan meja.
“Apa”
“Kan tadi abang keluar kamar, ketemu mama, terus mama nanya gitu kan mau kemana abang. Abang jawab mau ketemu sama abang, eh kok sama abang sih mau ketemu sama adek jawab abang”
“Terus” aku memperhatikan setiap gerakan mulut Andi.
“Terus abang minta uang sama mama, tahu mama kasihnya berapa”
“Berapa”
“Ini” Andi mengeluarkan uang dari sakunya menunjukkan kepadaku.
“Dua ribu” tanyaku memegang uangnya.
“Iya terus mama bilang sultan ngapain minta duit ke mama, oh mama tahu mau minta duit receh kan. Mama malah ngeledek abang”
Aku tertawa dengan ceritanya Andi yang garing.
“Abang kira mama beneran mau ngasih uangnya habisnya mama pakek ke kamar segala ambil dompet tahunya dikasih ini malah dibilang abang mau minta uang receh lagi” Andi tertawa ngakak dengan kelakuan receh mamanya. “Sayang” panggilnya lembut.
“Iya sayang” melirik wajahnya.
__ADS_1
“Adek mau belajar mobil” tanya Andi tiba - tiba membahas soal mobil.
“Mau bang” jawabku tanpa berpikir panjang.
“Nanti ya kalau ada waktu abang ajarin, inshaallah siap kita nikah abang belikan adek mobil sendiri”
“Janganlah, uangnya kita tabung saja” aku menolak pemberian Andi.
“Kan beli mobil itu bisa jadi tabungan juga sayang” jelasnya tidak ingin aku menolak pemberiannya.
“Iya juga sih”
“Adek sukanya mobil apa”
“CRV” jawabku cepat. Karena aku sangat menginginkan mobil itu, mobil itu sudah lama menjadi impianku.
“Adek suka CRV berarti nanti kita beli yang itu saja, buat istri tersayang apa sih yang gak untuk apa juga uang - uang abang kumpulin selama ini”
“Kumpulin dari mana abang ngepet” ledekku.
“Heeii… kamu ini yang gak - gak saja. Ya kali abang ngepet”
Penjaga toko membawa pesanan kami. Ia menaruh semangkok es krim di depanku dan semangkoknya lagi di depan Andi.
“Ini ya abang bilangin” Andi melanjutkan omongannya yang sempat terputus “abang sebenarnya ada banyak usaha lain di luar, kenapa baru mau abang bilang sekarang sama kamu, karena abang gak mau nanti kamu berpikir abang ini orangnya suka pamer. Jadi karena sekarang kamu sudah menjadi tunangan abang, abang rasa kamu harus tahu juga”
Aku menjadi penasaran dengan perkataan Andi “maksud abang gimana” menyendok es krim ke dalam mulut.
“Abang ada usaha kostan gitu” menyendok es krim ke dalam mulutnya.
“Kok abang bisa kepikiran bikin kostan” tanyaku.
Aku terkagum dengan pola pikir Andi yang memikirkan usaha di saat mamanya memberi modal untuk bersenang \- bersenang.
“Wah keren ya abang, bisa kepikiran kaya gitu, terus yang kelola di sana siapa sayang”
“Itu ada penjaganya masing - masing sayang, mereka dapat gaji dari abang setiap bulannya. Nanti kapan - kapan lah kita kesana”
“Keren banget sih kamu” mencubit kedua pipinya,
“Hehe biasa saja sayang, toko mas kayak gitu juga sayang. Mama dan ayah memberi satu pintu buat abang. Abang tertarik juga jadi abang kembangin dengan segala usaha alhamdulillah sekarang sudah 5 cabangnya. Sampai kata mama abang mama kasih uang beli mobil malah bikin kostan”
Aku dan Andi asik berbincang \- bincang dengan sesekali menyedok es krimnya dan memakan camilannya.
“Terus apa jawaban dari abang” tanyaku lagi.
“Abang ketawa saja waktu mama ngomong gitu, malah abang kasih lagi uang laba dari hasil toko mas dan kostan itu buat mama dan ayah kalau gak salah 20 juta seorang”
“Terus buat kak Anti”
“Kak Anti 10 juta cuma abang kasih, itu saha sudah senang banget dia, dapat rezeki nomplok katanya”
“Abang akrab banget sama kak Anti” tanyaku lagi.
“Iya…. banget kak Anti itu sering banget ngejahilin abang”
“Gak kebalik tu”
“Hehehe” Andi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal “ketahuan deh”
__ADS_1
“Apanya ketahuan kan aku tahu kelakuan kamu kayak apa”
“Pernah ya sayang abang tangkap kecoa terus masukkin ke kamar kak Anti, kamarnya abang kunci dari luar, jerit - jeritlah kak Anti dikejar - kejar kecoa” Andi tertawa mengingat tingkahnya yang super jahil “abang waktu itu setelah mengunci kak Anti entah pergi ke toko”
Aku memperhatikan Andi berbicara tanpa berkedip“Jadi kak Anti bagaimana”
“Kayaknya terakhirnya dibukain pintu sama Ayah”
“Memangnya abang gak dimarahin”
“Gak sih, sama Ayah disuruh beli apapun yang kak Anti mau pakai duit abang, rugi bandar abang”
“Makanya jangan jahil jadi orang” menjewer telinga kanan Andi memberinya rasa kapok. Bukannya kesakitan Andi malah tertawa. Andi memang anaknya super jahil untung saja aku masih belum terkena jerat kejahilannya baru terkena sindrom rasa sayangnya.
“Satu lagi sayang pernah waktu itu ke mall sama kak Anti berdua” melanjutkan pengalamannya menjahili kakak satu - satunya yang dia punya.
“Terus sayang” aku bersiap mendengar cerita darinya lagi.
“Teruss…. setelah keliling - keliling abang bilang sama kak Anti mau ke toilet, abang suruh nunggu dia di bangku - bangku panjang gitulah. Nunggukan dia di situ. Abang keluar lewat pintu samping, pintu samping itu sebelahan sama tempat game”
“Pasti abang ke sana”
“Iya….” Tertawa “abang ke sana main mobil - mobilan entah sampai sejaman lebih, lupa abang. Terakhirnya entah dari mana kak Anti tahu abang di tempat game pokoknya dia jewer abang di situ”
Aku tertawa ngakak mendengarnya di jewer “uu pasti merah banget telinganya”
“Bukan merah lagi, mau putus rasanya telinga aku”
“Terus kamu pernah gak dijahilin kak Anti” rasa penasaranku bertambah.
“Pernah sekali doang, habisnya kak Anti itu superbaik deh orangnya”
“Apa dijahilin sama kak Antinya” tanyaku penasaran.
Perbincangan ini menghabiskan es krim yang kami pesan tanpa sisa.
“Pernahkan abang pulang dari koramil terus kak Anti masak nasi goreng, dikasihlah untuk abang sepiring rupanya nasi goreng buat abang itu sudah ditambahin garam entah sekilo terus cabe rawit itu sebanyak apa entahlah, sampai sakit perut abang makannya walaupun baru satu suap”
Aku tertawa ngakak lagi dan lagi “wah sijahil
kena batunya”
“Masuk rumah sakit abang setelah itu, maka dari itu kak Anti gak pernah membalas kejahilan abang lagi taubat dia”
“Terus kamu”
“Aku?? Karena kak Anti gak ada lagi di rumah. Ya kamulah target aku selanjutnya” melirik ke arahku.
“Heeeiii… apa kabar, kamu mau ngejahilin aku sorry ya gak akan bisa”
“Lihat saja nanti” menantangku dengan tatapan tajamnya membuatku penasaran dengan rencana kejahilannya.
“Sayang pulang yuk” melihat jam di tangan kiriku “sudah jam 6 lewat ini, nanti kemalaman”
“Iya sayang ayo, abang bayar dulu” bangun dari tempat duduknya lalu duduk lagi, aku melihat ke arahnya“eh gak jadi kamu yang bayar hari ini sebagai hukuman karena sudah membuat abang panik kemaren”
Aku terkekeh melihatnya “iya” aku bangun berjalan ke meja kasir. Setelah selesai aku dan Andi berjalan ke mobil dan segera pulang.
#thank you atas kunjungannya. Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya bye.