Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 21


__ADS_3

**


Selang beberapa jam kemudian aku telah sampai di garasi rumah, melepaskan helm di kepalaku meletakkannya di spion motor. Aku mengambil bungkusan nasi goreng yang di sangkutkan di motor. Aku membawanya masuk bersama diriku.


Setelah mengganti baju, aku mengambil piring dan sendok yang berada di dapur membawanya ke ruang televisi. Aku menghidupkan televisi mengambil siaran Bon voyage.


Triing


Bunyi notifikasi chat masuk di handphoneku, segera mungkin aku membacanya. Orang yang mengirimku pesan iyalah bang Andi.


Andi


Ini maksudnya apa


Aku


Apa sayang adek cuma pergi beli makan


Andi


Kemana kamu malam - malam, sama siapa kamu pergi , kenapa gak bilang dulu sama aku, kamu gak anggap aku.


Aku


Apa sih sayang, abang lagi piket gak lihat handphone juga, jangan marah - marah dong.


Andi


Mama sama ayah pergi, kamu keluyuran malam - malam, kamu dititipkan ke aku sama ayah sama mama tahu kamu.


Andi melihat story di sosial mediaku, ia langsung mengirimkan pesan untukku. Andi memarahiku karena tidak meminta izin kepadanya keluar malam di saat ayah dan mamaku sedang tidak di rumah. Ia berpikir aku pergi dengan seseorang karena tidak mungkin aku akan pergi sendirian.


**


Aku


Sayang maaf ya tadi adek pengen banget makan nasi goreng jadi ke sana sendirian terus waktu di jalan adek melihat toko es krim yang biasa kita makan, adek kepengen juga jadi adek mampir makan di sana.


Andi


Sayang, bukannya abang marah. Setidaknya kamu bilang dulu sama abang kalau mau kemana - mana. Kalau kamu kenapa - napa aku mau bilang apa sama mama sama ayah. Kamu gak mikir kayak gitu apa.


Aku


Iya sayang lain kali gak gitu kok.


Andi


Oke


Andi membalas pesanku dengan singkat padat, ia masih marah dengan kelakuanku yang baru saja kubuat. Ia tidak bermaksud overprotektif tapi mencoba menjagaku lebih ketat apalagi saat ayah dan mama sedang tidak di rumah.


“Duh gimana ya, kalau bang Andi marah sama aku” merasa cemas. “Ah sudah lah lagian kan aku gak macam - macam gak jalan sama cowok lain juga, aku cuma membeli nasi goreng, ia sih tempatnya jauh dan aku gak memberi tahu dia dulu” aku tidak mau memikirkan Andi terlalu dalam. Aku yakin dia berbuat seperti ini karena dia terlalu sayang kepadaku.


Aku kembali fokus dengan nasi goreng yang telah aku belikan dan televisi yang menayangkan bon voyage grup boy band asal korea favoritku. Aku terus fokus dengan aksi mereka dengan sesekali menyuapkan nasi.


Selesai makan, aku membawa piring kotor ke dapur setelah itu segera kembali ke depan televisi melanjutkan menonton bon voyage.


“Kira - kira bang Andi masih marah gak sama aku ya” aku mengambil handphone mengirimkan pesan untuk Andi.


**


Selang beberapa jam kemudian aku telah sampai di garasi rumah, melepaskan helm di kepalaku meletakkannya di spion motor. Aku mengambil bungkusan nasi goreng yang di sangkutkan di motor. Aku membawanya masuk bersama diriku.


Setelah mengganti baju, aku mengambil piring dan sendok yang berada di dapur membawanya ke ruang televisi. Aku menghidupkan televisi mengambil siaran Bon voyage.


Triing


Bunyi notifikasi chat masuk di handphoneku, segera mungkin aku membacanya. Orang yang mengirimku pesan iyalah bang Andi.


Andi


Ini maksudnya apa


Aku

__ADS_1


Apa sayang adek cuma pergi beli makan


Andi


Kemana kamu malam - malam, sama siapa kamu pergi , kenapa gak bilang dulu sama aku, kamu gak anggap aku.


Aku


Apa sih sayang, abang lagi piket gak lihat handphone juga, jangan marah - marah dong.


Andi


Mama sama ayah pergi, kamu keluyuran malam - malam, kamu dititipkan ke aku sama ayah sama mama tahu kamu.


Andi melihat story di sosial mediaku, ia langsung mengirimkan pesan untukku. Andi memarahiku karena tidak meminta izin kepadanya keluar malam di saat ayah dan mamaku sedang tidak di rumah. Ia berpikir aku pergi dengan seseorang karena tidak mungkin aku akan pergi sendirian.


**


Aku


Sayang maaf ya tadi adek pengen banget makan nasi goreng jadi ke sana sendirian terus waktu di jalan adek melihat toko es krim yang biasa kita makan, adek kepengen juga jadi adek mampir makan di sana.


Andi


Sayang, bukannya abang marah. Setidaknya kamu bilang dulu sama abang kalau mau kemana - mana. Kalau kamu kenapa - napa aku mau bilang apa sama mama sama ayah. Kamu gak mikir kayak gitu apa.


Aku


Iya sayang lain kali gak gitu kok.


Andi


Oke


Andi membalas pesanku dengan singkat padat, ia masih marah dengan kelakuanku yang baru saja kubuat. Ia tidak bermaksud overprotektif tapi mencoba menjagaku lebih ketat apalagi saat ayah dan mama sedang tidak di rumah.


“Duh gimana ya, kalau bang Andi marah sama aku” merasa cemas. “Ah sudah lah lagian kan aku gak macam - macam gak jalan sama cowok lain juga, aku cuma membeli nasi goreng, ia sih tempatnya jauh dan aku gak memberi tahu dia dulu” aku tidak mau memikirkan Andi terlalu dalam. Aku yakin dia berbuat seperti ini karena dia terlalu sayang kepadaku.


Aku kembali fokus dengan nasi goreng yang telah aku belikan dan televisi yang menayangkan bon voyage grup boy band asal korea favoritku. Aku terus fokus dengan aksi mereka dengan sesekali menyuapkan nasi.


Selesai makan, aku membawa piring kotor ke dapur setelah itu segera kembali ke depan televisi melanjutkan menonton bon voyage.


“Kira - kira bang Andi masih marah gak sama aku ya” aku mengambil handphone mengirimkan pesan untuk Andi.


Aku


Sayang


*


Tidak ada balasan dari Andi. Setiap 5 menit sekali aku mengecek handphone berharap Andi membalasnya.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Andi masih saja belum membalas pesan dariku.


“Dia beneran marah ya” merasa gelisah setelah menunggu pesan yang tak kunjung dibalas. “Aku telpon dia gak ya, ini antara dia gak pegang handphone apa dia masih marah ya” membolak balik handphone menyenderkannya di antara mulut dan hidung, meletakkan di lantai mengambilnya lagi meletakkannya lagi membolak balikkannya.


Mataku tak terfokuskan lagi menonton televisi, hatiku merasa sangat gelisah pikiranku menjadi kacau. Aku hanya berpikir bagaimana kalau Andi beneran marah sama aku.


Sayang balas dong, batinku.


“Kamu tega banget sama aku” mengeluarkan air mata serasa hatiku sesak.


Aku terlelap tidur di depan televisi. Aku tidak kuat menahan sesak di dadaku. Televisinya masih menyala terang.


**


Keesokan paginya


Aku terbangun dengan banyak lampu yang bercahaya terang, televisi yang masih menyala. Aku mengecek handphone yang sama sekali tidak ada pesan masuk dari Andi.


“Hah, bikin galau saja anak ini” aku meletakkan handphone, mematikan televisi dan beberapa lampu. Aku berjalan ke kamar untuk mandi pagi dan bersiap berangkat sekolah.


Di sekolah


Semangat pagiku kembali membara setelah sampai di depan gerbang sekolah. Hari ini aku bertugas menjadi anggota piket. Setiap guru yang piket berkewajiban menyambut kedatangan siswa \- siswi di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


Aku berjalan dari kantor utama setelah fingerprint menuju ke pintu gerbang. Aku berdiri di samping pagar bersama empat guru lainnya yang juga menjadi petugas piket.


Satu persatu siswa dan siswi datang memasuki gerbang sekolah mereka bersalaman dengan semua guru piket.


Kriiing


Bel masuk berbunyi. Siswa dan siswi yang telah sampai di sekolah langsung masuk ke kelasnya masing - masing.


Sepuluh menit setelah bel masuk setiap siswa dan siswi yang datang akan diberikan hukuman karena terlambat. Mereka dihukum mengutip sampah daun kayu yang berjatuhan.


“Kesana dulu ya ambil sampahnya” pinta ku kepada beberapa siswa yang datang.


“Baik bu” seru mereka tanpa membantahnya.


Mereka mengambilkan sampah \- sampah sesuai dengan arahanku.


“Bu kami sudah selesai ya” siswa yang telah selesai mengambil sampah masuk ke kelas masing - masing.


Semua siswa sudah datang tidak ada lagi siswa yang terlambat hari ini. Aku dan beberapa guru piket lainnya berkeliling kelas mengontrol kelas yang tidak ada guru. Namun, semua guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Alhasil aku dan guru piket lainnya kembali ke kantor.


Di kantor aku bergabung dengan bu Dewi, bu Juli, bu Riza dan bu Fizza yang sedang berbincang - bincang.


“Eh ibu seleb datang” bu Fizza selalu memanggilku dengan sebutan ibu seleb entah kenapa dan apa alasannya, setiap aku datang ia selalu memanggilku dengan sebutan itu.


“Apa sih bu Fizza, ibu Fizzalah yang cocok jadi ibu seleb” pangkasku.


“Seleb apa dek” tanya bu Juli


“Ya seleb ija brok lah (kain bekas atau kain lap” jawabku dan bu Fizza kompak.


Triiing


Bunyi notifikasi dari handphoneku, aku melihat sebuah pesan yang masuk. Pesan itu berasal dari Andi.


Andi


Sayang maaf ya, abang semalam gak pegang handphone lagi. Kamu tahukan abang sedang piket.


Aku


Hah! Jadi abang gak marah karena gak dibalas lagi chatnya. Ya ampun adek pikir abang marah semalam, bikin syok tahu gimana sih.


Andi


Marah?? Oh jelas marah kalau kamu seperti itu. Abang bilangin ya, yang pertama mama sama ayah pergi kamu sendirian di rumah terus kamu seenaknya pergi sendirian malam - malam. Yang kedua kamu gak ada sama sekali bilang sama abang kalau mau pergi. Boleh kek gitu sayang. Abang bukannya gak ngebolehin kamu pergi abang juga gak mau ngekang kamu, ngebatasin kamu, tapi abang juga pengen kamu bilang sama abang. Apa susahnya sih tinggal chat doang. Paket data ada handphone ada. Ini abang tahunya dari story kamu. Ini lain cerita ya kalau mama dan ayah ada di rumah. Abang gak akan khawatir. Ngerti sayang, masa itu saja gak ngerti sih.


Andi mengirimku pesan yang panjang lebar. Dia memberi penjelasan atas perbuatanku semalam yang pergi sendirian. Ia sangat khawatir dengan keadaanku ditambah ayah dan mama tidak di rumah.


**


Aku


Iya maaf sayang.


Hanya kata maaf yang dapat kubalaskan dari isi pesannya. Aku tidak ingin memperbesar masalahnya.


Andi


Iya sayang lain kali jangan seperti itu lagi ya. Iya abang tahu abang baru jadi tunangan kamu bukan suami kamu. Tapi abang ingin menjaga dan melindungi kamu lebih dari sebagai seorang suami. Maaf juga kalau abang marah dan ngomong kasar sama kamu ya. Sebagai permintaan maafnya abang mau es krim yang semalam ada di story adek.


Aku


Dih, iya nanti sore kita ke sana ya. Adek yang beliin. Mau gak abang selagi baik ini adek.


Andi


Mau lah, nanti sore abang jemput ya.


Aku


Iya sayang


Chattingan itu berakhir. Aku kembali berbincang \- bincang dengan guru lainnya.


#thank you atas kunjungannya. Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2