
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
“Kamu sudah makan sayang” tanyaku.
“Belum, gak selera makan abang”
“Makan sedikit ya adek suapin”
Andi mengangguknya pelan. Aku berjalan ke dapur lagi. Hari ini aku sudah tiga kali bolak - balik ke dapurnya. Tapi tidak apa-apa aku ikhlas melakukannya, ini semua untuk kesayanganku. Dia saja bisa memberikan seluruh kasih sayangnya untukku kenapa aku tidak bisa melakukannya.
“Maaf kak, aku mau ambil nasi buat bang Andi”
“Oh iya dek itu di atas meja kamu ambil saja”
Aku kembali ke ruang tamu menemui Andi dengan sepiring nasi dan lauknya. Aku duduk di sampingnya lalu menyuapkannya. Betapa lahapnya Andi memakan makanannya. Aku menatapnya penuh cinta.
“Kok kamu lihatin abang kayak gitu, jangan lihat gitu nanti jatuh cinta kamu sama aku” ledeknya menyadari aku memperhatikannya.
“Apa sih kamu” mengelus lengannya “padahal sih iya” jawabku pelan.
“Apa sayang aku gak dengar”
“Gak ada oii” teriakku di telinganya
“Iya aku tahu kok, kamu jatuh cinta kan sama aku”
“Iya aku jatuh cinta sama kamu setiap harinya” jelasku mengungkapkan isi hatiku.
“Makasih ya sayang, kamu masih bertahan sama abang, kamu masih perduli sama abang” air matanya keluar “abang sayang banget sama kamu tahu gak, gak tahu deh abang ngomongnya kayak gimana”
“Kok nangis sih” menghapus air matanya.
“Kamu jangan pernah ninggalin aku ya” ia berbicara dalam tangisannya.
“Iya sayang iya, sudah ya kamu makan lagi ini”
“Janji ya, apapun keadaan aku ke depannya kamu jangan pernah ninggalin aku” membuka mulutnya.
Selesai makan “sayang kamu tidur sebentar ya di kamar biar cepat pulih, adek mau pulang dulu”
“Iya sayang”
Aku menuntun Andi ke kamar. Merebahkannya di atas ranjang lalu menarik selimut. “Cepat sembuh ya sayang” mengelus rambutnya pelan “adek pulang dulu ya”
“Terima kasih ya sayang”
“Apa sih makasih kayak sama siapa saja” aku keluar dari kamarnya menuju ruang tamu aku mengambil piring lalu membawanya kembali ke dapur.
“Kak, pamit dulu ya. Oh ya kak, bang Andi nanti dicek ya kak dia di kamarnya lagi tidur”
“Iya dek”
Aku keluar dari rumahnya berjalan mengambil motorku yang berada sepuluh langkah dari pintu utama. Aku mengambil helm lalu memakainya, menyalakan mesin lalu menancap gas.
SKIP
Aku telah sampai di gerbang rumahku, membuka pagar lalu memasukkan motorku ke garasi tak lupa aku menaruhkan helm di kaca spion.
“Assalamualaikum…. Mama” panggilku mengetuk pintu rumah.
“Waalaikumsalam” mama membukakan pintu. “Gimana abang kak” tanyanya berjalan di sampingku.
“Sudah mendingan sih ma, kemaren bang Andi ke lokasi bencana yang di Tanjung itu loh ma”
“Oh… eum terus”
“Iya terus lengannya entah kena parang”
“Ya ampun, tapi sekarang dia sudah gak apa-apa kan” khawatir dengan calon menantunya.
“Alhamdulillah engak sih ma” jawabku “kakak kamar dulu ya mau mandi gerah banget”
__ADS_1
“Iya kak” pergi ke dapur lagi. Sedangkan aku masuk ke dalam kamar.
***
Andi masih tertidur di kamarnya, tubuhnya masih tertutupi selimut dengan rapi. Namun, suhu badannya semakin meningkat. Dari luar terdengar langkah kaki masuk ke pintu utama. “Keadaan Andi bagaimana” tanya mama ke kak Ani.
“Sepertinya sudah agak mendingan buk tadi saya cek ke kamarnya dia tidurnya pules banget”
“Syukurlah kalau begitu, siadek mana”
“Tadi sudah pulang buk, setelah mengantarkan abang ke kamarnya. Buk… ternyata non Kanza itu baik banget ya buk orangnya tadi saya dan Janna malah dikasih sebagian bingkisan yang dia bawa ke Andi, jarang loh bu ada cewek cantik yang mau dekat sama pembantu kayak kita”
“Alhamdulillah kalau kalian saja bisa menilai Kanza seperti itu, semoga abang tidak salah memilih wanita ya. Karena nantinya dia yang akan menemani abang sampai akhir hayatnya”
“Inshaallah gak akan salah pilih bu, kita bisa lihat perilaku dia dari saat ini bu”
“Ya sudah saya mau lihat abang dulu”
“Iya bu, maaf ya bu kalau ada kata-kata saya yang salah tadi dan maafkan saya juga bu sudah menilai calon menantu ibu”
“Iya gak apa-apa saya senang mendengar pendapat dari kamu” berjalan ke kamar Andi. Cekreek…. membuka pintu kamar, melihat Andi terlelap tidur, mama mendekati Andi lalu memegang dahinya “ya ampun bang kok jadi panas banget kaya gini, Niiiii Aniiii” teriaknya.
Kak Ani dan kak Janna berlarian dari dapur ke kamar Andi. Betapa paniknya mama melihat Andi dengan suhu badannya yang sangat tinggi “Nii abang badannya panas banget”
Kak Ani memegang dahinya Andi untuk memastikannya “iya bu, apa sebaiknya kita bawakan ke rumah sakit saja”. Rasa panik terlihat di wajah mamanya Andi, ia sangat khawatir Andi kenapa-kenapa. Kak Janna berlarian ke luar rumah mencari sopir menyiapkan mobil. “Pak setelah parkirkan mobil di depan sini” menunjuk depan teras “bapak ke dalam ya dipanggil ibu”
Kak Janna dan pak sopir masuk ke dalam kamar Andi, menggotongnya membawa masuk ke dalam mobil. Andi sudah tidak sadarkan diri, suhu badannya benar-benar panas. Pak sopir ditemani kak Ani dan mama melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Pak sopir menghentikan mobilnya lalu keluar mencari suster. Setelahnya, ia datang bersama beberapa suster dan perawat membawa ranjang rumah sakit. Mereka menggotong tubuh Andi ke atas ranjang lalu mendorongnya masuk ke dalam UGD. Mama dan kak Ani mengikuti mereka dari belakang, saat itu mama sangat panik rasanya lututnya seakan tidak bisa dipakai untuk berjalan sampai ia harus dirangkul oleh kak Ani. “Bu kita tunggu di sini ya” menyuruh mama duduk di kursi panjang yang berada di depan UGD “sebentar ya bu” kak Ani mencarikan mama minuman untuk menenangkannya.
“Bu minum ini dulu” menyodorkan minuman botolan yang telah dibuka. Cekrekcekrekcrek…. mama meneguk minumannya perlahan.
“Bu apa perlu saya telpon bapak sekarang” tanyanya yang melihat mama sudah sedikit tenang.
“Iya telpon saja, sekalian kamu kabari Andi dan Kanza ya. Tapi, kamu telpon bapak ngomongnya pelan-pelan ya takut bapak panik” memberikan ponselnya.
“Iya bu” mengambil ponsel dari tangan mama, pertama mencari kontak ayahnya Andi.
Via telpon
Kak Ani
Ayah
Waalaikumsalam
Kak Ani
Maaf pak, saya Ani ini pakai handpone ibu. Mohon maaf pak bang Andi masuk rumah sakit sekarang lagi di ruang UGD di rumah sakit citra medika pak.
Kak Ani sangat lembut menuturkan nada suaranya.
Ayah
Oh, iya ya saya kesana sekarang. Ibu dimana
Kak Ani
Ada di sini pak
Panggilan itu berakhir. Kak Ani lanjut mencari kontak kak Anti.
Via telpon
Kak Ani
Assalamualaikum
Kak Anti
Waalaikumussalam kenapa ma
Kak Ani
__ADS_1
Maaf kak, ini Kak Ani. Bang Andi masuk rumah sakit
Kak Anti
Loh, kenapa abang
Suaranya terdengar sangat panik
Kak Ani
Tadinya demamnya sudah turun, tapi waktu ibu cek lagi badannya jadi panas banget
Kak Anti
Sekarang kalian dimana
Kak Ani
Di rumah sakit citra medika di ruang UGD ya kak
Panggilan itu berakhir. Terakhir kak Ani menghubungiku.
***
Setelah mandi aku memakai baju tidur lalu memakai beberapa produk skincare di wajahku, toner, cream malam, handbody di seluruh tangan dan kaki dan lipcare di bibir mungilku. Setelah memakai rangkaian skincare, bodycare dan lipcare aku merebahkan tubuhku di atas kasur, membuka handphone melihat - lihat sosial media. Aku mengupload fotonya Andi di storyku, aku menambahkan ‘cepat sembuh bohate’ sebagai captionnya.
Kriiiing suara notifikasi panggilan masuk. Aku melihatnya “mama, kenapa ya kok telpon malam - malam gini” pikirku yang tidak teringat apa - apa tentang Andi. Aku mengangkat telpon darinya.
Via telpon
Aku
Assalamualaikum ma
Kak Ani
Maaf dek, ini kak Ani
Aku
Oh kak Ani, kenapa kak
Wajahku mulai panik
Kak Ani
Ini dek bang Andi sekarang di bawa ke rumah sakit
Aku
Ya Allah
Aku benar - benar syok dengan omongan kak Ani
Aku
Jadi sekarang kalian di mana kak, di rumah sakit mana kak. Saya mau langsung ke sana nyamperin abang.
Kak Ani
Di rumah sakit citra medika ya dek di ruang UGD
Aku mematikan panggilan itu. Aku mengambil jaket lalu memakainya “ya Allah bang, tadi abang sudah mendingan kenapa sekarang malah aku dapat kabar kayak gini” aku berlari ke luar kamar dengan paniknya mengambil kunci motor, aku berpamitan sama mama dan ayah yang sedang menonton televisi.
“Ma… ayah, kakak ke rumah sakit sebentar ya bang Andi masuk rumah sakit tadi kakak di telpon sama kakak yang tinggal di rumahnya” ucapku yang terburu - buru.
“Iya hati - hati ya kamu” jawab Ayah.
Aku segera keluar mengambil motorku di garasi, memasangkan helm di kepala lalu menancap gas dengan kelajuan tinggi. Aku tidak bisa memikirkan apa\-apa, pikiranku tertuju kepada Andi aku tidak ingin dia kenapa \- napa, aku segera mungkin ingin berjumpa dengannya, melihatnya, dan memastikannya tidak kenapa\-kenapa.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya bye.